Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Episode 51 : Ruang Siaran


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Bulan mempertanyakan detail, bagaimana bisa Pak Tara adalah Ayahnya.


"Lalu apa ibu tau sejak awal, kalau aku bekerja dengan Pak Tara?"


"Atau ibu sengaja meminta Pak Tara untuk mempekerjakan ku, karena kasihan padaku yang pengangguran? Pantas saja perusahaan sebesar itu mau mempertahankan ku, memang sih karyaku bagus, tapi mengingat persaingan antar penulis sangat ketat, aku sempat berpikir mustahil bisa bertahan, ternyata..."


"Ibu tidak tau." Jawab Saras, memutus rentetan rasa penasaran yang disemburkan putrinya.


"Ibu juga terkejut saat pertama bertemu kemarin. Memangnya kau tidak membaca situasinya?" Saras membelalak, tak terima karena dituduh bersekongkol dengan Pak Tara.


"aaa..., jadi tentang kerjasama membuat anak itu sungguhan? Kenapa aku tidak peka waktu itu.." Gumamnya menyipitkan mata kearah sang ibu.


"cchhahhh...! Betapa bodohnya aku," Bulan menggaruk wajahnya dengan telapak tangan, bagaimana tidak, kemarin ia bercium4n dengan Arkana, dan di grebek oleh Pak Tara, ayah kandungnya.


Mana kemarin ia sangat nyolot lagi, malu sekali kalau diingat-ingat..!


...~~...


Bulan datang kekantor seperti maling, ia menunduk dan bahkan menutupi wajahnya dengan tas. Hari ini ia harus bekerja ektra, karena Arkana sebagai partner sedang cuti. Sementara Pak Tara meminta Naskah berjudul Rapuh itu harus selesai sebelum mereka cuti nikah.


Saat memasuki lift, ia bertemu dengan Dania. Aktris berpenampilan glamour itu melepas kacamata hitamnya. Ia memandang sinis ke arah Bulan, yang seperti orang gila.


"Kau tidak waras..?!" Jengah Dania, memindai tubuh Bulan bak seorang ibu tiri kejam.


"Kenapa? Memangnya aku menganggumu?" Balas Bulan, tak mau kalah pasang wajah sewot.


"Sangat...! Kau sangat mengangguku hidupku!" Tukas Dania membuang muka.


Saat pintu lift terbuka, mereka turun bersama sambil berbarengan membuang muka. Mereka pergi ke arah yang berlawanan.


"Bulan," Panggil seseorang, yang tak lain adalah Pak Tara.


Bulan menoleh, ia tersenyum kecut kepada pria tua itu. "Iya..?"


"Ikut ke ruangan Saya bentar."


"Iya.." Bulan mengangguk cepat, kemudian mengikuti langkah kaki Pak Tara.


Setibanya di ruangan Pak Tara, Bulan diberi satu kotak set kalung, anting, dan gelang. Tak main-main itu dari merk ternama. Benda berkilauan itu sesaat membuat Bulan terpana.


"Untuk apa ini, Pak?" ia tak bisa menerimanya begitu saja.


"Ini, untuk hadiah pernikahanmu. Hanya ini yang bisa Saya berikan." Pak Tara mengambil tangan Bulan, lalu meletakkan kotak tersebut disana.

__ADS_1


Pak Tara memang dikenal sebagai orang yang dermawan. Ia sering memberi hadiah, untuk para pekerjanya. Apalagi jika orang tersebut termasuk spesial bagi Pak Tara. Tentu saja set perhiasan tersebut tak berlebihan, mengingat status Bulan adalah anak kandungnya.


"Kurasa anda tidak perlu repot-repot." Sungkan, sambil tersenyum Bulan meletakkan kotak itu di meja Pak Tara.


"Kau tidak suka hadiahnya? Atau kau menginginkan yang lain? Katakan saja, saya akan memberikannya."


"Jadilah pendamping dipernikahan ku besok, Ayah..." Bulan meminta dengan sungguh-sungguh.


Kedua mata Pak Tara melebar, ia pun menatap dalam wajah anak gadisnya itu.


"Kau..." relung batinnya terketuk. Ingatannya berputar pada kesalahan masalalu, yang menyebabkan Bulan tumbuh dalam sebuah kebohongan.


Tentu saja bagi Bulan juga tidak mudah, memanggil seseorang yang asing dengan sebutan Ayah. Ia meremas kedua tangannya, mencoba tersenyum seindah mungkin.


"Ibu sudah menceritakan semuanya..."


"Lalu, apa kau tidak marah padaku? Aku menelantarkanmu..." Terdengar helaan nafas berat Pak Tara.


