
"Ngomong-ngomong kau ini siapa?" Saras memicingkan mata ke arah Arkana, jika dia bukan Bima si koreng, untuk apa dia datang ke sana bersama Ayana?
"Aku..?" Arkana menunjuk dirinya sendiri dengan suara terbata. "Aku, Arkana. Sahabat dan rekan kerja Bima, Aku juga tinggal satu rumah dengan mereka sejak 5 tahun lalu."
"Ternyata kalian bukan saudara." Gumam Bulan, lalu terpikir olehnya, mereka bukan saudara dan tinggal serumah. Apa jangan-jangan rumor itu benar? Bahwa Bima dan Arkana melakukan skidipapap di ruang meeting?
"Jadi apa masalah mu?" tanya Saras, masih sedikit dongkol. Namun ia mencoba profesional.
Sementara Bulan, dari nafasnya saja masih terdengar ia sangat ingin membalas dendam kepada Manusia Koreng yang membuat tidurnya tak nyenyak selama 18 tahun ini.
"hei, tenangkan nafas mu, kau terdengar seperti banteng yang hendak menendang lawan." Bisik Saras mencoba mengontrol putrinya.
"Banteng menyeruduk, bukan menendang." ketus Bulan tak mengindahkan perkataan sang ibu. Ia meniup poni nya sambil menatap sinis ibu nya Bima.
"Jadi, Kami kemari untuk meminta bantuan ibu. Tante Ayana menjadi korban dari investasi bodong, dan ia juga bertanggung jawab atas dua temannya yang ikut berinvestasi atas permintaan Tante Ayana. Tapi ternyata Bos investasi itu menghilang tanpa jejak, dan dana yang sudah di investasikan pun ikut lenyap."
"aa... kasus itu rupanya, Aku sudah dengar polisi juga sedang mencari orang ini." Saras mengangguk, kasus penipuan lewat investasi memang sedang marak akhir-akhir ini.
"Jadi kami meminta bantuan Bu Pengacara untuk memastikan penipu itu mengembalikan uang para korban." Lanjut Arkana, ia berharap Saras mau membantu dan melupakan dulu masalah mereka.
"aiiss, kenapa repot-repot? Untuk mengejar penipu seperti itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi kau menyewa Pengacara yang bekerja di firma. Bukan Aku tidak mau membantu, tapi lebih baik kau serahkan kasus ini ke polisi, atau lebih baik mengikhlaskan uang itu."
Saras sudah beberapa kali mewakili korban penipuan seperti ini, dan pada akhirnya para korban menghabiskan uang yang tidak sebanding untuk melakukan investigasi dan melakukan sidang.
"Saras tolong, ini bukan jumlah yang kecil." Lirih Ayana memelas, ia bahkan mengenggam tangan Saras.
"Memang nya berapa uang mu yang hilang? Apa kau siap menghabiskan uang mu untuk mengejar penipu itu?" Kesal Saras mengangkat ujung bibirnya.
"600 ribu Dollar," jawab Ayana sembari menangis, memang tangis itu hanya akting untuk meluluhkan Saras. Tapi tangis batinnya benar-benar jujur karena ia kehilangan uang yang begitu banyak.
Saras terkejut mendengar jumlah itu, begitu pula dengan Bulan yang langsung membuka kalkulator di ponselnya. Saat menjumlahkan 600 ribu Dollar dalam rupiah, ia hampir kehilangan nafasnya. Jumlah itu cukup untuk hidupnya selama 3 kali reinkarnasi.
"Kenapa kau bodoh sekali?" celetuk Saras membelalak, kenapa orang terpandang seperti Ayana malah menginvestasikan uangnya pada orang asing? Benar-benar di luar dugaan.
__ADS_1
"Benar.. Aku memang bodoh. Maka itu aku butuh bantuan mu Saras, kalau Aku tidak bisa menemukan penipu itu, Aku harus mengganti jumlah dua kali lipat pada teman ku." Tangis Ayana semakin menjadi, ia sungguh tak ikhlas lahir batin jika harus merugi 3 kali lipat.
-
Selagi Ayana dan Saras bicara, Arkana dan Bulan duduk di luar Cafe sembari menikmati kopi yang di buatkan oleh Bulan.
"Kopi buatan mu sungguh nikmat." Puji Arkana, tidak salah kalau orang-orang di kantor ketagihan dengan kopi racikan Bulan.
"Harus. Karena aku seorang barista." Sahut Bulan canggung dan malu, tentu saja. Ia belum mandi dan penampilan nya persis seperti kuntilanak bangkit dari kubur.
"Dunia ini ternyata sempit ya. Aku tidak menyangka kalau Bima dan kau pernah saling mengenal. Bahkan ibu kalian juga tampaknya dulu berteman dekat."
