
Saya berjanji, akan mendampingi nya dalam suka maupun duka. Saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk nya.
Wahai Bintang ku, terimalah pernikahan ini sebagai bentuk wujud cintaku...
"woy..! Di mana sabuk ku?" Arkana menendang betis Bima yang tengah meracau sambil memeluk guling.
Bima membuka matanya perlahan, "Kenapa kau membangunkan ku? Pernikahan ku hampir selesai..!"
"Bintang lagi?" Arkana menggeleng heran, entah sampai kapan sahabatnya itu akan waras kembali.
Bima melengos kesal, hatinya sungguh berdebar karena akan menikah di dalam mimpi, tapi mimpi indah itu buyar karena Arkana.
"Mau apa kau pagi-pagi begini? Menganggu orang tidur saja." kesalnya sambil menarik kembali selimut menutupi kepala.
"Dimana sabuk ku? Kau yang memakainya kemarin kan?" Arkana mencari di dalam lemari pakaian Bima.
"Tidak ada di sana! Kau jangan mengacak pakaian ku lagi."
"Jadi di mana?" Geram Arkana,
"Entahlah Aku lupa..! Memangnya sabuk mu cuma satu hah? Pakailah yang lain jangan menganggu ku..!" Pekik Bima sambil menghentakkan kaki dalam selimut, persis seperti ayam di sembelih.
"haisss...! Lihat setan satu ini, kalau aku yang memakai barang nya pasti dia marah-marah."
"Ngomong-ngomong Kau mau kemana pagi-pagi begini?" Kepala Bima timbul dari balik selimut.
Arkana diam sejenak, ia membenarkan lengan kemejanya sambil bercermin. "Mengantarkan ibu mu ke Cafe Bulan."
Bima langsung bangkit dari kasurnya. "Kenapa kau..? Kenapa dia tidak memintaku?"
"Mana ku tau.." Arkana tersenyum lalu meninggalkan Bima di sana.
...~~...
Di Cafe nya, Bulan tengah merombak ending cerita sesuai kemauan Pak Tara. Adegan yang sebelumnya ia gambarkan pun banyak yang di ubah.
"Pesan Thai tea 2 dan Crepes keju,"
"Atas nama?" Tanya Bulan sambil terus mengetik di laptopnya.
"Arkana.."
Bulan langsung mendongak, bola matanya pun melebar saat melihat itu benar-benar Arkana rekan kerja nya. Sedang apa dia pagi-pagi begini?
__ADS_1
"Kau tidak bekerja?" Tanya Bulan sambil melepaskan kacamatanya.
"Pak Tara dan tim kreator sedang survei lokasi terakhir." sahut Arkana tersenyum, senyum yang sangat segar. Wangi parfum semerbak, seperti membuai hidung yang menghirupnya.
"aa... begitu," Bulan mengangguk, lalu memberikan struk pesanan pada salah satu pekerja.
Jujur ia malu bertemu lagi dengan Arkana dengan keadaan seperti itu. Celana training hitam, serta kaos oblong yang bagian lehernya sudah agak melar. Penampilan nya benar-benar seperti gembel. Ia jadi berpikir, apa mulai memperbaiki penampilan saat di cafe ya...
"Selamat pagi..." sapa Ibu nya Bulan yang baru saja tiba di sana. Ia membawakan berkas yang akan di tanda tangani oleh klien rahasianya yakni Ibu nya Bima.
Ya, Ayana meminta Saras untuk merahasiakan ini sementara. Ia tak mau media menerbitkan berita simpang siur nantinya. Itu sebabnya ia meminta bertemu di Cafe ini, karena selain jauh dari perkotaan, Cafe ini tak terlalu ramai. Jadi ia bisa leluasa berkonsultasi dengan Saras.
Padahal Saras sudah berniat memamerkan bahwa selebriti terkenal mampir ke Cafe putrinya, tapi apa boleh buat. Ia belum bisa mempublish hal itu kalau kasus ini belum selesai.
"Aku menemukan semacam organisasi yang terlibat kasus penipuan. Mereka memakai tatto kalajengking di pergelangan tangannya. Apa Kau pernah melihat ini?" Saras menunjukkan foto yang ia dapatkan kepada Ayana.
Ayana memperhatikan foto itu dengan seksama, ia tidak ingat. Lagi pula kalau tidak salah orang yang datang menemuinya mengenakan baju lengan panjang.
"Aku tidak terlalu ingat.." Lirihnya risau.
"Dimana kalian bertemu?" Tanya Saras lagi.
"Di sebuah restaurant, kami berbincang di kamar privat..."
