
“Mas ….”
Suara Ambar yang muncul membuat Digta kaget dan langsung melepaskan mulut Zeya. Bertepatan dengan hal itu, Zeya langsung terbatuk-batuk dan bisa kembali bernapas.
“Kita harus bawa Zeya ke rumah sakit,” ucap Digta tegas.
Lelaki itu langsung beranjak keluar dari kamar untuk mengambil kunci mobil. Sedangkan Ambar masih diam di tempat.
Apakah dia tidak salah melihat? Suaminya mencium Zeya?
“Ambar….” Digta kembali lagi ke hadapan Ambar. “Ayo buruan, ini suhu badan adikmu semakin tinggi. Bangunkan Ciya sekarang.”
“I-iya, Mas.” Ambar seperti orang bengong. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.
Tapi, bukankah ini yang dia inginkan? Mempersatukan Digta dan Zeya?
Bahkan, ketika Ambar melihat Digta menggendong tubuh Zeya dari kasur, kenapa tiba-tiba hati Ambar terasa aneh sekali ya.
Akhirnya, mereka semua berangkat ke rumah sakit. Digta mengintip kondisi Zeya dari spion depan mobilnya.
“Sepertinya luka di lututnya semakin parah,” komentar Digta sambil menatap Ambar—yang ternyata juga menatapnya sejak tadi tanpa berkedip. “Mbar,” panggil Digta. “Ambar….” Kini Digta menyentuh pundak istrinya.
“Eh, iya, Mas. Ada apa?”
“Kenapa bengong?”
Ambar memutar kepalanya jadi menghadap lurus ke depan. Perempuan itu menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa, Mas.”
Lalu, tidak ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulut mereka. Sampai akhirnya, mereka tiba di rumah sakit terdekat. Digta keluar lebih dulu dan mencari para perawat untuk membawa Zeya ke dalam UGD menggunakan brankar.
Entah mengapa, Ambar terus saja memperhatikan ekspresi suaminya yang cemas kepada Zeya. Tidak seperti biasanya. Apakah, terjadi sesuatu dengan mereka saat pulang dari gudang kemarin? Apa jangan-jangan, mereka sudah—
“Ambar.” Digta menyentuh bahu Ambar lagi. Membuat Ambar tercengang.
“Iya, Mas?”
“Aku perhatikan sejak tadi kamu melamun terus,” kata Digta.
“Nggak apa-apa, kok, Mas. Jadi, Dokter bilang apa?”
“Zeya harus di rawat inap.” Digta menghela napas.
“Yasudah, Mas. Apapun yang terbaik untuk Zeya saja.”
“Sekarang perawat ingin bawa Zeya ke lantai rawat inap. Yuk kita pergi.” Ajak Digta.
Ambar mengangguk dan menggandeng Ciya untuk ikut bersama mereka. Saat di dalam lift yang hanya diisi oleh mereka, Ambar beranikan diri untuk bertanya.
“Mas, kamu yakin tidak terjadi sesuatu antara kamu dan Zeya saat di gudang tadi malam?”
Pertanyaan mendadak Ambar, membuat Digta mengernyit. “Kenapa tiba-tiba kamu nanya begitu?”
“Nggak apa-apa.” Ambar hanya tersenyum.
Bikin Digta penasaran. “Ambar….”
Ambar langsung keluar dari lift bersama Ciya setelah lift berhenti di lantai tujuan. Meninggalkan Digta yang masih bertanya-tanya.
“Ambar …..” Digta menyentuh tangan Ambar. “Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu? Apa ada hal aneh yang bikin kamu jadi mencurigai aku dan Zeya?”
__ADS_1
Ambar menelan ludah. “Aku melihat kamu mencium bibir Zeya di kamar.”
Digta mengerutkan dahi. “Oh, itu aku kasih dia napas buatan. Kamu nggak tahu, kalau adikmu itu sempat nggak napas beberapa detik.”
Ambar kaget. “Serius, Mas?”
“Iya, makanya aku minta kamu untuk bawa Zeya langsung ke rumah sakit. Kenapa sih, kamu harus mikirin hal aneh begitu. Kalau kamu nggak sanggup melihat aku dan Zeya, kenapa harus menyakiti hatimu sendiri untuk menjodohkan kami? Itu namanya gila,” ucap Digta sarkastis sambil berlalu dari hadapan Ambar.
***
Digta meminta kamar rawat inap VVIP yang memiliki kasur tambahan dan juga sofa, agar Ciya dan Ambar bisa tidur dengan nyaman sambil menunggu Zeya sadar.
Sepulang dari membeli kopi dan cemilan, Digta melihat kalau istrinya justru tidur di kursi di sebelab brankar Zeya. Kepalanya berada di atas brankar Zeya.
“Ambar….” Digta berusaha membangunkan Ambar. Dia tidak tega melihat istrinya tidur dalam keadaan duduk begini. “Ambar sayang ….” Digta menyentuh Ambar.
Tapi tiba-tiba tubuh istrinya terkulai lemas dan terjatuh. Untung saja Digta cepat menangkap tubuh Ambar sampai membuat kopinya tumpah di lantai.
Membuat Zeya tersadar. “Loh, Mas Digta….”
Digta tidak menanggapi Zeya karena dia sudah terlalu panik dengan kondisi Ambar yang tiba-tiba pingsan. Bahkan, muncul darah di hidung Ambar.
