Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 21 : Bos Scorpio


__ADS_3

Di sebuah restaurant bintang 5, Saras tengah bertemu dengan anak buah Scorpio, yang membawakan dua tas berisi uang.


"Siapa nama Bos kalian?" Tanya Saras, ia santai mengunyah daging panggang yang sangat empuk itu.


"aaa.. aku ingat, Darren Laebo. Kewarganegaraan Italia, dan membuka bisnis furniture untuk mencuci uang hasil penipuannya. ck..ck.. kenapa dia jauh-jauh pindah ke negara ini hanya untuk menjadi penipu."


Mendengar pernyataan itu, anak buah Scorpio terdiam. Bagaimana bisa Saras mengetahui semua informasi itu, padahal Bos mereka adalah orang yang paling di rahasiakan identitas nya. Selama ini ia selalu mengerahkan tangan kananya, atau jika pun perlu tindakan, Bos mereka akan memakai nama samaran.


"Jika kau mau mencabut gugatannya, maka uang ini akan menjadi milikmu." Anak buah itu menyerahkan dua tas berwarna hitam kepada Saras.


Saras membukanya, tas itu benar-benar penuh dengan uang.


"Jika kalian punya banyak uang, kenapa tidak mengembalikan uang orang lain? Kau pikir semua bisa di atasi dengan uang?" Saras mendorong tas itu kehadapan pria di hadapannya itu.


Hakim yang dulu menerima uang suap, sudah di lengserkan. Kini pengadilan di pegang oleh beberapa Hakim baru yang tengah memanjat popularitas dengan mengejar keadilan. Jadi akan sangat sulit jika hendak melakukan suap sekarang.


Itulah kenapa Bos Scorpio menegaskan agar persoalan selesai di tangan Saras saja.


"Kembalikan semua uang yang sudah kalian rampas, jika tak ingin di panggil ke pengadilan!" Saras mengebrak meja kemudian meninggalkan pria berwajah garang itu di sana.


Sebagai Pengacara kompeten, ini bukan soal uang semata. Ini soal kejahatan yang harus di berantas habis agar tak menyusahkan orang-orang yang telah bekerja keras seperti dirinya.


Butuh waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, dan bahkan ada yang rela membanting tulang dari pagi hingga petang. Lalu orang-orang seperti mereka dengan mudahnya merampas hasil kerja keras itu dengan iming-iming keuntungan berlipat?


Jika di lihat dari sisi yang samar, kesalahan bukan hanya ada pada penipu, namun juga pada orang yang mempercayai.


Namun jika di lihat dari mata hukum, tak perduli seberapa bodoh korban, penipu tetaplah penipu.


"Bos, dia menolak semua uang nya. Dia akan mencabut gugatan bila kita mengembalikan...."


๐Ÿ“ž"Tunggu apa lagi? Jalankan rencana kedua!" Titah Bos Scorpio itu dengan suara marah.


...~~~...


Para tim sedang bersiap menuju lokasi syuting berikutnya. Yakni di sebuah pedesaan yang jaraknya 6 jam dari ibu kota.


Delapan mobil pembawa kru dan artis sudah standby di depan gedung. Dan satu truk kontainer berukuran besar yang membawa peralatan syuting.


Sementara yang lain bersiap dengan bagiannya masing-masing, Bulan berinisiatif mempersiapkan kopi dalam kemasan untuk mereka di jalan nanti, ia bingung karena tak punya bagian penting dari persiapan ini.


"Kau sedang apa?" Tanya Dania menghampiri.


"Aku menyiapkan kopi, setahuku kita akan melintasi kawasan tanpa pemukiman sekitar 2 jam, jadi ini untuk berjaga-jaga."


Dania duduk di salah satu kursi sambil memperhatikan Bulan. Padahal sudah ada staff khusus yang menyiapkan makanan, tapi Bulan malah merepotkan dirinya sendiri padahal itu bukan tugasnya.

__ADS_1


"Kau dan Bima saling mengenal sebelum ini?"


Kedua tangan Bulan langsung terhenti, untuk apa Dania menanyakan hal tidak penting itu?


"Kenapa?" sahut Bulan, ia malah balik penasaran dengan tujuan pertanyaan Dania.


"Bima terlihat sangat santai padamu, biasanya dia tidak begitu pada orang baru. Dan kemarin kau membuat heboh dengan mengoleskan kotoran di wajahnya. Banyak orang berpikir kalian pernah dekat di masalalu, tapi berakhir dengan dendam. Apa benar begitu?"


"Tidak, aku melakukannya karena aku kesal." Kilah Bulan, ia tak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Cukup hanya ia yang tau bahwa Bima pernah menjadi bagian dari masalalu nya.


"Bukankah itu keterlaluan?" Ucap Dania dengan tatapan jengah. Di lihat dari sisi apapun ia sangat kesal dengan tingkah Bulan yang selalu seenaknya sejak awal.


Bulan mengangguk, ia tak perduli dengan raut wajah Dania yang sedang bersungut kesal.


"Apa kau sengaja menggoda Bima dengan cara seperti itu? Kau terobsesi dengan cerita benci jadi cinta?"


Bulan tertawa kecil, ucapan Dania salah besar. Ia dan Bima justru dari cinta jadi benci, dan ia kini tengah mencari waktu yang tepat untuk mengubur Bima hidup-hidup, lalu menaburkan bunga anyelir di atas tanah kuburannya.


