
zzzrrrpp....!
Belati sepanjang 12 cm itu mendarat tepat di punggung Bulan. Sekitar 3 centi ujung belati itu menembus daging.
Bulan terhenti sejenak, rasa ngilu menjalar sampai ke bahu. Darah segar juga mengalir, membasahi kemeja berwarna coklat terang itu perlahan.
"Ibu..." Lirihnya seraya menahan rasa sakit. Ia memaksakan langkah kakinya, berlari dengan keadaan tertatih.
Sebuah mobil berwarna hitam menghadangnya. Keluar lah gerombolan geng scorpio.
Dari belakang Darren tersenyum puas. Ia akan memberitahu, apa akibat jika berani bermain-main dengannya.
"Bawa dia..!" Titah Darren.
Bulan yang sudah tak berdaya, hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret masuk ke dalam mobil oleh antek-antek Scorpio itu.
Darren pun masuk ke dalam mobil, lalu mereka melaju dengan cepat sebelum ada orang yang melihat.
Saat didepan gang, Bulan melihat mobil Raul hendak menuju kesana. Raul berencana menjemput Bulan, atas permintaan Saras. Tapi sayang ia terlambat datang.
Bulan merogoh tasnya, ia mengambil senter laser berwarna merah. Dan saat mobil geng Scorpio itu berpapasan dengan mobil Raul, Bulan menyalakan senter laser tersebut dan mengedipkannya sebanyak tiga kali. Entahlah sinar itu sampai atau tidak, Bulan sudah kehilangan tenaga. Senter kecil tersebut jatuh ke kolong kursi.
Raul yang tengah fokus mengemudi seketika menghentikan mobilnya, saat sinar laser sekilas mengenai punggung tangannya. Ia melihat kebelakang, ada sebuah mobil hitam yang mulai menjauh.
"Bulan..?!" Ia langsung memutar balik mobilnya, untuk mengejar mobil hitam tersebut.
*
Senter laser merah. Raul membelikan itu saat Bulan berusia 8 tahun. Waktu itu mereka sedang berlibur ke Singapura. Namun Bulan tak mau keluar, karena ia takut ada penculik atau orang jahat lainnya. Dulu sangat marak kasus penculikan anak.
Guna menyiasati hal itu, Raul membelikan senter LaserJet dan menyuruh Bulan menyimpannya. Ia mengatakan jika ada orang jahat mendekati Bulan, hidupkan saja senter itu dan arahkan kepadanya. Maka ia akan langsung datang dan menyelamatkan Bulan.
Tak disangka Bulan mempercayai ucapan Raul, ia jadi mau bermain dan keluar menikmati liburan itu. Sejak saat itu ia selalu membawa senter tersebut. Bahkan ia mempelajari, untuk mengedipkan senter tersebut sebanyak tiga kali apabila dalam bahaya. Seperti sinyal SOS.
...~~...
Di sebuah kawasan Apartemen mewah. Dania berjalan menuju Griya tawang miliknya. Dengan topi hitam, masker, dan kacamata. Dania menenteng satu kantong camilan yang baru ia beli dari swalayan.
__ADS_1
Sebagai Artis yang sedang populer, selalu banyak wartawan yang menunggu didepan Apartemen nya. Sebab itu Dania lebih memilih beraktivitas melewati basemen, untuk mengindari kerumunan para wartawan.
Dania berlari memasuki Basemen. Setelah sampai di kerumunan mobil para penghuni, ia memperlambat langkahnya untuk bersantai. Sudah aman, ia tak perlu takut akan bertemu dengan wartawan.
GLUDAAK!
Dania terlonjak kaget saat mendengar suara keras tersebut. Ia langsung bersembunyi di balik mobil yang sedang terparkir disana.
Pandangannya mengedar, mencari sumber suara. Apakah ia di ikuti? Atau ada penguntit?
Lalu Dania mendapati sebuah mobil hitam yang berguncang keras. Itu adalah mobil Darren, ternyata didalamnya Bulan sedang memberontak dan berusaha melawan. Bunyi keras tadi adalah suara tendangan. Bulan menendang kepala salah satu orang yang menculiknya. Karena terjadi perhelatan antara Bulan dan orang-orang Scorpio itu, jadilah guncangan hebat yang tampak oleh mata Dania.
"Apa itu..? chh, memangnya tidak ada tempat lain untuk melakukannya?" Gumam Dania, ia berpikir sedang ada orang ajeb-ajeb disana.
Tak ingin memperdulikan hal itu, Dania pun berdiri hendak melanjutkan langkahnya. Namun ia kembali bersembunyi, ia bahkan menutup mulut rapat-rapat saat melihat beberapa orang keluar dari mobil tersebut, sambil menyeret seorang wanita yang punggungnya bersimbah darah.
Sedikit demi sedikit Dania mundur, saat orang-orang itu lewat didepannya. Dan betapa terkejutnya ia melihat wajah yang tak asing, yakni Bulan.
