
Hidup ini tentang perjalanan, bukan? Jadi, nikmati saja prosesnya, jangan dipikirkan endingnya.
Meski sebenarnya, Ambar sudah siap dengan ending yang sudah Tuhan tentukan untuknya. Ambar juga sudah siap jika suatu hari nanti, Tuhan akan mencabut nyawanya.
Hanya saja, proses yang Ambar hadapi saat ini tidaklah mudah. Apalagi, membuat suami dan adiknya bersatu? Itu sebuah kemustahilan. Tapi, takdir tidak ada yang tahu, kan?
“Aku sudah memutuskan, kalau kita akan tetap pergi ke Mayalsia. Kamu tentukan saja waktunya, besok atau lusa.” Digta membuka suara setelah sekian lama mereka hanya diam saat duduk di atas kasur.
Ambar menoleh dari ponsel di hadapannya. “Mas, aku sudah booking villa di puncak untuk besok.” Ambar memperlihatkan bukti transfer di ponselnya pada Digta.
Digta melempar buku yang dia baca ke kasur, lalu menatap istrinya tajam. “Kenapa kamu selalu bikin keputusan sendiri seenaknya?” Intonasi Digta meninggi
“Mas, biasanya juga aku yang bikin keputusan kalau kita mau pergi liburan, kan?” Wajah Ambar tanpa dosa.
“Ambar, ini menyangkut masalah kesehatan kamu. Kenapa kamu selalu bersikap seenaknya, padahal ada yang lebih penting daripada liburan! Yaitu pengobatan kamu.”
Ambar tersenyum. Perempuan itu menggeser posisi tubuhnya lebih dekat dengan Digta, dan sengaja menyandarkan kepalanya di dada Digta.
“Mas, bagiku, menghabiskan waktu bersama keluarga di sisa hidupku adalah hal terpenting. Dan aku nggak ingin melewatkan satu moment pun bersama kalian, Mas. Aku juga ingin ada dipelukan kamu setiap menit, setiap detik.”
Kalau sudah begini, Digta tidak bisa apa-apa selain pasrah. Sejujurnya, dia sedih. Tapi, bagaimana cara mengekspresikan kesedihan itu di depan istrinya yang sedang sekarat.
Digta juga sama, dia tidak ingin melewatkan satu moment pun bersama Ambar.
“Mau ya, Mas. Ke puncak besok? Please ….” Ambar mendongak menatap suaminya dengan wajah penuh mohon.
Lagi-lagi, Digta menarik napas panjang. “Iya,” katanya singkat.
***
“Aku nggak bisa ikut, Mba, aku harus kuliah!” Begitu kata Zeya setelah mendengar ajakan dari Ambar pagi ini.
Sekarang, mereka sedang melakukan sarapan pagi bersama.
“Libur dulu beberapa hari. Nanti Mas Digta akan bantu dapatkan izin dengan dosen-dosen kamu,” kata Ambar secara gamblang yang bikin Digta tersedak makanannya.
“Ambar….” Digta melotot. Kenapa bawa-bawa nama dia lagi.
“Mas….” Tapi, lagi-lagi Ambar mengeluarkan jurus jitu. Perempuan itu cukup menyentuh tangan Digta yang ada di atas meja makan. “Aku sudah minta izin dengan guru Ciya untuk libur, dan kamu juga harus bantu Zeya.”
“Mba, aku nggak mungkin libur. Aku harus kuliah. Iya, kan, Mas!” Zeya memberi kode dari tatapan matanya pada Digta.
“Ng—iya.” Digta bingung harus menjawab apa.
“Mas, tolong dong.” Ambar memohon lagi.
Digta nggak bisa diginiin. Hatinya pun luluh melihat wajah memelas Ambar.
Akhirnya, Digta nggak bisa membantah permintaan Ambar. “Yaudah iya, nanti aku akan bantu Zeya dapatkan izin.”
“Isss!” Kini Zeya yang kesal. Sampai-sampai menendang kaki Digta di bawah meja.
Membuat Digta mengiris kesakitan. “Aw.”
“Kenapa, Mas?” Tanya Ambar kaget.
“Nggak apa-apa.”
***
Lagi-lagi Zeya terjebak dalam perjalanan konyol ini! Kenapa Zeya harus mengikuti kemana keluar ini pergi.
Padahal Zeya masih muda, masih bisa menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman dan pacar.
