
“Mas Digtaaa!” Zeya berteriak histeris dan panik.
Zeya bingung ingin minta pertolongan kepada siapa, karena saat itu para tetangga tidak ada yang keluar.
“Mas Digta cukup!” Zeya memeluk Digta dari belakang dengan kuat dan erat. “Cukup, Mas. Cukup.” Zeya memohon sambil menyandarkan wajahnya di punggung Digta.
Akhirnya, Digta berhenti memukul Zega. Ia mengembus napas dengan kencang dan kasar. Lalu, melangkah mundur.
“Masuk kamu ke dalam rumah, Zeya!” Bentak Digta pada Zeya.
Tapi, Zeya masih memeluk tubuh Digta dari belakang. “Zega, kamu pulang saja ya, aku mohon.”
Zega berusaha bangkit sambil menyentuh wajahnya yang sudah lebam dan babak belur. Matanya berubah menjadi setajam elang ketika melihat Digta sebelum lelaki itu masuk ke dalam mobil, dan mobil melesat meninggalkan rumah.
“Mas….” Zeya masih saja terisak.
Digta menyingkirkan Zeya dengan kasar. “Lepaskan!” Lalu, dia masuk ke dalam rumah.
Zeya buru-buru mengusap air matanya sebelum mengikuti langkah Digta. Lelaki itu duduk di sofa, kepala dan punggungnya bersandar di badan sofa.
Zeya melihat jari Digta penuh luka, ia berinisiatif untuk mengambil air dan kain guna mengompres luka di tangan Digta. Kemudian duduk di sebelah lelaki itu.
Baru saja ingin menyentuh tangan Digta, lelaki itu sudah menepis sentuhan Zeya dengan kasar.
“Berani sekali kamu ciuman dengan si brengsek itu, di depan rumah saya!” Seru Digta tegas.
Zeya masih merasa ketakutan. Karena ini pertama kalinya, Zeya melihat Digta bisa semarah dan semenyeramkan itu.
“M-maaf, Mas.” Zeya hanya bisa menundukkan kepala.
“Maaf kamu bilang?” Digta mengernyit. “Bukankah saya sudah berapa kali melarangmu untuk ciuman dengan si brengsek itu! Kenapa kamu masih saja berani melakukannya, ha?!” Bentak Digta kesal.
“Kenapa Mas Digta harus menjadi semarah itu? Padahal, kita sudah punya kehidupan masing-masing. Mami dan Papi sudah tidak ada di rumah ini, dan kita nggak perlu lagi melakoni drama seperti sepasang suami-istri pada umumnya. Mas Digta boleh membawa Bu Kiara ke rumah ini, tapi kenapa Aku nggak boleh membawa Zega.”
“Apa saya pernah mencium Kiara? Apa saya pernah memeluknya? Ada hal-hal yang perlu kamu batasi di sini, Zeya. Meskipun saya mengizinkan kamu berpacaran dengan si brengsek itu, tapi saya tidak izinkan kamu berbuat sesuatu di luar batas.” Lantas Digta bangkit berdiri, bahkan sebelum luka-luka di tangannya sempat diobati. “Bagaimana pun juga, kamu adalah istri saya. Apapun yang telah terikat dengan saya, akan tetap menjadi milik saya. Kamu mengerti?” Setelah mengatakan kalimat dingin dan ketus itu, Digta langsung masuk ke dalam kamarnya begitu saja.
Zeya semakin menangis terisak. “Mas Digta egois!”
__ADS_1
***
Semenjak kejadian malam itu, Zega tidak lagi menerima panggilan telepon dari Zeya, bahkan Zega tidak membalas pesan dari Zeya.
Zega sengaja menghindari Zeya, dan Zeya merasa tidak enak hati padanya.
“Pagi Ayah, Pagi Tante Zeya.” Ciya menyapa keduanya saat baru saja bergabung di meja makan untuk sarapan.
Ciya merasa ada yang aneh terjadi pada Ayah dan Tante-nya. Ciya terus memperhatikan mereka berdua secara bergantian. Biasanya, sarapan pagi diawali dengan kebisingan karena Digta dan Zeya selalu saja beradu pendapat atau berantem kecil.
“Kenapa Tante Zeya dan Ayah diam saja?” Ciya membuka mulutnya. “Lagi pada berantem ya,” lanjut Ciya polos.
“Ehem.” Digta berdehem setelah meneguk segelas air. “Nanti sore, ART akan tiba di rumah dan mulai bekerja di sini untuk membantumu.” Digta akhirnya membuka suara sambil bangkit dari kursi. “Cepat selesaikan sarapannya, saya akan menunggu di luar.” Lantas segera beranjak pergi.
“Tante Zeyaa, Ayah kenapa, sih?” Ciya masih bertanya karena penasaran.
