Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 42 : Orang Pertama


__ADS_3

Di cafe, orang-orang kantor tengah menikmati makan siang mereka. Tampak Dania juga tengah menikmati hidangannya. Sejak kejadian malam itu, Dania meminta izin kepada Pak Tara untuk menginap di ruang riasnya. Ia juga meminta manajernya untuk tidur disana.


Dania mendongak, kala melihat seseorang memberikan segelas kopi panas di mejanya. "Kau...?" Kesal nya sembari menatap wajah si pemberi kopi, yang tak lain adalah Bulan.


Bulan tersenyum tipis, ia duduk di hadapan Dania. "Terimakasih, karena kau telah menelpon Bima malam itu."


"Apa sebenarnya hubunganmu dengan orang-orang gila itu? Aku tidak menyangka gedung tempat tinggalku di bom hanya karena manusia sepertimu." Oceh Dania dengan raut wajah sewot.


"Kau tidak terluka kan?" Tanya Bulan tulus, ia khawatir orang-orang itu sempat melukai Dania.


"Berhenti sok akrab!" Ketus Dania, ia berdiri dengan kesal. Saat hendak mengangkat nampannya, tak sengaja ia menyenggol gelas kopi panas itu. Kopinya tumpah, menyiram punggung tangan Bulan, dan tentu saja Bulan merintih kepanasan.


Ia mengibaskan tangannya, sepertinya akan melepuh sebab kopi itu baru saja ia buat dengan air yang sangat panas.


"aahw..." Rintih Bulan seraya membersihkan cipratan kopi di kemejanya.


"Sorry..." Lirih Dania gugup, namun wajahnya tetap saja songong.


Bima yang menyaksikan itu dari kejauhan langsung berlari kearah Bulan. "Kau tidak apa-apa? Tanganmu merah, pasti sangat panas kan?" ia mengusap punggung tangan Bulan menggunakan tissue yang dibasahi air minum.


"Dania, seharusnya kau lebih hati-hati. Bulan masih dalam masa pemulihan." Bima terlihat sangat kesal, nada bicaranya bahkan ketus dan tinggi.


"Sudahlah, dia tidak sengaja." Bisik Bulan agar Bima lebih tenang.


"Aku juga masih dalam masa pemulihan, aku trauma atas kejadian malam itu. Saat tempat tinggalku hampir terbakar. Wajar saja kan kalau aku melakukan kesalahan? Kau pikir aku baik-baik saja sejak malam itu?!" Dania membalas perkataan Bima dengan suara yang keras. Kedua matanya menatap legam wajah Bima. Tak ayal beberapa orang disana memperhatikan mereka.


Dania berbalik dan meninggalkan tempat itu. Air mata tampak bergelayut di sudut matanya, namun ia menahan. Rasanya ia semakin benci dengan Bulan, kenapa semua tindakan yang dilakukan Bulan tampak wajar untuk dimaklumi, sementara kesalahan kecilnya tampak sangat besar.


"Wanita sialan itu..! Seharusnya kubiarkan saja dia mati ditangan orang-orang gila itu!" Rutuknya kesal.


Bima masih saja mengusap punggung tangan Bulan. Tampak ia begitu khawatir. Bulan sampai terheran, kemana Bima yang selalu bersikap seenak jidat? Kenapa semakin hari Bima berubah jadi perhatian, apa itu hanya perasaannya saja?


"Terasa perih? Apa kau perlu kerumah sakit?" Tanya Bima, seraya meniup pelan punggung tangan yang memerah itu.


Bukannya menjawab, Bulan malah menyipitkan mata ke arah pria itu. "Kau sangat mengkhawatirkan ku..?"

__ADS_1


"Tentu saja..! Kau seharusnya masih berbaring di atas ranjang rumah sakit. Tapi kau malah keras kepala dan memilih bekerja. Kau dan ibumu dalam bahaya gara-gara ibuku, kalau sesuatu yang lebih butuk terjadi, kau pikir aku bisa memaafkan diriku?" Rentetan omelan itu keluar bak asap kereta api, begitu cepat dan terdengar garang.


Bulan menempelkan telapak tangannya ke jidat Bima, untuk memeriksa apakah pria bermulut tajam itu masih waras.


Hanya telapak tangan yang menempel, tapi jantung Bima sudah berdebar kencang.


"Kau tampak tidak waras hari ini." Ledek Bulan sambil menarik kembali tangannya.


Lalu Bulan pergi dari sana, meninggalkan Bima yang mematung ditempatnya dengan denyut jantung bergemuruh.


