
What the—
Apa yang baru saja terjadi? Bisa-bisanya Digta nyaris mencium Zeya. Adik iparnya sendiri?
Ralat, ralat, Zeya adalah istrinya saat ini.
Ah, br*ngsek! Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.
Digtaaa, sadar! Ambar sudah tiada.
Digta terus menampar pipi kiri dan kanannya bergantian.
Kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia tidak punya nyali untul bertemu Zeya setelah semua yang telah terjadi.
“Belum tidur?” Tanya Tina yang masih setia duduk di sofa sambil nonton sinetron kesukaannya.
“Belum, Mi.” Digta melangkah menuju dapur.
“Baju kamu mana, Dig? Nanti masuk angin, loh.”
“Iya, nanti sekalian mau mandi. Tapi, sekarang mau bikin kopi dulu.”
“Loh, kenapa bikin sendiri? Minta tolong dong dengan istrimu.”
Digta menghela napas lelah. “Dia sudah tidur. Lagian, aku bisa bikin sendiri, Mi.”
“Tapi, nggak bisa dipungkiri lagi kan, kalau semasa Ambar hidup, dia yang selau bikinkan kamu kopi?”
“Ya. Sekarang Ambar sudah meninggal.” Digta menjawab malas-malasan. Membahas perihal yang sama secara berulang-ulang, tidak akan ada habisnya.
***
Jantung Zeya masih saja berdetak tak karuan. Sekarang, dia sudah selesai mandi dan menggunakan handuk. Tapi, sialnya dia lupa membawa pakaian ganti.
“Ahhh, Zeya dungu!!” Zeya memukul kepalanya berulang kali. “Bagaimana ini….”
Zeya tidak berani bertemu Digta, setelah kejadian yang baru saja terjadi.
Tapi, Zeya juga tidak mungkin berada di dalam kamar mandi ini seharian. Tanpa sehelai benang pun pula.
“Huhhhft!” Zeya menarik napas berulang kali sampai dia merasa nyalinya sudah cukup kuat untuk keluar dari dalam kamar mandi ini.
Setelah merasa kondisinya mulai membaik, Zeya beranikan diri membuka pintu kamar mandi. Mengintip sedikit keadaan di luar kamarnya, dan untunglah Digta tidak berada di kamar saat ini.
Dengan cepat, Zeya berlari mengambil seluruh pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk menggunakan pakaiannya.
Saat Zeya keluar kamar mandi lagi dalam keadaan sudah berpakaian lengkap, Digta belum juga muncul. Sampai suatu ketika, Zeya mendengar suara derap langkah kaki mendekat menuju kamarnya, Zeya langsung buru-buru tidur di sofa dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Terdengar helaan napas yang panjang keluar dari bibir Digta. Membuat jantung Zeya berdetak kencang, karena takut kalau Digta akan melakukan sesuatu yang buruk lagi padanya.
“Sudah tidur?” Tanya Digta dingin.
Zeya tidak menjawab, dan lebih memilih diam.
“Maaf soal tadi,” kata Digta tenang. Lelaki itu mengambil handuk di belakang pintu. “Melihat wajah kamu dari jarak dekat, mengingatkan saya pada Ambar. Sampai saya hampir kelepasan.”
Zeya akhirnya membuka selimut dari tubuhnya. “Maksud Mas Digta, Mas Digta menganggap aku ini adalah Mba Ambar?”
“Wajah kalian mirip.” Kalimat singkat Digta sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ah, jadi dia menganggap aku ini sebagai Mba Ambar? Jadi, tidak menatap aku sebagai Zeya? Istrinya? Baguslah kalau begitu. Karena aku tidak ingin dia jatuh cinta padaku.
Jiaaahh, memangnya kamu siapa Zeya? Sampai Digta bisa jatuh cinta denganmu? Yang ada, Digta malah jijik melihat tingkah lakumu yang kekanak-kanakkan itu.
***
Keesokan paginya, Zeya terus memperhatikan Digta—yang sedang menggunakan dasi di depan cermin. Dan Digta kelihatan sangat kesusahan, mengingat selama ini yang selalu mengikat dasinya adalah Ambar.
“Kalau nggak bisa, jangan pake dasi segala.” Celetuk Zeya.
“Saya ada acara di rektorat, jadi harus pake dasi agar terkesan formal.” Kemudian Digta merasa kesal sendiri sampai melepas dasinya dari kemeja. “Aaah! Kenapa susah sekali, sih.”
“Mau aku bantuin nggak?” Tawar Zeya hati-hari.
Digta menatap perempuan yang sedang duduk di sofa sejak tadi. “Memangnya bisa?”
“Dulu sering pasang dasi Papa. Karena Papa kerja selalu pake dasi.” Zeya pun bangkit dari sofa dan melangkah mendekati Digta.