"Gadis sialan itu diculik?" ucapnya dalam hati. Kedua lututnya gemetar, menyadari ini bukan penculikan ringan.
Setelah rombongan Scorpio memasuki lift, Dania keluar dari persembunyiannya dan langsung berlari. Ia ketakutan terburu-buru memasuki lift yang berbeda untuk segera menuju kamarnya. Bisa gawat kalau penculik itu tau ia melihat semuanya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka ponselnya. Menelpon Bima untuk meminta bantuan, dan perlindungan. Ia saksi disana, pasti nyawanya akan dalam bahaya jika orang-orang itu tau.
"Bima..! Bima..! Gadis bodoh itu di culik, punggungnya berdarah.. aku melihatnya tolong aku Bima..! Aku takut..!" Ia menangis ketakutan, membuat Bima kesulitan mendengar ucapannya.
π "Siapa yang berdarah? Punggung mu kenapa?" Bima terdengar panik disana, apa punggung Dania berubah menjadi sundel? Hanya itu yang terlintas di otaknya.
Dania mengatur nafasnya, sangat sulit untuk menenangkan diri, tapi ia mencoba lagi. "Gadis bodoh itu.. Bulan.." Ia berhenti sejenak karena lidahnya terasa kelu.
"Bulan di seret oleh orang-orang aneh, aku melihatnya. Di apartemen ku. Punggungnya berdarah..." Tangis Dania berlanjut saat kalimatnya selesai.
π "Apa...?! Jangan buka pintu mu, siapapun selain aku. Aku akan menelpon bantuan dan kesana." Bima langsung menutup teleponnya.
Ia meraih kunci mobil diatas nakas, kemudian berlari keluar kamar. Tak lupa ia menelpon Arkana yang sedang tidur di kamar sebelah. Tak ada waktu untuk langsung membangunkan tukang tidur itu.
"aiss..! Ibu-ibu itu membuat petaka!" Gumamnya jengkel, pikirannya kacau tak menentu, memikirkan hal-hal aneh apalagi Dania mengatakan soal darah tadi.
__ADS_1
"Bangun SETAN..! Bulan di culik lagi." Bima langsung mematikan teleponnya.
Arkana yang baru saja membuka mata diam sejenak. Ia menatap layar ponselnya untuk memastikan ini bukan mimpi.
"Bulan di culik..." Lirihnya seraya kembali menarik selimut.
"Bulan..?!" Ucapnya terbelalak, ia baru sadar dan langsung melemparkan selimutnya. Tanpa minum dan cuci muka, ia berlari keluar kamar sembari membaca pesan teks yang dikirimkan Bima.
[Lokasinya di apartemen Dania, aku sudah menelpon bantuan. Jemput Bu Saras dan bawakan surat pencabutan gugatan.]
-
Kembali pada Darren, ia mengikatkan rompi yang ditempeli rakitan bom ke tubuh Bulan.
"Jika kau ingin pembatalan gugatan, katakan saja pada ibuku..." Tangis Bulan memohon, ia yakin ibunya pasti mau melakukan itu.
"Setelah kalian mengacaukan sarang ku? Kau pikir aku akan diam saja?" Tekan Darren tersenyum picik.
"Sampah seperti kalian harus dimusnahkan." Ucap Darren sambil mendorong kening Bulan dengan jari telunjuknya.
Bulan yang sedang terikat di kursi hanya bisa pasrah. Mungkin memang ini akhir hidupnya.
"Jangan takut, ledakan Bom ini tidak akan terlalu besar. Ia hanya akan membuat organ-organ tubuhmu berhamburan keluar."
Bulan meneguk ludah mendengar kalimat itu. Seluruh tubuhnya sampai berkeringat dingin.
Di luar, Raul sedang berkelahi dengan para anak buah Darren. Sekejap saja ia melumpuhkan empat orang bersenjata tersebut.
Kemudian ia mengambil salah satu pistol dan menembakkannya ke gagang pintu. Sistem pengunci otomatis pun rusak, dan pintu terbuka. Raul langsung menerobos masuk dan menodongkan pistol itu kepada Darren.
"Lepaskan anakku..!" Sergahnya,
"Berhenti.." Ucap Darren berbalik, ia menunjukkan remote bom lalu menunjuk Bulan yang sedang diikat tak berdaya.
Darren tersenyum puas, "Aku baru akan menelpon mu. Suruh istrimu membatalkan gugatan sekarang..! Atau dia ku kirim ke neraka."
"Aku akan sudah mengajukan pembatalan.." Ujar Saras dengan lantang, ia memasuki ruangan itu sambil menunjukkan persetujuan pembatalan sidang.
__ADS_1
Di belakangnya ada Bima dan Arkana. Sementara polisi diam-diam sudah mengepung tempat itu.
...%%%%%%%%%%%%...