"Kenapa dia seenaknya menyentuhku..?" Gumam Bima kesal, bertatapan saja sangat susah ia mengendalikan diri. Apalagi sampai bersentuhan.


...~~...


Sambil sibuk dengan komputernya, Bulan mengibaskan tangannya di bawah meja. Rasa perih dan panas terus bergulir, seperti menusuk setiap lapisan kulitnya secara perlahan.


Dibalik geraian rambut, keringat Bulan menetes perlahan. Salah satu AC di ruangan itu tengah diperbaiki, hanya tersisa satu yang tentu saja, suhu nya tak cukup menyejukkan ruangan besar itu.


"Kau tidak panas?" Tanya Arkana, ia baru saja kembali dari ruangan meeting.


"Kenapa tanganmu?" Arkana duduk di meja, tepat disebelah Bulan. Ia bahkan menggulung lengan kemejanya karena kepanasan.


Tak ayal pesona dan kharisma nya semakin memancar, membuat siapa saja yang memandang pasti berdecak kagum. Tak terkecuali Bulan.


"Tadi kena air panas..," Sahut Bulan canggung, posisi Arkana sangat dekat. Di tambah hanya ada mereka berdua diruangan itu.


"Parah?" Tanya Arkana lagi, sambil mengamati lengan yang terlumuri salep itu.


"Tidak sih..." Bulan berusaha menyembunyikan tangannya dengan manarik ujung baju, ia malu karena selain agak bengkak, punggung tangannya juga sedikit kemerahan. Persis seperti punggung kepiting.


Arkana meraih kotak pena, dimana ada karet gelang disana. Ia mengambil satu, kemudian berdiri dibelakang Bulan. Dengan piawai, ia menyentuh lembut rambut Bulan, dan mengikatnya perlahan.


"Pantas saja kau tak mengikat rambutmu, padahal sedang gerah."


"Apa yang kau lakukan..?" Lirih Bulan berusaha mengelak. Ia bisa merasakan tangan Arkana yang membelai lembut rambutnya.

__ADS_1


"Mengikat rambutmu." Jawab Arkana. Entah kenapa ia sama sekali tak merasa canggung. Ia masih merasakan kedekatan khusus antara dirinya dan Bulan. Walau lewat hubungan abstrak, tautan perasaan yang dirasa Arkana selama ini sangat nyata.


Bulan menunduk, lalu menoleh kearah Arkana. "Orang mungkin akan salah paham."


"Bima maksudmu?" Arkana kembali duduk dimeja. Raut wajahnya terlihat gamang, seolah ingin marah sekaligus berbunga.


Bulan tersenyum kecut, "Kenapa Bima?"


"Kau menyukainya?" Tanya Arkana, terdengar frontal hingga Bulan membulatkan matanya.


"Tidak.."


"Kau punya kekasih?"


"Tidak.." Jawab Bulan, semakin terheran dan tak bisa berkutik.


"Mau berpacaran lagi dengan ku?"


Bukan sekedar berdebar, kali ini jantung Bulan seperti sedang terbang ke udara, seluruh kulitnya seperti dihinggapi kupu-kupu, bergejolak merinding.


"hahaha... Lucu, kau berbakat menjadi pelawak.. haha..." Tawa Bulan terdengar keras dan hambar. Ia bahkan memutar kursi ke arah jendela, untuk mengalihkan pandangan.


Namun Arkana memutar kembali kursi itu, hingga wajah Bulan kembali bertatapan dengannya. "Aku serius, aku masih menyukaimu."


gleekk...


Bulan menelan utuh ludah yang menyekat kerongkongan nya. Ia mendapati kedua tatapan Arkana yang begitu tulus, pria itu tak sedang main-main dengan ucapannya.


Arkana melepaskan genggamannya dari pegangan kursi, kedua tangannya berpindah meraih lembut tengkuk Bulan. Ia membungkuk hingga mengikis jarak diantara mereka.


"Pukul saja aku, jika kau menolak perasaanku." Bisik nya lembut, tanpa meminta, tanpa bertanya Arkana mengecup lembut bibir mantan kekasihnya itu.


Ia menghisapnya perlahan sembari memejamkan mata, sementara kedua mata Bulan terbelalak lebar.


Bulan mematung, kedua tangannya mengepal erat. Ini adalah kali pertama untuknya. Bibir itu tak pernah terjamah oleh siapapun, dan Arkana lah orang mengambil ciuman pertamanya.

__ADS_1


...~~~~...


__ADS_2