Kini mereka berdiri saling berhadap-hadapan, dan keduanya terlihat sama-sama canggung. Apalagi, deru napas mereka terasa sangat dekat.
Digta sedikit berdehem untuk menepis rasa canggungnya. Sedangkan Zeya mulai mengikat dasi Digta dengan rapi dan telaten.
“Sudah.” Zeya menghindar dari hadapan Digta.
Digta memperhatikan penampilannya di cermin. “Makasih,” ucap Digta singkat. Lalu keluar lebih dulu dari dalam kamar.
***
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Zeya, Ciya dan Digta pun masuk ke dalam mobil untuk segera berankat.
“Oh iya, kemarin Bu Kiara jadi mengirim alamat rumahnya ke nomor kamu?” Tanya Digta ketika mobil mereka melesat meninggalkan rumah.
“Rumahnya dimana?”
“Mas Digta beneran mau jemput Bu Kiara?“
“Kenapa memangnya?” Digta menatap Zeya sekilas.
“Yah, nggak apa-apa, sih. Tapi, nanti jadi canggung banget harus satu mobil dengan Bu Kiara.”
“Kenapa harus canggung? Dia juga dosenmu.”
“Aku nggak pernah belajar sama dia.”
“Tapi, dia tetap dosen di kampusmu.”
Zeya melotot sebal. “Yasudah, aku kirim alamatnya ke nomor Mas Digta. Mas Digta lihat saja sendiri.”
“Sekalian nomor ponselnya.”
“Iya-iya!”
Digta menatap ponselnya ketika Zeya sudah mengirim alamat rumah, beserta nomor ponsel Kiara. Mobil yang dikendarai Digta melesat mengikuti peta menuju rumah Kiara. Dan perjalanan yang mereka tempuh tidak begitu jauh, hanya memakan waktu lima belas menit saja.
Setelah berhenti di depan rumah Kiara, Digta menghubungi perempuan tersebut.
“Halo, Bu. Ini saya Digta, saya sudah ada di depan rumah Bu Kiara,” sahut Digta di telepon. “Baik, Bu.” Dan sambungan terputus.
Setelah menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku, Digta menoleh ke arah Zeya. “Kamu pindah duduk ke belakang.”
__ADS_1
Perintah Digta yang membuat Zeya terbelalak kaget. “Apa?”
“Iya. Pindah duduk ke belakang.”
“Terus, Bu Kiara duduk di depan, gitu?”
“Hm…”
“Ih, nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Kenapa aku harus ke belakang dan mengalah dengan Bu Kiara?”
“Kamu kan masih mudah, sama-sama anak SD seperti Ciya. Jadi lebih nyambung kalau kalian ngobrol berdua.”
“Ih, menyebalkan!” Meskipun dongkol, Zeya tetap pindah duduk ke kursi belakang. Daripada diterkam oleh Digta hidup-hidup.
“Tante Zeya, Bu Kiara itu siapa?” Tanya Ciya dengan polos.
“Calon Ibu barunya Ciya,” celetuk Zeya asal.
“Hush!” Tegur Digta. “Bu Kiara itu temen Ayah di tempat kerja. Dia juga dosen seperti Ayah.”
“Ooh, begitu ya, Yah.”
“Iya, sayang.” Digta tersenyum menyebalkan.
Tak lama kemudian, akhirnya Kiara muncul dan duduk di kursi penumpang depan.
“Maaf ya, lama.” Kiara menatap Digta dengan perasaan tak enak hati.
“Nggak apa-apa, kok.” Digta tersenyum manis. Dan senyuman itu tidak pernah diperlihatkan Digta kepada Zeya!
Kemudian, Kiara memutar kepalanya ke belakang. Ia sedikit terkejut dengan keberadaan Ciya dan Zeya.
“Eh, Zeya,” sapa Kiara hangat.
“Iya, Bu.” Zeya tersenyum paksa.
“Ini pasti Ciya ya….” Kiara menowel paha Ciya.
“Iyaa, Tante.” Ciya tersenyum manis.
“Bu Kiara, kalau mau mendekatkan diri dengan anaknya Mas Digta harus kudu sabar. Karena Ciya ini aslinya reoogggg banget!” Zeya berujar asal-asalan.
Membuat Digta melotot lebar. “Diem kamu, Zey!”
Sedangkan Ciya tertawa ngakak seolah dia mengeti dengan pembicaraan para orang dewasa.
.
.
Bersambung.
Teman-teman, terima kasih sudah baca. Minta bantuannya yaa untuk kasih vote cerita ini. Hehe, terima kasih.
Ayo ramaikan dengan komentar kalian😁
__ADS_1