Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 9 : Kau ingat?


__ADS_3

Klentigg....!


Dania menjatuhkan sendok garpu nya ke lantai, hingga memecah suasana hening itu.


"Maaf.." lirihnya tersenyum kecut, tak bisa di pungkiri. Ia tak senang melihat Bima menatap Bulan dengan amat dalam seperti itu. Terlebih sepertinya pernah ada sesuatu dengan mereka di masalalu.


"Kau mengingatku?" tanya Bima sekali lagi, membuat Bulan semakin bingung. Ia gugup bahkan salah tingkah.


Rasa penasaran Bima semakin membuncah melihat ekpresi Bulan yang seperti sengaja menyembunyikan sesuatu. Ia pun beranjak dari kursinya, lalu menarik tangan Bulan untuk ikut dengannya.


"Ikut denganku sebentar."


Bulan belum sempat menjawab, namun langkahnya sudah terseret mengikuti jejak kaki Bima.


"aaisss.. kenapa dia melakukan ini sekarang!" rutuk Bulan memejamkan mata, ia sangat malu di lihat oleh orang-orang itu. Sutradara terkenal loh ini, pasti mereka bertanya-tanya kan, kenapa bisa ia dan Bima punya hubungan masalalu.


Sesampainya di ujung lorong, Bima berhenti. Lalu ia melepaskan tangan Bulan seraya tersenyum datar.


"Kau pasti mengingatku kan?"


"Iya..! Kenapa? Kau tenang saja aku tidak akan menceritakan masalalu itu pada siapapun." sahut Bulan kesal.


Siapa yang bisa melupakan hal memalukan itu? Di kasih bunga pemakaman saat hari pertama kencan, lalu dicampakkan. Sampai mati pun Bulan tak bisa melupakan hal bodoh itu.


Bima menutup mulutnya karena syok. "hhhaahh...!? Bagaimana bisa Kau diam saja saat kita pertama bertemu? Kau tidak bangga mempunyai mantan pacar seorang sutradara terkenal?"


Bulan mengangkat ujung bibirnya, tak disangka pria yang dulu hangat dan romantis itu berubah menjadi sangat narsis. "ch..! Bagaimana bisa kau merasa tak bersalah setelah mencampakkan ku hari itu?!"


Bima membelalak, ia lupa bahwa ia belum memikirkan alasan untuk itu. "sial.. bagaimana ini? Dia pasti akan bertanya kenapa aku meninggalkannya waktu itu"


"Kau menyeretku kemari hanya untuk menanyakan itu?" jengah Bulan, ia memegangi pergelangan tangannya yang terasa agak nyeri akibat ulah Bima.


"Kau.., tidak ingin menanyakan alasan ku meninggalkanmu waktu itu?"


"Aku tidak mau tau, lagipula itu hanya cinta monyet SEMBILAN TAHUN yang lalu. Aku ingin kau melupakan itu, dan fokus saja pada pekerja kita. Jangan membahas masalah pribadi." Bulan berbalik sambil menyibakkan ujung rambutnya hingga mengenai wajah Bima.

__ADS_1


"Apa.. hhh..! Bukankah Aku yang seharusnya berkata begitu? Seharusnya Aku yang mengatakan agar dia tak terbawa perasaan." Bima jadi kesal sendiri karena sikap acuh Bulan.


"aisss.. wajah ku perih. Apa rambutnya terbuat dari lidi? Wanita itu angkuh sekali." gumamnya merutuki, ia salah karena sudah menganggap Bulan dan Bintang adalah orang yang sama. Mereka jelas berbeda jauh, Bintang itu lembah lembut, anggun, manis. Sementara Bulan, susah di deskripsikan. Pokonya jauh lah di bandingkan wanita di alam bawah sadar itu.


...~~~...


Pukul 9 malam...


Bima dan Arkana pulang kerumah dengan wajah kusut. Ternyata cerita yang di buat oleh Bulan sangat sulit di pahami. Mereka heran kenapa Pak Tara begitu tertarik dengan cerita itu.


"Kau juga merasa kalau cerita itu terlalu berbelit-belit kan?" kesal Bima sembari melemparkan sepatunya ke lantai.


Arkana duduk di kursi dekat rak sepatu, kemudian ia meletakkan sepatu Bima pada tempatnya.


"Kita bisa membuatnya lebih simpel besok, masih ada beberapa hal yang memang belum kita korelasi kan dengan Bulan. Aku hanya takut dia tak bisa menerima perubahan adegan dari kita."


