Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 31 : Jodohkan Saja?


__ADS_3

"Kita semua mata duitan, jadi jangan naif." Timpal Pak Tara, ia melemparkan senyum jengah kepada Bima.


"Oke.., sekarang mari bergerak. Bulan, kau bilang sudah menyelesaikan salinan naskah nya kan? Pisahkan sesuai scene dan simpanlah di gudang untuk berjaga-jaga."


"Baik Pak," Bulan berdiri, ia mengambil kotak hitam berisikan lembaran naskah yang sudah siap disusun.


Sementara yang lain bersiap dengan kegiatannya masing-masing. Satu orang kru wanita masuk ke gudang menyusul Bulan. Ia hendak mengambil naskah tambahan yang kemarin di dapat dari penulis lama.


"Bulan? Kau sedang apa?" Tanya kru wanita itu. Ia penasaran karena Bulan mematung di tempat sambil memegangi sebuah susunan naskah lama.


"Siapa yang menulis cerita ini?" Bulan menunjukkan itu kepada rekannya, naskah yang di buat tahun 2019 itu tampak usang, tak selesai pula. Hanya ada beberapa bab di dalamnya.


Kru tersebut membaca judul naskah itu. Rapuh, naskah berjudul Rapuh itu memang hendak di filmkan beberapa tahun yang lalu, tapi entah kenapa sang penulis tak menyelesaikannya hingga akhirnya judul tersebut terbengkalai.


"Kalau tidak salah sutradara kira yang menulis itu." Jawabnya, ia baru bergabung ke Bumantara films dua tahun lalu. Jadi ia tak tau pasti siapa penulisnya.


Bulan meremas naskah tersebut sembari menahan air mata. Isi cerita nya persis dengan kisah hidupnya, dengan tokoh utama seorang gadis yang berpacaran melalui media sosial. Gadis yang diperlakukan tak pantas oleh ayah nya, gadis dengan mata indah dan menyukai warna hijau. Namun naskah itu hanya sampai bagian si gadis dan si pria bertemu. Tak ada kelanjutannya lagi.


Bulan meletakkan kembali naskah itu, bukan sekarang waktu yang tepat untuk membahas, kenapa Bima menulis naskah itu. Apa dia menulisnya untuk di jadikan kenangan, atau untuk ditertawakan?


Melihat Bulan keluar dari gudang dengan mata sembab, Bima menyenggol lengan Arkana.


"Kenapa dia sering menangis?" Bisik nya pada Arkana. Sedikit khawatir, apakah Bulan kepikiran ibunya yang tengah dirawat?


Arkana tak menanggapi, ia hanya menatap Bulan dari kejauhan. Bahkan saat Bulan sampai di hadapan mereka, Arkana tak mengalihkan tatapannya.


"Kau menangis lagi?" Tanya Bima seraya memberikan beberapa lembar tissue.


"Tidak, aku kelilipan tadi." Bulan mengibaskan tangannya di depan mata, agar meyakinkan. Ia masih cukup malu untuk menanyakan naskah tadi, nanti Bima malah meledek kalau dirinya belum move on.


Bima kembali merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kenapa kau lemah sekali? Kemana Bulan yang ganas seperti kingkong dulu? Bulan yang selalu membully anak-anak yang tidak dia sukai.."

__ADS_1


"Berhentilah membahas masalalu! Kau tidak malu? Kau mau aku membahas masalalu mu juga?" Ketus Bulan berbisik, sembari membaca agenda acara besok.


Braak!!


Arkana yang merasa terganggu menutup laptopnya dengan kasar. "Kalian ini..!"


"Maaf," lirih Bulan tertunduk, ia menyembunyikan wajahnya di balik lembaran naskah.


"Benarkah kalian dulu berpacaran?" bisik salah satu kru yang duduk tepat di sebelah Bulan.


Bulan menghirup nafas berat, ini pasti gara-gara ucapannya waktu itu yang tak sengaja tersambung ke pengeras suara.


"Tidak.." Sahut Bulan menggeleng dan berbisik.


"Tapi Pak Bima sendiri yang bilang, bahwa itu cinta monyet. Itu artinya kalian benar-benar berpacaran kan?" Kru itu tak percaya, sebab ia mendapat pengakuan langsung dari Bima.


