Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang
49. Bebasnya Digta


__ADS_3

“Aku ingin bicara dengan kamu.”


Zeya menghadang tubuh Zega saat lelaki itu hendak melangkah pergi dari kantor polisi.


“Kakak iparmu ada di dalam,” kata Zega sambil menunjuk ke arah kantor polisi.


“Aku tahu, maksudku kenapa kamu harus melakukan semua ini?” Mata Zeya berkaca-kaca. “Kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan, Zega.”


“Tapi, Kakak iparmu sudah bikin wajah aku babak belur, dan sudah menginjak-injak harga diriku!”


“Zega, aku mohon kamu mengerti. Mas Digta cuma khawatir. Kamu sendiri kan, tahu, kalau Mba Ambar dan Mas Digta selalu menjagaku. Dia hanya takut aku akan dicelakai oleh kamu. Aku mohon, Ga, agar kamu mau mencabut tuntutan ini. Aku mohon.” Zeya mengatupkan kedua telapak tangannya. “Aku akan membayar berapapun yang kamu inginkan, asal Mas Digta bisa bebas. Kasihan, anaknya masih kecil dan butuh perhatian dia. Aku mohon, Zega….”


Zega hanya diam sambil mendongakkan kepalanya menatap langit, dan enggan menatap Zeya. Sedangkan perempuan itu sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi selain menjatuhkan lututnya di depan Zega.


“Please … aku mohon, aku mohon agar kamu mau mencabut tuntutan terhadap Mas Digta.”


“Zeya ….” Suara Kiara mendadak muncul.


Zeya menoleh, dan melihat Kiara sudah melangkah mendekat. Perempuan itu menarik napas panjang saat menatap Zeya dan Zega bergantian.


“Ayo berdiri.” Kira menarik tangan Zeya untuk membawanya kembali berdiri. “Kamu ke dalam saja dulu untuk menemui Pak Digta. Saya akan bicarakan hal ini pada Zega.” Lalu, Kiara menarik tangan Zega pergi menjauh dari Zeya.


Zeya menatap kepergian mereka dengan tatapan nanar sebelum masuk ke dalam kantor polisi untuk menemui Digta.


***


“Aku udah coba ngomong dengan Zega, semoga dia mau mencabut tuntutannya terhadap Mas Digta,” kata Zeya setelah mereka bertemu di ruang tunggu.


“Dia bilang apa?” Tanya Digta ketus.


“Dia masih kekeh, karena ingin menyelamatkan aku dari Mas Digta.”


“Bilang saja sekalian, kalau kita sudah menikah. Agar dia nggak berharap lagi padamu!”


“Aku belum siap, Mas.” Zeya menangis.


“Kamu begitu mencintai dia sampai membiarkan suamimu mendekap di penjara.”


“Aku juga sudah bersimpuh di kakinya, Mas.”


Digta mengerutkan dahi. “Apa? Bersimpuh di kakinya? Untuk apa?”


“Agar dia mau mencabut tuntutannya kepada Mas Digta.”


“Tapi, bukan dengan cara menjatuhkan harga dirimu sendiri, Zey!”


Zeya menundukkan kepala sambil menangis. “Kenapa Mas Digta nggak bilang makasih aja, sih? Aku melakukan hal ini juga untuk Mas Digta.”

__ADS_1


Digta terdiam sambil menarik napasnya dalam-dalam. Tak lama kemudian, polisi datang menghampiri Digta.


“Permisi, Pak Digta. Anda sudah dibebaskan karena penuntut sudah mencabut laporannya. Silakan temui pengacara Anda di luar,” ucap seorang polisi.


Digta dan Zeya terbelalak kaget. “Bebas?”


“Iya, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu.” Polisi tersebut pun pergi.


Digta menatap Zeya tak percaya. Setelah melakukan proses yang cukup panjang, akhirnya Digta sudah bisa keluar dari jeruji besi yang terdapat di kantor polisi.


Digta dan Zeya melihat kehadiran Kiara di sana. Kiara tersenyum manis, berjalan cepat menghampiri Digta dan langsung memeluk lelaki itu.


Membuat Zeya mengerutkan dahi.


“Pak Digta, syukurlah Anda bisa keluar kembali. Untung saja saya berhasil membujuk Zega agar dia mau mencabut tuntutannya terhadap Pak Digta.” Kiara bicara sampai menitikkan air mata.


Zeya menjadi jijik melihat perempuan itu.


“Terima kasih banyak karena sudah membantu saya Bu Kiara.” Digta pun membalas senyuman Kiara.


Bikin Zeya dongkol.


Apa-apaan sih, ini? Ketika aku bilang kalau aku memohon pada Zega agar mencabut tuntutannya, Mas Digta malah marah-marah. Tapi, giliran Bu Kiara yang bersikap begitu, kenapa Pak Digta malah mengucapkan terima kasih? Ini nggak adil!


Gerutu Zeya dalam hati.


Zeya langsung beridiri di antara mereka. “Maaf ya, Bu Kiara. Pak Digta harus segera pulang karena Ciya pasti menunggu di rumah tetangga, aku tadi menitipnya di rumah tetangga sebentar.”