"Kenapa Pak Tara memilih cerita itu? Bukankah itu sangat pasaran, seperti kisah Cinderella yang menantikan pangeran datang menciumnya lalu mereka bahagia di istana." Bima mengkritik habis-habisan, setelah ia membaca seluruh naskah tadi siang. Mulutnya sudah sangat gatal ingin mengkritik.


"Tapi ini bukan kisah Cinderella biasa, dia melawan dan menindas balik ibu dan saudara tirinya. Cinderella psikopat sepertinya cocok untuk jukukan tokoh utama. Kisah seperti ini jarang, dan pasti orang-orang akan merasa puas dengan pemeran utama yang tidak lemah. Aku heran padamu, kenapa tak bisa melihat peluang pada cerita ini? Menurutmu kenapa Pak Tara ingin kita menggarap film ini? Sudah pasti dia ingin film ini menjadi sangat spektakuler."


Arkana balik mengomeli Bima yang sedari tadi mengkritik jalan cerita karya mantan kekasihnya itu. Ia bahkan melemparkan kaus kakinya ke arah Bima sambil melemparkan tatapan meledek.


"Kalian sudah pulang, bagaimana hari ini?" sambut Ayana yang sudah menanti mereka di meja makan.


"wahh, tante memasak lagi hari ini?" puji Arkana, ia duduk di kursi kemudian bersiap mengambil nasi.


"hei..! jangan makan, ibu pasti menyuruh kami kencan buta lagi kan?" Bima mengendus sesuatu yang mencurigakan di sana.


"ssss..., Kenapa kau selalu berpikiran buruk pada ibu mu hah? memangnya salah seorang ibu ingin memasak untuk anak-anaknya?"


Ayana berdiri, lalu mendorong Bima agar duduk di kursi. Ia bahkan mengambilkan Bima sepiring nasi dengan lauk pauk melimpah.


"Masakan tante enak sekali, mirip seperti masakan ibuku dulu. Semenjak pindah ke California ibu ku jadi jarang masak makanan Indonesia." Arkana sangat lahap mengunyah cita rasa yang sangat lezat itu.


"hahaha.. Kau ini pintar memuji, manis sekali." Ayana tersipu di puji seperti itu.

__ADS_1


"Begini..." imbuh Ayana terpotong.


Bima dan Arkana sontak memberhentikan kunyahan nya. Tiba-tiba mereka merasakan angin tak sedap entah dari mana.


"Sudah ku duga, bu.. sudah berapa kali kami mengatakan, kami tidak mau di jodohkan." Nada bicara Bima terdengar pasrah.


"Tante tenang saja, suatu saat nanti kami pasti menikah. Jadi jangan menyuruh kami kencan buta lagi." Arkana pun ikut lesu.


"Bukan, Ibu bukan mau menjodohkan kalian. Sebenarnya.., ibu... Jadi begini, Dua bulan yang lalu ibu ikut investasi, keuntungannya lumayan."


"Ibu mau mengajak kami bergabung? Maaf, tabungan kami sudah banyak." Potong Bima menyombongkan diri.


Ayana menggaruk pelipisnya, ia menghindari tatapan mata Bima dan Arkana yang terasa menusuk itu. "Ibu... tertipu."


"Apa..?! kok bisa?" Bima meremas kedua tangan di atas meja itu. Ia mengambil jeda sejenak, menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan perkataannya. "Bu.. Kenapa ibu tidak bicara dulu dengan kami?"


Arkana mengusap bibirnya dengan tissue, lalu menatap sayu wajah wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya itu. "Tante sudah melapor ke polisi? Berapa banyak kerugiannya?"


"Sudah, tapi orang itu menghilang tanpa jejak. Polisi masih melacak lokasinya.."


"Ibu memasukkan uang berapa?" sambung Bima, membuat sang Ibu kembali meneguk ludah.


"600...." suara Ayana hampir tak terdengar.


"600 juta? aiisss.. itu jumlah yang tidak sedikit bu, tapi dari pada menyerahkan kasus ini ke polisi dan membuang waktu. Lebih baik ikhlaskan saja." Bima melanjutkan makannya, dari pada nanti berita penipuan ini terendus media, lebih baik mereka merelakannya.


"Tapi 600 ribu...." Ayana bersuara lagi.


"Tante, benar kata Bima. Apa perlu kami patungan dan mengganti uang itu?"


Bima mengangguk saja mendengar usulan sahabatnya itu.


"600 ribu dollar..."


buuurrrr.......!!!!!

__ADS_1


Nasi di dalam mulut Bima menyembur semua keluar. Begitu pula dengan Arkana, ia terkejut hingga menelan potongan daging sebelum terkunyah.


...*****************...


__ADS_2