
Digta mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana.
Ada satu pesan dari Zeya.
From : Zeya
To: Digta
[Mas, pulang dari bikin tugas kelompok, aku izin pergi ya. Zega ingin ngajak aku ke kondangan kakaknya. Dan pulangnya malem]
Digta menghela napas gusar. Ada-ada saja tingkah laku Zeya yang membuat kepala Digta pusing. Sejujurnya, hal ini bukan menjadi urusannya. Kemana Zeya pergi, itu urusan perempuan itu sendiri. Karena perempuan itu juga sudah dewasa, bukan anak kecil yang harus diawasi lagi.
Tapi, keberadaan Tina membuat Digta harus lebih menjaga Zeya agar tidak ada pembicaraan buruk nantinya.
From: Digta
To: Zeya
[Ok]
Digta bingun harus balas apa. Mungkin dua kata itu adalah belasan terbaik.
“Pak Digta….” Kiara menyebut namanya sambil bangkit dari kursi—ketika mereka sedang berada di ruangan dosen. “Saya pamit pulang dulu ya.” Kiara tersenyum manis.
Digta melirik jam tangannya. “Tumben cepat sekali, Bu.”
“Iya, ada acara nikahan keponakan saya. Itu, kakaknya si Zega,” ucap Kiara lagi. Bikin Digta jadi teringat akan sesuatu.
Pesan singkat dari Zeya yang meminta izin untuk pergi ke pesta kakak Zega. Digta jadi berpikir, apakah lebih baik dia ikut dengan Kiara ya? Daripada, dia harus berada entah dimana sambil menunggu Zeya pulang. Dan nanti pulangnya juga bisa barengan dengan Zeya langsung.
“Saya boleh ikut?” Digta mengajukan pertanyaan ini tanpa dosa.
Bikin mata Kiara terbelalak. “Ikut?”
“Kalau Bu Kiara nggak keberatan.” Digta mengeluarkan jurus senyuman maut yang dingin.
“Ng—boleh banget, Pak. Untung-untung, saya bisa dikira lagi bawa pendamping ke pesta dan nggak ditanya kapan nikah mulu. Tapi—“ jeda sejenak, Kiara melirik jam tangannya. “Saya mau pergi ke mall untuk membeli pakaian dan ke salon dulu.”
“Nggak masalah, saya temani sekalian.”
Kiara semakin kaget. “Serius, Pak Digta mau menemani saya?”
Digta mengangguk.
“Makasih banyak, Pak.”
“Naik mobil saya saja gimana?”
“Boleh, Pak.”
Digta pun memasukkan buku-buku ke dalam tas dan beranjak dari kursi.
***
Sejujurnya, Digta tidak pernah menemani perempuan ke salon. Karena dulu, istrinya tidak hobby ke salon. Dan kalau pun belanja ke mall, Ambar orang yang sangat sat set sat set hingga Digta tidak perlu menunggu lama.
Tapi, hari ini, pertama kalinya dalam sejarah Digta harus menemani Kiara di salon entah alasan apa. Dan entah sampai berapa lama dia akan berada di sini.
Begitu membosankan ternyata.
Digta membaca sebuah majalah yang tersedia di salon, dan ternyata majalah ini tidak seseru buku pelajaran yang ia baca.
Tidak tahan lagi, Digta pun bangkit dari sofa.
__ADS_1
“Bu Kiara, maaf. Saya izin ke toilet dulu.”
“Iya, Pak Digta.”
Digta pun keluar dari salon dan memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar mall. Lalu, langkahnya terhenti di salah satu toko mall saat melihat Zeya dan Zega sedang berbelanjan pakaian.
Digta menggeser posisinya agar tidak terlihat oleh mereka, dan melihat keduanya dengan saksama.
Digta menghela napas.
Memangnya, apa yang mau dia lakukan jika melihat Zeya dan pacarnya itu?
Ah, sudahlah. Digta pun kembali melangkah pergi.
Selepas Digta pergi, Zeya sempat mendongak dan melihat seorang lelaki yang sangat mirip seperti sosok Digta.
Ya ampun, Zey… kenapa tiba-tiba jadi mikirin si Jin Tomang itu, sih?! Ada-ada saja.
***
Selepas dari mall dan salon, Kiara mengajak Digta untuk ke apartemennya sebentar karena Kiara ingin siap-siap dulu sebelum berangkat menuju pesta.
“Pak Digta nggak keberatan kalau menunggu di apartemen sebentar? Saya mau mandi, berpakaian, dan dandan dulu,” kata Kiara beruntun.
“Nggak masalah, Bu.” Digta duduk di sofa apartemen Kiara.
Lalu Kiara menyalakan televisi. “Nonton tv saja, Pak. Agar tidak bosan.”
“Terima kasih.”
Kiaran masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Digta mematap televisi di hadapannya dengan sebal. Karena Kiara membuka acara gossip di televisi. Digta pun langsung mengganti channel di tv.
Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya Kiara selesai berpakaian dan dandan.
Jujur, Digta cukup terpana dengan penampilan Kiara yang terlihat cantik dan menawan dengan menggunakan gaun berwarna merah maroon. Tapi, tetap lebih cantikan Ambar kemana-mana.
Digta menyeringai geli. “Saya nggka mungkin mandi di sini, Bu.”
“Kalau Pak Digta mau, saya temani pulang ke rumahnya juga nggak masalah?”
Ke rumah? Bisa-bisa, Tina ngomel panjang kali lebar jika melihat Digta bersama perempuan lain.
