Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 16 : Pewangi jeruk


__ADS_3

"Apa...?!"


Pak Tara membelalak, pelipisnya seketika terasa seperti dihimpit oleh beton besar.


"Siapa bajing4n yang berani memplagiat karya Bulan?!" imbuhnya murka, ia meregangkan ikatan dasi di lehernya.


Arkana terheran melihat ekpresi Pak Tara seperti itu. Dulu pernah ada kasus serupa, karena gagal memperjuangkan hak milik penulisnya, Pak Tara pun memulangkan penulis itu dengan permintaan maaf sebesar-besarnya. Dulu ia pasrah dengan plagiarisme seperti itu. Apakah nasib Bulan akan sama dengan penulis itu?


"Temukan siapa yang memimpin Platfrom tersebut. Kita selesaikan secepatnya!"


"Baik Pak." Arkana mengangguk saja. Syukurlah Pak Tara sepertinya mau memperjuangkan ini.


Saat keluar dari ruangan Pak Tara, Arkana di buat terkejut oleh beberapa staff yang terhuyung saat pintu terbuka. Mereka menguping pembicaraan barusan karena penasaran.


Arkana menatapi mata mereka satu persatu. Lalu mengisyaratkan agar mereka menutup mulut rapat-rapat. Jika masalah ini terendus oleh media, maka permasalahan akan semakin panjang. Bisa jadi berpengaruh nantinya pada nilai jual film.


Para staff itu mengangguk kecil sambil saling menyikut lengan satu sama lain. Pertanda mereka paham akan maksud Arkana.


"Bagaimana..?" Tanya Bima menghampiri, saat mendengar berita tak sedap itu ia juga langsung panik dan berniat membujuk Pak Tara. Sebab persiapan mereka sudah hampir matang.


"Kita harus mencari tahu Pimpinan aplikasi itu."


-


Di ruangan latihan, semua kru dan staff yang terlibat berkumpul. Mereka memberikan semangat pada Bulan untuk tidak menyerah.


"Semakin tinggi, maka angin akan semakin kencang. Ku rasa ini sedang berlaku padamu, jadi jangan risau..." ucap juru kamera berusia 40 tahunan itu.


"Benar, bukan kah ibu mu pengacara? Jika ketemu siapa pelakunya tuntut saja dia. Benar-benar merugikan!" Timpal salah satu perias ikut geram.


"Ibu mu pengacara? wah.. Kau dari keluarga berpendidikan ternyata. Tapi kenapa pendidikan mu hanya sampai SMA?" Ujar Dania seperti merendahkan Bulan.


Sejak kejadian t4i ayam kemarin, ia semakin kesal dengan Bulan karena memperlakukan Bima seperti itu.

__ADS_1


"Kau hanya lulusan SMA?" Timpal seorang lainnya, namun ia memandang takjub. Punya bisnis kecil-kecilan, serta membuat Novel yang sekarang di ambang kesuksesan. Bukankah itu cukup hebat untuk seseorang yang hanya lulus SMA?


Bulan mengangguk malu, memang di kota ini bahkan pekerja retail di sarankan memiliki jenjang pendidikan yang tinggi. Tak heran jika orang-orang memandang sebelah mata terhadapnya yang hanya lulus SMA.


"Kenapa kalian malah membahas itu? Apa pentingnya dia sekolah atau tidak. Dia di sini rekan kita, jadi jangan ada perlakuan diskriminasi seperti itu." Sentak Arkana kesal, ia lah yang tau apa alasan Bulan berhenti di bangku SMA. Alasan yang cukup memprihatinkan.


Dania tertawa kecil, dari segi apapun ia merasa lebih unggul dari Bulan.


"Tidak terlalu penting memang, Aku hanya tidak menyangka di gedung ini ada yang..."


"Aku sudah menemukan alamat perusahaan aplikasi itu." Celetuk Bima yang baru tiba di sana, membuat ucapan Dania terhenti.


"Benarkah?" tanya Bulan tak percaya, secepat itu menemukannya?


"Ayo kita kesana, dan bawa laptop mu."


Bulan langsung bangkit dari duduknya, ia mengambil laptop nya dan selembar amplop coklat berisi surat pernyataan bermaterai.


"Tunggu..," Arkana mengambil masker dari atas nakas. Ia memberikannya pada Bulan.


