
Melihat reaksi Bulan yang memperhatikan Bima, hati Arkana sedikit merasa kepanasan. Apa karena ia tak terluka separah Bima, maka nya Bulan tak menanyakan keadaannya?
"Kau membelalak padaku? Kenapa dari dulu kau tidak sopan pada ku hah?" Ayana mengerutkan dahinya, semakin kesal karena Bulan malah membela anaknya.
"Dia sedang sakit, apa tante tidak punya perasaan?"
"Memang nya kau punya perasaan? Kau gadis psikopat yang membuat masa kecil Bima jadi muram."
"Itu karena dia korengan, jadi bukan salahku jika masa kecilnya suram. Masa kecil hingga dewasa ku bahkan lebih suram karena Bima mengoleskan tai ayam di mulutku." Bantah Bulan tak terima, namun ia tetap memayung kan tangannya di atas kepala Bima.
Bima meraih tangan Bulan, lalu menepisnya. "hei, kau sedang membelaku, tapi memojokkan ku? Apa sebenarnya mau mu hah?"
"Hei, kenapa kau menepis tangan Bulan? Bagaimana kalau ternyata dia mengalami cidera di tangannya?" Saras ikut tak terima melihat perlakuan Bima.
"Anak tante itu seperti kingkong, tak mungkin dia mengalami cidera hanya karena di tepis." Ucap Bima sinis, namun tak bisa di pungkiri dada nya sedikit berdebar kala Bulan melindunginya dari gaplokan sang ibu.
"aahww..." Rintih Arkana sambil memegangi perutnya, ia merasakan lilitan hebat karena belum makan selama hampir 7 jam.
Bulan langsung menoleh khawatir, "Kau kenapa..?"
"Aku lapar sekali.."
"Ayo kita makan, sepertinya kau butuh asupan nutrisi tinggi." Imbuh Bima melirik jahil, ia tau sahabatnya itu tengah mencari perhatian Bulan.
"Omong-omong, ibu yang memanggil pasukan khusus?"
Ayana menggeleng, ia hanya menelpon Bima saja. Ia bahkan tak kepikiran menelpon polisi karena kepalanya terpenuhi oleh kekhawatiran terhadap uang Enam juta dollar. Apalagi membayangkan kasus ini tak kunjung selesai, bisa-bisa Bima mengetahui jumlah sebenarnya itu.
"aa.. pasti anda kan?" Tunjuk Bima pada Saras.
"Bukan, aku bahkan diancam kalau memanggil polisi kesana. Apa kau yang melakukannya?" Saras bertanya kepada Raul, namun Raul juga menggeleng. Ia berpikir Bima atau Arkana yang memanggil pasukan khusus bersenjata itu.
"Loh, bukan kalian yang membawa pasukan itu?" Bulan gantian memandangi Arkana dan Bima. Kedua pria itu juga menggeleng bersamaan.
__ADS_1
Bulan pun berpikir, mungkin saja pasukan khusus itu datang karena ia sempat menelpon nomor darurat.
"Malam ini tidurlah di sini bersama ibu mu, akan terlalu berbahaya jika kau dan ibu mu terpisah. Penipu itu pasti sedang menyusun rencana sekarang." Raul tak perduli siapa yang mengirimkan pasukan itu, ia hanya tak ingin Bulan terluka. Melihat Bulan dalam bahaya membuat ia hampir kehilangan nyawanya.
"Benar sayang, untuk sementara kita harus bersama agar penipu itu tak mendapatkan celah. Saat kembali bekerja, teruslah bersama dengan Arkana ataupun Bima." Saras percaya kedua pria itu bisa melindungi Bulan. Melihat mereka berdua berusaha membebaskan Bulan membuatnya yakin, Bulan akan aman bila bersama dengan mereka.
"Kau akan tetap membatalkan gugatannya?" Ayana kembali mengungkit soal itu.
"Iya, aku tidak mau keluarga ku dalam bahaya." Sahut Saras yakin, kini ia tinggal menunggu konfirmasi pembatalan gugatan.
"Bu, ikhlaskan saja uang itu. Aku dan Arkana akan patungan dan mengganti uang dua orang teman ibu, jadi jangan lagi usik Gangster berbahaya itu."
Arkana membelalak mendengar namanya di sebut oleh Bima. "Kau pakai saja uang mu sendiri,"
"ch, kau pelit sekali." Bima tertawa jengah, padahal bagi Arkana uang segitu bukan lah apa-apa di bandingkan harga jam tangan yang baru ia beli dua hari lalu.
