
Zeya bersedekap ketika duduk di kursi penumpang belakang. Matanya menatap sebal bayangan Digta dari spion depan mobil.
Kemudian terdengar suara yang ditimbulkan oleh perut Zeya.
Kruuukkk
Suaranya begitu kencang sampai Digta menatap Zeya dari spion depan.
“Tante Zeya…” Ciya yang duduk di kursi penumpang depan, memutar kepalanya menghadap Zeya. “Perut Tante bunyi.”
“Iya, Tante laper,” aku Zeya jujur.
Ciya langsung merogoh saku tas-nya dan memberikan Zeya sepotong cokelat.
“Ini untuk Tante….”
“Ih, jangan. Nati Ciya makan apa, dong?”
“Aku nggak boleh makan cokelat dengan Ayah.” Ciya bicara dengan suara kecil, bermaksud untukberbisik. Tapi, tetap saja Digta mendengar percakapan mereka.
“Hihi, makasih, Ciya!” Zeya pun mengambil cokelat pemberian Ciya dan langsung menyantap cokelat tersebut dengan lahap.
“Jangan berantakan makannya!” Tegur Digta.
“Iya, Mas. Iya.” Zeya tampak sewot.
Akhirnya mobil Digta sampai di depan sekolah Ciya. Anak umur tujuh tahun itu keluar dari mobil setelah mencium tangan Digta dan juga Zeya. Setelah memastikan Ciya masuk ke dalam gerbang selolah, Digta kembali melajukan mobilnya membelah jalan raya.
***
“Tunggu….” Cegat Digta ketika Zeya hendak keluar dari mobilnya, setelah mobil Digta sudah berhenti di pelataran kampus.
“Kenapa, Mas? Eh, Pak.” Berhubung sudah di kampus, otomatis panggilan untuk Digta pun berubah.
“Jangan pergi sebelum mobil saya bersih,” ujar Digta ketus.
Zeya mengerutkan dahi. “Maksudnya, saya harus cuci mobil Bapak? Memangnya saya montir.”
Digta melotot tajam karena mendengar perlawanan Zeya. “Bukannya kamu baru saja makan di mobil saya? Lihat itu, mobil saya jadi kotor. Kamu harus membersihkan mobil saya sebelum keluar. Kamu mengerti, kan? Sapu kecilnya ada di bawa kursi.” Digta pun keluar dari mobilnya. Dan mengunci pintu mobil dari luar.
Membiarkan Zeya berada di dalam mobil yang terkunci, sedangkan Digta berdiri di depan pintu mobil sambil bersandar.
Zeya menatap lelaki itu tak percaya. “Wah, benar-benar sudah gila nih orang!”
Dengan terpaksa, Zeya mengambil sapu kecil di bawah kursi dan mulai mengumpulkan sampah makanan Zeya. Padahal, sampahnya juga nggak terlalu banyak.
Setelah selesai, Zeya mengetuk-ketuk jendela. “Bukaa woy!”
Digta pun membuka pintu mobilnya. Akhirnya Zeya berhasil keluar dari mobil.
“Sudah bersih mobilnya ya, Pak,” kata Zeya penuh senyuman yang terlihat ambigu.
Digta benar-benar mengecek kondisi mobilnya. “Oke, sudah. Kamu boleh pergi.”
Zeya mengeluarkan senyuman terpaksa di depan Digta sebelum melangkah pergi.
Menghilang dari dunia, ketika harus berhadapan dengan Digta adalah impian Zeya.
“Good Morning baby!” Seseorang tiba-tiba merangkul pundak Zeya.
__ADS_1
Membuat Zeya kaget, sampai refleks menyikut lelaki di sebelahnya.
Jerry meringis. “Aw! Sakit!”
“Eh, sorry-sorry, gue pikir siapa tadi.”
“Lo emang galak banget deh, mirip seperti kakak ipar lo.” Jerry meledek.
“Diem lo.”
“Gimana KRS gue? Udah ditandatangani, kan?”
Zeya membongkar isi dalam tas-nya dan memberikan KRS milik Jerry.
“Jangan lupa lo harus traktir gue!” Zeya mengacungkan telunjuknya.
“Apa sih, yang enggak buat kamu, baby!”
Zeya dan Jerry pun memasuki kelas yang sama, karena kebetulan mereka ada di dalam mata kuliahan yang sama pagi ini.
***
“Lo duduk di sebelah gue sini!” Jerry menarik kursi agar mereka bisa duduk berdekatan.
“Ih, kenapa?” Zeya menatap heran, tapi tetap duduk di sebelah Jerry.
“Karena sepertinya, lo itu pinter, Zey. Jadi, kalau gue kesulitan memahami ucapan Dosen. Ada elo yang ngebantu gue.”
