
Arkana membawa Bulan menuju rumahnya. Bukan dirumah Bima, melainkan di sebuah apartemen. Sudah sejak lama Arkana membeli apartemen itu, namun ia tetap memilih tinggal bersama Bima. Sedangkan semua kucingnya lah yang menghuni apartemen tersebut, dengan dua orang yang ia pekerjakan untuk merawat kucing-kucingnya.
"Bima dan tante Ayana tinggal di apartemen?" Tanya Bulan selagi mereka berjalan di lorong.
"Tidak, ini apartemenku. Tapi aku tidak pernah tinggal disini."
Arkana membuka pintu, lalu mengajak Bulan masuk kesana.
"Selamat siang Pak." Sapa seorang wanita tua yang bertugas membersihkan apartemen tersebut. Ia akan pulang jika pekerjaannya sudah selesai, sementara satu orang lainnya bertugas khusus mengurus kebutuhan kucing.
"Siang..." Balas Arkana. Ia mengajak Bulan ke salah satu kamar yang didesain semi outdoor.
"wahh.. Kau benar-benar kebanyakan uang." Lirih Bulan takjub, bagaimana bisa seseorang mendesain kamar kucing dengan sangat mewah.
Anak bulu dari berbagai ras langsung menyambut pemiliknya. Mereka berkerumun di sela kaki Arkana seraya mengeong manja.
"Pilihlah, kau mau yang mana." Arkana bahkan mengatakan, tak apa jika Bulan menginginkan lebih dari satu.
Bulan terpana pada seekor kucing yang memiliki kaki pendek, berbulu abu-abu terang. Tampaknya sangat bagus jika di kawinkan dengan Moly.
"Aku mau yang itu.." Tunjuknya ragu, ia tau kucing itu sangat mahal. Ia bahkan tak yakin Arkana akan memberikannya.
"Baiklah, hanya satu?"
Bulan mengangguk pelan, sebenarnya ia ingin meminta lebih. Tapi akan sangat tidak tau diri bukan?
Setelah melihat-lihat kucing, Arkana menawarkan Bulan makan siang. Perjalanan mereka cukup jauh tadi, ia yakin Bulan pasti sudah kelaparan.
"Kenapa kau tidak tinggal di tempat bagus ini?" Tanya Bulan seraya menopang dagu, memperhatikan Arkana yang tengah memasak spageti.
"Aku tidak suka kesepian, dan Bima tidak suka kucing. Jadi aku tetap mempertahankan tempat ini untuk semua kucingku."
Dengan sangat piawai, Arkana mengguncangkan teflon bak seorang chef bintang Lima. Lengan bajunya yang disingkap menonjolkan otot yang menjalari tangan gagah itu.
Seksi, berkharisma, dan sangat menyukai kucing. Bulan semakin terjerembab oleh karakter Arkana yang 100 persen masuk kriteria idamannya. Meski begitu ia masih ragu, bahkan belum berani memperjelas apa arti ciuman mereka kemarin.
"Lalu kenapa kau tidak menjual semua kucingmu saja, ini pasti sangat menyita waktumu." Bulan berpikir Arkana pasti sangat kesulitan.
"Tidak, suatu saat aku akan kembali kesini."
"Suatu saat?" Kening Bulan mengernyit.
Arkana tersenyum, "mm.. saat kita menikah nanti, aku akan kembali kerumah ini." ia menyandarkan tangan di meja, lalu mendekat pada Bulan.
Bulan yang masih terbayang adegan cium4n itu pun langsung berdiri. Wajahnya panik dan merah.
"Jangan menciumku..!" Ia menutup mulut rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya.
"Apa..? hhh..." Arkana tersenyum kecil, padahal ia membawakan seuntai spageti di ujung sumpit, hendak menyuruh Bulan mencicipi itu.
"Aku ingin kau mencicipi ini, apa wajahku sangat mesum?" Tawa Arkana merekah, ia tak menyangka reaksi Bulan akan seperti itu.
"Aku..." Bulan mencari alasan, ia sangat malu karena sudah salah sangka.
__ADS_1
"Melihat reaksimu, apakah itu cium4n pertamamu?" Lagi-lagi Arkana dengan gamblang membahas itu. Baginya itu obrolan wajar diusia mereka.
Namun tidak dengan Bulan yang langsung panas dingin. "Tidak, aku sudah pernah melakukannya. Kau pikir aku sangat cupu?" Elak Bulan, tentu saja ia berbohong.
"Kapan? Dimana? Siapa?" Serobot Arkana sengaja menggoda.
"d..dulu sekali, waktu kuliah.." Jawab Bulan terbata, ia memutar bola matanya untuk menghindari wajah Arkana.
"eighhh... Benarkah..? Jadi bukan aku yang pertama? Sayang sekali padahal itu cium4n pertamaku." Arkana geleng-geleng kepala, sekarang ia menatap Bulan seolah gadis itu wanita yang cukup nakal.
"Berhentilah membahas itu! Kau tidak malu?" Rutuk Bulan kembali duduk dikursinya. Sementara Arkana kembali kedepan kompor untuk menyajikan spageti.
"Kau tidak memukulku, tapi terus menghindariku. Jadi apa arti cium4n kita waktu itu?" Tuntut Arkana, ia tak mau terombang-ambing dalam ketidakpastian.
Ia meletakkan dua piring spageti dimeja, lalu duduk dihadapan Bulan. "Kau sungguh tidak punya kekasih bukan?"
"Tidak ada..." Sahut Bulan pelan, ia mulai menggulung spageti dengan ujung garpunya.
"Bagaimana dengan seseorang, apa kau menyukai orang lain?"
"Tidak juga.." Sahut Bulan mulai mengunyah.
