
Bima melepaskan jaketnya, kemudian masuk ke bilik toilet. Setelah selesai, ia mencuci tangan dan wajahnya. Rasa kantuk begitu lekat menempeli matanya.
Di saat yang sama, Bulan masuk ke toilet itu dan langsung menuju lemari kabinet yang terletak di depan kaca dan wastafel.
Ia tak menghiraukan Bima yang tengah sibuk mencuci wajah, ia hanya terpikir semoga orang-orang tak membuka tas nya. Karena isi tas itu sangat memalukan.
"Kau mengikuti ku?" Tanya Bima menatap curiga.
"ch..! Untuk apa?" Kesal Bulan tanpa menoleh. Ia langsung beranjak setelah mendapatkan tas nya.
Bima hanya menatap punggung gadis itu, sembari mengenakan lagi jaketnya.
"Tentang kemarin.., aku masih ingin mendengarkan ceritamu." ia masih penasaran, kenapa Bulan menginginkan orang tuanya berpisah.
Tentu suaranya terdengar oleh semua orang di lokasi syuting. Karena mic itu tersambung langsung oleh pengeras suara di sana. Dan Bima tak sadar bahwa mic nya masih menyala.
Semua tim langsung berhenti dari kegiatan mereka, masing-masing memasang telinga . Sempat terheran, apakah ini aba-aba dari sang sutradara?
Begitu pula dengan Dania yang sontak menyuruh berhenti perias memoles wajahnya. Arkana pun sama bingung nya, apakah Bima tengah mengetes pengeras suara?
Bulan maju beberapa langkah berbalik ke arah Bima. "Lupakan saja, aku tidak berniat membuka cerita lama itu. Dan kita sedang bekerja, jadi jangan membahas hal selain pekerjaan." ia berbalik kembali hendak pergi, namun lengannya di tahan oleh Bima.
Arkana menyadari ada yang tidak beres saat mendengar suara Bulan. Ia langsung berlari kembali ke dalam Villa.
"Aku penasaran karena kau sudah menceritakan sebagian, aku ingin tau lebih." ucap Bima, semakin membuat semua orang penasaran.
"Ceritanya masih sama, masih seperti dulu. Jadi berhentilah seolah kau perduli."
"Kenapa..? Apa karena aku mantan kekasihmu makanya kau sungkan menceritakan masalalu?"
Seluruh orang yang mendengarkan di lokasi syuting terperangah. Tak terkecuali Dania yang wajahnya langsung merah padam.
Bulan menatap sinis, "iya..! Kau meninggalkanku tanpa sebab, dan sekarang kau bersikap sok perduli? Kau tidak malu bersikap seperti ini?"
"Kau tidak mau tau alasan ku meninggalkanmu waktu itu?"
"Tidak, apapun alasanmu aku tidak perduli lagi. Sekarang fokus dengan kerjasama kita, jangan libatkan lagi embel-embel kisah masalalu yang memalukan itu."
"Setidaknya dengarkan dulu alasan.."
"Bima... Stop!" Ujar Arkana memotong, ia menghampiri Bima dengan nafas tersengal. Lalu menarik mic dari jaket Bima dan mematikan itu.
__ADS_1
"Semua orang dengar pembicaraan kalian..!" Ia meremas kuat mic itu di depan wajah Bima.
"Apa..?" Ucap Bima dan Bulan bersamaan.
"aiss..! Gara-gara kau semua orang tau!" Bulan meninggalkan toilet dengan wajah kesal. Susah payah ia menutup masalalu itu, eh malah terbongkar dengan mudahnya.
Kembali lah mereka semua ke set lokasi. Semua mata tertuju pada Bulan dan Bima dengan tanda tanya besar.
Sebagian orang langsung mengerubungi Bulan dan bertanya.
"Itu tadi suaramu kan Bulan? Benarkah kau dan Bima pernah berpacaran?" Ucap salah satu orang, sementara yang lain menunggu jawaban dengan wajah penasaran.
"Itu.., cuma latihan dialog." Bantah nya, mampus lah ia. Masalalu tak di inginkan itu benar-benar kembali sekarang.
"Dialog apa? Memangnya di naskah ini ada dialog seperti itu?"
"Ada, Bima berencana menambahkan itu heheh.." Ia mengalihkan suasana dengan berpura-pura sibuk membaca naskah.
Para staff tampak tak percaya sebagian, dua orang dari mereka pun mendatangi Bima yang juga sedang di kerubungi.
"Pak Bima pernah berpacaran dengan Bulan?"
"Apa sampai sekarang Pak Bima masih mencintai Bulan?"
"Atau ingin balikan kah?"
Mereka memberondong Bima bak para reporter yang mengejar topik hangat.
"Itu sudah lama sekali, hanya cinta monyet." Sahut Bima dengan wajah merah merona.
