
Setelah Bima dan Arkana pergi, Bulan langsung menghembuskan nafas yang sedari tadi tertahan oleh kerasnya denyut nadi. Ia benar-benar tak percaya diri tadi, dua sutradara terkenal menghampirinya, dan mengatakan ingin mengajaknya bekerjasama. Ini bukan sekedar mimpi kan?
"Tapi kenapa harus Aku..? Masih banyak penulis di luar sana yang ceritanya lebih berbobot. Dan di antara banyaknya sutradara, kenapa harus Bima? Kenapa Aku harus bertemu lagi dengan Pria bajingan itu...!! ahgg! Dia bahkan tak mengatakan apapun, setidaknya bukankah dia harus meminta maaf, merasa bersalah, atau apa kek. Dasar Pria busuk..!" rutuknya sambil mengepal erat gula sachet di dalam wadah.
"Bukan..! Bukannya Aku belum move-on. Aku bahkan sangat ingin menggaruk wajahnya karena dia memberiku bunga pemakaman waktu itu." Geramnya merutuki, ia seperti tengah menjawabi pertanyaan dari dalam pikirannya sendiri.
kling..kling..
Lonceng kecil di depan pintu Cafe berbunyi lagi, kali ini Ibunya Bulan yang datang. Ia membawakan bingkisan berisi makanan dan suatu barang titipan suaminya.
"Hai Bulan.."
Saras langsung memeluk putrinya itu dari belakang.
Bulan yang terkejut langsung tersenyum girang. Ia sangat merindukan ibunya, namun entah kenapa rasa enggan untuk pulang masih lekat di hatinya.
"Kau sudah makan? Ibu membelikan mu sup kerang dari restaurant favoritmu."
"Benarkah..? wah.. kebetulan sekali Aku belum makan."
"Kak Vidia... Ayo kita makan bersama." serunya memanggil, tak lama Vidia langsung berlari menghampiri mereka.
"wah sepertinya Ibumu baru memenangkan sidang." ujar Vidia menghirup dalam aroma sedap sup kerang tersebut.
"hahaha.. Kau ini, memangnya harus menang sidang dulu untuk membelikan anakku makanan enak?" sahut Saras tertawa anggun.
Dari penampilan, cara bicara, gaya busana dan selera, Saras sangat berbeda dengan Bulan. Entah kenapa darah keanggunan tak menurun pada Bulan. Gadis itu seperti menutup diri dari segala hal yang bisa mempercantik diri.
"Oh iya, siapa pria yang barusan keluar dengan Jas? Ibu seperti familiar sekali dengan wajahnya."
"Tentu saja, dia sutradara terkenal Bu. Ibu pasti tidak paham, tapi pasti Ibu pernah melihatnya di televisi." jawab Bulan dengan suara tak jelas, karena ia sedang asyik melahap kerang lezat itu.
"Benarkah? Lalu untuk apa dia kesini?" lanjut Saras sembari mengupas kan beberapa kerang untuk Bulan.
__ADS_1
"Bu, sebentar lagi anak mu akan menjadi penulis terkenal." Vidia membelalakkan mata ke arah Saras.
Saras langsung menutup mulutnya, sebagai seorang pengacara, ia bisa langsung tau apa tujuan Sutradara itu ke sana.
"Bulan..? Mereka menemui mu?"
Bulan mengangguk, ia sudah siap membuka telinga untuk di puji oleh sang Ibu.
Dan benar saja, Saras langsung memeluk erat putrinya itu amat heboh.
"Ya ampun anakku. Kamu hebat nak, akhirnya kamu mulai berkembang berkat keuletan mu. Kamu masih ingat siapa saja yang menghinamu karena menjadi seorang penulis? Kalau masih ingat beri Ibu namanya, akan ibu sumbat mulut mereka dengan fakta ini."
"hahahah.. Ibu, jangan bertindak seperti kriminal. Bukankah seorang yang terkenal harus memiliki beberapa haters?" Alis Bulan naik turun, seolah ia membanggakan semua hujatan yang pernah di dapat.
"Kau benar. ahh, akhirnya anak ibu sukses dengan karya nya. Selamat ya Bulan ibu.."
"hehehe.. terimakasih ibu, ini semua berkat dukungan ibu." Balas nya sembari memeluk erat sang ibu.
Setelah hampir satu jam bercengkrama, Saras pun berpamitan untuk pulang. Tak lupa ia memberikan bingkisan dari suaminya untuk Bulan.
Bulan menerima bingkisan itu dengan wajah masam. "Sampaikan terimakasih ku untuknya."
"Baiklah.. Ibu pulang dulu ya." Saras pun beranjak dengan wajah murung. Mendengar Bulan tak pernah menyebut Ayahnya seperti seorang anak, membuat batin Saras sedikit terluka.
