Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
43. Kesalahan Zeya?


__ADS_3

Saat lagi asyik-asyiknya menonton bioskop, tiba-tiba ponsel Digta berdering nyaring. Membuat beberapa pasang mata jadi menatap ke arahnya.


“Nggak pernah nonton bioskop ya, Mas? Harusnya itu nada dering handphone Mas Digta di silent,” celetuk Zeya.


Digta tak peduli dengan ucapan Zeya, dan beranjak keluar dari studio biskop untuk menerima panggilan dari Tina.


“Iya, Mi?” Sahut Digta setelah panggilan terhubung.


“Kamu dan Zeya kemana saja, sih? Kenapa belum pulang juga?” Tina langsung mengomel panjang lebar.


“Ng—iya, sebentar lagi kami pulang, Mi.”


“Aduh, Digta. Kalau bisa pulangnya sekarang, dong. Ini anak kamu sakit, demamnya tinggi banget,” ujar Tina dengan panik.


“Yang bener, Mi?”


“Untuk apa Mami bohong! Ayo pulang cepat Digta….”


“Oke, Mi.” Sambungan terputus. Digta kembali masuk ke dalam bioskop dan langsung menarik Zeya dengan paksa untuk keluar dari studio bioskop.


“Mas, apa-apaan ini? Lepasin nggak!” Zeya terkejut dan berusaha menepis sentuhan Digta secara paksa.


Tapi, genggaman Digta terlalu kuat. LKita harus pulang, Mami bilang kalau Ciya sakit. Demamnya tinggi,” kata kelaki itu.


Zeya berhenti memberontak. “Apa?”


Tak lama kemudian, Zega dan Kiara pun ikut keluar dari studio bioskop karena tampak bingung melihat tingkah keduanya.


“Pak, Digta, ada apa ini?” Tanya Kiara penasaran.


“Bu Kiara, maaf, saya nggak bisa mengantar Bu Kiara pulang. Karena saya dan Zeya harus segera pulang ke rumah, anak saya sakit,” ucap Digta buru-buru.


“Zega, maaf yaa, aku merusak acara nonton kita.” Zeya memasang wajah sedih saat menatap Zega.


“Nggak apa-apa, Zey.” Zega tersenyum.


“Kami permisi dulu.” Digta menarik tangan Zeya untuk membawanya pergi.


Zeya berteriak pada Kiara. “Bu Kiara jangan lupa langsung jemput mobilnya di kampus, jadi besok kami nggak jemput Bu Kiara lagi.”


“Hush!” Tegur Digta.

__ADS_1


Zeya memonyongkan bibir sebal sambil mengikuti langkah Digta yang masih menariknya sampai masuk ke dalam mobil.


***


“Kenapa Mas Digta bisa ada di bioskop yang sama denganku?” Zeya membuka percakapan ketika mereka sudah ada di dalam mobil, dan mobil melesat membelah jalan raya.


“Kebetulan,” jawab Digta singkat. Enggan menatap Zeya dan tatapannya hanya fokus ke jalanan di depannya.


“Nggak mungkin kebetulan doang, Mas Digta pasti ngikutin aku ya?”


Digta menyeringai seolah mengejek. “Jangan kegeeran. Saya nggak punya alasan yang pas untuk mengikuti langkahmu, Zeya. Kamu tidak penting di hidup saya.”


“Kalau tidak penting, kenapa—“ lidah Zeya terasa kelu saat harus melanjutkan kalimat ini.


“Kenapa apa?” Digta jadi penasaran.


“Kenapa, Mas Digta menciumku.”


Mendadak suasana menjadi dingin dan tegang. Digta merasa kerongokangannya kering, dan dia butuh air minum. Tapi s*alnya, tak ada minuman yang tersedia di dalam mobil.


“Kenapa Mas Digta menciumku?” Tanya Zeya lagi. Masih penasaran dan ingin mengetahui alsan lelaki di sebelahnya ini.


Tapi, Digta memutuskan untuk diam dan tidak menjawab. Sedangkan, Zeya begitu penasaran dengan jawaban Digta. Apakah kakak iparnya itu menyukainya? Ewh, memikirkan hal itu membuatnya jijik.


Digta dan Zeya langsung masuk ke dalam rumah untuk menghampiri Ciya di dalam kamarnya.


Ciya sedang terbaring lemah di kasur, dan di sebelahnya ada Tina yang terus mengompres dahi Ciya.


“Gimana keadaan Ciya, Mi?” Digta benar-benar khawatir, apakagi letika menyentuh tubuh Ciya yang terasa sangat panas.


“Suhunya mencapai 39 derjat celsius. Kita bawa ke Dokter saja ya, Dig. Mami cemas banget.” Tina menampilkan wajah cemas.


“Iya, Mi. Ayo kita ke rumah sakit sekarang.” Digta menggendong tubuh Ciya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Tina, berhenti melangkah ketika berpapasan dengan Zeya.


“Coba saja kamu bisa menjadi Ibu yang baik untuk Ciya, dan tidak memikirkan perasaanmu sendiri, Zeya. Ciya mggak akan sakit begini. Kamu tahu kenapa semua ini bisa terjadi? Karena tidak ada sosok Ibu yang bisa mengurus Ciya. Sedangkan kamu? Malah sibuk dengan duniamu sendiri, menganggap bahwa dirimu masih muda!” Lagi-lagi Tina berujar sarkastis, dan Zeya tahu kalau hal ini pasti akan terjadi.


Siapa lagi yang akan disalahkan jika anak sakit? Yang pertama pasti ibunya! Apalagi, status Zeya kini menjadi Ibu pengganti, sudah pasti semua kesalahan jatuh kepada Zeya.


