
"Enam ratus ribu dollar..?!" ucap Bima dan Arkana berbarengan.
Ayana mengangguk pelan, ia meremas ujung bajunya di bawah meja. Bagaimana ini? Ia akan menerima amukan dari kedua anak itu. Memang salahnya karena tidak memberitahu mereka lebih dulu.
"Tolong bantu Ibu... Ibu mengajak dua orang teman bergabung di investasi bodong itu. Dan jika penipu itu tidak tertangkap, mereka tidak mau tau dan meminta uang nya kembali pada ibu. Tolong.... hiks..hiks..." Ia mengepalkan tangan di depan dua anak lelaki itu dengan wajah memelas.
Bima meremas kuat pelipisnya, kok bisa ibunya dengan mudah tertipu oleh investasi bodong itu. Bahkan jumlahnya tak main-main. Kepalanya sungguh jadi sakit sekarang, andai saja ada yang mau adopsi ibu-ibu ia akan mengikhlaskan ibunya di adopsi.
Arkana pun ikut menggeratkan rahang, bukan apa-apa, masalahnya Ayana ini mantan aktris terkenal, dari keluarga terpandang dan pintar. Kok ya bisa-bisa nya tertipu segitu banyak.
"Ibu minta tolong, carikan pengacara yang bisa menyelesaikan ini. Plisssss... hanya kalian berdua harapan ibu." ia mengetukkan dahi di atas meja. Amat frustasi hingga hampir membuat isi kepalanya terburai.
...~~~~~...
Keesokan hari nya...
Bulan datang ke rumah produksi dengan kucing kesayangannya, Moli. Hari ini proses pembedahan naskah akan di mulai, dan ia harus siap menerima kritikan dari para kru ataupun aktris yang akan memerankan isi ceritanya.
Kemarin saja ia sudah di kritik habis-habisan oleh Bima karena ceritanya sangat klise, entah apa mau pria itu. Padahal menurut Pak Tara ceritanya sangat bagus bagi pemula seperti dirinya.
Tak hanya ransel kucing, Bulan juga membawa bekalnya sendiri. Ia tak biasa dengan menu mereka yang terasa aneh di lidah.
"aaahhhww...! kucing siapa ini? iuuhh, bulunya rontok, aduh aku alergi kucing. Siapa sih yang membawa kucing..!" Oceh Dania menggeliat geli, ia naik ke atas kursi sambil mengusir kucing berbulu putih itu.
"Siapa yang membawa binatang kesini..?!" Teriak Bima, ia juga geli dengan hewan berbulu itu.
"Aku.." ucap Bulan pelan, ia sedang membuatkan kopi untuk seluruh staff atas perintah Dania.
Semua orang sontak melirik ke arah dapur, dimana mereka bisa melihat wajah Bulan dari balik kaca.
"Kenapa Kau membawa kucing ke sini..!?" Geram Bima, membuat Moli sedikit takut, ia bersembunyi di balik meja sambil meringkuk.
"Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian." sahut Bulan menghampiri Moli, namun kucing itu terlanjur takut hingga tak mau keluar dari persembunyiannya.
Ya, sekarang dia sibuk dengan naskah nya. Vidia dan dua orang karyawannya pasti kewalahan menghandle Cafe. Untuk itu ia membawa Moli ke sana, karena tak ingin merepotkan Vidia.
Lagipula Moli bukanlah seekor kucing yang nakal, ia jinak dan suka menyapa semua orang. Hanya saja ia takut jika seseorang bersuara keras.
__ADS_1
"niss,niss.." Arkana datang dan langsung menunduk untuk membantu Moli keluar. Ajaibnya Moli langsung nurut, bahkan ia menggeliat di antara kedua kaki Arkana.
Arkana pun membelai lembut kucing itu, sementara Bima, Dania dan beberapa orang lainnya menatap geli hewan berbulu itu.
"Bulan, di sini memang tidak di larang membawa peliharaan, tapi ada beberapa orang yang tidak suka terhadap hewan."
Bulan tercengang mendengar penuturan Arkana yang enak di dengar. Pria itu, selain wajahnya bersahaja, ternyata mempunyai hati yang sangat lembut.
"Maaf, Aku tidak tau.." lirih Bulan tertunduk, memang seharusnya ia bertanya dulu kan.
"Kalau tidak tau kenapa tak bertanya dulu!" Ketus Dania, ia bahkan membuang kopi yang di buatkan Bulan ke wastafel. Takut kalau-kalau ada bulu kucing di dalamnya.