Bukan dengan cara seperti iniii!!!
Zeya duduk di kursi belakang sambil menatap jendela di sebelahnya dengan perasaan dongkol. Sedangkan Ciya terus bernyanyi di mobil dan menikmati perjalanan ini penuh suka-cita.
__ADS_1
“Tante Zeya, tahu lagu Jalan-Jalan ke Puncak Gunung nggak?” Ciya menyodorkan pertanyaan.
sejujurnya Zeya malas menanggapi ataupun membalas tatapan Ciya. Mengingat, dia begitu dongkol dengan perjalanan ini.
Tapi, wajah polos Ciya bikin hatinya luluh.
“Bukan Jalan-jalan ke puncak gunung, Ciya. Tapi, naik-naik ke puncak gunung,” kata Zeya akhirnya sambil senyum.
“Oh, salah ya berarti. Um, gimana lagunya, Tante?”
“Gini, naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja, banyak pohon cemara ha ha ha.” Zeya malah bernyanyi. Ciya pun mengikuti lagunya dan mereka jadi nyanyi bersama.
Tanpa Zeya sadari, kalau Digta curi-curi pandangan ke arah Zeya dari kaca spion depan. Dan tanpa Digta sadari, Ambar juga memperhatikan Digta yang curi pandang ke arah Zeya. Ambar mengulas senyuman.
***
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang karena sedikit terjebak macet. Akhirnya, mereka sampai juga di villa yang telah Ambar booking.
Villanya lumayan luas dan mewah, dan pemandangan di sekitar villa juga sangat bagus. Dari villa menuju kebun teh jaraknya lumayan dekat.
Zeya mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan memutuskan untuk jalan-jalan ke sekitar villa.
“Zey, mau kemana?” Tanya Ambar melihat Zeya jalan keluar villa.
“Mau jalan-jalan, Mba,” jawab Zeya.
“Jangan jauh-jauh, ini sudah senja.”
“Oke, Mba.”
Digta mengabaikan kepergian Zeya dan duduk di sofa bersama Ciya.
“Sayang, enaknya cuaca dingin-dingin begini makan mie, deh,” kata Digta memberi kode pada istrinya yang baru saja ikut duduk di kursi.
Ambar terkekeh geli. “Kamu mau aku masakin mie?”
“Kalau kamu nggak keberatan.”
***
Zeya terus mengarahkan kameranya ke arah wajah sambil berselfie ria. Zeya paling senang lihat pemandangan bagus sedikit, karena dia bisa mencari kesempatan untuk foto-foto. Bahkan, tanpa Zeya sadari, dia telah sampai di sebuah hutan pinus.
Zeya semakin mundur demi mendapatkan foto yang pas untuk dirinya. Tanpa menyadari, kalau kaki Zeya menyentuh ujung bukit, membuat Zeya terpeleset dan jatuh terguling sampai ke bawah bukit.
“Aaawwww!” Zeya meringis karena kakinya terluka akibat terkena kayu.
Zeya mencari keberadaan ponselnya yang entah di mana, ia pun berusaha bangkit dan mencapai bukit untuk membawanya kembali ke atas. Tapi kakinya terlalu sakit dan bukitnya juga terlalu tinggi. Sangat sulit kemungkinan Zeya untuk bisa mencapai atas bukit.
Mana hari sudah mau gelap, dan kondisi hutan sagat mengerikan.
“TOLONGGGG!” Zeya berusaha berteriak. Tapi yang terdengar hanya suara kicauan burung.
Zeya merengut dan rasanya ingin sekali menangis karena dia harus terjebak di hutan sendirian.
“Tolongggg!” Zeya terus berteriak tanpa kenal lelah. Sampiai akhirnya suara Zeya pun mau habis dan dia kehausan.
Zeya duduk di rerumputan sambil menangis tersedu-sedu. “Tolong, aku terjebak di sini. Hiksss. Aku takutt, hikssss!”
Zeya tidak punya piliha lain selain menunggu keajaiban. Kakinya yang terluka parah menghambat langkah Zeya untuk memanjat phon dan naik ke atas bukit lagi.
Aku hanya ingi PULAAANGGGGGG! Batinnya menangis histeris.
***
Gemuruh petir mulai terdengar, sampai membuat jendela kaca di villa bergetar.
