Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Episode 52 : Sang Biru


__ADS_3

"Bulan..." Panggil Saras, ia menekan Bel pintu Apartemen, lalu memajang wajah didepan kamera.


"Bulan, buka pintunya nak. Ibu membawakan sup kerang kesukaanmu.."


"Bulan, Kau harus makan. Saya membawakan pie coklat dari cafetaria, kau sangat menyukai ini kan?" Pak Tara ikut memamerkan barang bawaannya didepan kamera pengawas.


Tak lama kemudian, Bulan membukakan pintu. Wajahnya tampak sembab, kedua matanya bengkak serta kantung mata yang menghitam, menjelaskan betapa ia masih berharap kabar dari Arkana.


"Anda tidak sibuk?" Ia menatap Pak Tara, pria tua itu tampak sangat khawatir padanya.


"Saya selalu sibuk, memastikan dirimu baik-baik saja juga salah satu kesibukan saya." Dengan senyum hangat, Pak Tara membuka kotak pie coklat dan ia sodorkan kepada Bulan.


"Makanlah, kau butuh yang manis untuk tetap bertenaga."


"Kau juga butuh protein tinggi, agar tetap bugar." Imbuh Saras, ia sudah siap menata sup kerang itu kedalam mangkuk.


Pandangan Bulan terpaku, kepada dua pasang tangan yang sibuk menata makanan untuknya. Setelah puluhan tahun, akhirnya ia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang semestinya.


"Andai saja Arkana ada disini..." Gumamnya menunduk pilu.


Sudah Tiga pekan berlalu, tak pernah sedetikpun pandangannya lepas dari ponsel. Ia berharap ada kabar dari Arkana, ia masih berpikir Arkana akan baik-baik saja.


Momen Sembilan tahun yang lalu, seperti terulang kembali. Dimana ia menanti kabar dari Arkana, yang ternyata Arkana pergi begitu jauh. Hari-harinya persis seperti saat itu, dimana ia terus berharap ada notifikasi pesan dari Arkana.


"Aku ingin ke pantai, bu.." Pintanya seraya mengunyah pie coklat, dibarengi dengan daging kerang. Rasanya tentu saja sangat aneh, namun lidah Bulan saat ini seperti tidak berfungsi. Ia kehilangan seluruh semangatnya, bahkan seluruh sel-sel syarafnya juga ikut merasakan itu.


"Baiklah, nanti sore kita ke pantai..." Ucap Saras mengangguk, ia sedikit lega, karena akhirnya Bulan mau keluar rumah setelah Tiga pekan.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Pak Tara cemas, ia takut Bulan akan semakin teringat Arkana saat melihat air laut.


"Tidak apa-apa..." Sahut Bulan mengangguk pelan.


...~~~...


Di kamarnya, Bima tampak sedang menonton berita tentang evakuasi puing-puing pesawat.


Tak ada satupun penumpang yang berhasil ditemukan. Kuat dugaan para korban pasti ikut hancur saat pesawat membentur permukaan air laut.


Di kedalaman 2800 meter, tubuh pesawat bahkan ditemukan terpecah menjadi 8 bagian, di tempat terpisah pula.


Tim penyelamat hanya menemukan beberapa barang milik penumpang, seperti tas, dompet, sepatu hingga charger ponsel. Sampai saat ini polisi setempat masih terus memperluas zona pencarian.


"Kau harus kembali... sialan..!" Bima membanting laptopnya ke dinding, ia merasa sangat putus asa. Kehilangan sosok Arkana adalah hal yang paling menyakitkan untuknya.


-


-


"Pantai..." Ucapnya tanpa menoleh. Ia hendak mengunjungi pantai favorit Arkana. Pantai dengan banyak batuan besar di pesisirnya. Pantai itu tempat mereka menghabiskan waktu saat liburan tiba.


...~~...


Di atas bebatuan besar, Bulan duduk menatap kearah laut lepas. Angin berhembus kencang, menyibakkan sebagian anak rambutnya hingga menutupi wajah.


Saras dan Pak Tara menunggu didalam mobil. Mereka tak ingin menganggu sang putri yang hendak mencari ketenangan.

__ADS_1


Kemudian Bulan mengeluarkan sebuah kertas, dan botol kaca dari tasnya. Ia menulis sesuatu....


*Kepada Samudra...


Kau sudah memiliki banyak batu karang. Tumbuhan yang begitu indah juga menghiasi setiap hamparan pasir mu. Ikan-ikan cantik, bintang laut, hingga organisme terkecilpun ada disisimu.


Kau pasti tidak kesepian, karena kau memiliki banyak keindahan.


Tapi aku, aku disini sangat kesepian. Aku mohon padamu, kembalikan Arkana, calon suamiku...


Aku merindukannya, aku sangat merindukannya.


Jika kau bertemu dengan Arkana, tolong sampaikan padanya untuk segera kembali padaku*...


Deras buliran bening membanjiri kedua mata Bulan. Ia menggulung kertas itu, lalu memasukkannya kedalam botol kaca.


"Arkana..., pulanglah, aku akan menunggumu sampai kapanpun..!" Ia berseru kepada laut lepas, seolah menyuruh deburan ombak untuk menyampaikan pesannya.


Kemudian ia melemparkan botol itu sejauh mungkin, ia tau itu tak akan berarti. Tapi dengan kertas itu, ia menumpahkan harapannya, agar sang biru mengembalikan Arkana untuknya.


Cahaya senja perlahan mulai menunjukkan dirinya. Bulan berbalik, ia akan kembali lagi besok untuk membisikkan permohonannya kepada air laut.


Saat mengangkat pandangannya, ia melihat Bima yang tengah berdiri tegak dengan wajah lusuh. Pria itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, seolah menyampaikan kehilangan yang begitu besar.


Bulan pun menatapnya, tatapan kosong yang tak terarah. Kedua pasang mata itu saling menyampaikan rasa hampa, karena kehilangan orang tercinta.


......TAMAT......

__ADS_1


__ADS_2