Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Episode 50 : Keberangkatan


__ADS_3

Sejak kematian ayahnya, Bulan memang tinggal bersama sang ibu. Walaupun beberapakali ia masih sering tidur di cafe.


Sebagai Owner kedua, tentu ia tak bisa meninggalkan cafe begitu saja, meski kini pekerjaannya di bidang perfilman sedang bagus.


Seperti halnya malam ini, Bulan meminta izin kepada sang ibu untuk menginap di cafe. Tapi bukannya tidur nyenyak, ia malah sulit memejamkan mata karena terpikirkan pernikahan. Rasa bahagia yang membuncah mendebarkan jantungnya, hingga ia sulit untuk tertidur.


"Arkana... Calon suamiku...? aaawww....!" Ia bergeliat kesana-kemari dibawah selimut.


Dengan garis hidup yang biasa saja, ia pikir akan menjadi perawan tua. Atau paling kenceng jodohnya Bapak-bapak Pengacara, rekan ibunya.


Namun siapa sangka, di penghujung umur 26 ini ia mendapatkan calon suami yang ketampanan, serta kharismanya diidamkan banyak orang.


...~...


Keesokan harinya, mereka semua berkumpul mengantarkan Arkana ke Bandara. Saras membekalinya satu tas camilan khas Indonesia. Begitu pula Ayana, ia membawakan lauk kering yang bisa dimakan selama perjalanan panjang Arkana.


"Ini, pakai jika pinggangmu sakit." Bima memberikan bantalan penghangat, mengingat perjalanan udara akan ditempuh selama kurang lebih 17 jam.


"Aku tidak perlu ini, kau pikir aku orang tua?" Celetuk Arkana, seraya mengambil benda itu dari tangan Bima.


"Hei, kau calon pengantin. Pinggangmu harus baik-baik saja sebelum malam pertama." Bisik Bima, ia bahkan menggelitik pelan pinggang Arkana.


"Tapi, untuk apa dia disini?" Arkana menunjuk Pak Tara, dengan sudut matanya.


Ia rasa hubungan mereka tidak sedekat itu, sampai harus repot-repot ikut mengantarnya ke Bandara.


"Entahlah, ku rasa dia hanya modus, untuk mendekati janda kembang hahaha.."


"aisss..! Beraninya kau menyebut calon mertuaku janda kembang."


Setelah beberapa detik drama, Arkana pun menuju Bulan untuk berpamitan. Rasanya tak rela ia berpisah dengan gadis manis itu, maklum cintanya sedang membuncah. Tapi mau bagaimana, ibunya tidak akan berani terbang sendiri kesini, apalagi perjalanan sangat jauh.


"Aku berangkat ya..." Ia tak ragu mengecup kening Bulan di hadapan semua orang.


Ekspresi Bima bagaimana? Jangan ditanya, tentu saja ia sedikit panas. Namun ia menepis rasa itu sembari membuang pandangan.


Bulan memeluk calon suaminya itu dengan erat, "hati-hati, kau harus terus mengabari ku, jangan menghilang lagi seperti dulu." ucapnya manja.


Arkana mengusap lembut kepala wanita, yang tengah menenggelamkan wajah di dada bidangnya itu. "Aku akan terus menelpon mu, calon istriku. Oh iya, aku titip kucing ya, sesekali jenguklah mereka. Kode pintunya tanggal jadian kita dulu."


"1505..?" Bulan mengernyit heran, tak disangka sedalam itu Arkana mengenang masalalu mereka. Padahal itu sudah hampir 10 tahun berlalu. Ia memang tak salah memilih Arkana untuk dijadikan pendamping.

__ADS_1


Setelah puas mengantongi bekal rindu, Arkana dan Bulan melepaskan pelukan mereka. Kemudian Arkana beranjak sambil menyeret koper dan tas ranselnya.


"Hei, Kau tidak berpamitan denganku?" Celetuk Pak Tara tak terima, saat Arkana pergi begitu saja.


"Aku pergi.." Arkana menundukkan kepala, dengan wajah masam.


"aiss..! Anak itu benar-benar tak pernah menganggapku." Rutuk Pak Tara, bagaimanapun juga, Arkana dan Bima sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Jadi agak sedih hatinya melepas kepergian Arkana, walaupun sementara.


Semua orang melambaikan tangan pada Arkana. Di balas senyum manis, yang tentu saja hanya tertuju untuk sang calon istri. Perlahan punggung Arkana semakin jauh, berlalu dari pandangan mereka semua.


Saat Arkana tak lagi tampak, Bulan meneteskan air mata. Ia tertunduk sambil memutar cincin yang dikenakan di jari manis.


"Dia benar-benar tak pernah melupakanku..." Lirihnya.


"Oke.. mari kita makan siang. Aku harus memberi putriku hidangan lezat di detik-detik terakhir masa lajangnya." Saras juga mengusap air matanya, ia bisa merasakan betapa haru momen ini, mengingat cinta Arkana dan putrinya yang begitu kekal.


"Aku juga lapar sekali... Aku belum makan dari tadi pagi.." Lirih Ayana dengan mata sembab.


"Ibu terlalu sibuk menyiapkan bekal untuk Arkana, sampai lupa perut sendiri." Ujar Bima merangkul pundak sang ibu.


