Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 44 : Aku Menyukaimu


__ADS_3

Satu meja Lima orang, entah bagaimana Bulan berhasil memaksa Pak Tara untuk ikut makan bersama. Ia tak menghiraukan wajah sang ibu yang kaku bak uang baru.


"Ini cukup banyak, kenapa ibu bilang tidak cukup." Ujar Bulan, ia membuka sup kerang itu. Hanya dua wadah, namun isinya cukup banyak.


"Ibu membawakan ini untukmu, maka ibu ingin kau makan sebanyak mungkin, tapi kau malah mengajak orang ini." Gerutu Saras tak ikhlas. Sungguh tidak nyaman ia berada didekat mantan kekasihnya itu.


"Bu, dia CEO ku. Tolong bersikap lembut kalau tak mau putrimu dipecat. Dia orangnya tempramental." Bisik Bulan menenangkan ibunya, ia harap bisa menikmati sup kerang itu tanpa ada pembahasan yang bisa merusak suasana.


"Makanlah yang banyak..," ucap Bima tersenyum lebar, ia meletakkan beberapa kerang yang telah dikupas ke mangkuk Bulan.


Ia menghadang sendok Arkana dengan sendok ditangannya.


"Cukup, aku bisa bisa sendiri."


"Tanganmu kan sakit." Bima tetap mengupas kan kerang itu, agar Bulan bisa langsung memakan.


Di ujung meja, Arkana hanya memperhatikan sambil sesekali menghela nafas.


Bulan tau itu, entahlah ia harus menjaga perasaan siapa. Yang pasti ia terus memperhatikan Arkana melalui sudut matanya.


"Omong-omong bagaimana tante dan Pak Tara bisa saling kenal?" Arkana membuka obrolan, tentu saja dua orang tua itu jadi kikuk.


"Kami teman kuliah," sahut Pak Tara.


"Kami pernah bekerja sama.." Ucap Saras. Lagi-lagi mereka menjawab serempak, namun tidak kompak.


Bima yang juga baru tau, jadi antusias. Ternyata dunia ini memang cukup sempit, hingga mereka kembali bertemu dengan orang-orang di masalalu.


"Bekerjasama dalam hal apa?" Bima menimpali, ia tak kalah penasaran.


"Membuat anak.." Ujar Pak Tara, enteng sekali bibirnya hingga membuat semua orang tercengang.


Saras pun langsung membelalak kearahnya. "Kenapa kau bicara omong kosong?"


"Kau yang bicara omong kosong, kita tidak pernah bekerja sama. Kenapa kau membohongi mereka?" Dengan santainya Pak Tara melahap sup kerang itu.


"Kami teman semasa kuliah, dia adik tingkat ku." Imbuh Pak Tara. Mereka yang mendengar pun mengangguk.


"Seperti apa ibuku saat muda? Apa dia nakal?" Bulan malah mengorek aib ibunya.


"Dia cukup pintar, populer dan... cantik."

__ADS_1


"Hentikan..!" Saras melemparkan tissu kehadapan Pak Tara.


"uuuhuuuu....." Bulan dan Bima memukul-mukul meja, mereka melontarkan tatapan jahil dan menggoda dua orang tua itu. Hanya Arkana yang diam, seraya menikmati hangatnya sup kerang lezat itu.


"Apa ibu memiliki banyak kekasih waktu muda?" Tanya Bulan lagi.


"Tampaknya kalian sangat dekat." Timpal Bima juga ingin tau lebih.


"Ibu mu hanya memiliki satu pria waktu itu, dia cukup setia." Pak Tara malah tak memperdulikan, wajah Saras yang sudah merah bak kepiting rebus.


"Hentikan Bulan, kau mau makan atau bergosip?" Saras bersungut kesal.


"Aku kan hanya ingin tau masa muda ibu."


Bohong, justru Bulan menanyakan hal itu, untuk mencari tau siapa kiranya pria yang pernah dikatakan Raul, sebagai cinta sejati ibunya, yang tak lain adalah ayah kandungnya.


"Kau saja tak pernah menceritakan masa mudamu pada ibu." Rutuk Saras sekali lagi.


"Masa mudaku tidak indah bu, tak ada pria, tak ada yang menyukaiku. Aku lebih tertarik dengan kisah ibu hahahah..."


"Sungguh tidak ada yang seperti itu..?" Ucap Arkana.


Tiba-tiba senyum lebar Bulan menjadi sayu. Ada hal seperti itu, dan itu baru terjadi tadi, beberapa menit yang lalu.


"Kan dari tadi ibu bilang, makan saja. Tapi kau malah banyak bicara." Gumam Saras memarahi anak gadisnya itu.