"Di mobilnya menggunakan pewangi jeruk." Jawab Arkana, seingatnya Bulan tidak suka dengan pewangi ruangan ataupun mobil beraroma jeruk. Ia bisa pusing jika menghirup itu dalam waktu yang lama.


"mm.., terimakasih.." Bulan mengangguk, ia merasa ada yang aneh, tapi entah apa. Ia tak menyadari bahwa Arkana tau semua hal itu.


Bima termangu melihat interaksi kecil itu. Bukankah itu tindakan bodoh? Jika tak mau ketahuan maka jangan menunjukkan sikap seperti itu. Tapi Arkana, dari mulai acar timun dan sekarang pewangi jeruk. Entah Bulan yang cukup bodoh karena tak menyadari itu, atau karena Arkana ingin menunjukkan bahwa perasaannya sama seperti dulu.


...~~...


Di dalam perjalanan, Bulan tak melepaskan maskernya sedetikpun. Masker itu cukup tebal, namun tetap saja aroma tajam pewangi jeruk itu tercium walaupun sedikit.


Ia bahkan menolak air mineral yang di tawarkan Bima karena enggan membuka masker. Padahal mereka sudah di dalam mobil selama dua jam.


"Kau tidak haus?" Tanya Bima terdengar ketus, bagaimana pun ia masih kesal dengan insiden kemarin.

__ADS_1


Bulan menggeleng saja. Tenggorokannya memang terasa agak kering, tapi jika ia membuka masker, bisa-bisa ia langsung muntah di sana.


Bima berhenti sejenak di tepian jalan. Ia meraih pewangi mobilnya lalu membuang itu keluar. Ia bahkan membuka semua kaca mobilnya agar sirkulasi udara segera bertukar.


"Aku bisa menahannya kok," sangkal Bulan, ia merasa sungkan karena Bima masih mau berbuat baik padanya.


"Mata mu merah, bau nya pasti sangat menganggu. Kau harus bugar karena akan menghadapi Direktur utama aplikasi itu."


Di lihat dari sisi manapun, saat sedang berpenampilan rapi begini Bulan benar-benar mirip dengan calon istrinya di alam bawah sadar. Ia bisa merasakan ketidaknyamanan yang dirasakan Bulan. Walau hatinya masih dongkol, ia tak tega melihat Bulan kesulitan mengatur nafas di sana.


"kenapa tidak dari tadi.." gerutu Bulan, kalau niat perhatian kenapa tidak dari awal? Setelah dua jam perjalanan baru bertindak, bukankah ini seperti membalas dendam.


"Ku pikir tidak separah itu, lihat wajahmu merah seperti tomat busuk." Sahut Bima melanjutkan perjalanan.


"Tomat busuk warna coklat!" Jengah Bulan, sebagai penulis ia tak terima jika ada penyebutan yang tak sesuai.


"aissshh..." Bima melirik jengah dengan bibir naik sebelah. Gadis ini benar-benar menyebalkan. Entah apa yang membuat Arkana sampai kepincut dengan nya dulu. Apa karena lewat medsos? Jadi Bulan berprilaku palsu hingga Arkana jatuh hati padanya?


...~~~...


Setelah 3 hari penuh meneliti jejak penipu bertato kalajengking. Akhirnya Saras menemukan organisasi mereka. Ternyata memang penipu itu bergerak dalam skala besar, tak heran mereka mendapatkan banyak korban dari kalangan atas dengan jumlah yang fantastis.


Saras lebih heran lagi saat melihat catatan bahwa mereka pernah di tuntut sebanyak 4 kali, namun bebas dengan alasan bukti tak tercukupi. 2 Pengacara juga di kabarkan menghilang setelah bersikeras mengajukan tuntutan pada mereka.


"Sepertinya penipu b4jingan ini ingin membuat kartel nya sendiri." Geram Saras, melihat banyak nya jumlah yang berhasil di gelapkan membuat kepalanya mendidih.


"Dion. Dimana berkasnya?" Tanya Saras pada junior yang mendampinginya.


"Ini Bu, mau di serahkan sekarang?" Junior berusia 25 tahun itu menyerahkan lembaran kertas yang hendak di serahkan ke pengadilan.


"Biar Aku saja, Kau siapkan gugatan dan hubungi para korban."


"Baik Bu.." sahut Dion, ia segera melaksanakan perintah Saras.

__ADS_1


...%%%%%%%%%%%%%...


__ADS_2