“Kamu tenang saja, Zey. Ciya sudah aku amankan. Aku bawa ke rumah mamaku,” jelas Kiara.


“Makasih banyak sekali lagi Bu Kiara. Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya membalas budi Bu Kiara.”


“Kita langsung jemput Ciya saja yuk, Pak.”


Digta mengangguk, lalu menatap Zeya. “Kamu pulang ke rumah saja dulu.” Perintahnya pada Zeya.


Membuat Zeya sedikit dongkol, apalgi ketika melihat Digta dan Kiara pergi sambil bergandengan tangan.


***


Akhirnya, Zeya terpaksa harus kembali ke rumah sendirian.


Seorang asisten rumah tangga mereka yang harusnya tiba sore ini terpaksa di cancel terlebih dahulu dan datangnya menjadi besok pagi.


Zeya melihat bahan makanan di kulkas. Siapa tahu, Digta belum makan. Meskipun Zeya tidak pandai memasak, dia berencana untuk masak menggunakan bahan makanan apa adanya untuk Digta.


Setelah mengganti pakaiannya menjadi baju rumah, Zeya segera menggunakan celemek untuk mulai masak makanan sederhana seperti nasi goreng sosis.

__ADS_1


Setelah selesai masak, Zeya menyusun makanan di meja makan dan menunggu kepulangan Digta dan juga Ciya.


Satu jam kemudian, akhirnya mobil mereka tiba juga di rumah. Tapi nyatanya, tak hanya Digta dan Ciya saja yang muncul di dalam rumah. Melainkan ada Kiara juga.


“Makasih banyak Bu Kiara, karena sudah banyak membantu kami,” ucap Digta sungguh-sungguh.


“Sama-sama Pak Digta. Kalau Bapak butuh bantuan saya lagi, jangan sunkan untuk menghubungi saya ya, Pak.” Kiara selalu penuh dengan senyuman.


Zeya melangkah mendekati mereka sambil bersedekap. “Bu, ini sudah malam. Kenapa Bu Kiara nggak pulang saja?”


“Zeya!” Digta menegur.


“Loh, memangnya aku salah bicara begitu?” Zeya memelototi Digta dengan tajam.


Kiara menyeringai geli. “Heheh, Zeya benar, Pak. Ini sudah malam dan sudah waktunya saya pulang. Kalau begitu, saya pamit dulu ya.”


Kiara pun berpamitan pulang. Membuat Zeya menjadi lega.


“Ciya, ayo masuk ke kamar kamu dan ganti pakaiannya.” Pintah Zeya pada Ciya.


“Oke, Tante!” Ciya lansung masuk ke dalam kamarnya.


“Aku sudah masak untuk makan malam Mas Digta,” ucap Zeya lagi. Kini menatap Digta.


“Saya sudah makan bersama Kiara,” jawab Digta dengan nada ketus dan hendak melangkah meninggalkan Zeya.


Tentu saja hal itu membuat hati Zeya semakin panas. “Kenapa Mas Digta nggak pernah mau menghargai aku? Aku juga sudah berjuang untuk Mas Digta.” Zeya menuju meja makan, mengambil piring makananya dan membuang masakanannya ke dalam tempat sampah.


Sontak saja hal itu bikin Digta tercengang. “Eh, apa-apaan kamu ini? Kenapa makananya di buang!”


“Terus siapa yang mau makan? Toh, Mas Digta nggak pernah mau menghargai aku! Mas Digta bilang aku ini istri Mas Digta, kan? Mana buktinya? Mas Digta sama sekali nggak pernah anggap aku sebagai istri Mas Digta. Mas Digta jahat!” Zeya masuk ke dalam kamarnya dan menangis di atas tempat tidur.


Entah apa yang membuat dia menjadi sesedih ini. Tapi, hal ini sungguh menyakitkan baginya. Ketika dia sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Digta tidak pernah sekalipun menghargainya. Bahkan, tidak pernah menganggapnya ada. Yang bisa Digta lakukan hanyalah menyalahkan keadaan dan menyalahkan Zeya.


Tak lama kemudian, pintu kamar Zeya terbuka. Terdengar suara derap langkah kaki seseorang masuk ke dalam kamarnya. Dan Zeya yakin kalau orang itu adalah Digta.


“Saya minta maaf,” ucap Digta.


Zeya menyeka air mata dan menyedot ingusnya dalam-dalam


Tiba-tiba, kasur melesat ketika Digta ikut berbaring di sebelah Zeya.


Tidak hanya itu, Digta tidur tepat di belakang punggung Zeya dan memeluk perempuan itu dari belakang.


Zeya kaget dan ingin menyingkirkan tangan Digta. Tapi, pelukan lelaki itu begitu kuat.


“Untuk malam ini saja, saya ingin kita tidur seperti ini. Saya juga kesepian, dan saya sadar, kalau ternyata saya membutuhkan kamu. Maafkan saya Zeya.” Suara Digta begitu jelas di telinga Zeya.

__ADS_1


Sampai bulu kuduk Zeya merinding merasakan deru napas lelaki itu.


__ADS_2