Saras memukul meja dengan tatapan jengah. Aliran dendam masih menjalari pikirannya. Kekesalan itu makin menjadi saat ia menerima fakta Ayana di tipu mentah-mentah dengan cara murahan.
"Kenapa kau bodoh sekali? Bisa-bisanya kau menemui orang itu di ruangan private?"
"Tapi salah satu kamera pengawas di sana menangkap orang-orang itu. Dia berjalan melewati lorong, tidak mungkin seluruh tempat itu tidak ada CCTV. Kenapa kau langsung memarahiku?" Ayana juga agak kesal karena tanggapan Saras tak memuaskan.
"Kau pikir Pengacara itu Detektif? Berikan semua kontak dan alamat email mereka!" Pekik Saras, bertemu dengan wanita menyebalkan seperti Ayana sungguh mimpi buruk baginya. Untung saja Ayana bersedia membayar mahal.
"Apa sejak dulu mereka selalu bertengkar?" Bisik Arkana penasaran.
Bulan mengangguk, memang begitu lah dua wanita itu. Tak pernah akur sejak insiden tai ayam. Mungkin itu menurun pada Bima dan dirinya.
"Kau, sudah memaafkan ku?" ujar Bulan seraya menyerahkan minuman milik Arkana.
Arkana mengambil kursi, lalu duduk tepat di depan meja kasir dimana Bulan tengah menulis naskah.
"Soal apa?"
"Kemarin, Kau jadi kotor karena aku ..."
__ADS_1
"Lupakan saja, lagi pula kau kan tidak sengaja."
Bulan mengernyit heran. Segampang itu Arkana melupakan kejadian kemarin? Padahal kemarin tampaknya Arkana sangat marah, dari cengkraman tangannya yang kuat. Bulan merasa Arkana benar-benar marah kemarin.
"Apa ini...?" Seketika Bulan teralihkan pada bar notifikasi laptopnya.
Tampak notifikasi rekomendasi bacaan judul Novel kontrak terbaru, dengan judul dan sampul yang sama.
Bulan pun membukanya, novel itu sama persis dengan yang ia buat sekarang yakni Pangeran ilusi. Parahnya lagi, novel plagiat itu sudah terdaftar kontrak eksklusif.
"Sampah...!" Umpat Bulan sembari menggaruk tombol laptopnya.
"Ada apa..?" Arkana terkejut dengan umpatan Bulan barusan.
Bulan memutar laptopnya ke hadapan Arkana. "Novel yang hendak kita filmkan di plagiat. Dan parahnya dia mengajukan kontrak.. aisss! B4jingan!"
Arkana meneguk ludah melihat raut wajah Bulan yang meradang. "Laporkan saja."
"Tidak semudah itu. Jika kita melaporkan naskah yang baru di kontrak, butuh waktu untuk meninjau setidaknya dua minggu sampai sebulan."
"Kenapa lama sekali? Bukankah itu kesalahan Platfrom karena tidak menyediakan keamanan penulis agar terhindar dari plagiat?"
"Memang begitu ketentuannya, karena aku hanya penulis kelas teri di sini. Jadi akan lama mendapatkan respon. Kecuali...."
"Apa..?" Tanya Arkana penasaran.
"Kecuali Aku mengajukan petisi ke pihak Platfrom, itu pun membutuhkan waktu 2 minggu kurang lebih. Sementara sebelum syuting besok Pak Tara sudah merilis foto para pemain dan judul film nya. Kalau kita melakukan itu sebelum dapat tanggapan dari platfrom, maka ada kemungkinan platfrom akan merasa novel yang di kontraknya di curi dan di jadikan film. Jadi, Pak Tara harus menyusun ulang semuanya dan menunda perilisan Foto pemain."
"Kalau di biarkan saja? Karena menunggu tanggapannya lama, bukankah bagus kalau Platfrom itu melirik judul film kita? Dengan itu dia pasti langsung meninjau siapa yang plagiat."
"Tapi masalahnya plagiat itu sudah di kontrak, jadi pasti timbul kontroversi." Bulan agak geregetan menjelaskan sistem platfrom nya. Arkana seperti menganggap bahwa itu platfrom kecil yang takkan berpengaruh bagi proses mereka.
Ia juga merasa sangat kesal pada plagiat itu. Kenapa harus memplagiat sekarang? Baru saja ia hendak bernafas lega, kenapa sudah ada rintangan.
"Begini, besok kita temui langsung ke kantor nya. Bagaimana?"
"Aku tidak tau alamatnya. Selama ini aku hanya meminta solusi lewat admin melalui aplikasi. Bagaimana bisa menemukan alamatnya?"
Arkana hanya tersenyum, seolah sedang meyakinkan Bulan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Percayakan padaku.."
...%%%%%%%%%%%...
__ADS_1