
“Kamu ingin Zeya menjaga aku dan Ciya? Memangnya dia bebysitter?” Diga terlihat berapi-api.
“Mas, aku nggak rela jika nanti aku sudah tidak ada di dunia ini. Ada wanita lain yang menggantikan posisiku sebagai istri kamu dan ibu Ciya.” Wajah Ambar tampak lesu.
“Terus, kamu minta aku menikah dengan Adik kamu? Mengizinkan dia mengurus keperluan aku? Menjaga anakku? Sudah gila kamu ya!” Digta berkacak pinggang. “Oh, sekarang aku mengerti kenapa kamu selalu minta aku untuk pergi bareng Zeya, dan akur dengan Zeya. Ternyata, kamu sudah menjodohkan kami?” Digta geleng-geleng kepala. “Aku nggak habis pikir, apa yang ada di dalam otakmu saat ini, Ambar.”
“Mas, ini hanya permintaan terakhirku.”
“Lupakan itu! Permintaan terakhir apanya? Memangnya kamu mau kemana? Kamu tidak akan kemana-mana, Ambar! Karena kamu akan sembuh. Besok, kita harus pergi ke Malaysia. Siapkan semua pakaian kita.” Itu kalimat tegas Digta sebelum keluar dari kamar dan meninggalkan Ambar yang tertekuk lesu di kasur.
Digta melihat Zeya dan Ciya sudah duduk lebih dulu di meja makan. Dan Digta juga melihat betapa akurnya Zeya dan Ciya sampai mereka tertawa bersama.
Hal ini bikin Digta jadi dongkol. Bahkan, untuk berhadapan dengan Zeya saja sudah tidak sanggup lagi sejak Ambar meminta Zeya untuk menjaganya? Dijaga oleh adik iparnya sendiri yang manja dan kenakak-kanakkan?
Itu tidak akan terjadi.
“Kenapa nggak duduk, Mas?” Zeya mendongak dan melihat Digta hanya berdiri di dekat meja makan.
Digta langsung mengeluarkan uang di saku celana. “Hari ini kamu bisa pergi naik taxi, kan?” Digta menyodorkan uang tersebut pada Zeya. “Saya buru-buru.” Lalu, Digta pergi begitu saja meninggalkan rumah. Tanpa sarapan, dan bahkan Zeya belum sempat bertanya ada apa?
Padahal, kemarin mereka sudah sepakat untuk berdamai.
“Loh, Mas Digta kemana?” Ambar akhirnya muncul di ruang makan.
Zeya mengangkat bahu. “Nggak tahu, tuh. Tiba-tiba kasih aku uang dan nyuruh naik taxi,” jawab Zeya. “Tapi, Ciya gimana ya ke sekolahnya?” Kini Zeya menatap Ciya yang sedang asyik makan.
Ambar menarik napas dalam-dalam. “Yasudah, Zey. Ciya biar menjadi urusan Mba saja.”
“Okey deh. Kalau gitu aku berangkat dulu ya, Mba. Takut telat.” Zeya bangkit dari kursi. Perempuan itu mencium kepala Ciya dan mencium punggung tangan Ambar.
Lalu, segera melangkah keluar rumah.
***
Jam pertama kuliah dibukan dengan mata kuliahan Digta. Tidak seperti biasanya yang bersikap galak. Digta kelihatan sangat nggak fokus.
Apalagi, sejak tadi Digta seolah sengaja tidak menatap mata Zeya. Dia sengaja mengabaikan pandangannya dari Zeya.
“Zey, tumben Pak Digta hari ini adem banget kayak ubin masjid,” komentar Jerry yang ternyata ikut curiga.
“Tahu tuh, dapat azab kali,” celetuk Zeya asal.
Bahkan, saat Zeya dan Jerry ketahuan ngobrol saja, Digta sama sekali nggak menegur dan bersikap pura-pura nggak tahu. Padahal dulu, Digta bisa menendang Zeya keluar kalau ketahuan ngobrol di kelas.
__ADS_1
“Oke, sebelum kita akhiri kelas kita pagi ini. Apa ada pertanyaan?” Tanya Digta.
Selama jam mata kuliahan Digta berlangsung, biasanya memang tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan apapun. Termasuk Zeya. Tapi, untuk kali ini Zeya ingin mencobanya.
Zeya pun mengacungkan tangan.
Digta menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan lagi. “Oke, kalau tidak ada kita akhiri saja perjumpaan kita. Selamat pagi.”
Zeya melotot kaget. “Pak, saya, Pak! Saya mau tanya!”
Semua orang menatap Zeya karena merasa terusik dengan suara cempreng perempuan itu. Sedangkan Digta segera menyusun buku dan latopnya, lalu melenggang keluar kelas begitu saja tanpa menghiraukan Zeya.
“Wah, apa-apaan ini!” Zeya menggerutu kesal dan ikut keluar kelas.
