Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
42. Bertemu Di Bioskop


__ADS_3

Semenjak mendengar cerita dari Dion tentang Kiara, membuat Digta jadi penasaran dengan sosok Kiara.


Apakah benar, Kiara suka memotretnya diam-diam? Apakah benar Kiara sudah lama menyukai Digta? Tapi, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?


Digta terus memperhatikan Kiara yang sibuk dengan aktifitasnya sendiri di ruang dosen. Sampai tak sadar kalau mata mereka akhirnya saling berserobok,


“Pak Digta….” Kiara menyapanya.


Membuat Digta terkejut. “Iya, Bu?”


“Nggak masuk kelas?” Kiara memperlihatkan jam di pergelangan tangannya.


“Um, ya. Ini mau masuk kelas.” Digta pun bangkit dari kursi. “Bu Kiara tidak masuk kelas?”


“Saya ada kelas siang, Pak.”


“Loh, kenapa ikut saya pagi-pagi?”


“Yah, daripada nggak ada yang nebengi saya nanti. Mengingat mobil saya kan, masih di kampus.” Kiara terkekeh geli.


“Oh iya. Yasudah, saya masuk kelas dulu.”


“Semangat ngajar ya, Pak.” Kiara penuh dengan senyuman, persis seperti Ambar yang suka tersenyum. Tapi, tetap saja wajah Ambar mirip dengan Zeya, atau Zeya yang mirip Ambar? Ah, sudahlah. Jelas-jelas mereka kakak-adik, jadi wajar saja jika mirip.


***


Ciuman yang dilakukan oleh kakak iparnya tanpa aba-aba, membuat pikiran Zeya berkecamuk.


Zeya menyentuh bibirnya lagi dan lagi, entah sudah berapa kali dia menyentuh bibirnya sambil menangis dalam hati. Bagaimana bisa ini semua terjadi?


“Woy!” Jerry menyenggol bahu Zeya. Membuat tangan Zeya tergelincir ke depan saking kagetnya.


“Ih, apaan sih, lo!” Zeya cemberut kesal.


“Kenapa bibir lo? Sariawan?”


“Memangnya bengkak ya?” Zeya memajukan bibirnya ke arah Jerry agar lelaki itu bisa mellihat dengan jelas.


Apakah ciuman Digta tadi membuat bibir Zeya jadi bengkak?


“Bukaan! Dari tadi elo tuh megang bibir terus. Kirain sariawan,” celetuk Jerry. Zeya jadi bernapas lega.


Syukurlah, tidak ada yang mengetahui kalau Zeya habis berciuman. Dengan dosen killer di kampus ini. Dan, di dalam mobil lagi.


“Gue lupa, pagi ini jadwal kuliah kita apaan?” Fokus Zeya sudah buyar.


“Yah biasalah. Pagi ini kuliah kita akan dibuka dengan Kakak ipar lo yang rese itu.”


“Apa?” Zeya terbelalak kaget. “Maksud lo, Pak Digta masuk kelas kita pagi ini?”


“Kenapa lo kaget begitu, bukannya sudah biasa ya?”


“Iya, sih. Tapi, kan—“ belum sempat Zeya melengkapi kalimatnya. Sosok Digta sudah masuk ke dalam kelasnya.


“Selamat pagi semuanya….” Sapa Digta seperti biasa sambil melangkah mendekati meja dosen.


Ah mampussss.

__ADS_1


Bahkan, Zeya belum siap untuk bertatap muka lagi dengan Digta.


Zeya menenggelamkan kepalanya di atas meja, dia tidak ingin melihat lelaki yang berdiri di depan kelasnya saat ini. Lelaki yang baru saja menciumnya di mobil.


“Tugas kelompok kalian sudah selesai?” Tanya Digta lagi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangam. Lalu, Matanya tertuju pada Zeya yang sibuk menundukkan kepala.


Digta sedikit berdehem. Hari ini dia tidak skan memanggil Zeya ke depan, beruntunglah Zeya karena kejadian tadi. Sebab, Digta pun merasa canggung setelah mencium bibir perempuan itu.


“Silakan kumpulkan tugas kelompok kalian. Kali ini saya tidak akan meminta kalian untuk menjelaskan ke depan. Saya akan menilai tugasnya sendiri, dan nilai paling bagus harus mempresentasikannya minggu depan.” Begitu penuturan Digta yang membuat Zeya bernapas lega.