Luka yang di alami Bulan saat ia masih remaja, mungkin luka itu yang sampai saat ini menjadi benteng di antara Bulan dan Ayah nya. Namun Saras sendiri pun tak tau pasti, kenapa Bulan sampai saat ini masih enggan untuk pulang. Ia hanya tau, sikap Bulan menjadi begitu karena Ayah nya terlalu keras padanya.
Bulan membuka bingkisan itu, sebuah kotak kecil dengan ukiran cantik.
"ch, untuk apa dia memberiku ini. Aku akan menunjukkan padamu, kalau Aku bisa berdiri tanpa orang sepertimu."
Bulan memotret kotak tersebut, lalu mengunggah nya di laman media sosial. Ia selalu begitu, menjual barang-barang pemberian Ayah nya menggunakan akun cadangan.
Tak sudi ia menyimpan barang pemberian Ayah nya. Mendingan di cairkan, lumayan buat tabungan untuk beli stok makanan Moli, kucingnya.
__ADS_1
...~~~~~...
Keesokan harinya, Bulan sudah sampai di depan gedung Bumantara films. Ia langsung masuk menuju lantai 7 seperti yang di sarankan oleh Bima kemarin.
Tak seperti kemarin, kali ini penampilan Bulan berubah jadi manusia normal. Itu pun karena Vidia mengomelinya habis-habisan. Masa iya mau bertemu orang penting penampilannya seperti gelandangan.
Vidia meminjamkan blus berwarna biru pastel dan celana highwaist berwarna coklat muda, membuat kaki pendek Bulan terlihat lebih jenjang. Tak lupa riasan tipis membalut wajahnya. Ia benar-benar layak di sebut manusia hari ini. Tidak seperti kemarin yang lusuh seperti orang tidak mandi seminggu.
Saat memasuki gedung, Bulan sempat agak bingung, sebab ini pertamakali nya ia mendatangi gedung perusahaan besar. Padahal ia sudah sering datang ke kantor ibunya, tapi ternyata gedung ini lebih besar daripada firma hukum tempat sang ibu bekerja.
Saat memasuki lift, Bulan bersama para staff dan beberapa pekerja lainnya. Ia mengamati satu persatu wajah para pegawai di sana, hingga saat ia melihat kesamping, ia mendapati Arkana yang tengah asyik melihat ponselnya.
"Pak Arkana.." Sapa Bulan pelan, takut menganggu kenyamanan orang lainnya.
Arkana menoleh, dan ia terkejut saat melihat Bulan ada di sebelahnya. "oh.. hai..? Mau menemui Produser?"
Bulan mengangguk "Iya, seperti yang kalian sarankan kemarin."
"mmm..." Arkana juga mengangguk, nampak sekali ia gugup melihat gadis itu. Gadis yang dulu pernah mengisi hatinya, dan ia tinggalkan begitu saja.
Banyak hal yang ingin ia tanyakan, apakah kabar nya baik-baik saja? Bagaimana kehidupannya selama ini, dan dengan apa ia mengobati luka yang tergores akibat dicampakkan?
"Anda ingin menanyakan sesuatu?" lirih Bulan memecah lamunan Arkana, ia merasa risih karena Arkana terus menatap wajahnya.
"Bagaimana kabar mu..?" kalimat itu terucap begitu saja dari bibir Arkana.
Bulan mengernyitkan dahinya, untuk apa pria itu menanyakan kabarnya, padahal jelas-jelas mereka baru bertemu kemarin. Dan hari ini, mereka pun berdiri berhadapan dengan kaki tegak, tubuh sehat.
"ba..baik.." sahut Bulan terbata, ia mengambil langkah kesamping untuk menjaga jarak dari Arkana. Perasaannya tak enak karena pria itu melemparkan tatapan amat dalam.
Kemudian pintu lift terbuka, orang-orang di depan mereka keluar kecuali Bulan dan Arkana, karena ini masih di lantai 5. Sedangkan mereka akan menuju lantai 7.
Saat pintu lift hendak tertutup, tiba-tiba Bima datang dan menahan pintu itu. Ia pun masuk dengan nafas tersengal, ia sudah di tunggu 25 menit yang lalu oleh Pak Tara. Bisa habis masa depannya jika ia terlambat lebih lama lagi.
__ADS_1
"hai.. " Bima mematung saat melihat penampilan Bulan. Kemarin ia tak menyadari, mungkin karena Bulan cukup berantakan. Tapi hari ini, Bulan yang memakai riasan, berpakaian feminim serta menggerai rambutnya dengan anggun. Dia jadi tampak sama dengan Bintang, wanita dari alam bawah sadar yang hampir ia nikahi.
...************...