
Tiga hari setelah kepergian Ambar, rumah terlihat semakin sepi dan sunyi. Sedangkan Digta masih memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Bahkan, dia sampai tidak mengikuti takziah yang diadakan setiap malam di rumahnya.
Jangankan itu, Digta juga menolak makanan dan minuman yang ingin diantar ke kamarnya.
“Digta masih mengurung diri di kamar, Zey?” Tanya Mama saat menghampiri Zeya yang tengah bermain di kamar bersama Ciya.
“Iya, Ma,” jawab Zeya sekenanya.
“Keluar yuk, ada orangtuanya Digta di luar.”
Zeya menangkat alis. “Ah, Mama sajalah yang ke luar. Aku di sini bersama Ciya.”
“Bawa Ciya sekalian, mereka juga ingin bertemu cucunya,” jelas Mama lagi.
Zeya menghela bapas berat. “Iya, Ma.” Dan mau tak mau harus keluar dari kamarnya bersama Ciya.
Zeya pernah bertemu dengan orangtua Digta sekali. Itu juga saat hari pernikahan Digta dan Ambar. Setelah itu, Zeya sudah lama tidak bertemu orangtua Digta. Lagipula, mereka tinggal di Kalimantan. Jadi, jarang sekali berkumpul bersama.
“Salam dulu, Zey.” Perintah Mama.
Zeya menyalami Mami dan Papi Digta yang sudah duduk di kursi ruang tengah. Lalu, perhatian kedua orangtua Digta beralih ke arah Ciya.
“Ciyaaa…. Ya Allah sudah besar cucu Oma.” Tina—Mami Digta menarik Ciya ke dalam pelukan. “Sudah lama kita tidak bertemu, terakhir kali lebaran tahun kemarin.”
“Semakin cantik cucu Opa ini,” sahut Tio—Papi Digta. “Ngomong-ngomong, Digta dimana?”
“Itulah, Bu, Pak. Digta tidak mau keluar kamar sudah tiga hari ini.” Mama menatap mereka dengan wajah memelas.
“Dia pasti merasa sangat kehilangan.” Tina menyeka air matanya di pelupuk. “Kami pun merasa kehilangan dengan sosok Ambar. Saya tidak menyangka kalau Ambar akan pergi secepat ini, Buk. Kami turut berduka cita atas kepergian Ambar ya, Buk Dian dan Pak Agung. Digta sering cerita tentang Ambar, dan dia bilang kalau Ambar adalah istri yang baik.” Tina tidak dapat membendung air matanya.
“Sebelum Ambar pergi, dia mengucapkan satu permintaan kepada kami, Pak, Bu,” kata Mama lagi menatap Tina dan Tio. “Ambar ingin kalau Zeya, adik Ambar—“ Mama menyentuh pundak Zeya ketika perempuan itu duduk di sebelah Mama. “Menggantikan posisi Ambar sebagai istri Digta dan juga Ibu dari Ciya.”
Tina berhenti menangis. Dia dan suaminya saling bertatapan. “Ma-maksud Bu Dian apa ya?”
“Satu hari sebelum kepergian Ambar, Ambar ingin menyaksikan pernikahan Digta dan Zeya. Sampai akhirnya, kami harus menikahkan Digta dan Zeya demi mewujudkan permintaan terakhir Ambar.”
Tina mengerutkan dahi semakin dalam sambil menatap Zeya. “Maaf, Bu, maksud Bu Dian, Zeya dan Digta sudah menikah?”
__ADS_1
“Betul sekali, Bu Tina.” Papa menganggukkan kepala. “Kini, Zeya anak bungsu kami telah resmi menjadi istri anak Buk Tina dan Bapak Tio.”
“Ya ampun.” Tina merasa tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Dia menatap suaminya kembali. Wajah mereka terlihat kebingungan. “Ini kejadian yang sangat langkah.”
“Jadi, mulai sekarang, Bu Tina tenang saja, karena Ciya akan dijaga oleh anak kami juga. Dan kita masih tetap menjadi besan,” lanjut Mama lagi.
Tina menarik napas dalam-dalam. “Kasihan sekali ya. Padahal, Digta baru saja kehilangan istrinya, tapi sudsh diminta untuk menikah lagi. Ini pernikahan secara paksa, kan?”
“Bu Tina, kami hanya menuruti permintaan terakhir Ambar. Dan Digta juga tidak keberatan, kok.” Mama kembali menjelaskan dengan rinci.
“Baiklah kalau begitu, Bu.” Meski terasa aneh baginya, tapi Tina tetap menerima keputusan ini dengan lapang dada.
***
“Mama udah mau pulang ya?” Zeya menatap sedih orangtuanya saat menyusun pakain ke dalam tas.