“Menurut lo, gue sepinter itu?” Zeya menunjuk dirinya sendiri.
“Em….” Jerry mengukur wajah Zeya menggunakan jarinya. “Menurut pandangan gue sih, yes!”
Zeya terus memandangi lelaki tersebut dengan tatapan terpanah. Karena jujur, lelaki itu ganteng. Wanita mana yang tidak terpikat? Bahkan, hampir semua perempuan di kelas menatap ke arah lelaki tersebut.
“Woy!” Jerry melambaikan tangan di depan wajah Zeya. Lalu, Jerry juga ikut menatap ke arah mata Zeya memandang. “Wah, lo kepincut playboy, nih!”
“Darimana lo bisa tahu kalau tuh cowok playboy?”
“Dari gayanya, lah. Lo nggak lihat tuh, gayanya kelihatan masih muda banget? Seperti nggak niat ikutan jenjang S2.”
“Ngawur. Itu namanya keren, tahu. Di saat banyak orang-orang yang sudah berumur ikut S2, nah dia masih muda, tapi tetap masih mau belajar.”
“Sotoy lo, darimana lo bisa tahu dia masih muda. Jangan percaya penampilan deh. Umur nggak menjamim.”
Mulut mereka akhirnya bungkam ketika melihat Digta masuk ke dalam kelas.
Tak hanya bungkam saja, tapi mata mereka juga melotot lebar.
“Mampus gue!” Gerutu Zeya kesal sambil merosotkan diri di kursi.
“Kayaknya gue salah ambil mata kuliahan nih.” Jerry juga sampai menelan ludah.
“Pagi,” sapa Digta singkat. “Kita absen dulu.”
Digta mulai memanggil nama mahasiswanya satu per satu. Sampai akhirnya, Digta memanggil nama Zeya.
“Zeya Rainan Agustaf….”
Zeya mengacungkan tangan. “Hadir, Pak.”
__ADS_1
Digta kembali membaca nama di absen kelasnya. “Zega Ardian ….”
“Saya, Pak.” Lelaki ganteng yang ternyata duduk tepat di belakang Zeya mengacungkan tangan.
Digta menutup buku absennya. Lalu menatap penampilan Zega dengan saksama. “Siapa yang mengizinkan kamu menggunakan pakaian seperti itu?”
Zega menatap teman-teman di sekitarnya.
“Saya bicara dengan kamu!” Seru Digta kesal.
“Saya, Pak?” Zega menunjuk dirinya sendiri.
Digta menahan napas sejenak. “Kamu tahu ada peraturan di kampus, kan? Harus berpakaian yang sopan saat mengikuti kelas.”
“Loh, memangnya pakaian saya kurang sopan, kah?”
“Menggunakan celana jeans robek itu tidak sopan!” Digta memukul meja.
“Baik, mungkin lebih baik saya keluar saja dari kelas.” Zega menyandang ranselnya dan beranjak keluar kelas.
“Jangan pernah kembali ke kelas saya, karena kamu sudah saya beri nilai E. Siap-siap mengulang semester depan,” ucap Digta dengan tegas.
“What?” Zega menatap Digta tak percaya.
“Keluar dan tutup pintu,” ketus Digta.
Lalu Digta kembali melanjutkan mata kuliah pertamanya pagi ini tanpa memedulikan repons Zega.
***
Mereka baru bisa bernapas lega saat mata kuliahan Digta selesai.
Zeya bersyukur karena namanya tidak menjadi sasaran Digta selama lelaki itu mengajar.
“Pantesan aja tuh, Abang ipar lo dijuluki Dosen killer. Belum apa-apa, dia udah berani kasih nilai E untul mahasiswanya! Gile!” Jerry berkomentar sambil mensejajarkan langkahnya di sebelah Zeya.
Berhubung mata kuliahan selanjutnya akan berlangsung dua jam lagi. Jadi, mereka memutuskan untuk makan siang di kantin lebih dulu.
Zeya dan Jerry pun duduk di salah satu kursi kantin, ternyata Zega juga duduk di sana.
Zega terus memperhatikan Zeya, membuat Zeya salah tingkah.
“Zey, dia perhatiin lo terus,” ujar Jerry sambil menyikut Zeya.
“Iya, gue tahu. Gue emang cantik, sih.” Zeya merapikan rambutnya yang berantakan.
Tak lama setelah itu, Zega beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati Zeya.
“Zey, dia samperin elo!” Jerry jadi heboh sendiri.
Sedangkan Zeya semakin salah tingkah.
“Hai…” sapa Zega sambil mengeluarkan senyuman maut.
“Hai….” Zeya membalas.
“Zega.” Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya.
Zeya pun membalas. “Gue, Zeya.”
__ADS_1
“Oh, Zeya. Denger-denger, kamu adik Iparnya Pak Digta ya?”