"Mari kita pindahkan dia ke suatu tempat, agar yang lain bisa fokus bekerja." Arkana menggendong Moli, dan di ikuti oleh Bulan yang membawa tas beserta wadah makanannya.
"rrrrr.... Wanita itu selalu seenaknya." Gumam Bima bergidik merinding.
Sampailah Arkana dan Bulan di salah satu ruangan. Bulan pikir kucingnya akan di bawa ke sebuah gudang atau tempat lainnya.
"Ruangan apa ini?" Bulan memperhatikan seluruh pajangan mewah yang tertata rapi.
"Ruangan ku." sahut Arkana, ia langsung melepaskan Moli dari gendongannya.
"Tidak apa-apa, kebetulan Aku juga punya kucing di rumah. Jadi tidak masalah."
Moli, adalah kucing yang sama yang di ceritakan Bulan saat mereka berpacaran dulu. Ya, kucing putih berjenis persia itu dulu masih bayi saat Bulan menceritakannya. Karena itu Arkana merasa dekat dengan Moli, ia tau apa yang Moli suka, apa yang tidak. Bahkan ia masih hapal kalau Moli senang di belai menggunakan sisir.
"Ngomong-ngomong, kau bisa memanggilku seperti kau memanggil Bima. Kita ini rekan, jadi sebaiknya jangan canggung."
"Ba..baiklah, Arka..."
Kedua pasang netra mereka saling berbinar. Ada rasa rindu tersembunyi yang tak bisa di ucapkan.
"Boleh Aku meminta nomor ponsel mu?" tanya Arkana, membuat Bulan sedikit berdebar.
"Untuk apa..?" Bulan tak ingin terlibat dengan pria lebih jauh lagi, cukup kerja sama, dan cukup bertukar kabar melalui email. Ia menganggap nomor handphone itu sangat privasi.
"Tidak boleh..?" Arkana mengurungkan tangannya yang hendak mengambil ponsel di saku.
__ADS_1
Bulan menggeleng pelan, ia rasa email saja sudah cukup untuk membahas kerjasama mereka.
"Ayo, kita bisa terlambat." ia beranjak meninggalkan Arkana yang mematung di sana.
"Dia masih sama..." batin Arkana, senyum tipis tersemat di ujung bibirnya.
...~~~...
Syuting sudah di putuskan akan di mulai pekan depan. Pemeran utama pria dan wanita juga sudah siap. Walau Bima dan Arkana masih kesulitan menyesuaikan plot yang di buat Bulan. Mereka tetap optimis bisa mengimbangi alur dan adegan agar tidak lari dari naskah yang ada.
"Baiklah, kerja bagus hari ini. Dan Bulan, saya minta bagian terakhir di buat sesadis mungkin. Runding kan kembali dengan Bima dan Arka." Pak Tara meninggalkan ruangan meeting dengan senyum sumringah. Pertanda ia puas dengan segala persiapan ini.
"Baik Pak.." sahut Bulan penuh semangat, soal sad ending, dia jago nya. Beberapa judul yang pernah ia buat sukses mencabik-cabik perasaan pembaca. Mungkin karena pengaruh hidupnya yang sad, itu sebabnya ia ahli dalam hal itu.
Bulan mengeluarkan ponselnya, ia berbalas pesan dengan sang ibu. Ya, mereka biasa saling bertukar kabar melalui pesan WhatsApp. Hanya itu yang membuat hubungan mereka agar tetap hangat.
"hei, berikan nomor mu." Ucap Bima.
"Untuk apa?" Bulan mengernyitkan alisnya.
"Untuk alas kaki." jawab Bima dengan tatapan Smirk.
"Ya untuk di telpon lah. Aku akan menghubungimu setelah menyusun ulang naskah nya malam ini." Ia berencana lembur untuk merapikan naskah yang di buat Bulan.
"Besok saja, lebih baik langsung di tinjau..."
"Besok akhir pekan." Bima menyerahkan ponselnya pada Bulan.
"Aku tidak keberatan bekerja di akhir pekan."
"Aku yang keberatan. Cepatlah..! Kenapa kau pelit sekali, memangnya kau ibu negara atau apa sampai sulit sekali memberikan nomor handphone."
Bulan tetap tak bergeming, ia berpikir ulang dalam benaknya.
Melihat itu Bima tak sabar, ia merebut ponsel Bulan untuk menelpon ponsel miliknya.
Namun tiba-tiba Arkana menahan lengan Bima, hingga bersilang lah kedua lengan mereka di depan wajah Bulan.
__ADS_1
...%%%%%%%%%%%%%%%...