Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 48 : Calon Istri


__ADS_3

Bima dan Arkana sedang menuju cafetaria, mereka berada didalam lift yang sama. Namun keduanya tampak dingin dan canggung.


Sejak mengetahui perasaan Bulan kepada Arkana, hati Bima terasa hampa. Senyum hangatnya bahkan turut memudar, seperti api yang tak lagi mendapatkan bahan bakar. Hanya tersisa asap yang sangat menganggu.


Sementara Arkana, ia mengira Bima belum mengetahui tentang pernyataannya kepada Bulan. Beberapa hari ini ia diam, karena bingung bagaimana caranya menyampaikan ini kepada Bima. Ia tau sahabatnya itu juga memiliki perasaan yang sama.


"Kau tidur di apartemenmu malam ini?" Tanya Bima, mencairkan suasana hening itu.


Dengan tatapan gamang, Arkana menatap sahabatnya itu. "Iya, aku merindukan kucing-kucing ku."


Bima menganggukkan kepalanya, sungguh perih di dada, membayangkan gadis idaman jatuh ke tangan sahabat sendiri. Apalagi mengingat Saras yang telah membuat kesalahpahaman, dadanya semakin berkecamuk.


Begitu pintu lift terbuka, mereka melangkah bersama. Menuju meja yang sama pula.


Bulan yang melihat itu, langsung menutupi wajahnya dengan buku menu. Ia merangkak hendak menghindar dari mereka. Namun sial ia malah menabrak seseorang yang tengah membawa air minum.


Akibatnya orang itu tak seimbang, dan menumpahkan air dalam gelas yang ia bawa mengenai tubuh Bulan.


"Matamu buta?!" Gretak orang tersebut, ia sangat kesal karena sedang terburu-buru.


Kejadian itu pun memancing pandangan semua orang, termasuk Bima dan Arkana, yang langsung menoleh ke sumber ricuh tersebut.


"mm..maaf, " Lirih Bulan,


Orang tersebut mendengus kesal, lalu beranjak dari hadapan Bulan.


Sementara Bulan hanya diam ditempat, seraya menyilangkan tangan di depan dada. Kemejanya yang basah, membuat pakaian dalam terlihat jelas. Tangtop hitam dengan tali tipis begitu jelas terpampang dari punggung Bulan.


"aisshh...!" Rutuknya kesal, sungguh sial hari ini. Mau keluar ada banyak orang berseliweran, mau balik badan ada Arkana dan Bima.


Tentu saja Arkana tak tinggal diam, ia melangkah cepat kearah Bulan sambil melepaskan jasnya.


"Kau tidak apa-apa..?" Bisik Arkana memastikan.


Bulan mendongak saat Arkana membalut tubuhnya dengan Jas. "Iya.." jawabnya ragu, entah kenapa ia jadi tak enak hati kalau dekat dengan Arkana, saat ada Bima.


-


Arkana membawa Bulan ke ruangannya. Ia menyuruh Bulan mengeringkan bajunya menggunakan blower yang ada di toilet.


Setelah selesai, Bulan memakai kembali bajunya lalu menghampiri Arkana.

__ADS_1


"Terimakasih ya, kalau tidak ada kau, mungkin aku akan berjalan ke toilet dengan keadaan begitu."


"Kau menghindariku?" Arkana sempat menduga, ajakannya menikah lah yang membuat Bulan bertindak konyol seperti itu.


Bulan tersenyum lebar, dengan garis senyum yang sangat manis. Membuat denyut jantung Arkana berdetak sangat cepat.


"Mana mungkin aku menghindari calon suamiku." Bisiknya malu-malu.


"Jadi kau setuju?" Arkana sangat senang mendengar itu. Kini ia percaya, bahwa cinta sejati itu benar-benar ada.


"Aku sudah memikirkannya, walaupun aku sempat keliru menaruh harapan. Kini aku yakin, bahwa aku kembali jatuh cinta padamu."


Mendengar perkataan itu, Arkana langsung membawa tubuh Bulan kedalam pelukannya. "Tidak sia-sia aku tetap mencintaimu..." ia mengecup pelan ujung kepala Bulan sambil memejamkan mata.


"Sebentar," Arkana merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy.


"Bulan, maukah kau menikah denganku..?" Kali ini Arkana mengatakannya dengan penuh keyakinan. Tatapannya sangat dalam, binar cinta begitu terpancar. Memandangi sang wanitanya dengan luapan cinta.


Bulan tersenyum haru, ia tak menyangka akan mendapatkan lamaran dari Arkana, mantan kekasihnya. Ia memberikan jemarinya sambil menatap lekat wajah sendu itu.


Arkana pun mengenakan cincin berwarna putih mengkilat itu, ke jari manis Bulan.


