Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 35 : Hanya Untuknya


__ADS_3

Arkana dan Bima pun baru tiba disana, mereka tak mengerti kenapa Ayana memanggil. Tak bisa dielakkan mereka pun sama terkejutnya dengan Bulan.


"Bu..? Kita hampir kehilangan nyawa, kenapa ibu bersikeras mengambil kasus ini? Dan Tante, kenapa anda tidak memikirkan akibatnya pada kami? Apa tante pikir uang Enam juta dollar itu sebanding dengan nyawa kami..?"


Ayana dan Saras meringis, mendengar Bulan menyebutkan nominal itu di depan Bima dan Arkana.


"Enam juta?" Celetuk Bima membelalak.


Bulan baru sadar, tak seharusnya ia mengucapkan itu. Ia menggigit bibir sambil menatap lirih Ayana, mengucapkan maaf dalam hati.


"Enam juta? Bukan enam ratus ribu? Itukah sebabnya tante bersikeras mendapatkan uang itu kembali?" Arkana malah semakin memperjelas itu, padahal Bima tak sampai berpikiran kesana. Ia hanya mengira Bulan salah bicara.


"Sungguh Enam juta bu? Ibu membohongi kami berdua?" Bima meregangkan dasinya dengan wajah kesal. Harus diapakan ibu-ibu satu ini? benar-benar meresahkan.


"Ini bukan soal uang ibumu saja, banyak korban lain yang juga kehilangan uang mereka. Maka itu saya mau melanjutkan persidangan, dan ibu mu juga akan menjamin keselamatan keluarga ku. Jadi kuharap kalian berdua juga menjaga Bulan. Saat aku keluar dari rumah sakit, aku akan langsung mengurus kembali kasus ini."


Saras sangat ingin menghukum penipu itu seberat mungkin, karena sudah mencelakainya. Terlebih dia berani mengusik Bulan.


"TIDAK BOLEH..! Aku tidak mau ibu kenapa-kenapa, tante..! Bisa tidak lupakan saja uang itu? Kalian sudah sangat kaya, aku yakin uang segitu tak ada apa-apa nya bagi kalian."


"Siapa orang yang menganggap uang 90 milliar bukan apa-apa? Tunjukkan orangnya sekarang juga, biar ku sembah." Elak Ayana tak terima, ia sungguh ingin mendapatkan uang nya kembali.


"Apa ayah setuju?" Bulan berharap Ayahnya juga tak menyetujui ini, walau tak ada gunanya ia terus menghalangi. Ia tau ibunya akan tetap maju.


Saras mengangguk, ia telah membujuk Raul agar mengizinkannya mengambil kembali kasus ini.


Jika sudah begitu keputusannya, maka tidak bisa diubah. Bulan pun sadar betul akan prinsip sang ibu.


"Kalau sampai ibu ku kenapa-kenapa, ku penggal kepala kalian semua..!" Tunjuk Bulan pada Ayana, Bima dan Arkana sekaligus. Ia bahkan membelalak tajam membuat tiga orang itu meneguk ludah.


"Aku tidak ikutan, ini masalah Bima dan tante Ayana, jadi kau jangan bawa-bawa aku." Elak Arkana angkat tangan.


"Kau curang sekali? Bukankah kau bilang kami sudah seperti keluarga bagimu? Kenapa kau tidak mau kita dipenggal bersama? Solidaritas mu sungguh pelit." Gumam Bima berbisik, enak saja Arkana mau angkat tangan.


"Kalian juga, kalau sampai kalian lengah dan Bulan di sekap lagi. Akan ku potong semua jari-jari kalian..!" Kini gantian Saras yang memberikan ancaman kepada mereka. Ia tak mau tau, pokoknya keluarganya harus aman.


"Jadi kami harus menjaga dia? manusia kingkong ini?" Ujar Bima sinis, memangnya mereka bodyguard?

__ADS_1


"Aku tak butuh penjagaan mu! Memangnya kau bisa apa? Kau hanya bisa menggaruk koreng mu saja!" Rutuk Bulan menimpali. Raut wajahnya tak kalah jengah.


"Aku yang akan menjagamu..." Usul Arkana tulus dari hati. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf.


"Kau juga bisa apa? Keahlian mu hanya menghilang dan menipu." Sahut Bulan bertambah ketus.


"wahh? Arkana bisa menghilang? Apa dia naruto?" Ucap Saras kagum, ia pikir Arkana titisan pesulap merah.


"Siluman..!" Jawab Bulan melirik tajam, ia seperti hendak merobek wajah Arkana dengan kedua matanya.


...~~...


Malam ini Bulan kembali ke kafe, ia tidur disana sebab Raul yang berjaga di rumah sakit.


Saat baru mau memejamkan mata, teleponnya berdering. Bulan memeriksa siapa yang menelpon, setelah tau Arkana orangnya. Ia membalikkan kembali benda pipih itu, lalu kembali memejamkan mata.