Tak tau saja mereka bahwa jumlah yang Ayana ucapkan kemarin, ternyata bohong. Ayana tak mau sampai harus kehilangan uang sebanyak itu. Ia benar-benar bisa gila.
...~~...
Karena tak bisa tidur, Bulan keluar ruangan untuk mengulas kembali pembaruan naskah. Ia tak nyaman tidur satu ruangan dengan ayah tirinya.
Di kursi tunggu depan ruang rawat, Bulan membuka laptopnya, lalu ia duduk di lantai sambil membuka laman menulisnya.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan daftar panggilan di WhatsApp, tertulis nomor Arkana menelponnya berulang kali saat ia sedang di sekap.
"Kapan aku memberikan nomorku padanya?" Ia ingat, hanya satu kali Arkana meminta nomor ponselnya, itu pun tidak di berikan.
"Kau tidak tidur?" Tanya Raul, ia keluar dan duduk di kursi dekat Bulan meletakkan laptopnya.
Bulan terkejut, pikirannya langsung melayang-layang entah kemana. Ia sungguh tak bisa berpikir positif kalau dekat dengan Raul.
"Masuklah, aku akan tidur di sini." Ucap Raul, ia tau pasti Bulan sangat lelah karena habis melalui hari yang sangat berat.
__ADS_1
"Tidak bisakah anda menceraikan ibu?" Secara halus, ia meminta Raul pergi dari kehidupan nya dan sang ibu.
"Kalau tidak mau, maka hentikan sikap menjijikkan itu padaku. Apa anda tidak memikirkan perasaan ibu ku?" Kali ini ia akan terang-terangan meminta agar Raul berhenti bersikap gila.
Raul tersenyum kecut, "Perasaan? Kau sudah meminta ibu mu untuk memikirkan perasaan ku? Puluhan tahun kami menikah, sedikitpun dia tak pernah mencintaiku. Padahal aku menerima semua kekurangannya, aku menerima mu sebagai anak ku, aku membesarkan mu, tapi sedetik pun dia tak pernah melupakan mantan kekasihnya. Dia memberikan seluruh hatinya pada ayah kandung mu yang tidak bertanggung jawab itu."
"Seharusnya anda memperlakukan ku seperti anak sampai sekarang! Kenapa malah menyimpan perasaan seperti itu? Anda bahkan sering bertingkah mesum! Ingat umur..!"
"Umur ku baru 49 tahun." Sahut Raul sama sekali tak menunjukkan rasa malu.
"Jika anda merasa kesepian, ceraikan ibu ku dan carilah wanita muda lainnya. Pergi dari hidup kami sejauh mungkin..!"
"Jika kau mau pergi bersamaku, maka aku bersedia meninggalkan ibu mu."
"ch..! Dasar tak punya otak!" Bulan beranjak ke ruang rawat. Ia mengunci pintu dari dalam.
Sampai kapan ia akan terjebak di lingkaran setan itu? Ia ingin sekali mengatakan kepada ibunya, bahwa Raul adalah pria iblis. Namun ia tak tega, apalagi Raul mengancam akan membeberkan masalalu ibunya. Ia tak bisa membayangkan akan sehancur apa hati Saras nanti nya.
...~~...
Pukul 08:30 pagi...
Bima, Arkana, dan Ayana sarapan di satu meja seperti biasa. Arkana termenung karena memikirkan bagaimana caranya untuk bisa jujur terhadap Bulan.
Ayana pun sama, ia bahkan tak bisa mengunyah nasi karena ulu hatinya terasa perih. Memikirkan uang yang terancam raib, bahkan ia harus mengganti uang temannya. Terancam kehilangan 18 juta dollar, membuat nya tak nafsu makan.
Namun berbeda dengan Bima, walau bahunya masih di perban. Wajah nya sangat berseri-seri, entah apa yang membuatnya begitu. Mungkin ia memimpikan Bintang lagi kali ini.
...%%%%%%%%%%...
Guys.. maafin otor karena baru update. lagi dan lagi sinyal yg jadi masalah 😭 ini aja buru2 update. Kadang sinyal nya laju, tpi cuma beberapa detik ilang lagi seharian😭 sedih tauk kek orang gila berhari2 gk bisa internetan😭 Otor sampe gelud lewat email sama admin telkomsel. Bantuin napa, ada yg mau bantu otor komplain sama oprator gak?Sebel lohhh ahh😭 asyu!
Pokok e maaf keun otor yak. doain sinyal nya cepet pulih 😪
__ADS_1