"Kau juga, untuk apa kau menyetrika semua pakaiannya? Kau yang paling sibuk sejak kemarin." Tuntut Ayana tak terima. Memang Bima menjadi orang paling sibuk, yang mempersiapkan segala kebutuhan Arkana saat di perjalanan nanti.


"ch.. kau ini," Ayana tertawa kecil, ia seperti baru saja melepas kepergian putra sulungnya. Arkana memang sudah sangat melekat dihatinya.


"hei.., kalian tidak mengajakku?" Ucap Pak Tara, menyela momen haru itu. Ia merasa diasingkan, karena dua pasang ibu dan anak itu bergandengan meninggalkannya.


"Memangnya kau siapa? Sampai kami harus mengajakmu?" Ketus Saras menatap tajam.


"Bu, sudahlah. Kenapa ibu tidak bisa jaga sikap? Ibu mau aku dipecat?" Bisik Bulan, masih terdengar oleh Pak Tara.


"Kalau dia berani memecatmu tanpa asalan, ibu pangkas lehernya!" Gerutu Saras amat jelas, membuat Pak Tara meneguk kasar ludahnya.


...~~~...


Tiga Hari kemudian.....


Bulan baru saja menghabiskan waktu 40 menit, untuk bertelepon dengan Arkana melalui panggilan Video. Ia juga sudah saling bertukar sapa, kepada calon mertuanya di California.


Ibunya Arkana tampak sangat senang, setelah sebelumnya sempat was-was karena putra semata wayangnya belum juga menikah. Mendengar kabar Arkana akan menikahi gadis Indonesia, membuat kebahagiaannya berlipat ganda.


Kini mereka tengah bersiap untuk terbang kembali ke Indonesia. Bertambah bahagia Bulan, karena mendapat sambutan baik dari calon mertua.

__ADS_1


"Bulan..! Kau sudah siap?" Seru Saras dari lantai bawah. Mereka berencana belanja bulanan, sekaligus mendatangi toko kain, persiapan membuat gaun pengantin.


"Im coming Bu Saras..." Sahut Bulan riang gembira. Sungguh, beberapa hari terakhir ini hari-harinya sangat sempurna. Kebahagaiaan tiada tara, seolah menggantikan semua duka yang telah ia lalui.


-


Sampailah Bulan dan Saras di salah satu toko Textile. Ia langsung disambut oleh pekerja disana, mereka di arahkan ke bagian kain brokat, lalu diberi waktu untuk melihat-lihat.


"Dulu saat ibu menikah, semuanya dilakukan serba mendadak. Jadi ibu tidak punya foto prewedding, tidak sempat memilih gaun sendiri. Semua perlengkapan yang ibu kenakan, menyewa dari WO kecil-kecilan." Saras membelai satu persatu, kain brokat mengkilat yang dihiasi dengan payet, manik-manik, ada pula yang bertabur svaroski.


"Apa karena itu ibu tak pernah memajang foto pernikahan?" Tanya Bulan, ia tersentuh dengan apa yang dituturkan Saras barusan. Dan seumur hidupnya juga, ia tak pernah melihat foto pernikahan sang ibu.


"Tidak, meski gaun ibu nyewa, itu cukup bagus pada jamannya. Foto pernikahan tak pernah ibu pajang, karena ibu... saat menikah ibu sudah mengandungmu. Saat itu usiamu 4 bulan. Ibu tak memajang foto pernikahan, karena perut ibu sudah tampak menonjol waktu itu."


Bukan hal mudah untuk mengatakan ini, bertahun-tahun Saras berniat memberitahukan ini secepatnya, namun ia tak bisa. Kini ia memberanikan diri, mengungkapkan semuanya kepada Bulan.


Bulan membawa ibunya duduk, disebuah kursi. Untunglah para pekerja di toko itu tengah sibuk masing-masing, jadi takkan ada yang memperhatikan obrolan mereka.


"Ini sangat berat untuk ibu, ibu harap kau tidak marah. Karena ibu membohongimu selama ini." Saras menahan tangisnya, ia sengaja mencari waktu diluar rumah, agar suasana tak terlalu canggung.


"Kenapa aku harus marah bu? Itu tak berarti apa-apa, masalalu ibu takkan mengubah statusku kan? Aku tetap anak ibu dan ayah," Bulan mengusap lembut punggung tangan yang berkerut halus itu. Tangan yang senantiasa memayunginya.


"Itu memang bukan apa-apa, tapi ada satu hal yang pasti membuatmu sangat marah." Ucap Saras lagi, masih dengan kedua mata berkaca.


"Apa ...?" Bulan menebak, apakah ibunya akan memberitahu siapa ayah kandungnya?


"Mendiang ayahmu, bukanlah ayah kandungmu."


Bulan berpura-pura tak percaya, karena ia sudah tau sejak dulu. "Bu..?" Lirihnya, kini ia ingin tau, siapa ayahnya.


"Lalu siapa ayahku?"


"Pria yang kumisnya sedikit beruban itu..." Saras berhenti sejenak, sementara Bulan memutar bola matanya, mengingat siapa orang yang dimaksud.


"Bos mu, Pak Tara... dia mantan kekasih ibu, dan ayah kandungmu..."


"APAAA...???" Kedua mata Bulan membelakak lebar, tak pernah terpikirkan olehnya. Jadi selama ini ia bekerja dengan ayahnya?


Bulan sangat syok kali ini, ia memandang kosong langit-langit sambil membayangkan wajah Pak Tara.


...************...

__ADS_1


__ADS_2