[Bulan.., aku didepan cafe. Bicaralah denganku sebentar.]


Bulan mengintip saja pesan itu dari bilah notifikasi.


"Bulan..," Panggil Vidia mengetuk pintu kamar.


"Apa kak?" Bulan bangkit dari kasurnya dengan rambut mengembang seperti singa.


"Tolong bantu kakak angkat sampah sebentar." Vidia menyeret tangan Bulan menuruni tangga.


Bulan hanya bisa pasrah, kasian juga kalau tidak dibantu. Nanti pinggang ibu anak satu itu bisa keseleo.


"Biar aku saja, mana sampahnya?" Bulan menggulung lengan piyama nya.


"Bulan.." Panggil Arkana dari depan pintu.


Bulan langsung berbalik, ia membelalak dan langsung membuang muka.


"Bicaralah, kau mau dia tidur didepan cafe?" Bisik Vidia, ia terpaksa membohongi Bulan karena Arkana bilang takkan pergi sampai Bulan menemuinya.


Vidia bergegas naik ke lantai atas. Tinggallah Bulan di sana, berhadapan dengan Arkana.

__ADS_1


"Kenapa kau kesini?" Ketusnya.


Arkana mendekat, ia telah mengumpulkan banyak keberanian sebelum kesini menemui Bulan.


"Hari itu, saat aku mau menemui mu sebuah insiden terjadi. Ayahku disidak oleh kejaksaan karena kasus korupsi. Ibuku tak mau terseret, hingga memutuskan kembali ke California hari itu juga. Tau kah kau? Aku sangat ingin menemui mu hari itu. Aku benar-benar tak berniat mempermainkan mu. Karena tak ingin kau kecewa, aku meminta Bima menemui mu. Lagipula aku takkan bisa lagi menemui mu karena akan pindah ke luar Negeri. Jadi aku memutuskan menghapus akun itu, dan melupakanmu. Aku berpikir, setidaknya gadis yang ku cintai tak merasakan kecewa dihari yang sudah ku janjikan. Aku tak menyangka perbuatan ku itu berdampak panjang, aku juga tak menyangka kita akan bertemu lagi sebagai rekan."


"Lalu kenapa kau tidak jujur saat kita kembali bertemu disini?"


"Karena aku menganggap serius hubungan kita. Tidak mudah bagiku mengatakan yang sebenarnya, karena aku takut kau masih terluka." Kedua mata Arkana berkaca-kaca.


Sembilan tahun lamanya, ia tak pernah sekalipun melupakan cinta pertama nya itu. Rasa bersalah bahkan terus menjalari setiap inci pikirannya. Semua tentang Bulan masih tersimpan rapi diingatan nya.


"Ku harap kau tidak menyalahkan Bima, dia juga terpaksa melakukan ini semua karena permintaanku."


Bulan tak juga tau harus mengatakan apa. Mengingat Arkana masih hafal bagaimana dirinya, bagaimana kisah hidupnya, apa yang ia suka serta tidak. Itu semua membuat pikirannya berkata, bahwa dia harus memaafkan dan memaklumi kondisi Arkana saat itu.


Namun tidak dengan hatinya, ia sangat kecewa. Kenapa Arkana langsung menyerah hanya karena pindah negara? Bukankah mereka seharusnya masih bisa berhubungan lewat media sosial?


Jika ia menanyakan itu sekarang, Arkana pasti akan berpikir bahwa ia masih sangat berharap. Ia sendiri masih bingung, jadi sebenarnya sosok siapa yang ia cintai waktu itu? Sosok siapa yang ia tangisi waktu itu?


"hhhfff... Aku bahkan tak tau siapa yang pantas ku benci disini."


"Aku lah yang pantas kau benci. Aku yang menyebabkan semua ini." Ujar Arkana, dulu ia hanyalah seorang pria berusia 21 tahun, yang tak memiliki keberanian untuk memberi kepastian. Itu sebabnya ia tak berani mempertahankan Bulan.


Bulan menghembuskan nafas panjang, ia menarik kursi kemudian duduk sembari menyeka air matanya dengan cepat.


"Pergilah jika sudah selesai bicara, aku mau istirahat."


"Jika kau tak mau memaafkan ku, tolong maafkan Bima. Permisi..." Arkana beranjak dari sana dengan wajah resah. Ia memang tak pandai merangkai kata, ia tau Bulan pasti mengharapkan penjelasan lebih, agar memiliki alasan pasti untuk memaafkan.


"Dia hanya ingin aku tak menyalahkan Bima ternyata..." gumamnya sedikit kecewa, penyelasan yang barusan ia lihat sepertinya bukan sepenuhnya untuk hubungan mereka dulu.


...%%%%%%%%%%...


Guys.. maaf ya telat up nya๐Ÿ˜ญ kemaren abis ada ujan angin mati lampu seharian eoy๐Ÿ˜ญ mengsedih bgt...


Btw untuk kalian2 yg masih setia baca cerita recehan ini, makasih banyak ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2