"Dania, maaf mengatakan ini. Kalau kau menyukai Bima, kejar saja dia. Tak perlu mengusikku karena aku sama sekali tak tertarik dengan manusia seperti kalian." Ia meninggalkan Dania lebih dulu.


"Wanita itu benar-benar menyebalkan! Dia pikir dia siapa?" Dania mengepalkan kuat tangannya, ingin sekali ia menjambak rambut Bulan karena perkataan itu.


-


Berangkatlah rombongan Bumantara film. Arkana dan Bima memimpin di depan. Di belakangnya, mobil para artis dan aktor. Di belakangnya lagi mobil para staff, yang termasuk Bulan di sana. Lalu di barisan lainnya mobil yang mengangkut para pemeran pembantu dan figuran. Sementara di paling belakang, truk kontainer yang membawa peralatan.


"Ada apa itu..?" tanya salah satu staff yang penasaran, ia melihat pecahan kaca serta darah mengalir di aspal.


"Sepertinya kecelakaan beruntun.." sahut Bulan merinding, tubuhnya terasa ngilu karena melihat dua mobil ringsek parah di pinggir jalan.


Tak lama kemudian 5 mobil ambulance sampai di sana. Mereka terpaksa menunggu lebih lama lagi karena sepertinya evakuasi akan memakan waktu.


"astaga, satu keluarga di mobil itu tewas.." gumam Bima merinding, ia melihat petugas ambulance mengeluarkan 5 mayat yang kondisinya hancur tak tertolong.


"Sepertinya truk itu penyebabnya," ujar Arkana, ia menerka pasti truk bermuatan kayu itu kehilangan kendali.


Mereka nampak dengan jelas para korban yang di evakuasi karena sangat dekat. Hanya ada satu mobil di depan mereka.


Sementara Bulan, matanya tertuju pada sebuah pena berwarna hitam dengan lis emas yang terdampar di bahu jalan bersama pecahan kaca.


Ia mengamati pena tersebut dengan seksama. "Ibu..." lirihnya gemetar, ia membuka pintu mobil lalu berlari keluar untuk memeriksa lebih dekat.


"Bulan, mau kemana?" Pekik beberapa staff kebingungan.


Bulan tak memperdulikan itu, ia terus berlari ke arah garis polisi, hanya ada satu taksi di sana. Ia berniat memeriksa itu karena ibunya memang selalu menggunakan taksi jika menemui klien.

__ADS_1


"Bukankah itu Bulan?"


Bima menepuk lengan Arkana saat melihat Bulan berlari melewati mobil mereka.


Arkana langsung turun dan mengikuti Bulan.


"Bulan..?" Panggil nya, namun Bulan tak menggubris.


Bulan menerobos garis polisi dan menghampiri taksi yang terbalik akibat kecelakaan itu.


"Di larang melintas.." Polisi menghadangnya,


"Ibu....." Tangis nya pecah saat melihat ibunya masih terhimpit di taksi itu dengan kepala bersimbah darah.


"Lepaskan! Itu ibu ku..! Tolong selamatkan ibu ku.. Cepat selamat kan ibu ku!" Teriaknya pada petugas ambulance yang sedang berusaha mengeluarkan Saras dari dalam mobil.


Bulan berlari kesana, ia membantu menyingkirkan lempengan pintu mobil yang menghalangi jalan.


"Bantu kami memasang penyangga leher.." ucap sang petugas, ia kewalahan karena kurangnya tenaga medis yang ikut serta.


Bulan menuruti, dengan kedua tangan bergetar ia membantu memasang alat itu. Seluruh sendi tubuhnya terasa tak bertenaga melihat darah yang terus mengalir dari kepala ibunya.


"Cepat bawa ibu ku kerumah sakit.. tolong, cepatlah..." tangisnya sesenggukan.


Petugas medis mengangkat tandu itu, lalu memasukkan ke dalam ambulance. Bulan ikut ke dalamnya sambari menangis sesenggukan.


"Suruh mereka duluan, aku harus menyusul Bulan." Ucap Arkana pada Bima.


"Kenapa? Karena dia mantan kekasihmu?" Bima tampak keberatan. Ia tak suka jika ada orang yang tak kompeten dalam pekerjaan.


"Karena ibu nya pengacara ibu mu." Ketus Arkana.


"Kalau begitu ayo kita berdua pergi." Bima memutuskan akan ikut ke rumah sakit.


Ia menyuruh para tim untuk duluan, setelah memastikan kondisi ibunya Bulan, mereka akan menyusul nanti.


...%%%%%%%%%%%%%...


Guyss.. untuk dua hari ke depan otor izin libur dulu yak. Soalnya mau healing.. cia ilahhh๐Ÿ˜…


Boleh nggak otor minta sama kalian, untuk share judul novel ini, siapa tau dengan bantuan kalian pembaca otor yang cuma 9 ekor ini bertambah. Biar semangat gituh...๐Ÿ˜ Plisss๐Ÿ˜˜


Otor sedih uy pembaca tiap hari masih kalah banyak ama jari tangan. Ya, mungkin karena ceritanya kurang greget๐Ÿ˜… Pokok nya tolong di share biar otor semangat ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Love u guys...

__ADS_1


Oh iya, selamat tahun baru ya untuk kita semua๐Ÿ˜˜


__ADS_2