Zeya mengejar langkah Digta, bahkan sampai menghalangi jalan lelaki itu.
“Pak Digta!” Seru Zeya sambil merentangkan tangan. “Bapak ada masalah kah, dengan saya? Sampai memperlakukan saya tidak seperti biasanya?”
Digta berusaha tidak memandang perempuan menyebalkan itu'. Lalu hendak melangkah lagi, tapi saat Digta jalan ke kiri, Zeya ikut ke kiri. Digta jalan ke arah kanan, Zeya juga mengikuti langkahnya ke kanan.
Sampai kesabaran Digta habis dan lelaki itu mendesis kesal. “Bisa nggak, kamu minggir?”
“Kenapa Bapak jadi cuekin saya begini? Biasanya juga galakin saya. Bukankah kita udah sepakat untuk akur? Dan anehnya, kenapa Bapak mengabaikan saya, seolah saya nggak ada? Saya punya salah apa?” Zeya berceloteh panjang lebar.
“Saya cuma mau kamu minggir,” ketus Digta lagi.
“Kenapa Bapak nggak mau lihat saya sih? Saya nggak jelek-jelek amat loh.” Zeya berusaha menunduk untuk melihat mata Digta. Tapi lelaki itu tetap mengalihkan tatapan.
“Pak, lihat saya dong, memangnya ada yang salah dengan penampilan saya? Perasaan, mata saya nggak bintitan tuh.”
Karena sudah kesal, Digta mendorong jidat Zeya sambil melangkah maju. Sedangkan Zeya terpaksa harus melangkah mundur.
“Eh-eh, Pak….” Sampai akhirnya tubuh Zeya ketabrak tempat sampah dan terjatuh dekat sampah-sampah.
Dengan wajah tidak bersalah, Digta pergi begitu saja meninggalkan Zeya. Bahkan tidak minta maaf atau membantu Zeya untuk berdiri.
“AISSSSH!”
***
Akhirnya, Zeya tidak ikut jam kuliahan selanjutnya karena badannya bau sampah. Mau nggak mau, Zeya harus pulang ke rumah. Itu juga naik angkot, karena nggak ada taxi yang mau menumpangi Zeya.
Sesampainya di rumah pun, Ambar bisa mencium bau sampah dari tubuh Zeya.
__ADS_1
“Zey, kok cepat banget pulangnya? Mas Digta mana?” Ambar menutup hidungnya karena nggak tahan dengan bau Zeya.
Zeya berhenti melangkah. “Mba cium nggak aku bau sampah? Itu ulah Mas Digta yang udh mendorongku ke tempat sampah,” ucap Zeya dengan kesal.
Ambar terkejut. “Masa sih?”
“Menurut Mba Ambar aku bohong?”
Ambar menarik napas berat. “Yasudah, kamu mandi gih. Selesai mandi, kamu temani Mba Ambar ke rumah sakit untuk kemo ya.”
“Okay.”
Zeya pun segera mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia dan Ambar pergi ke rumah sakit menggunaka taxi.
“Kamu dan Mas Digta kenapa lagi, siih? Bukankah kemarin sudah janji mau akur?” Ambar membuka percakapan saat mereka sudah ada di dalam taxi.
“Nggak tahu tuh, sifatnya Mas Digta aneh banget. Dia nggak mau menatap aku, dan bahkan nggak menganggap aku ada. Masa sih, waktu aku mau ngajuin pertanyaan di kelas, dia mengabaikan aku begitu saja. Aneh kan.”
Ambar menarik napas saat mendengar ocehan Zeya.
“Zey, sebenarnya ada hal yang ingin Mba sampaikan kepada kamu.” Nada Ambar mulai serius.
“Tentang apa, Mba?”
“Mba sudah obrolin hal ini dengan Mas Digta. Dan sekarang, sudah waktunya kamu juga harus tahu.”
“Kenapa sih, Mba? Kok aneh banget.”
“Jika nanti Mba sudah nggak ada di dunia ini lagi. Mba ingin kamu yang menggantikan posisi Mba di rumah.”
Zeya mengerutkan dahi. “Maksudnya? Kenapa aku harus tetap di rumah Mba Ambar. Apa kata tetangga nanti kalau aku tinggal bareng dengan Mas Digta. Mending aku ngekost aja.”
“Agar nggak ada kesalahpahaman dengan para tetangga. Itulah sebabnya kalian harus menikah.”
“Apa?” Zeya berteriak kencang. Sampai supir taxi sempat melihat ke arah mereka dari soion depan.
“Mba nggak mau ada perempuan lain yang menggantikan posisi Mba. Dan Mba hanya mau kamu yang menggantikan posisi Mba, Zey.”
“Mba Ambar nggak lagi bercanda, kan?” Zeya menatap kakaknya tak percaya.
“Mba serius, Zey. Mba merestui hubungan kalian.”
“HAHAHAAHAHAHHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAJA.”
__ADS_1