
“Apa kamu bilang?”
Tina memelototi Zeya seolah bola matanya hendak keluar. Rasanya, Zeya ingin sekali mencincang tubuh mertuanya. Tapi, dia harus bisa mengontrol emosinya lebih baik lagi.
“Nggak ada, Mi.”
“Sudah, minggir kamu sana…. Biar Mami saja yang masak. Kalau bisa, besok kamu ikut kursus masak. Jadi nggak ngeribetin begini.” Tina terus mengomel tanpa memedulikan perasaan Zeya. Membuat Zeya gedeg dan dongkol. “Lebih baik kamu bantu Mami cuci piring saja.”
“Iya, Mi.” Untungnya, Zeya sudah membeli sarung tangan untuk cuci piring. Jadi, dia nggak perlu takut lagi jika tangannya melepuh karena alergi.
“Selamat pagi,” sapa Digta dingin sambil duduk di kursi makan.
Tina melihat kondisi pakaian Digta yang kusut dan lusuh, tapi tetap dia pakai. Padahal, Digta lelaki yang sangat perfeksionis.
“Ya Ampun Digtaaa, buka bajumu itu. Berikan kepada istrimu, agar dia setrika pakaianmu,” ujar Tina heboh sampai-sampai meninggalkan masakannya begitu saja. Dan Zeya langsung melanjutkan masakan Tina, karena tinggal di oseng-oseng saja
“Nggak apa-apa, Mi.” Digta bersikap acuh tak acuh.
“Mana bisa begini, kamu biasanya itu orang yang sangat rapi dan peduli terhadap penampilan. Zeya….” Tina berteriak memanggil Zeya. “Kamu harusnya paham dong, kenapa pakaian suami kamu tidak di setrika begini?!”
“Pagii Omaaa, nggak boleh marah-marah.” Ciya akhirnya datang dan ikut bergabung di kursi makan.
“Nah, itu juga….” Tina menunjuk Ciya. “Seragam sekolah Ciya kusut banget. Kamu nggak setrika dulu, Zey?” Tina berkacak pinggang.
Zeya mematikan kompor, dia mengehela napas berat sambil menatap si Nenek sihir itu. “Maaf, Mi. Aku nggak tahu.”
“Nggak tahu bagaimana? Haduh! Masa begitu saja nggak tahu, sih.” Tina menghampiri Ciya. “Ciya, ayo buka seragamnya dulu, agar di setrika dengan ibumu. Kamu juga Digta.”
Digta terpaksa membuka kemejanya hingga membuatnya bertelanjang dada. Zeya menjadi awkward, karena ini pertama kalinya dia melihat Digta bertelanjang dada. Lalu, Digta memberikan kemejanya pada Zeya, begitu pula seragam Ciya ikutan dibuka dan diberikan kepada Zeya untuk segera di setrika.
Setrika dan cuci piring adalah pekerjaan yang paling menyebalkan dalam hidup Zeya. Dia pun mengambil setrika di kamar Ambar dan menyetrika pakaian di sana.
“Sekalian ini….” Digta tiba-tiba muncul sambil melempar celananya. Sehingga lelaki itu hanya memakai boxer.
“Astaghfirullah!” Zeya mengusap dada. “Mas Digta!” Zeya kaget. Terlebih boxer Digta bermotif one peace.
“Sorry, saya harus pake celana itu. Karena nyaman. Karena kusut, aku minta tolong kamu buat setrikain sekalian. Aku nggak bisa setrika pakaian.” Digta duduk di sudut kasur.
Zeya menelan ludah dengan kelat, tapi dia tidak boleh terganggu dengan kehadiran Digta dan harus tetap fokus menyetrika pakian.
“Aduh….” Zeya terlalu bersemangat menyetrika pakaian, hingga besi panasnya tak sengaja mengenai tangannya.
“Kenapa lagi?”
“Awww, panassss!”
“Kenapa kamu selalu bikin susah saya, sih.” Digta bangkit dan mengambil salep bakar di laci nakas. Kemudian melempar salep bakarnya kepada Zeya. “Nih, pake itu!”
“Makasih, Mas.” Zeya cemberut dan mengolesi luka bakarnya sendiri.
***
“Nah, begitu kan rapi pakaian kamu, Digta.” Tina mengomentari setelah Digta keluar dengan kemeja yang telah di setrika oleh Zeya. Bahkan, Ciya juga sudah menggunakan seragam sekolahnya kembali. Lebih rapi dan wangi.
Oke noted! Aku harus bisa setrika pakaian untuk suami dan anakku. Agar mertuaku bahagia. Yah, menderita sekali hidupku.
Selesai sarapan, mereka pamit untuk berangkat. Zeya duduk di depan mendampingi Digta yang tengah menyetir sambil meniup-niup tangannya—yang masih terasa sakit akibat setrikaan tadi.
__ADS_1
“Di rumah, kamu memang nggak pernah melakukan pekerjaan rumah?” Digta membuka suara.
“Engga, kan ada bibik.” Zeya menjawab sekenanya.
“Ambar nggak pernah mau pake bibik,” lanjut Digta.
Zeya tahu kemana arah pembicaraan Digta, pasti ujung-ujungnya ingin membandingkan kehebatan Ambar dan Zeya.
“Aku bukan Ambar.” Zeya merosotkan tubuh di kursi. “Semua orang selalu membanding-bandingkan aku dengan Ambar. Padahal, meski kami ini sedarah, kami memiliki sifat yang bertolak belakang.”
“Ngerti,” jawab Digta singkat.