Untunglah Digta hanya mencari yang terbaik dan tidak menyuruh semua kelompok untuk menjelaskan tugas mereka ke depan. Kalau tidak? Bisa-bisa Zeya tidak bisa berkutik karena gugup.


“Tapi—“ selalu ada tapi di setiap penjelasan Digta. “Hari ini kita akan kuis.”


Terdengar keluhan panjang dari para Mahasiswa. Mereka tampak kecewa, karena Digta selalu mengadakan kuis secsra mendadak.


Tapi tidak dengan Zeya yang bersyukur dan berterima kasih. Bahkan, khusus hari ini, dia rela mengerjakan kuis daripada harus bertemu Digta di depan kelas.


***


“Tumben banget hari ini Pak Digta bersikap baik. Padahal kemarin, dia sendiri yang marah-marah waktu kita nggak bisa menjelaskan tugas kelompok dengan detail. Eh, giliran udah capek-capek bikin tugasnya, dia malah nyuruh ngumpulin doang.” Jerry terus ngedumel setelah keluar dari kelas.


Iya sih, Zeya juga merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada Digta. Apa dia juga merasa kecanggungan ini? Padahal, kan, dia duluan yang berani mencium Zeya.


“Zey….” Zega berlari kecil menghampiri Zeya, dan berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan perempuan itu. “Eh, minggir lo, gue ada perlu dengan Zeya.” Zega mendorong tubuh Jerry menjauh.


Membuat Jerry mengerang kesal, dan mau tak mau pergi menjauh dari mereka.


“Gimana? Jadi pulang bareng aku, kan?” Tanya Zega. “Nanti, kita langsung saja nonton bioskop. Kebetulan ada jadwal siang.”


Zeya menarik napas. Mendadak dia menjadi dilemma harus nonton bareng Zega, atau memutuskan pulang bersama Digta.


Zeya mengerutkan dahi.


Apa-apaan ini? Bukankah tadi dia marah-marah dan memaksa Zeya mengikuti perintahnya untuk pulang bersama! Kenapa tiba-tiba sekarang dia pergi bersama Kiara?


“Zey….” Zega menyentuh bahu Zeya, membuat perempuan itu tersentak.


“Iya, yuk. Kita nonton saja.” Zeya pun menarik tangan Zega untuk segera pergi.


Terserahlah, Zeya tidak peduli jika nanti Tina marah-marah dengannya karena Zeya pulang telat. Zeya tidak akan tinggal diam dan akan mengadukan tentang kedekatan Digta dengan Kiara.


Motor Zega pun melesat meninggalkan kampus, dan menuju ke salah satu mall yang berada tak jauh dari kampus.


Sesampainya di mall tersebut, mereka langsung menuju bioskop dan membeli dua tiket film Black Panther, mereka juga membeli dua popcorn dan dua minuman Milo Dinosaurus.


“Ga, bentar ya, aku ke toilet dulu.” Zeya menyerahkan popcorn di tangannya kepada Zega. Lantas, ia pergi ke toilet untuk buang air kecil.


Setelah selesai, Zeya mencuci tangannya di wastafel. Ia tak semgaja melihat seorang perempuan berwajah familier yang telah berdiri di sebelahnya. Perempuan itu sedang memolesi liptick berwarna pink cherry.


“Bu Kiara….” Sahut Zeya.


Yang dipanggil pun menoleh, Kiara tercengang melihat kehadiran Zeya. “Loh, Zeya….” Kiara terkekeh geli. “Kamu dengan siapa di sini?”


“Dengan Zega. Bu Kiara sendiri?”


“Dengan Pak Digta.”

__ADS_1


Tuh, kan! Benar dugaan Zeya. Harusnya Zeya tidak perlu seterkejut ini karena Zeya juga sudah melihat bahwa Digta dan Kiara pergi bersama. Mendengar jawaban Kiara, Zeya tak langsung bicara. Dia hanya menatap wajah Kiara yang bersemi seperti sedang jatuh cinta.


“Kamu jangan salah paham dulu ya, Zey. Tadi itu, saya dan Pak Digta hanya ingin mencari buku di toko buku mall, tapi entah kenapa kami kepikiran untuk nonton bioskop sekalian. Karena nanggung banget, kan? Mumpung ada film bagus di bipskop, dan sekalian juga lagi ada di sini.” Kiara menjelaskan panjang lebar agar Zeya tak salah paham dengannya.


