Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 19 : Kilas masalalu


__ADS_3

"Apa..?" Bulan berdecak kesal, bukankah ini gila? Tidak seharusnya seorang ayah berkata seperti itu kepada anak gadisnya.


"Apa ayah salah bicara?" Dengan santainya Raul tersenyum, memperlihatkan wajah yang sangat menjijikkan untuk Bulan.


Ia keluar dari kamar anak gadisnya itu, entah kasih sayang macam apa yang coba ia terapkan untuk Bulan. Yang pasti Bulan benar-benar tidak nyaman.


Malam itu, Bulan bahkan tak keluar kamar. Ia mengunci dirinya sendiri, menunggu ibunya pulang. Saat Raul memanggil untuk makan malam pun Bulan enggan.


Ia hanya menangis, kejadian itu sungguh memalukan baginya. Setelah sekian lama berusaha berfikir positif, akhirnya Bulan menyimpulkan bahwa tindakan ayah nya itu termasuk pelecEcehan.


[Ayah ku melakukan hal tidak masuk akal lagi kali ini. Dia masuk ke kamar ku saat aku baru selesai mandi. Aku harus bagaimana?] Tulisnya pada akun bernama Baraspati, mereka sudah cukup dekat. Namun belum berpacaran.


[Mungkin saja dia tidak tau kalau kau sedang mandi.] balas akun Baraspati terebut yang tak lain adalah Arkana.


[Menurutmu ini hanya kebetulan saja?]


[Kurasa begitu, tidak mungkin ayahmu bersikap seperti itu. Seorang ayah tidak mungkin bersikap kurang ajar pada anaknya.]


[Lalu bagaimana dengan kemarin? Saat dia memelukku tiba-tiba dari belakang? Saat dia menyeka bibirku dengan jemarinya? Dia bahkan mengatakan belum ada bagian tubuhku yang dia lihat. Aku sangat takut..]


[Bukankah kau bilang dia memang sering melakukan itu sejak kau kecil? Bisa saja dia masih menganggap kau putri kecilnya. Tapi untuk berjaga-jaga, mulailah membangun batas dengannya.]


[Itu pelecehan kan?] Bulan ingin memastikan, bahwa pandangan nya terhadap sang ayah tidak salah.


[Seorang ayah tidak mungkin begitu pada darah daging nya sendiri. Tapi ada juga yang seperti itu, hati-hati lah. Kalau kau tidak nyaman dengan sikapnya, bicaralah pada ibumu. Minta bantuan nya, kau tidak boleh memendam ini sendiri, sebelum semua terlanjur jauh.]


Benar juga, sejauh ini Bulan belum pernah menceritakan ketidaknyamanan nya kepada sang ibu. Ia akan mencoba bicara pada ibu nya mengenai hal ini.


...~...


Keesokan harinya, Saras pulang dari luar kota. Bulan memberanikan diri untuk menceritakan semua ini sesuai saran Baraspati.


"Ada apa nak?" Saras penasaran, tiba-tiba saja Bulan mengajaknya bicara empat mata.

__ADS_1


"Bu, aku tidak nyaman dengan ayah... Aku bukan anak kecil lagi, tapi dia selalu menyentuhku, mencium ku, bahkan kemarin dia masuk ke kamar ku saat aku masih mengenakan handuk."


Saras tertawa mendengar penuturan itu, ia merasa anak nya benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis remaja sekarang.


"Bulan, saat sudah kuliah pun ibu masih sering tidur bersama kakek mu. Ayah mu bersikap seperti itu agar kau tidak kekurangan kasih sayang, karena ibu jarang di rumah maka ayah mu memastikan kau tidak kehilangan kasih sayang dari kami."


"Tapi bu, ayah tidak seperti kakek. Dia berlebihan, aku bahkan mulai takut saat berdua saja dengannya."


Mungkin ini yang di namakan fase pubertas. Dimana seseorang mulai memiliki rasa canggung pada orang tuanya, Saras berpikir itu hal yang wajar. Saat seusia Bulan pun ia pernah merasakan seperti itu, canggung, malu. Tapi semenjak ibunya tiada, Saras kembali dekat dengan ayahnya.


"Nak, nama nya orang tua pasti selalu ingin mencurahkan kasih sayang berlimpah untuk anaknya. Kelak saat kau menjadi orang tua pun pasti kau merasakan hal yang sama."


Rasa takut Bulan seperti tertahan, mungkin saja apa yang di katakan ibunya itu benar. Mungkin ia sedang mengalami fase pubertas yang mana ia tidak nyaman dengan lawan jenis meskipun itu ayahnya.


-


Hari-hari terlewati seperti biasa. Kini Bulan dan pemilik akun Baraspati itu sudah berpacaran. Rasa nyaman dan saling mengisi membuat keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan.