Sontak saja mereka terkejut dengan fakta itu. Mereka lebih percaya dengan pernyataan Bima yang terlihat jujur, ketimbang Bulan yang nampak sekali berbohong dengan wajah gugupnya.
"Kapan pertama kali kalian bertemu?"
"Apakah sampai sekarang Bapak masih ada rasa padanya?"
"Pantas saja kau terlihat sangat peduli padanya, apa jangan-jangan kau masih menyimpan perasaan untuknya?" Ucap salah satu tim kreator yang usianya jauh lebih tua dari Bima.
"haiss!! Berhentilah bertanya! Cepat bersiap untuk adegan selanjutnya!" Pekik Bima kesal. Kenapa keadaan jadi semakin memojokkan dirinya kedalam dusta yang semula di buat oleh Arkana.
Mereka semua langsung bubar dari hadapan Bima. Kembali pada tugasnya masing-masing.
__ADS_1
Sementara Dania, semakin bertunas rasa benci di hatinya untuk Bulan. Karena sepertinya Bulan akan menjadi penghalang besar untuk dirinya mendekati Bima.
"Kenapa kau tidak mematikan mic tadi?" Bisik Arkana, ia juga kesal karena keadaan jadi semakin runyam. Kebohongan itu akan terus butuh pelindung dari kebohongan lainnya. Dan Bima lah korbannya di sana.
"Aku tidak tau..!" Rutuk Bima merengek kesal, sekarang kisah bohong antara dirinya dan Bulan tersebar ke semua orang.
"Maaf karena membuatmu semakin terkurung dalam kisah bohong itu. Aku berencana menceritakan semuanya pada Bulan. Tapi aku belum siap. Kau bisa bayangkan bukan, akan sebesar apa kemarahannya nanti. Aku membohonginya dengan menyuruh mu, bahkan aku meninggalkannya. Dan sekarang pun, aku masih terus membohongi nya."
Arkana berharap, sampai saatnya tiba nanti Bima masih bisa menahan kepalsuan ini. Entahlah, jika tau akan terlibat sejauh ini, maka Arkana akan jujur saja dari awal.
"Setelah film ini selesai, kita pikirkan lagi caranya. Aku tidak mau kita terganggu hanya karena masalah ini." Ucap Bima berat hati.
Sebenarnya ia tak keberatan terlibat dengan Bulan. Karena semakin hari, ia semakin merasa bahwa sosok kasar, berantakan, dan sikap ketus Bulan hanyalah sampul semata. Ia penasaran seperti apa sebenarnya sosok gadis yang sangat tertutup itu.
Hanya saja, kisah bohong yang di buat oleh Arkana membuatnya tak nyaman dekat dengan Bulan. Ia takut Bulan mengetahui dan menyalahkan dirinya. Padahal dulu niatnya hanya ingin membantu Arkana, sahabat baiknya.
...~~...
Singkat waktu berlalu. Satu minggu pengambilan latar kisah di desa kini telah selesai. Tampak rombongan mobil Bumantara films sudah siap hendak kembali ke kota.
Mereka sangat terburu-buru karena mengejar waktu. Karena sangat susah mencari pemberhentian, bahkan hanya sekedar untuk buang air saat tengah malam.
Tepat setelah tiga jam perjalanan, mereka berhenti di rest area untuk membeli minuman. Semua tim keluar, ada yang membeli camilan, ada yang ke toilet, adapula yang mandi karena merasa gerah sepanjang perjalanan.
"Dimana Bulan?" Tanya Arkana pada salah satu staff yang seharusnya satu mobil dengan Bulan.
"Bulan? Ku pikir dia naik mobil kalian.." Sahut beberapa orang, mereka tak bersama Bulan sejak berangkat tadi. Karena kejadian kemarin, mereka pun berpikir Bima mengajak Bulan di mobilnya.
"Mungkin tadi dia ikut mobil lain." Ucap Bima tanpa rasa curiga, berbeda dengan Arkana yang sudah khawatir.
Setelah hampir satu jam, mereka semua berkumpul kembali bersiap melanjutkan perjalanan.
Arkana memperhatikan semua tim nya, dan ia tak melihat Bulan di mobil mana pun.
"Apa Bulan tertinggal?"
Semua orang tidak tau, mereka sama-sama berpikir mungkin Bulan ada di mobil lainnya. Tapi ternyata Bulan tak ada di manapun.
Dania bahkan ikut heran, apa iya gadis yang menurutnya bodoh itu ketinggalan. Perasaan ia sudah melihat Bulan bersiap menuju mobil. Ia yakin betul melihat Bulan berjalan di antara para tim. Lalu kemana gadis bodoh dan merepotkan itu pergi?
...%%%%%%%%%%%...
__ADS_1