“Nonton film apa, Bu?” Tanya Zeya penasaran.


“Film Black Panther,” jawab Kiara.


“Oh, sama dong. Yang jam berapa?”


“Bentar lagi, nih. Yang sekarang lagi mulai.”


“Wah, sama dong, saya juga nonton yang jam sekarang.”


“Ya ampun, aneh banget ya, kenapa bisa nggak sengaja ketemu begini.”


Lantas Kiara dan Zeya pun keluar dari toilet bersama-sama. Zeya juga tak sengaja bertemu dengan Digta yang tengah menunggu Kiara di depan toilet.


Digta cukup kaget dengan kehadiran Zeya. “Loh, kamu di sini?”


“Iya.” Zeya merasa, kalau dia tidak perlu ngobrol banyak dengan Digta. “Aku duluan ya. Selamat nonton.” Zeya pun pergi meninggalkan mereka. Dan memutuskan untuk masuk ke dalam studio lebih dulu bersama Zega.


Mereka duduk di deretan kursi F, iklan-iklan penayangam film selanjutnya sudah dimulai. Tak lama, Zeya melihat Digta dan Kiara juga masuk ke dalam studio. Digta melangkah lebih dulu sambil melihat nomor di tiket bioskop, dan nomor yang ada di kursi.


Digta berhenti melangkah, matanya tertuju ke depan ketika dia berdiri tak jauh dari jarak Zeya duduk. Digta dan Zeya sempat saling bersitatap, sebelum Digta masuk ke dalam deretan kursi dan duduk tepat di sebelah Zeya.


S*al!


Bagaimana bisa mereka duduk bersebelahan.


“Loh, Zeya, kita ketemu lagi,” sapa Kiara dengan ceria. Seolah, kejadian ini adalah sebuah ketidak sengajaan yang tak terduga.


“Loh, Tante?” Kini Zega yang terkejut melihat kehadiran Kiara dan Digta. “Ada Pak Digta juga,” kata Zega lagi.


Sedangkan Zeya memutuskan untuk diam, duduk dengan kondisi tubuh tegang sambil memperhatikan layar lebar di hadapannya.


Apalagi kini, Digta duduk tepat di sebelahnya.


Film pun di mulai, lampu bipskop mulai meredup. Cahaya yang dihasilnya hanya dari film saja.


Zeya tidak bisa nonton dengan tenang dan damai karena kehadiran Digta. Membuatnya terus-terusan gelisah ketika duduk di kursi. Zeya butuh air untuk menyegarkan tenggorokannya. Dia pun ingin meraih gelas minuman di sebelahnya, tapi entah mengapa dia harus besentuh tangan dengan Digta—yang kebetulan juga ingin mengambil air minum di dekat kursi.


“Eh, sorry,” ucap Digta setelah merasa bahwa tangannya dan Zeya bersentuhan. “Saya salah.” Digta langsung mengalihkan pandangan dan mengambil minum di sebelah kirinya.


Zeya menarik napas dalam-dalam. Ia mengambil minumannya dan menyedot minumannya sambil bersandar di kursi bioskop.


HUFFFFTTHHHHH!


Kenapa tiba-tiba suasana bioskop menjadi panas begini ya. Apakah karena kehadiran Jin Tomang yang membuat suasana panas? Atau karena kehadiran laki-laki dewasa yang tadi menciumnya saat di kampus?


Aaaargh, Zeya tidak bisa duduk dengan tenang sampai akhirnya perempuan itu pun bangkit dari kursi. Dia ingin pergi ke toilet, tapi cobaan menuju toilet pun begitu banyak. Dia harus melewati tubuh Digta dulu.


Ketika hendak melangkah melewati Digta, tiba-tiba kaki Zeya tersandung dan membuat tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Digta. Bahkan kedua wajah mereka bertemu—hanya berjarak beberapa senti saja.


Meskipun suasana biskop gelap, tapi Zeya bisa melihat tatapan mata Digta yang tajam. Seolah telah menembus manik matanya.


Zeya menjadi kikuk dan langsung bergerak untuk duduk di kursinya kembali.

__ADS_1


Zeya terpaksa mengurungkan niatnya ke toilet, dan memutuskan untuk menahan pipis-nya saja daripada harus melewati tubuh Digta lagi.


Yah, semoga saja dia tidak pipis di celana.


__ADS_2