“Iya, Papamu juga banyak pekerjaan di Semarang. Nggak mungkin ditinggal terlalu lama, Zey,” ucap Mama. “Lagipula, mertuamu akan di tinggal di sini. Dan tidur di kamar ini.” Mama menunjuk kamar Zeya yang selama ini mereka tempati.
“Terus, aku tidur di kamar Ciya lagi ya.”
“Tidur di kamar Digta, dong,” kata Mama.
“Loh, kok nggak mau. Dia itu suami kamu, Zey.”
“Ma, cukup deh sebut dia sebagai suami aku. Aku belum siap menjadi seorang istri, Ma.”
“Zeya….” Mama menghela napas panjang dan mendekati Zeya. “Mau tidak mau, kamu harus siap menjalani kehidupan sebagai seorang istri
Zeya cemberut dan menangis. “Gimana caranya aku siap, Ma… kami nggak saling cinta.”
“Zeya, anak Mama. Cinta itu akan timbul karena terbiasa. Jadi, kamu sabar saja ya, Nak.”
“Maa, aku ikut pulang dong. Pleasee… aku nggak mau terjebak di sini.” Zeya semakin menangis dengan histeris.
“Jangan begitu dong. Kamu harus kuat dan mandiri. Mama titip Ciya ya.” Mama memeluk Zeya dengan erat. Dan rasanya, Zeya ingin menghilang saja dari bumi jika harus terjebak bersama Digta di rumah hanya berdua. “Mama pergi dulu.” Mama mencium pipi Zeya sebelum membawa tasnya keluar kamar.
Lalu, Mama menghampiri Papa yang sejak tadi sudah menunggu di ruang tamu dan sedang berbincang-bincang bersama Tina dan Tio.
__ADS_1
“Pa, ayo kita pergi. Taxi kita sudah menunggu di depan.” Ajak Mama. Papa pun bangkit dari kursi.
“Kami pamit pulang dulu ya, Buk Tina dan Pak Tio.” Mereka saling berjabat tangan.
“Titip anak kami ya, Buk. Zeya ini anak bungsu kami dan selama ini terbiasa dimanja. Sangat berbeda sekali dengan kakaknya yang sejak dulu sudah hidup mandiri. Jadi wajar jika Zeya tidak mengerti hidup berumah tangga. Mohon dibimbing anak kami ya, Bu,” ucap Mama pada Tina seolah mengucapkan sebuah permintaan mendalam.
“Bu Dian tenang saja.” Tina tersenyum. Entah mengapa, Zeya takut melihat semyuman dari mertuanya.
Mertua?
Huh! Bahkan, menyebut nama mertua saja, Zeya menjadi gagu.
“Zey, sampaikan salam Mama dan Papa kepada Digta ya. Nanti, kami akan menghubungi Digta,” ucap Mama lagi pada Zeya.
Zeya hanya mengangguk sambil menangis. Dia terus minta tolong, tapi siapa yang mau menolongnya di saat seperti ini? Karena Zeya telah terjebak di dalam skenario episode baru yang diciptakan oleh Ambar.
“Jaga diri ya, Nak.” Kini Papa mencium kepala Zeya.
Setelah itu, Mama dan Papa pun pergi keluar dari rumah dan naik taxi. Zeya melambai, masih menangis sampai taxi yang dinaiki oleh kedua orangtuanya melesat meninggalkan rumah.
“Sudah, jangan ditangisi terus. Kamu ini seperti anak yang ditinggal masuk pesantren saja oleh orangtuamu,” komentar Tina dengan pedas.
Membuat Zeya terkejut. Apakah ini yang dinamakan mertua? Persis seperti di tv-tv.
“Iya, Tante,” jawab Zeya sambil menundukkan kepala.
“Loh, kok Tante, sih. Kamu kan sudah resmi menjadi istri dari anakku. Kalau begitu, panggil kami Mami dan Papi. Seperti Ambar yang memanggil kami dengan sebutan yang sama,” ucap Tina lagi sambil masuk ke dalam rumah.
Zeya melenguh panjang. “Iya, Mi….” Ia pun ikut masuk ke dalam rumah.
“Sejak tadi kami datang, kami belum disediakan teh hangat loh, Zey. Ayo sana, lekas buatkan mertua kamu teh hangat.”
Zeya mengangkat alis. “Teh hangat?”
“Iya. Teh hangat. Kakakmu selalu tidak lupa menyediakan teh hangat setiap kali kami datang. Kamu juga harus begitu. Masa mertua kamu diminta untuk menelan air liur saja, sih.”
Zeya tercengang mendengar penuturan dari mertuanya. Dalam hati menangis; Ya Allah, inikah yang dinamakan mertua kejam seperti sinetron di televisi burung terbang. Hiks.
__ADS_1
Selamat Zeya, kamu baru saja melwati episode satu dari drama pernikahanmu.