“Ambar … sayang. Ambar.” Digta semakin panik karena Ambar tidak menimbulkan tanda-tanda kehidupan.
Lelaki itu pun langsung menggendong tubuh Ambar dan membawanya keluar dari ruang rawat inap Zeya.
“Sus, tolong istri saya, sus.” Digta berteriak histeris. Membuat para perawat yang ada di meja langsung bergerak cepat untuk membantu Ambar dibawa ke ruangan UGD.
Sesampainya di UGD, Ambar langsung ditangani dengan cepat oleh para suster dan mulai memasangkan alat-alat di tubuh Ambar.
“Sayang….” Digta tidak karuan. Rasanya dia ingin mati saja kalau terjadi sesuatu pada Ambar.
“Berapa lama, Dok?”
“Kurang lebih satu jam, Pak. Untuk saat ini, kondisi pasien masih pingsan.”
Mendengar kata “Pingsan” Digta bernapas dengan lega.
Ini bukan hari kepergian kamu, Ambar. Jadi kumohon, jangan tinggalkan aku dulu.
Digta duduk di kursi tunggu dalam kondisi membungkuk, kedua sikutnya bertumpuh di atas pahanya ketika telapak tangan mengusap wajah dengan frustrasi.
“Mas Digta….” Suara Zeya muncul.
Digta mendongak, melihat Zeya muncul dengan kursi roda sambil membawa selang infusnya sendiri.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Digta dingin
“Aku ingin melihat kondisi Mba Ambar, keadaannya gimana sekarang?” Tanya Zeya cemas.
“Kamu nggak perlu mikirin Ambar, kamu pikirkan diri kamu sendiri. Seharusnya ada perawat yang mengawasi kamu. Mana boleh pasien pergi-pergi begini. Naik kembali ke atas.”
Zeya menggeleng. “Aku sudah sembuh, Mas.”
“Tolong jangan bikin aku makin pusing, Zeya. Pergi naik kembali ke atas!” Bentak Digta. “Suster, tolong … ini ada pasien yang kabur!” Teriak Digta merasa frustrasi.
Untunglah para suster cepat datang dan membawa Zeya naik kembali ke atas meski dalam kondisi menangis
Digta bangkit dari duduknya dan memukul dinding. “Argh! Ambar! Harusnya kamu mendengarkan perkataanku untuk berangkat ke Malaysia!”
__ADS_1
Satu jam kemudian, seorang Dokter kembali datang menghampiri Digta. “Permisi, Pak.”
“Gimana, Dok?”
“Karena pasien sudah menderita Leukimia Akut stadium empat, jadi pasien harus mendapatkan penangan yang lebih intensif lagi. Dan alat-alat di rumah sakit ini tidak begitu lengkap. Jadi, saat ini juga, pasien harus kita rujuk ke rumah sakit di Jakarta, Pak. Pasien juga ingin dirujuk ke rumah sakit yang selama ini menanganinya. Jadi, Bapak boleh bertemu pasien dulu, karena pasien juga sudah sadar. Kami akan mempersiapkan ambulan yang akan membawa pasien.” Begitu penjelasan Dokter panjang lebar sebelum meninggalkan Digta.
Digta pun segera masuk ke dalam bilik UGD untuk menemui Ambar.
“Sayang …” Digta mencium punggung tangan Ambar. “Kamu harus kuat. Kita akan ke Jakarta sekarang juga.”
“Mas…. Kamu di sini saja bersama Ciya dan menemani Zeya yang masih dirawat.”
Digta mengerutkan dahi. “Meninggalkan kamu sendiri ke Jakarta? Tidak.”
“Mas, please… kamu nanti bisa menyusul ketika Zeya sudah sembuh.”
“Nggak, Ambar. Kamu jangan bikin permintaan yang aneh, deh. Aku nggak mau!”
“Kalau begitu, aku juga nggak mau ke Jaketa. Biar saja aku di sini sampai mati.”
“Ambar!”
“Pleaseeee…. Nanti kamu bisa hubungi Mama dan Papa aku ya. Untuk minta mereka datang ke Jakarta.”
Digta memejamkan matanya sejenak. Mengapa dia harus dipertemukan dengan istri seperti Ambar.
“Mas….” Ambar mengulum senyum.
“Jangan tersenyum seperti itu denganku. Siapa yang menjagamu di sana nanti?”
“Aku bisa jaga diri sendiri. Lagipula, aku sudah kenal dengan Dokter dan perawat di sana. Kamu jangan cemaskan aku.”
Digta menghela napas dengan berat. Dia semakin depresi dan frustrasi.
Tak lama, para suster dan Dokter datang untuk membawa Ambar masuk ke dalam ambulan.
“Sampai ketemu di sana, Mas.” Ambar melambaikan tangan sebelum dia benar-benar berpisah dengan Ambar.
Jika Ambar sudah pergi meniggalkannya untuk selama-lamanya sebelum Digta ada di sana, dia pasti tidak akan memaafkan dirinya.
Dan juga Zeya.
Karena bocah tengil itu penyebab dari semua kekacauan ini!
.
.
.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH TEMAN-teman yang sudah baca cerita ini. Jangan lupa vote-nya ya. Dan koment xixixi
*
__ADS_1