"Pada awalnya aku kecewa, mendengar anda lebih memilih keluarga anda dibandingkan kami. Aku mencaritahu latar belakang anda, ternyata anda meninggalkan keluarga anda dan memilih hidup sendiri. Dari situ aku paham, anda tidak bisa memperjuangankan kami, dan memilih untuk tidak bahagia bersama keluarga anda."


"Kau bijak sekali..." Ujar Pak Tara, ia memandang kagum putrinya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi, ada satu hal yang ingin ku tanyakan."


"Apakah aku bekerja disini karena..."


"Benar, kau bekerja disini karena saya yang memilih. Tapi saat memeriksa resume milikmu, saya baru tau kalau kau anaknya Saras."


"Bukankah anda sudah mengawasi ibu sejak lama?" Bulan menatap curiga, ia tak ingin terlilit oleh gelar nepotisme, yang mendapatkan pekerjaan dengan mudah.


"Memang, saya juga bahkan tau dimana kau sekolah. Dimana kau mengambil perguruan tinggi, dan dimana kau membuka cafe. Tapi saya tidak tau kalau kau menulis cerita, saat saya sedang membuka platfrom, saya langsung jatuh cinta dengan karyamu."


"Benarkah..?!" Masih saja Bulan mencecar ayahnya.


"hmm... Karena sekarang kita sudah tau kebenarannya, bolehkah saya berkomentar tentang apa yang kau lakukan bersama Arkana kemarin? Saya akan berkomentar sebagai ayah yang baik. Jadi jangan membelalak lagi..."


Bulan mengangkat telapak tangannya ke arah wajah Pak Tara. "Jangan bahas masalah pribadi di kantor. Kita harus profesional..! Lagi pula aku sedang sibuk, permisi... Ayah." Ia menundukkan kepala, lalu berlari meninggalkan ruangan itu.


"chh..! Dia memanggilku ayah? Awas saja kau. Akan ku adukan pada ibumu." Lirih Pak Tara kesal, ia juga sudah menyimpan dendam untuk Arkana.


Pasti Bulan akan cerita tentang ini pada calon suaminya itu. Dan saat Arkana tiba nanti, ia akan memarahinya habis-habisan karena berani menyentuh putrinya. Apalagi tingkah Arkana waktu itu. Pak Tara sungguh tidak sabar ingin menarik kedua telinga Arkana.


-

__ADS_1


-


DUAARRRR...!!! πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Seluruh tim menyambut Bulan dengan petasan pita begitu ia memasuki ruangan.


"Apa ini..?" Bulan menutup mulutnya dengan tatapan berbinar.


"Kau satu-satunya orang yang terlibat cinlok, sampai ke pernikahan di perusahaan ini." Jawab salah satu rekan timnya.


"Banyak orang terlibat cinlok disini, tapi mereka putus ditengah jalan. Hanya kau dan Pak Arkana yang sampai pernikahan." Imbuh rekan yang lainnya, mereka semua sangat antusias.


"Kami juga belum menikah... tapi, siapa yang memberitahu kalian?" Sahut Bulan malu-malu.


"Petugas keamanan," bisik mereka.


Tentu saja Bulan tak mengerti, ia mengira Bima yang menyebarkan berita belum matang ini.


Salah satu dari rekan tim pun maju, dan menjelaskan pada Bulan.


"Jadi begini, kemarin aku kehilangan dompet ku. Karena terakhir kali aku keruangan Pak Arkana, aku pun meminta untuk melihat rekaman CCTV disana. Tak kusangka kami malah melihat kalian...hihihi.."


"Apa..?!" Seluruh tubuh Bulan mendadak panas dingin.


"Tenang saja, hanya aku dan petugas keamanan yang melihat." Bisik rekan tim itu lagi. "Lalu kami mencari tau, apa hubungan kalian, apakah Pak Arkana dan Bima benar-benar pria normal. Tapi kami malah menemukan fakta kalau kalian mau menikah awwwhh... ikut senang deh heheh.."


"Pak Tara juga sudah menghapus itu." Timpal satu orang lagi.


"hei, kau bilang hanya kau yang tau..?!" Rutuk Bulan pada rekan wanita dihadapannya itu.


"heheh.. dia juga tau sedikittt.." Ucapnya menyipitkan mata.


Tiba-tiba terdengar gemuruh kaki berlarian. Seluruh orang dari lantai itu berbondong-bondong menuju keruang siaran.


"Ada apa itu?" Lirih Bulan.


Seluruh tim perfilman yang ada diruangan itu juga saling menerka. Karena penasaran mereka pun ikut keluar.


"Biasanya ada berita ekslusif.." Ucap rekan tim yang tengah berdiri dihadapan Bulan.


Mereka berdua pun ikut keluar, berjalan diantara sesaknya karyawan, staff dan para aktris yang juga hendak menuju ruang siaran.


...**************...

__ADS_1


__ADS_2