“Aku mau, mulai sekarang di rumah harus pake bibik.”
Digta menoleh ke arah Zeya. “Memangnya nggak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri?”
Zeya menggeleng tegas. “Nggak bisa, Mas. Apalagi, aku sibuk kuliah. Gimana cara aku membagi waktunya. Lagipula, masa sih, aku harus cuci piring tiap hari.”
“Kamu kan, sudah beli sarung tangan untuk cuci piring.”
“Mas, aku bukan babu.” Zeya melotot sebal.
“Oke, saya pikir-pikir lagi.”
“Pikir-pikir?”
“Mencari bibik itu nggak bisa sembarangan. Apalagi, saya tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang yang baru saya kenal. Bisa saja itu menjadi boomerang si kehidupan kita. Kita juga mggak tahu, apakah pekerja itu nantinya berniat untuk bekerja atau maling.“
“Mas kebanyakan mikir negatif terhadap orang lain, itulah mengapa hidup Mas Digta nggak pernah berkah.”
“Apa kamu bilang!” Digta memelototi perempuan di sebelahnya dengan tajam.
Mereka saling bertatapan lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk saling diam.
***
“Nanti pulang kuliah aku boleh izin lagi nggak?” Zeya beranikan diri bertanya setelah mereka sudah sampai di kampus, dan Ciya juga sudah diantar ke sekolahnya.
“Kemana?” Tanya Digta dingin sambil mematikan mesin mobil.
“Mau kerja kelompok.”
“Siapa sih, kelompokmu itu?” Digta menoleh ke arah Zeya.
“Zega dan Jerry.”
“Kamu memang pacaran dengan Zega?”
Zeya diam.
“Yah, kalau mau pacara nggak masalah. Tapi, jangan tunjukin sikap seperti itu di depan Mami saya.”
“Lagian, Maminya Mas Digta kenapa lama banget baliknya?”
Digta mengangkat kedua bahu. “Kamu mau kerja kelompok di mana?”
“Belum tahu.”
__ADS_1
“Saya pulang telat juga, nanti selesai kerja kelompok kamu hubungi saya. Saya akan jemput kamu dan kita pulang bersama. Semua itu saya lakukan agar Mami tidak curiga. Paham?”
“Iya, Mas.”
“Yasudah, keluar dari mobil saya sekarang.”
“Iya.”
Zeya dan Digta smaa-sama keluar dari mobil. Baru saja ingin melangkah pergi, tiba-tiba Kiara menghampiri Digta. Membuat Zeya jadi menatap lelaki itu dengan curiga.
Padahal, belum lama ini Ambar meninggal, tapi Digta sudah dekat-dekat dengan perempuan lain. Mana pembicaraan mereka terihat akrab dan menyenangkan pula.
Ah, tapi itu semua bukan urusan Zeya. Biarkan saja mereka mengurus kehidupan mereka masing-masing. Karena pernikahan bagi mereka hanyalah sebuah status.
***
Zeya duduk di salah satu kursi kelas paling belakang dan pojok. Ia mengotak-atik ponselnya, mencari link-link kursus masak yang tak jauh dari rumah. Sepertinya, dia harus belajar masak agar mertuanya tidak menghinanya terus-terusan.
“Zey….” Zega mengambil tempat duduk di sebelahnya.
Entah mengapa, Zeya dan Zega menjadi canggung. Apalagi, terakhir kali mereka bertemu, Zega tahu kalau Zeya sudah menikah dari mulut nyablak Tina. Apakah Zega akan membahas hal ini padamya?
“Eh, hai….”
“Um, ntar malem mau nggak ikut aku?”
Zeya bernapas lega, untunglah Zega tidak membahas tentang masalah ‘menikah’.
“K-kemana?” Zeya semakin canggung.
“Ke acara Nikahan kakak aku, acaranya memang digelar malam hari dan outdor. Yah, kamu tahulah. Aku capek diledekin terus karena jomblo, jadi aku mau bawa kamu sebagai pasangan aku nanti.”
Zeya berdehem dan mengubah posisi duduknya jadi berhadapan dengan Zega. “Gini, aku nggak tahu mau mulai percakapan ini dari mana. Tapi, kamu pasti lagi bertanya-tanya kan, tentang ucapan seorang perempuan di rumah aku waktu itu. Yang bilang kalau aku sudah menikah. Sebenarnya—“
“Aku tahu, itu bercanda, kan?” Zega menimpali. “Mereka memintamu untuk menikah, kan?”
Zeya menelan ludah. “Ng-iya.” Sepertinya, Zeya mengurungkan niatnya untuk bicara jujur dengan Zega. Toh, Zega juga menganggap pembicaraan tempo hari hanya bercanda.
”Gimana? Mau, nggak? Ntar malem aku jemput.“
“Ah, jangan dijemput. Pulang dari tugas kelompok, kamu langsung temani aku saja ke mall cari pakaian untuk kondangan. Aku memutuskan untuk nggak pulang. Yah, daripada ntar ribut lagi.“
“Okey.” Zega tersenyum.
Zeya segera mengirimi pesan untuk Digta.
From : Zeya
To: Digta
Mas, pulang dari bikin tugas kelompok, aku izin pergi ya. Zega ingin ngajak aku ke kondangan kakaknya. Dan pulangnya malem.
Digta langsung membaca pesan WhatsAppku secepat kilat. Tapi, tak langsung membalasnya. Sampai Zeya harus menunggu balasan Digta selama satu jam.
From: Digta
To: Zeya
__ADS_1
Ok.