
Digta mendadak membuka pintu kamar Ciya. Membuat Zeya mendongak kaget. Dan melihat ke arah Ciya, karena takut kalau suara dorongan pintunya membuat Ciya jadi bangun.
Digta tidak bicara sepatah katapun selain melempar bungkus plastik berisi salep alergi ke arah Zeya. Sehingga perempuan itu dengan susah payah menangkap pelastik tersebut.
“Makasih, Mas.” Zeya tersenyum semringah.
Tapi Digta tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja.
Huh! Benar-benar titisak jin! Tapi, tidak apalah. Yang penting tangan Zeya aman malam ini.
Zeya langsung menggunakan salep tersebut dan memutuskan untuk tidur.
***
Kessokan paginya, Zeya sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Karena hari ini, dia sudah mulai kembali melakukan aktivitas di kampus.
Sedangkan Tina dan Tio juga sudah duduk di meja makan untuk sarapan.
“Pagi,” sapa Zeya canggung.
Tina mendesah panjang. “Sudah jadi istri, tapi masih saja bangun siang. Ngebiarin mertuanya masak sendiri.” Tina mencibir.
Sedangkan Tio tersenyum saat menatap Zeya. “Ayo duduk di sini, ikut sarapan. Nggak masalah… kan, baru belajar jadi istri ya, Zey.”
“Hehe, iya, Pi.”
Untunglah Zeya masih memiliki Ayah mertua yang baik.
“Anak kamu mana? Tidak dibanguni? Apa tidak sekolah?” Tanya Tina lagi.
Zeya mengerutkan dahi. “Aku kan, belum hamil, Mi.”
“Ya Allah, Ciya itu kan, anakmu juga. Dia nggak sekolah?”
Zeya memutar bola mata sambil berpikir. Ambar tidak memberi tahunya tentang sekolah Ciya. Apa Ciya masih libur atau sudah masuk sekolah ya.
“Ciya harusnya sekolah hari ini. Kamu bangunkan dia.” Digta tiba-tiba muncul. Dan lelaki itu sudah berpakaian rapi, sepertinya hendak berangkat ke kampus. Mengingat jatah cutinya juga sudah habis.
Mendapat pelototan tajam tadi Digta, Zeya langsung bangkit dari kursi dan berlari ke kamar. Ciya masih ngorok enak di kasur dengan kondisi tubuh telentang.
“Ciyaa … bangun. Ciya ….” Zeya berusaha membangunkan Ciya. “Ciya, ayo kita sekolah.”
Akhirnya, pelan-pelan Ciya membuka mata. “Tante Zeya?”
“Ciya, ayo bangun. Ciya harus sekolah.”
“Huh!” Ciya cemberut. “Iya, Tante.” Ciya akhirnya bangkit dan lompat dari kasur.
Setelah Ciya masuk ke dalam kamar mandi sendirian sambil membawa handuk. Zeya pun keluar dari kamar dan kembali duduk di ruang makan. Digta sudah ikut bergabung duduk di ruang makan.
“Ciya mana, Zey?” Tanya Tina lagi.
__ADS_1
“Lagi mandi, Mi.” Aku mengambil roti dan selai.
“Kok ditinggal begitu saja? Nggak diurus dulu anakmu itu? Sudah dipersiapkan pakaiannya? Buku pelajarannya? Sepatu sekolahnya?” Tanya Tina beruntun, membuat kepala Zeya pusing.
Zeya menatap Tina, Tio, dan Digta dengan bengong.
“Um, ya. Oke, Mi.” Zeya bingung harus menjawab apa. Karena mereka semua menatap Zeya, seolah ingin mendorong Zeya ke dalam Neraka Jahanam.
Zeya pun bangkit lagi, meninggalkan sarapan paginya dan masuk ke dalam kamar Ciya.
“Ciya sudah selesai mandi?” Tanya Zeya saat melihat Ciya duduk di atas kasur, dan masih menggunakan handuk.
Ciya mengangguk-anggukkan kepala. “Ciya bingung, Tante. Biasanya, Ibu selalu siapkan seragam sekolah Ciya di kasur.” Ciya mendengus sedih. “Karena Ibu pergi jauh, jadi nggak ada yang nyiapin seragam sekolah Ciya lagi.” Ciya tertekuk lesu.
Membuat hati Zeya tersentil.
“Maafin Tante ya, Ciya….” Zeya memeluk Ciya dengan hangat. Dia merasa bersalah karena sudah tidak telaten dalam menjaga Ciya.
Ambar pasti sedang tertawa haha-hihi di surga melihat kerempongan Zeya hari ini.
“Hari ini, Zeya pake seragam warna apa?” Zeya pun mulai membongkar isi lemari Ciya.
“Biru putih, Tante,” ujar Ciya sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai di atas kasur.
“Biru putih ya….” Zeya mencari seragam sekolah Ciya. “Apa yang ini?” Zeya mengeluarkan sebuah baju berwarna biru.
Ciya menggeleng. “Itu kan, baju rumah, Tante. Seragamku itu ada keranya. Ada nama Ciya di dekat kantung seragamnya.”
Ciya menganggukkan kepala mantap. “Seratus buat Tante Zeya!”