Setelah Tina pergi dengan amarahnya, Zeya bergegas mengambil beberapa pakaian Ciya dan memasukkannya ke dalam tas. Siapa tahu, Ciya harus dirawat inap. Jadi, Zeya sudah punya persiapan.

__ADS_1


Untuk ucapan Tina tadi? Sudahlah, jangan dipikirkan.


***


Dokter mengatakan bahwa Ciya harus dirawat inap. Dan Digta langsung mengambil kamar VVIP agar keluarga yang menjaga Ciya juga merasa nyaman.


“Jika Mami dan Papi mau pulang, pulang saja. Ada aku dan Zeya yang menjaga Ciya di sini,” ujar Digta saat melihat Tina dan Tio kelihatan lelah.


Tina menghela napas panjang. “Kamu yakin bisa menjaga anakmu sendiri? Kamu yakin kalau istrimu juga bisa menjaga anakmu?” Lalu, Tina bersdekap. “Kenapa Mami tidak yakin ya. Lihat saja tingkahnya masih merasa wanita single dan kelihatan tanpa beban sekali. Dia tidak memedulikan keadaan kamu dan anakmu. Dulu katanya, dia berjanji untuk menjaga anak Ambar. Tapi mana buktinya? Bahkan, Mami jarang melihat dia main bareng Ciya. Mami jarang melihat dia ngurusin Ciya. Kerjanya itu, molor sampe siang, ke kampus, terus pulang malem.”


“Mami….” Digta memelas. “Ini di rumah sakit, jangan bikin keributan di sini.”


“Justru ini waktu yang tepat untuk ungkapin semua uneg-uneg di hati Mami, karena Mami sudah sangat dongkol dengan istrimu ini. Maksud dan tujuan Ambar membuat kalian menikah, agar Zeya bisa menjaga kamu dan anakmu dengan baik. Ambar tidak ingin ada wanita lain yang menjaga kalian. Tapi, kalau begini caranya, Mami lebih suka kalau kamu dijaga oleh perempuan lain saja yang jauh lebih baik dari dia!” Tina menyipitkan mata tajam ke arah Zeya.


Zeya tak mampu melawan, karena ini juga kesalahannya yang telah lalai menjadi seorang Ibu sambung. Harusnya, dia juga memikirkan nasib Ciya. Karena Ciya pasti membutuhkan sosok Ibu selepas Ambar pergi.


“Mami, sudahlah. Ayo kita pulang saja.” Tio berusaha membujuk istrinya dan menyentuh pundak istrinya.


Tapi, Tina terlalu keras hingga menepis sentuhan Tio. “Digta, kalau dia tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu, kalian bercerai sajalah! Kenapa juga harus dipaksakan begini. Tidak ada sisi positif yang bisa kamu ambil dari pernikahan ini. Karena pernikahan ini hanya merugikan kamu saja, merugikan juga keluarga besar kita!”


“Mami, sudahlah! Kenapa harus menyalahkan Zeya dan memaksa mereka untuk bercerai? Kita tidak berhak ikut campur ke dalam urusan rumah tangga mereka.” Tio terlihal kesal dengan ucapan istrinya itu.


“Aku berhak, Pi. Karena aku adalah Mami Digta dan Oma Ciya. Jadi aku berhak melakukan apapun untuk kebaikan anak dan cucuku.”


“Pi, please bawa Mami pulang saja ya. Aku benar-benar lelah harus berdebat malam ini.” Digta memijit pelipisnya


“Ayo kita pulang saja.” Akhirnya Tio menarik paksa istrinya untuk keluar dari ruangan rawat inap.


Digta menghela napas dengan gusar, sambil berjalan mondar-mandir. Dia menatap Zeya yang duduk di sofa sambil menundukkan kepala, lalu bahunya terlihat bergetar hebat ketika suara isakan tangis meluncur dari bibirnya.


“Hey, jangan terlalu dipikirkan ucapan Mami,” kata Digta pada Zeya.


Zeya mendongak, air mata sudah membasahi wajahnya. “Aku memang Ibu yang payah, Mas. Harusnya aku bisa memperhatikan Ciya lebih baik lagi, padahal Mba Ambar sudah meminta aku untuk menjaga Ciya. Tapi, aku tidak melakukan hal itu dengan baik.” Zeya mengusap air matanya menggunakan lengan. “Mungkin….” Zeya menyedot ingusnya. “Mungkin Mami beanr, Mas. Kita bercerai saja dan hidup terpisah. Mas bisa mencari istri dan Ibu yang lebih cocok untuk Ciya dan lebih baik daripada aku.”


Digta duduk di sebelah Zeya. “Saya belum kepikiran untuk melakukan hal itu, saya hanya sedang menjalani kehidupan ini sesuai air mengalir saja. Saya memang tidak mencintaimu, tapi saya akan tetap melaksanakan wasiat terakhir Ambar, Zey.”


Zeya menatap wajah lelaki itu lekat-lekat. “Untuk apa, Mas? Semua akan percuma. Aku wanita yang kacau, dan belum pantes menjadi seorang istri.”


Digta menarik napas dalam-dalam, meskipun Zeya menyebalkan dan Digta tidak menyukai perempuan di depannya ini. Tapi, kalau sudah melihat wanita menangis, hatinya lama-lama akan luluh juga.


Digta mempersempit jarak di antara mereka, dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Maaf.” Hanya itu kaliamat yang mampu Digta ucapkan. “Saya juga bukan suami yang baik untukmu. Tapi, saya akan berusaha, meski rasanya berat. Karena bayang-bayang Ambar masih ada di dalam pikiran saya.”


Zeya tidak mengatakan apapun, karena yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menangis. Setidaknya, pelukan Digta membuat perasaannya lebih lega.


__ADS_2