Arkana meraih wajah Bulan, lalu mengecup lembut bibir gadis itu. Kali ini Bulan tak hanya diam, ia membalas cium4n Arkana. Jujur saja ini pertama kalinya ia bercium4n. Namun Arkana tak menghiraukan balasan Bulan yang terasa kaku.


Keduanya sama-sama tenggelam, Arkana memejamkan matanya. Namun tidak dengan Bulan. Ia membuka kedua matanya sembari melihat ekpresi Arkana dari jarak yang sangat dekat.


"Kau tidak menutup matamu?" Arkana menjeda kegiatannya, ia mengusap bibir Bulan yang basah akibat ulahnya.


"Memangnya harus..?" Tanya Bulan dengan wajah polosnya.


"hh.." Arkana tertawa kecil, ia sudah menduga Bulan sama sekali tak pernah melakukan itu sebelumnya. Lalu kemarin apa? Dia mengaku sudah pernah bercium4n. Ia semakin gemas dengan wajah polos kekasihnya itu.


"Lebih nikmat dilakukan dengan mata tertutup." Bisik Arkana dengan nada sensual.


"Benarkah?" Tentu saja Bulan tak percaya.


"Pejamkan matamu..." Arkana kembali membungkam bibir sang kekasih dengan cium4n.


Perlahan Bulan memejamkan matanya, benar saja. Ia merasakan sensasi lebih dalam, tak seperti sebelumnya. Debaran jantungnya bahkan lebih kencang.


Selangkah demi selangkah, Arkana membawa tubuh Bulan, hingga tersandar pada meja. Tanpa melepaskan bibirnya, ia mengangkat tubuh gadis itu lalu mendudukkannya di atas meja.

__ADS_1


Kini posisi mereka seimbang, Arkana jadi lebih leluasa memeluk tubuh kekasihnya itu. Satu tangannya meremas kuat pinggang Bulan, sementara satu tangan lagi membelai lembut leher gadis itu. Bulan hanya meremas kedua bahu pria itu, sambil berusaha mengimbangi Arkana yang semakin lama bertambah ganas.


klak...


Pintu terbuka, membuat sepasang kekasih yang tengah memadu cinta itu menghentikan kegiatannya.


Arkana menoleh pelan kebelakang, sementara Bulan melihat kearah pintu dengan wajah panik.


Pak Tara terbelalak, ia sangat terkejut. Niatnya ia hendak mengambil charger laptop yang di pinjam oleh Arkana tadi pagi. Namun ia tak menyangka malah melihat adegan itu. Ia asal masuk saja karena sudah biasa begitu, lagipula ia berpikir Arkana tengah makan siang.


"Apa..yang kalian lakukan..?" Dari balik kacamata, sepasang netra tua itu tampak sangat syok.


"Bercium4n.." Jawab Arkana datar. Lagi pula Pak Tara melihat sendiri tadi, percuma kalau ia berbohong.


Bulan langsung turun dari meja, sambil mencubit pelan perut Arkana. Ia sangat terkejut, bagaimana bisa Arkana bicara begitu gamblang.


"Kenapa kalian melakukan itu disini?!" Pekik Pak Tara, bukan karena prilaku mereka. Melainkan karena Bulan itu putrinya. Bagaimana tidak terkejut saat melihat anak gadisnya di ehem-ehem sama laki-laki?


"Jadi dimana? Di ruangan Bapak?" Lagi-lagi Arkana hanya menatap datar.


"Kalian tidak boleh melakukan itu!" Pak Tara berkacak pinggang.


"Apa hubungan kalian?" Tambahnya dengan mata semakin lebar.


"Kami akan menikah." Jawab Bulan mantap, membuat Arkana tersenyum melihat itu.


"Keluarlah jika tidak ada keperluan." Usir Arkana, kini ia duduk di kursi sambil merapikan kemejanya.


Pak Tara memindahkan tatapan tajamnya pada Bulan.


"Kau mau menikah dengannya? Kau yakin? Dia itu sangat dingin dan tidak memiliki perasaan..."


"Barusan dia sangat hangat.." Imbuh Bulan memotong.


"aiss..! Kau ini. Jangan mau disentuh sebelum menikah! Nanti kebablasan!" Ia terus saja mengomel, hari ini seperti tak ada jarak diantara mereka. Ikatan batin antara ayah dan anak itu tampaknya semakin rapat.


"Kenapa..? Bapak takut saya kenapa-kenapa? Memangnya kalau saya kenapa-kenapa apa hubungannya sama Bapak? Yang penting saya tetap profesional bekerja kan?"


"Kau...!" Pak Tara menunjuk wajah Bulan, kenapa anak itu malah membantahnya. Ditambah wajah Arkana sangat menjengkelkan, membuat amarahnya semakin memuncak. Tapi mau marah pun ia tidak bisa, karena Bulan pasti akan mempertanyakan haknya.


...**************...

__ADS_1


__ADS_2