"Kalau begitu, maukah kau menikah denganku?"
puuihhh...
Bulan sontak melepehkan lagi spageti yang ada di mulutnya.
Arkana tak bergeming, ia menatap sendu kearah Bulan. Jutaan rasa cinta yang tertimbun jelas sekali tampak dikedua bola matanya.
Arkana mengenggam lembut tangan Bulan, "Aku sudah pernah kehilanganmu satu kali, dan kini aku tak mau kehilanganmu lagi. Aku ingin mengikat cintaku untukmu dalam sebuah pernikahan."
"Me..nikah..?" Gugup Bulan, satu tangannya mengepal erat. Jantungnya bahkan berdetak sangat cepat. Ia sungguh berdebar.
"Bukannya aku tak mau, tapi bukankah ini terlalu cepat? Kenapa tidak berpacaran dulu..."
"Kita kan sudah pernah berpacaran." Potong Arkana.
"Tapi beda Arka, waktu itu kita hanya berpacaran melalui medsos."
"Aku tak perduli, aku sangat mencintaimu. Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama?" Arkana kembali tersenyum, senyum hangat nan indah seolah meyakinkan Bulan bahwa cintanya tak pernah pudar.
"Aku.." Bulan terdiam sejenak, ia kembali mengorek perasaannya sendiri. Untuk mengetahui apa benar sosok Arkana yang ia cintai? Terlebih Arkana langsung mengajaknya menikah, ia harus memikirkan itu matang-matang bukan?
...~~~...
"Bu... dimana Arkana... eh ada tante Saras." Bima yang baru saja bangun tidur langsung menyapa Saras.
"Ada apa tante? Apa ibuku membuat ulah lagi?"
plak..!
Ayana mendaratkan pukulannya kepundak Bima. "Kau ini, mandi lah dulu. Ada yang ingin kami bicarakan denganmu."
__ADS_1
"Ibu tertipu lagi?!" Bima malah membelalak, tak biasa-biasanya sang ibu memasang wajah serius begitu.
"Mandilah dulu, sebelum ibu tendang bok0ngmu!" Ayana mengangkat satu kakinya.
Bima pun langsung berlari menjauh, "oke..oke.. Aku mandi dulu."
...-...
...-...
Sehari sebelumnya....
Saras membawa Bulan kesebuah mall. Ia hendak menepati janji untuk membelikan sang putri ponsel terbaru.
"Bagaimana? Kau suka?" Tanya Saras, ia membelikan benda pipih seharga 25 juta untuk penyemangat kerja sang anak.
Mereka yang berniat berbelanja pun pergi melihat-lihat store lain sambil bercengkrama.
"Suka.. heheh, ibu memang yang terbaik." Bulan tertawa girang, ia menciumi pundak sang ibu berulang kali.
"Bu, apa dulu ibu dan Pak Tara memiliki hubungan spesial?"
Saras langsung terpaku, "kenapa..?" ia berpura-pura tak mengerti perkataan sang anak.
"Tidak ada, hanya saja kemarin Pak Tara seperti menatap ibu sangat dalam. Apa jangan-jangan dulu kalian pernah saling suka?" Ia menggoda sang ibu, tak terpikirkan olehnya bahwa Pak Tara adalah pencuri hati ibunya.
"aisss..! Kau mulai pandai mengorek-ngorek masalah asmara ibu hah?" Saras sengaja menanggapi itu dengan candaan, padahal ia sangat takut apabila Bulan mengetahui kebenarannya.
"Sekarang ibu yang akan mengorek asmaramu, apa sampai sekarang kau tak pernah jatuh cinta lagi? Ibu sangat khawatir karena kau tak pernah membicarakan pria."
"Bu, sejujurnya aku merasa jatuh cinta lagi." Bisik Bulan malu-malu.
"wahh.. benarkah? Siapa orangnya? Apa ibu kenal?"
"Mantanku.." Jawab Bulan tersenyum kecil.
"Yang sembilan tahun lalu?" Saras membelalak, wajahnya berbinar. Apakah sejak pernyataan Bima kemarin, putrinya berpacaran lagi dengan mantan cinta monyetnya itu.
Bulan mengangguk tersipu, ia lupa bahwa sang ibu tak mengetahui mantan kekasihnya adalah Arkana. Orang yang ia maksud adalah Arkana. Namun Saras mengira itu adalah Bima.
...-...
...-...
"Jadi tante kesini, untuk memintamu berhubungan ke jenjang yang lebih serius. Tante tau kau dan Bulan masih saling mencintai. Tante tidak ingin kalian menunda kebahagiaan."
Bima yang sudah rapi, wangi dan klimis langsung berdebar mendengar itu. Jadi Bulan sudah menerima perasaannya? Itu sebabnya Saras datang kesana dan membawakan semi lamaran.
"Ibu setuju nak, kalian sudah dewasa. Sudah waktunya menjalin hubungan yang lebih serius." Timpal Ayana, ia juga berharap yang terbaik untuk Bima. Tak perduli apa hubungan mereka sebelumnya, yang terpenting kedepannya mereka semua bahagia.
"Bagaimana? Kau bersedia menjalin hubungan serius dengan Bulan?" Saras tersenyum lebar, ia berpikir Bulan pasti akan sangat senang dengan tindakannya ini. Dari banyaknya cinta yang terpancar di mata sang putri, ia memilih untuk turun tangan langsung mewujudkan perasaan itu.
Bima mengangguk yakin, dari mimpi semasa koma itu. Ia merasa bahwa Bulan memang ditakdirkan untuk melengkapi hidupnya. Kini ia tau kenapa wajah Bulan yang datang ke alam bawah sadarnya.
__ADS_1
"Saya bersedia tante..."
...*************...