Zeya mengangkat bahu. “Mungkin, Ayah mau berubah jadi monster menyeramkan.”
Ciya terkikik geli. Setelah sarapan selesai, mereka pun segera melesat pergi mengantar Ciya ke sekolah terlebih dahulu. Barulan mereka pergi ke kampus. Selama di perjalanan, tidak ada satu pun yang membuka suara, keduanya hening dan diam. Sampai akhirnya mobil Digta berhenti di pelataran kampus.
“Pak Digta….” Lagi-lagi, Kiara datang menghampiri. Membuat Zeya malas melihat mereka berdua dan memutuskan untuk melangkah lebih dulu.
Zeya mencari keberadaan Zega di kampus, tapi motor Zega juga tidak ada terparkir di kampus. Membuat Zeya semakin cemas.
***
“Jer, lo lihat Zega nggak?” Zeya duduk di samping kursi Jerry sesampainya di kelas.
“Enggak, tuh. Motornya juga nggak ada. Nggak dateng kali,” ucap Jerry santai. “Elo kan, pacarnya, Zey. Masa, elo tanya gue, sih?!”
Zeya mendengus sebal, ia tidak menanggapi ucapan Jerry. Zeya mencoba untuk menghubungi Zega kembali, tapi lagi-lagi Zega tidak menanggapinya.
Zega pasti marah besar.
“Pagi semua ….” Kuliah pertamanya di mulai dengan mata kuliahan dari Digta. Lelaki itu masuk, dan menaruh barang-barangnya di meja.
Mata Digta berpendar seolah mencari keberadaan Zega yang tidak ada di kelas, kemudian menatap Zeya cukup lama.
__ADS_1
“Oke, langsung saja kita mulai kuliah hari ini. Jadi, apa kalian sudah—“
Belum sempat Digta menyelesaikan penjelasannya, pintu ruangan sudah diketuk.
TOK-TOK.
Dion datang menghampiri. “Permisi, Pak Digta. Ada yang ingin bertemu dengan Anda.” Dion menunjuk tiga orang berpakaian polisi yang berada di sekitarnya. Tak hanya polisi, tapi Zega juga hadir di sana.
Zega menatap Zeya sejenak dengan takut. Membuat Zeya terbelalak kaget, dan bingung mengapa Zega bisa datang bersama para polisi.
Polisi tersebut masuk ke dalam ruangan. “Dengan Pak Digta?” Tanya salah satu di antara mereka.
“Benar, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Digta menjawab tanpa beban.
“Maaf, Pak, kami telah membawa surat penangkapan untuk Bapak atas tuduhan penganiayaan. Bapak bisa membawa pengacara ke kantor polisi sebagai pembela. Bapak dan saksi akan kita bawa ke kantor polisi untuk segera diamankan.” Polisi tersebut langsung menahan tangan Digta dan hendak membawanya pergi.
Zeya segera bangkit dan mendekat. “Stop! Bapak tidak berhak membawa Pak Digta!”
“Maaf, Bu, Anda ini siapa? Kami harus membawa Pak Digta dulu untuk dimintai keterangan,” jelas polisi.
Zeya menatap Zega dengan sebal. “Apa ini semua rencana kamu? Apa kamu yang sudah melaporkan Pak Digta ke polisi? Itulah sebabnya kamu tidak menerima panggilan dari aku dan membalas pesan aku?” Zeya menarik kera baju Zega dengan kesal. “Apa yang kamu rencanakan sebenarnya, Zega!”
“Zeya, sadarlah. Aku juga ingin menyelamatkan kamu dari Pak Digta karena dia terus menahan kamu seperti di penjara! Dan Pak Digta pantes mendapatkan ganjaran ini, karena dia hampir membunuhku! Kamu tidak lihat wajahku sampai babak belur begini?”
“Tapi bukan begini caranya Zega! Kamu bisa bicarakan dulu hal ini sama aku!”
“Sorry, Zey.” Zega bersikap masa bodo, sekalipun Zeya bersimpuh di kakinya. Karena sejak dulu, dia memang tidak menyukai Digta. Ditambah lagi, karena Digta sudah bikin wajahnya babak belur. Kali ini, Zega tidak akan memberi ampun.
Polisi kembali membawa Digta yang tak bisa berbuat apa-apa selain diam.
“Pak, lepasinnn, jangan bawa Pak Digta!” Zeya berusaha menarik Digta, tapi semua sia-sia.
“Silakan datang ke kantor dan membawa pengacara ya, Bu,” ucap polisi tersebut.
“Mas Digtaaaa!” Zeya berteriak ketika mereka sudah menghilang dari kelas sambil membawa Digta.
Zeya mengusap wajah frustrasi. Mengapa semua jadi serunyam ini?
__ADS_1