"Tidak, dunia ini saaangattt luas. Banyak perempuan cantik yang bisa di ajak berkomitmen." Sahut Bulan meracau, ia bahkan menatap prihatin ke arah Arkana.
"Maksud nya..?" Arkana melipat dahi, tak mengerti apa yang di bicarakan Bulan.
"Apa kau juga tau aku dan Bima pernah berpacaran?" Bulan sekali lagi ingin memastikan, apakah benar Bima sudah nyeleweng dari dulu. Dan apa pula sebab Bima meninggalkannya waktu itu.
"Sekitar 9 tahun yang lalu."
Arkana merasakan suatu desiran yang membuat tubuhnya merinding. Ia sangat takut kebohongan itu terbongkar. Jika saja ia tau akan bertemu lagi dengan Bulan, maka ia takkan pernah menyuruh Bima menemui Bulan waktu itu. Harusnya ia hapus saja akunnya tanpa harus membohongi Bulan.
Jika saja ia melakukannya waktu itu, maka hari ini ia tak perlu menjadi orang lain di hadapan Bulan.
"Apa waktu itu kau tidak menyadari bahwa Bima adalah teman masa kecil mu?" Tanya Arkana, ingin sekali ia mengganti topik ini.
"Tidak, sama sekali tidak. Andai tau itu dia, pasti ku botakin rambutnya pakai mesin babat..!"
"hahaha, benarkah? Apa kau bisa melakukan nya? Bukankah dia kekasihmu saat itu?"
Bulan terdiam, bagaimana bisa Bima menjadi sosok yang menyenangkan, bahkan selalu mendukungnya selama 2 tahun. Walau hanya lewat sosial media, Bulan bisa merasakan ketulusan itu.
"Satu hal yang memang tak bisa ku mengerti. Rasanya aku seperti di pertemukan dengan orang yang berbeda."
__ADS_1
"Pemilik akun Baraspati dan Bima seperti dua orang yang bertolak belakang. Entahlah kalau memang itu satu orang, berarti Bima benar-benar tidak waras. Kau tau apa yang dia berikan padaku? Bunga anyelir putih yang melambangkan kematian. Bahkan saat kami bersama dia selalu sibuk dengan ponselnya."
Arkana menggesekkan kaki nya ke tanah, bibirnya mengatup menahan rasa gugup. Tentu saja Bima sibuk dengan ponselnya waktu itu, karena ia lah yang bertukar pesan dengan Bima waktu itu.
"Lalu sekarang kalian sudan selesai?" tanya Arkana pelan.
"Kami selesai sejak hari itu. Dia meninggalkan ku tanpa kabar, tanpa kepastian, dia benar-benar mencampakkan ku seperti sampah. aaarrgghh! Makor itu memang manusia berotak iblis..!" Ia mengumpat sepuasnya, membuat denyut jantung Arkana semakin kembang kempis.
"Kau masih belum melupakannya?"
"hm..." Bulan mengangguk. "Aku memang tidak akan pernah melupakan wajah picik itu. Akan ku buat dia menerima ganjaran dari sikap busuk nya itu. Dia merayuku lewat medsos lalu mencampakkan ku seenak jidatnya. Tunggu.., apa jangan-jangan dia mengenal ku dan berniat balas dendam atas perlakuanku dulu?"
Bulan semakin melantur. Bima benar-benar membuat hidupnya tak sedap seperti aroma tai ayam. Meresahkan.
"Tidak mungkin lah.. Ku rasa semua anak kecil punya masalah. Tidak mungkin Bima menyimpan dendam selama itu."
"Mungkin saja, buktinya dendam ku membuncah lagi sekarang. Bisa jadi dia pun sama."
"Bima pasti memiliki alasan kenapa meninggalkan mu waktu itu. Percaya lah, Bima tak seburuk itu."
"Kau memang sahabatnya.. chh." Bulan tak percaya Arkana membela Bima sepenuh hati. Bukankah setidaknya Arkana menaruh rasa prihatin pada nya karena telah di campakkan dengan cara sadis.
Pikiran Arkana benar-benar kacau sekarang. Bulan membuat praduga yang tak masuk akal untuk Bima. Mampus lah ia sekarang. Gara-gara ulahnya citra Bima anjlok di mata Bulan. Ia akan memikirkan cara agar Bulan tak terus memfitnah Bima.
...~...
Keesokan harinya....
Pukul 07:30 di depan gedung Bumantara.
"Woy makor...!" Teriak Bulan. Ia berlari ke arah Bima dengan sarung tangan plastik dan... t4i ayam. Sudah 20 menit ia menanti kedatangan Bima.
...%%%%%%%%%%...
__ADS_1