Suatu sore, saat ibunya belum pulang. Bulan sedang memasak mie instan di dapurnya. Ia tengah menggoreng telur untuk toping. Namun hal di luar nalar kembali di lakukan ayahnya.


Raul menghampiri Bulan lalu membelai bok0ng putrinya itu perlahan. "Kau masak apa sayang?" bisik nya, seraya menggerayangi bagian tubuh yang memang menggoda itu.


Bulan yang terkejut memukulkan spatula panas itu ke wajah ayahnya. "Ayah..! berhentilah. Ini sudah keterlaluan!"


Pipi Raul merah melepuh, ia menatap tajam wajah putrinya itu. "Berani kau bersikap tidak sopan dengan ku?"


"Membunuh mu pun aku berani!" Bulan mengambil pisau lalu mengarahkannya kepada Raul.


"Kenapa ayah melakukan itu?! Kenapa! Otak ayah benar-benar sudah di kuasai setan!"


"Berhenti memanggil ku ayah! Aku bukan ayah mu!"


"Apa..?" Kedua tangan Bulan gemetar. Fakta bahwa ayahnya benar-benar gila membuat seluruh tubuhnya mendidih.

__ADS_1


"Kau bukan anakku! Ibu mu tidak pernah mengatakan padamu siapa kau sebenarnya? Kau anak haram yang di hasilkan dengan mantan pacar ibu mu!" Raul membuka topengnya hari ini, ia benar-benar tak tahan memendam semuanya sendiri.


Saat masih kuliah, Saras berpacaran dengan seorang seniornya. Mereka berhubungan diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga.


Setelah lulus kuliah, Saras memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Orang tua pria itu menentang hubungan mereka, Saras yang dari keluarga biasa, sementara orang tua pria itu dari keluarga berada.


Pria itu sebenarnya tak ingin melepaskan Saras, namun Saras bersikeras. Ia tak mau hanya karena wanita sepertinya masa depan pria itu hancur.


Singkat cerita, sebulan berlalu sejak hubungan mereka kandas. Saras tak pernah lagi berhubungan dengan pria itu.


Namun petaka terjadi, ia hamil saat sedang masuk ujian advokat. Ia bingung harus bagaimana, meminta pertanggungjawaban mantannya hanya akan memperumit keadaan. Ia akan semakin di hina oleh keluarga pria itu.


Saras memberanikan diri menceritakan itu pada ayah nya. Sang ayah marah besar, ia menyuruh Saras menggugurkan kandungannya namun Saras tak mau.


Karena sudah membanggakan sang anak yang lulus dengan nilai terbaik, Ayah nya pun mencarikan lelaki yang mau menikahi Saras. Untuk menutupi aib itu, untuk menutupi aib dirinya pula yang sudah terlanjur membanggakan Saras. Apa kata orang kalau mereka tau putri semata wayangnya itu hamil di luar nikah.


Bertemulah Raul dengan Ayahnya Saras, mereka teman semasa SMA. Raul memang menyukai Saras sejak lama, dan ia menggunakan kesempatan ini untuk memiliki Saras. Ia bersedia menikahi Saras, menerima apa adanya dan berjanji akan menyayangi anak di kandungan Saras sepenuh hati.


Bertahun-tahun terlewati, ternyata menerima orang yang di cintai apa adanya tak semudah perkataan. Raul merasa Saras tak pernah mencintainya, ia merasa Saras hanya melanjutkan hidup tanpa ada rasa cinta untuknya.


Niat hati untuk menyayangi Bulan seperti anak sendiri mulai berubah. Kekecewaan membuatnya gelap hati, dan mulai menaruh rasa kepada gadis belia itu. Gadis yang sedari bayi ia timang, berharap menjadi pengikat antara ia dan Saras. Kini gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik yang membuat dirinya punya tujuan hidup.


-


"Jadi aku bukan putri ayah?" Bulan tak percaya itu. Itu kah sebabnya Raul selalu bersikap c4bul? Karena ia bukan darah daging nya?


"Jika kau berani mengadu pada ibu mu. Maka akan ku bongkar masalalu ibu mu yang menjijikkan itu!"


Ia mengancam Bulan akan memusnahkan kehidupan indah ibunya. Karir, relasi, dan semuanya di pastikan hancur jika masalalu menjijikkan itu terungkap. Dan Bulan tidak ingin menjadi penghancur hidup sang ibu untuk yang kedua kalinya, setelah kehadirannya.


Sejak itulah Bulan memutuskan keluar dari rumah. Akan lebih baik jika ia tak pernah bertemu dengan pria gila itu. Akan ada saatnya, ia kembali kerumah itu sambil membawakan borgol untuk mengakhiri hidup pria gila bergelar ayah itu.


...%%%%%%%%%...

__ADS_1


__ADS_2