"Kami memang teman masa kecil, tapi kami tidak pernah pacaran... sama sekali tidak." Bisik Bulan masih mengelak, ia tak ingin desas-desus hubungan memalukan itu semakin terkuak.


"Kau pasti berbohong.." ucap kru itu.


Sekali lagi Arkana menggebrak meja, kali ini dengan gelas kopi nya. "Dia sudah bilang tidak, kenapa kau masih tak percaya?"


Bulan dan kru itu melihat ke arah Arkana bersamaan, tatapan yang mereka layangkan pun sama. Tatapan penuh tanya dan heran. Kok bisa Arkana mendengar bisik-bisik nya mereka.


"Memang nya apa yang mereka bicarakan?" Tanya Bima penasaran, ia tak mendengar apapun dari tadi.


"Entahlah, mereka menganggu kenyamanan telinga ku." Ketus Arkana, ia berdiri dan membawa laptopnya keluar ruangan itu.


"Kalian membicarakan apa?" Bima mengulangi pertanyaannya kepada Bulan dan kru tersebut.


"Kau!" Jawab Bulan melempar tatapan lebar.


...~~~...

__ADS_1


Di rumah sakit, Ayana datang menjenguk Saras. Sekaligus ingin membahas masalah gugatan.


"Apa..? ENAM JUTA DOLLAR?!" Ucap Saras membelalak.


Ayana mengangguk pelan, itulah kenapa ia bersikeras ingin uang itu kembali. Kalau tidak, mati lah ia karena harus mengganti uang dua orang temannya, sebab dia sendiri yang membujuk temannya itu untuk ikut investasi.


"Jangan bilang pada anak-anak, aku membohongi mereka..."


"Kenapa kau begitu bodoh? Kau pusing menyimpan uang mu dimana? Sampai melayangkan 90 milliar lebih ke penipu itu? Kau sangat bodoh..!" Oceh Saras tak henti-hentinya, baru kali ini ia bertemu dengan orang sebodoh itu.


"Sekarang aku harus bagaimana? Jika kau mengundurkan diri dari kasus ini, kemungkinan besar tak ada pengacara lain yang mau menangani, karena pasti penipu itu akan menyuapnya. Sangat langka pengacara kompeten dan jujur seperti mu Saras..." Ayana merengek, mengeluarkan air mata yang susah payah ia hasilkan.


Saras melayangkan kakinya yang di pasangi gips ke arah Ayana. "Lihat, aku bahkan tak bisa berjalan. Aku dan putriku hampir mati, kau masih ingin uang itu? Kau benar-benar tak punya perasaan."


"Aku sudah menyewa bodyguard dari perusahaan keamanan terkenal. Aku akan meminta 10 orang mengawalmu sampai kasus nya selesai, setelah itu kita hancurkan kartel penipu itu sampai ia tak bisa berbuat apa-apa lagi."


"ck..ck.. kau punya banyak sekali uang untuk menyewa jasa keamanan. kenapa tidak mengikhlaskan saja uang itu?" Saras tetap acuh.


"Jumlah itu tak sebanding dengan uang yang harus ku keluarkan jika penipu itu tak mengembalikan uang nya."


"Bagaimana dengan putriku? Kau bisa menjamin keamanan nya?" Saras mulai goyah, jiwa profesional nya menggebu, ia akan resah jika ada pekerjaan yang tak terselesaikan.


"Aku akan menyuruh Bima menjaga nya. Kau harus tau putra ku itu mahir sekali dalam bela diri, dan Arkana, dia pasti mau menjaga Bulan."


"Jika ada apa-apa dengan kami kau siap bertanggung jawab?" Tanya Saras lagi.


"Kau meragukan ku?" Ayana mengangkat satu alisnya.


"Ngomong-ngomong, apa kau tau Bima dan Bulan pernah berpacaran dulu? Anakmu brengshake sekali karena meninggalkan putriku di pertemuan pertama. Dia bahkan memberikan bunga pemakaman."


"Benarkah? Bima pernah berpacaran? Dia tidak menceritakan apapun padaku."


"Lupakan saja, bulan depan aku sudah mulai bekerja. Siapkan lah bodyguard mu dari sekarang. Aku akan membuat penipu itu menerima akibat karena berani mengusik putri ku!"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka? Bulan tidak punya kekasih kan?" Ayana malah melenceng dari pembahasan.


...%%%%%%%%%%%...


__ADS_2