“Oke, kamu bisa pake baju sendiri, kan?”
“Bisaaa!”
“Oke, sekarang Tante mau susun buku kamu dulu yaa.” Zeya mencari buku-buku Ciya sambil melihat jadwal yang ditempel di dinding. Lalu, memasukkan semua bukunya ke dalam tas.
“Tante, rambutku bagusnya diapain ya?” Ciya mengulurkan sisir dan ikat rambut pada Zeya.
“Em, Tante kepang dua aja ya.”
“Oke.”
Kalau untuk masalah kepang-mengepang, Zeya adalah ahlinya. Karena sejak dulu, dia memang suka main kepang-kepangan sejak kecil.
Setelah semua tentang Ciya sudah beres. Zeya pun membawa Ciya keluar kamar.
“Wah, cucu Oma sudah cantik. Ayo sini sarapan dulu.” Tina bersikap baik kepada cucunya, sedangkan dengan menantunya selalu bersikap buruk dan cerewet tak menentu.
Akhirnya, Zeya bisa kembali melanjutkan sarapan paginya.
“Untuk selanjutnya, harus jadi pembelajaran buat kamu ya, Zey. Sebagai istri, jangan bangun siang. Bangun pagi itu adalah sesuatu yang berkah. Kamu harus membangunkan putrimu karena harus berangkat ke sekolah, mempersiapkan semua perlengkapan sekolahnya, mempersipakan pakaian kerja untuk Digta, dan mempersiapkan sarapan juga. Menjadi istri dan Ibu memang begitu, kita dituntut harus bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu.” Tina kembali mengomeli Zeya panjang-lebar.
__ADS_1
Zeya mengeluh panjang sampai bahunya merosot.
Sudah aku bilang, kalau aku belum siap jadi istri. Apalagi jadi Ibu dadakan. Aku belum siap, dan nggak siap. Ternyata seribet ini ya….
“Iya, Mi,” jawab Zeya seperti orang putus asa.
***
Setelah menyelesaikan sarapan pagi. Mereka pun masuk ke dalam mobil untuk segera pergi mengantarkan Ciya ke sekolah dan berangkat kerja. Zeya duduk di belakang, sedangkan Ciya dan Digta duduk di depan.
Tidak ada suara yang keluar dari bibir mereka sampai mobil Digta berhenti di depan sekolah Ciya.
“Semangat belajarnya ya, Nak….” Digta mencium puncak kepala Ciya.
“Iya, Ayah.” Ciya menyalami tangan Digta. Lalu menoleh ke belakang. “Ciya sekolah dulu, Tante.”
“Belajar yang rajin, sayang!” Ciya pun mencium tangan Zeya juga.
Lalu, Ciya keluar dari mobil dan melambai sampai masuk ke dalam gerbang sekolah.
“Pindah ke depan,” pintah Digta dingin. Tanpa menoleh ke arah Zeya. “Saya bukan supir.” Singkat. Tapi, membuat Zeya langsung bergerak untuk pindah duduk ke depan.
Selama di perjalanan, Digta curi-curi pandang ke arah tangan Zeya yang sudah membaik. Hal itu membuat Digta bersyukur, karena dia tidak salah membeli ohat.
Tapi, apa urusannya? Ah, sudahlah. Digta kembali fokus menyetir sampai akhirnya mereka tiba di kampus.
Tepat setelah mobil berhenti di pelataran kampus, Digta mengulurkan ponsel yang pernah dia temukan saat di puncak kepada Zeya. Untuk apa dia berlama-lama menyimpan ponsel Zeya. Apa pentingnya untuk Digta? Karena tidak ada sesuatu yang berharga yang bisa dicuri dari ponsel Zeya.
Membuat Zeya membelalakan mata. “Loh, ini ponsel aku, kan? Kenapa bisa ada dengan Mas Digta?”
“Saya temukan waktu di puncak.”
“Kenapa baru dikasih sekarang, Mas? Aku udah panik dan mau nangis karena ponselku hilang.”
“Baru sempat.” Digta hanya menjawab singkat.
“Makasih, Mas.” Meskipun begitu, hal tersebut sudah membuat Zeya bahagia.
Saat Zeya hendak membuka pintu. Tiba-tiba, Digta menyentuh tangannya. Membuat pergerakan Zeya terhenti.
Zeya kaget disentuh oleh Digta, sampai dia menatap wajah Digta yang ketus dan dingin.
“Jangan sampai pernikahan kita diketahui oleh pihak kampus. Saya nggak ingin ada yang tahu tentang status kita.” Digta menatap tajam. “Anggap saja, pernikahan kita tidak pernah terjadi. Paham?” Digta mencekram erat pergelangan tangan Zeya.
Entah apa maksudnya.
“Aduh, sakit, Mas. Aku juga nggak akan mau dianggap sebagai perebut suami kakak kandungku sendiri.”
“Bagus kalau kamu paham. Karena sampai kapanpun, saya tidak akan bisa menganggap kamu sebagai istri saya. Mengerti?” Kalimat terakhir Digta sebelum melepaskan tangan Zeya dan keluar dari mobil.
Entah mengapa suasana dingin begitu mencekam, dan membuat darah Zeya sampai berdesir.
__ADS_1