Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 20 : Kisah Kita


__ADS_3

Kembali pada Bulan dan Arkana yang tengah dalam perjalanan menuju cafe, untuk mengantarkan Bulan pulang.


Jalanan tampak sepi saat mereka melewati sebuah jembatan.


Bulan merogoh kantong pemberian ibunya, lalu mengambil ikat rambut yang di berikan Raul. Ia membuang benda berwarna hijau muda itu ke sungai.


"Kenapa di buang?" Arkana terkejut, ia pikir Bulan membuka jendela mobil untuk mendapatkan udara segar.


"Aku tidak suka warna nya, terlalu mencolok." Jawab nya terdengar datar namun ketus.


Arkana menerka, pasti itu pemberian ayah nya. Ia tau Bulan tak pernah menerima, memakai, atau memanfaatkan sesuatu yang berbau ayah tirinya itu.


Namun Arkana belum tau bahwa Raul adalah ayah tiri Bulan. Karena ia sudah lebih dulu pergi meninggalkan Bulan sebelum mengetahui fakta itu.


...~~~...


Di sebuah rumah megah bernuansa coklat, seorang pria bertubuh kekar tengah berendam di bathtub. Lilin aroma menyala di sekeliling bathub itu.


Di kedua bahunya terdapat tatto yang sangat sangar menjalar sampai ke lengan. Dan di punggungnya, ada tatto kalajengking berukuran besar. Ya, dia adalah Bos dari sebuah perusaan kecil yang bergerak di bidang Furniture.


Walau perusahaan nya terbilang kecil, namun ia memiliki aset yang tak main-main dari hasil penipuan investasi berjumlah milyaran dollar. Salah satu korbannya adalah Ayana, ibunya Bima.


Ia menipu menggunakan nama perusahaan palsu. Saat akan menarik korbannya, ia menunjukkan putaran saham yang di olah selalu melonjak. Kemudian setelah dua kali membagi hasil keuntungan yang belum seberapa, ia menghilang dan menghapus semua jejak nya.


"Bos, Polisi sedang memburu kita." ucap salah satu anak buahnya berbisik.


"Lakukan seperti biasa, berikan uang agar mereka tutup mulut." Titahnya sembari menghirup dalam aroma terapi dari lilin.


"Tapi Bos, kali ini tidak bisa semudah itu karena seorang pengacara mendaftarkan gugatan ke pengadilan."


"Lalu kenapa kau masih di sini? Temui dia dan suruh dia membatalkan gugatan itu! Otakmu benar-benar tak berguna!" Kecam pria berusia 40 tahun itu.


Anak buahnya langsung pergi, melaksanakan apa yang di minta. Memang selalu begitu, dengan mudah mereka menghilangkan jejak. Polisi, pengacara, jaksa bahkan hakim pun sudah pernah mereka jengkali dengan uang. Itulah mengapa sampai saat ini ia masih berkeliaran.


...~~...


"Take one...!" Seru Bima menggunakan pengeras suara.


Ini scene pertama, di hari pertama. Pangeran ilusi karya Bulan mulai menyusun rangkaian sayap, entah itu terbang tinggi atau hanya diam di tempat. Semoga bisa terbang tinggi bak kepakan burung yang mengarungi cakrawala.


Di sebelahnya ada Bulan yang memperhatikan rinci naskah tersebut. Memastikan tak ada dialog ataupun adegan yang melenceng jauh dari penulisannya. Sebab karya itu hampir sepenuhnya sudah di baca oleh pengikutnya, akan ada banyak komplain bila adegan yang di filmkan berbeda.


Sementara Arkana, ia tengah melatih para aktor yang akan melakukan adegan action. Namun ia tidak bisa fokus karena terus teringat akan kejadian kemarin, saat Bulan dengan tatapan nanar nya yang mengarah keluar jendela mobil.

__ADS_1


"sial...!" umpatnya melempar barang property. Yang lebih menyebalkan lagi ia tak bisa berbuat apapun.


"Kenapa..? Aku membuat kesalahan?" Tanya aktor yang tengah berlatih.


"Tidak, maaf.. kalian lanjutkan di adegan 25." Ia beranjak keluar dari ruangan penuh layar hijau itu.


"Oke cut..! Break untuk adegan selanjutnya." ucap Bima, di ikuti para juru kamera yang menghentikan rekaman.


Dania dan Farrel langsung di hampiri para perias untuk persiapan adegan berikutnya. Mereka duduk di kursi sembari membaca ulang naskah, agar nantinya tak terlalu banyak mengulang.


Bulan pergi ke balkon untuk menjernihkan pikirannya. Sejak kemarin, otaknya di penuhi rancangan, bagaimana cara memberitahu ibunya tentang sikap Raul. Sejauh ini selama mereka tinggal terpisah, ibunya masih bahagia, sepertinya memang Raul sangat tau bagaimana cara mempermainkan perasaan ibu nya.