“Enggak, Bu. Saya nggak bau-bau amat, kan?”
Kiara tertawa. “Hahah, justru nggak bau sama sekali kok, Pak. Maaf ya, bukan menyinggung.”
“Nggak masalah. Yasudah, ini kita langsung ke pesta keponakan Bu Kiara saja?”
“Boleh, Pak.”
Lalu, mereka pun kembali melesat pergi menuju sebuah taman—tempat acaranya berlangsung.
***
Ketika Digta dan Kiara baru memasuki tempat pesta pernikahan, seluruh keluarga Kiara langsung kaget dan mengerumuni mereka. Seolah, mereka begitu kaget melihat Kiara datang bersama seorang lelaki.
“Wah, alhamdulilaah, akhirnya Kiara bawa calon pasangannya!” Seru Leni yang kelihatan begitu bahagia.
“Ki, calonmu kali ini harus di jampi-jampi ya, agar tidak lepas lagi!” Seru Azizah, kakak Kiara nomor satu.
“Betul, kalau bisa jangan lama-lama pacarannya. Langsung menikah saja!” Lanjut Anti, Kakak Kiara nomor tiga.
“Wah-wah, calonmu ganteng juga ya, Ki. Kamu selalu tidak salah pilih calon. Tapi, nasibmu saja yang suka sial,” ucap Agus. Pakde Kiara.
__ADS_1
Digta menjadi salah tingkah karena dikelilingi seperti artis begini. Sedangkan Kiara sudah tersipu malu.
“Heheh, iya, Kak, Pakdhe. Aku ke sana dulu ya.” Kiara buru-buru membawa Digta pergi sebelum mereka dibombardir lagi dengan pertanyaan serius. “KAPAN NIKAH?”
“Pak Digta, maaf ya, sudah bikin Bapak risih. Keluarga saya memang selalu heboh jika saya bawa laki-laki, karena sampai saat ini saya tidak kunjung menikah.” Kiara meresa tidak enak hati—saat mereka sedang mengambil kue-kue di stand makanan.
“Nggak masalah, Bu. Saya paham. Lagipula, kenapa Bu Kiara belum juga menikah, padahal Bu Kiara ini cantik.” Ucapan Digta bikin wajah Kiara merona.
“Belum ketemu yang cocok, Pak. Karena selama ini, saya selalu gagal terus dalam urusan percintaan. Kali ini, saya mau mencari yang benar-benar serius, Pak.”
“Memangnya, selama ini tidak ada yang serius?”
“Hahaha.” Kiara menggelengkan kepala. Merasa malu pada dirinya sendiri.
“Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya ya, Bu.”
“Terima kasih, Pak.”
***
Di sisi lain, kali ini Zega membawa Zeya tidak menggunakan motor. Melainkan naik mobil, karena Zeya memakai gaun sebatas lutut. Jadi, jika naik motor, roknya akan tersingkap sampai paha. Dan bikin paha mulusnya menjadi tontonan gratis masyarakat.
“Ayo turun.” Dengan gantleman Zega membukakan pintu mobil untuk Zeya ketika mobil yang dia kendarai berhenti di pelataran acara.
“Makaih, Ga.” Zeya menjadi salah tingkah. Karena tidak pernah ada yang memperlakukannya sebaik Zega.
Bahkan, SUAMI-nya sendiri bersikap KASAR!
Oke, Zeya. Ingat, dia bukan suamimu. DIGTA BUKAN SUAMIMU. Hanya suami di atas kertas.
Setelah itu, Zeya menggandeng tangan Zega sambil masuk ke dalam acara pesta.
“Wah, Zega, kamu bawa pacar juga ternyata! Budhe kirain jomblo!” Seru Azizah kaget. Karena selama ini, dia tidak pernah melihat Zega datang bersama pasangan.
“Hebat bener kamu, sama seperti Tante kamu itu,” ucap Anti.
“Tante siapa?” Zega mengerutkan dahi bingung.
“Si Kiara. Dia datang ke pesta bawa calon.”
“Serius? Mudah-mudahan, kali ini calonnya nggak gagal lagi ya, Budhe. Yasudah, kami mau makan dulu. Sudah laper soalnya.”
Zeya tersipu malu ketika Zega membawanya masuk ke dalam pesta dan menuju ke stand makanan.
“Kamu mau makan apa, Zey?” Tanya Zega.
Zeya memperhatikan keadaan sekitar. “Um, apa ya? Bingung, banyak banget….”
“Yasudah, makan saja semuanya.”
“Ntar aku gendut lagi.”
“Nggak apa-apa. Kamu bukan gendut, tapi chubby!!!” Zega mencubit pipi Zeya dengan gemas.
“Ciee, cubit-cubitan nih.” Kiara tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Digta yang melihat Zega mencubit-cubit pipi Zeya sembarangan—langsung melotot tajam.
“Tante….” Zega kaget, melepaskan pipi Zeya. Bukan karena kehadiran Kiara, tapi karena dia melihat sosok yang dia takutkan muncul.
Siapa lagi kalau bukan Digta, dosen sekaligus kakak ipar Zeya yang galak. Apalagi, ketika Zega melihat mata Digta melotot sangat tajam ketika Zega mencubit pipi Zeya.
Bukan hanya Zega saja yang kaget. Zeya juga syok melihat kehadiran kakak iparnya. Ralat, suaminya ada di sini. Di pesta ini, bersama Kiara.
__ADS_1
Zeya menatap Digta dan Kiara bergantian.
“Mas Digta ngapain di sini?”