"Bima, ibu mu sudah mendapatkan kembali uangnya. Sebaiknya kau menyimpan uang itu baik-baik, agar ibumu tak salah langkah lagi."


Saras tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi. Banyak investasi yang menjanjikan, kenapa Ayana sampai mengambil langkah bodoh seperti itu.


"Terimakasih, ini juga berkat bantuan tante. Mulai sekarang aku dan Arkana pasti akan mendengar ocehan tentang kencan buta lagi."


Ya, masalah uang sudah selesai. Ayana pasti kembali mendorong Bima dan Arkana untuk segera mencari pendamping.


"Kalian belum punya kekasih? Astaga, anak-anak muda jaman sekarang mementingkan karir saja. Usia kalian sudah matang bukan? Apa tidak ada gadis yang kalian sukai? Arkana mungkin tenang, karena ibunya orang luar Negeri. Usia segini masih muda bagi mereka, tapi kau Bima?"


Saras tak ubahnya seperti ibu-ibu lain, ia mengatakan itu sekaligus menyindir halus putri semata wayangnya, yang belum juga menunjukkan tanda-tanda berkembang.


"Ada seseorang yang ku sukai," Bima tersenyum tipis.


Arkana langsung membidik nya, benarkah Bima sudah menyukai seseorang? Jangan bilang orang itu adalah Bulan.

__ADS_1


"Siapa..?" Tanya Saras dan Pak Tara bersamaan.


"Bulan.."


uhuuukkk..!!


Daging kerang yang belum dikunyah tersedak oleh Bulan. Hampir saja ia memuncrat kan sebagian nasi yang telah dikunyah.


Arkana tak terkejut lagi, dari perlakuan Bima akhir-akhir ini ia sudah bisa menebak. Tapi kenapa mereka harus terjebak pada orang yang sama?


"Aku..? Bukan Bulan aku kan?" Kedua matanya sampai berair karena tersedak.


"Iya kau.., Aku menyukai anak tante." Dengan percaya diri, Bima mengatakan itu di hadapan Saras.


"Kau menyukainya? Sejak kapan?" Timpal Arkana berpura-pura terkejut.


Tentu prilaku itu membuat Bulan merasa sungkan. Arkana baru saja mengajaknya berpacaran, dan belum terpikirkan jawaban, Bima malah mengungkapkan perasaannya disana.


Saras membelalak, "Serius..? Kau menyukai Bulan? wah... Kau yakin itu? Bagaimana dengan dendam masalalu kalian?"


"Kau mabuk? Apa yang membuatmu menyukaiku? Aku bahkan tak pernah memperlakukan mu dengan baik.." Cecar Bulan kemudian.


"Aku tak perduli sikapmu, aku menyukaimu dan aku tidak butuh alasan lain."


Saras sampai menutup mulutnya, ia syok karena tak disangka, orang seterkenal Bima bisa kepincut dengan putrinya. Tak sia-sia ia menurunkan kecantikannya kepada Bulan.


"Sejak kapan..?" Arkana mengulangi pertanyaan yang sama.


"Sejak aku memimpikannya.." Bima tersenyum lembut. Ia sudah memastikan, ia yakin sekali bahwa Bintang yang ada didalam mimpinya, ialah Bulan. Mimpi itu seolah menuntun perasaannya, agar berlabuh kepada orang yang tepat.


Di tempatnya, Bulan mematung. Hanya mulutnya yang bergerak mengoper kunyahan kerang kesana kemari. Pikirannya tengah beradu keras, kemana ia harus menentukan perasaannya? Jantung nya bahkan berdebar saat ia dekat dengan dua pria itu.


Haruskah ia menyerah saja, dan melabuhkan perasaannya kepada si pencuri ciuman pertama. Atau merajut rasa baru kepada Bima yang dengan gamblang mengakui perasaannya.


...~~~~...


Setelah pembicaraan saat makan siang tadi, Bulan mati-matian menghindari dua pria itu. Ia tak memiliki cukup keberanian untuk menatap wajah keduanya.


Ia berjalan mengendap-endap menuruni tangga darurat, hanya ini satu-satunya cara agar ia tak bertemu dengan mereka.


"Kenapa mereka berdua kompak sekali..! Memangnya tak ada gadis lain? Aku hanya seekor gadis berantakan. Kenapa mereka berdua malah menyukaiku? Apa jangan-jangan mereka sengaja mempermainkanku?"

__ADS_1


Ia terus saja mengoceh, ada rasa bangga dihatinya. Namun rasa tak masuk akal jauh lebih besar merayapi otaknya. Kenapa harus dirinya? Kenapa?


...%%%%%%%%%%...


__ADS_2