"Sejauh ini oke..?" tanya Bima, ia menghampiri Bulan dengan dua gelas es kopi.


"Apanya?" sahut Bulan.


"Adegannya lah, memang nya kau berharap aku menanyakan apa?" Seloroh Bima dengan mata memicing.


"Ku rasa dengan pengalaman yang ku punya, aku belum berhak mengkritik sutradara ternama seperti mu."


Bulan mengambil es kopi itu dari tangan Bima bahkan sebelum di tawarkan.


"Tetap saja kau penulisnya, nyawa cerita ini hanya akan hidup bila kau yang memantau."


"Begitu..." Ujar Bulan mengangguk pelan. Ia melepaskan pandangannya lagi ke arah hamparan gedung pencakar langit.


Bulan hening, ia menengguk es kopi itu beberapa kali. Kemudian menyorot Bima dengan mata sayu.


"Apa kau masih ingat tentang ku..?"


"Tidak." Jawab Bima cepat, sebelum pertemuan mereka di cafe, Bima bahkan tidak ingat pernah kenal dengan makhluk hidup bernama Bulan itu. Baginya Bulan hanyalah debu dari masalalu yang sangat tidak penting.


"Kau... ingat dulu aku pernah menceritakan tentang ayahku?"


Bulan tak perduli Bima mengingatnya atau tidak, yang ia tau hanya Bima lah yang pernah ia ceritakan tentang masalah ini. Dan sekarang pun, ia tak perduli, ia hanya ingin menceritakan lagi bahwa masalalu pahit itu masih menjalari hidupnya hingga saat ini.


Bima menghela nafasnya, sungguh ia ingin sekali mengatakan bahwa Arkana lah orang nya.


"Tidak, aku tidak ingat apapun. Jadi jangan menceritakan apapun karena akan percuma." Ujarnya acuh, namun tatapannya mengatakan sebaliknya. Ia ingin mendengar itu, entah itu cerita penting atau tidak, hatinya sangat tergugah ingin mendengarkan itu.


"Tapi aku masih ingat jelas bagaimana kau membully ku, ck.. kau persis seperti bos gangster waktu kecil."


Ya, bukan kenangan Bulan dan Arkana yang ingin ia dengar. Melainkan kenangannya sendiri bersama Bulan sewaktu kecil. Walau itu kenangan yang cukup memalukan.

__ADS_1


Plaak..! Bulan memukul punggung Bima hingga membuatnya meringis.


"Berhenti membahas itu, kau membuat ku ingat kembali dengan bau t4i ayam itu!"


"Kau pikir yang kau lakukan kemarin tidak membuatku trauma? Saat ibuku mengupas buah yang berbau tajam aku merasa itu bau t4i ayam."


"Salah mu sendiri, kenapa kau melakukan itu padaku? Sebagai orang yang lebih tua dariku seharusnya kau tidak bersikap begitu dulu." Protes Bulan sambil melebarkan matanya.


Lubang hidung Bima mengembang dua kali lipat, menahan kesal atas sikap Bulan yang tak masuk akal itu. "Kau menyebutku manusia koreng..!" ia mendorong dahi Bulan dengan telunjuknya.


"Kan memang kau korengan! Apa salah aku mengatakan itu hah? Kau selalu menggaruk leher dan tangan mu seperti manusia kera. Jangan-jangan sampai sekarang kau masih korengan?" Jengah Bulan menepis telunjuk Bima dengan kuat.


"aiss..! kecilkan suaramu!"


"Kenapa? Orang-orang disini belum tau kalau kau manusia koreng?!"


"Lihat..!" Bima membuka kancing kemejanya lalu memperlihatkan lehernya pada Bulan.


"Buka mata mu lebar-lebar! Aku sudah sembuh jadi jangan menebar omong kosong untuk mempermalukan ku!"


Bulan terpaku pada jakun dan guratan seksi di leher itu. Ia mengatupkan bibirnya, menahan agar tak meneguk ludah. Sadarlah..


"Tak perlu sampai begitu..." Ucapnya terbata, lalu beranjak dari sana.


"Tunggu.." Panggil Bima, dan Bulan menghentikan langkahnya.


"Apa..?" Ia berbalik dengan alis naik sebelah.


"Kau sudah menikah?" Sejak awal, pertanyaan ini yang paling mengusik pikiran Bima.


"Belum." jawab Bulan terheran.


"Punya kekasih?"


"Tidak, kenapa?" Bulan mulai kesal karena sepertinya Bima meracau.


Bima menggigit tipis bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.


"Hanya bertanya.."


"ch..! Dasar gila!" rutuknya kembali melanjutkan langkah.


Sementara itu di kursi nya, Dania meremas lembaran naskah yang ia pegang. Suasana hatinya menjadi sangat panas karena melihat interaksi Bima dan Bulan barusan.

__ADS_1


"Gadis sialan itu terus saja menggoda Bima!" geramnya menatap tajam ke arah Bulan.


...%%%%%%%%%%%%...


__ADS_2