Ambar mengintip kondisi di luar jendela dan menunggu kehadiran Zeya yang tak kunjung datang.
__ADS_1
“Mas, Zeya belum pulang.” Ambar menatap suaminya yang sedang asik nonton televisi di ruang tengah.
“Iya, ntar lagi dia juga pulang.” Digta menjawab santai.
“Mas, aku cemas. Karena di belakang villa ini ada hutan pinus. Takutnya dia malah main
ke sana.”
“Nggak ada kerjaan sekali dia main ke sana.”
“Mas….” Ambar memelas.
Digta lsngsung bangkit dari kursi. “Iya-iya, aku cari.”
Digta menggunakan jaket tebal karena cuaca di luar cukup dingin. Dan dengan terpaksa dia harus mencari keberadaan Zeya.
Digta mencari di sekitar villa, mengelilingi villa, lalu berjalan sedikit menuju kebun teh yang tidak berpenghuni, kemudian dia masuk ke sebuah hutan pinus.
Keadaan langit semakin gelap dan bergemuruh petir. Angin juga sudah bertiup kencang.
Digta terus meneriaki nama Zeya. “Zeyaaaaa! Zeyaaa!”
Zeya mendengar suara Digta. Perempuan itu berusaha untuk berdiri, tapi luka di kakinya semakin parah.
“M-mas, D-digta!” Zeya berusaha berteriak kencang meski sulit.
“Zeyaaa….” Teriakan Digta semakin dekat.
Zeya berusaha meraih sebuah kayu dan memukul sesuatu yang menimbulkan suara.
“Zeya!” Untunglah Digta sudah melihat keberadaan Zeya yang terjebak di bawah bukit. “Kamu ngapain di situ?”
“Aku susah gerak, Mas. Kakiku sakit banget.” Zeya berusaha bicara dengan suara keras agar terdengar oleh Digta.
“Kamu ini, tidak ada hari selain menyusahkan saya ya!”
Zeya cemberut. “Kalau Mas nggak mau bantuin, nggak perlu ngomel-ngomel!”
“Sabar!” Digta berusaha turun ke bukit sambil menyentuh kayu-kayu pohon di sekitar sampai akhirnya, Digta berhasil tiba di bawah.
Digta menghela napas panjang melihat kondisi kaki Zeya. “Ckckck, makanya kamu itu jangan suka membantah omongan Mba kamu. Kualat jadinya, kan!”
Zeya tidak bisa marah lagi, karena dia sudah merasa bersyukur bisa ditemukan oleh Digta. Kalau tidak, mungkin dia sudah dimakan oleh hewan-hewan buas di sekitar sini. Zeya menangis.
“Hiksss, Mas harus tolong aku.”
“Udah ah, jangan cengeng kamu. Ayo cepat, saya bantu berdiri.” Digta berusaha membantu Zeya berdiri.
Sekarang yang menjadi pikiran Digta adalah, bagaimana cara Digta membawa Zeya naik ke atas bukit dalam kondisi kaki mengenaskan begini.
“Huf!” Digta melenguh panjang.
Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebarnya. Membuat Digta dan Zeya kebingungan.
“Waduh, gimana ini?” Digta mendengarkan pandangan ke sekeliling. Sampai akhirnya, Digta melihat sebuah gubuk seperti gudang berada tak jauh darinya. “Kita berteduh dulu.” Digta membawa Zeya melangkah.
Tapi, langkah Zeya seperti siput. Karena kesal, Digta pun menggendong tubuh Zeya.
“Eh, eh, Massss!” Zeya berteriak panik.
Tapi, Digta tidak peduli karena hujan mengguyur sangat lebat. Mereka pun berhasil masuk ke dalam sebuah gudang tersebut dan memutuskan untuk berteduh di sana.
“Kita tunggu di sini dulu sampai hujan reda.” Digta meletekan tubuh Zeya di lantai.
Zeya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang gelap ini. Lalu, dia menatap Digta dengan curiga.
“Awas kalau Mas mikir yang macem-macem, yaaa!” Zeya menyilangkan tangan di dada.
__ADS_1
Digta malah tertawa. “Sorry, Zeya. Kamu bukan tipe saya. Tubuhmu bantet dan gembrot seperti kerbau.”
Apa katanya? Kerbau? Dia bilang aku gembrot!! Hellowww, ini bukan gembrot tapi montogg!