Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 25 : Tas Hijau


__ADS_3

"Siapa yang orang asing?" Ucap Bima tak terima, ia dan Bulan bukanlah asing, mereka bahkan sudah saling mengenal sejak kecil. Hanya saja hubungan mereka tidak baik.


"Kau..." Bulan malu jika ternyata ceritanya tadi sampai terdengar oleh Arkana. "Menguping..?" ucapnya melanjut kan kalimat yang terjeda oleh rasa penasaran.


Arkana tak menjawab, hanya tatapan legam yang ia lontarkan pada mantan kekasihnya itu. Kemudian ia menarik tangan Bima dari sana untuk beranjak.


"Tidurlah.. banyak yang harus kita kerjakan besok!" Rutuknya sambil meremas kuat lengan Bima.


"Aku ingin menghiburnya," Bima keberatan karena di ganggu, namun ia pasrah mengikuti langkah Arkana.


"Sebaiknya kau hibur ibu mu. Dia sedang kalut soal persidangan yang tertunda." Geram Arkana, Bima memang susah di kendalikan terutama jika menyangkut wanita. Apalagi Bima selalu bilang kalau Bulan itu mirip dengan calon istri khayalannya itu.


Bulan termenung melihat kepergian dua laki-laki itu, "Arkana.., apa jangan-jangan ...dia cemburu karena Bima dekat dengan ku?" ia merinding membayangkan rumor yang masih beredar hangat tentang mereka.


Melihat raut wajah Arkana yang kesal, membuat pikiran Bulan semakin melayang-layang.


Hari ini bahkan tim mereka kembali membicarakan itu karena Bima dan Arkana berangkat satu mobil.


"aisss..! kenapa aku di kelilingi orang-orang gila." Kesalnya sambil memukuli tiang koridor berkali-kali.


...~...


Pagi harinya, Bulan sudah tampak siap untuk ikut menyusul para tim ke lokasi syuting. Sebenarnya Bima sudah mengatakan, tidak apa-apa jika ia ingin tetap tinggal untuk menjaga ibunya. Tapi ia takut karena ayah tirinya juga akan berjaga di sana sampai ibunya membaik.


Saras pun tak keberatan dengan keputusan Bulan itu, ia tak ingin menghalangi anak nya yang tengah menjajah kan kaki di industri hiburan.


Namun Raul, tentu saja ia keberatan. Ia ingin bersama dengan Bulan lebih lama lagi.


Saat hendak membangunkan Bima dan Arkana yang terbaring di atas sofa, ia di buat geli karena dua pria itu tidur saling berpelukan di balik selimut.


"hei..! Bangun..!" Bulan menggoyangkan sofa dengan kakinya agar dua orang itu terbangun.


Bima membuka matanya, lalu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09:00 pagi.

__ADS_1


"Arka..! bangun cepat! Sudah jam sembilan!" Ia mengguncang tubuh Arkana yang masih menempel di pelukannya.


Arkana langsung bangun dan duduk dengan wajah panik. Jam berapa mereka akan mulai syuting jika jam segini saja belum berangkat?


"Cepat cuci wajah mu, kita mandi si sana saja." Arkana langsung berlari ke arah kamar mandi. Di susul dengan Bima yang juga hendak mencuci wajahnya.


Saras yang tengah tertidur pun jadi bangun karena mendengar riuh langkah kaki mereka. Tapi ia malah tersenyum, lucu saja melihat tingkah dua pria itu yang seperti anak balita.


"Mereka seperti kembar.." lirihnya tersenyum.


...~~~...


Setelah kurang dari 6 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di lokasi syuting. Desa yang terletak di dekat pegunungan itu tampak sangat sejuk memanjakan mata.


Di kisah kan, ini lah tempat tinggal protagonis wanita dalam naskah Pangeran ilusi. Jadi kemungkinan mereka akan berada di sana setidaknya satu minggu.


"Kau kesini Bulan? Bukankah seharusnya kau menjaga ibu mu di rumah sakit?" Tanya salah satu staff, mereka semua sudah tau bahwa ibunya Bulan menjadi korban kecelakaan beruntun kemarin.


"Ada ayah ku di sana," Bulan tersenyum kecil, sebenarnya ia sangat ingin menjaga sang ibu. Tapi ia takut Raul akan mengambil kesempatan untuk melakukan hal-hal aneh padanya.


"Bersiaplah, kita akan segera mulai setelah aku mandi." Sahut Bima beranjak.


Bulan jadi segan karena dirinya, para tim jadi harus menunggu sangat lama. Wajar jika Dania menatapnya dengan sinis. Ia sadar itu.


Arkana dan Bulan pun masuk ke Villa tempat mereka menginap. Sudah ada kamar masing-masing dimana mereka akan tinggal selama kurang lebih satu minggu ke depan.


Karena Villa itu tak cukup besar, sebagian orang harus berbagi kamar. Contoh nya Bima dan Arkana yang satu kamar. Hanya artis utama yang di sediakan kamar sendiri.


Bulan masuk ke dalam kamarnya, di sana ada 3 orang kru dan 2 perias. Ini pertama kalinya tidur bersama dengan orang-orang asing. Rasanya sungguh canggung, terlebih tampaknya sebagian orang tak suka padanya karena insiden kecelakaan sang ibu.


"Permisi.., apa kalian tau di mana tas ku?" Tanya Bulan pelan, ia kesana membawa satu ransel, dan satu tas jinjing berisi peralatan mandi dan pakaian dalam. Namun di sana hanya ada ranselnya. Mungkin terbawa oleh orang lain saat turun dari mobil.


"Memang nya kau kesini membawa tas berapa?" Sahut salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Dua, satu lagi yang berwarna hijau tidak ada di sini. Apa mungkin kalian melihat orang lain membawa nya?"


"Tidak, jika kami melihat akan kami berikan padamu. Cepat lah bersiap karena kita akan mulai syuting." Jawab yang lainnya, mereka langsung bergegas menuju lokasi syuting yang hanya berjarak beberapa meter dari Villa itu.


-


-


"Kamera Rolling on.. action..!"


Bima duduk di kursi nya, seluruh adegan pembuka dan lainnya dia yang menangani. Sementara adegan aksi, akan lebih di serahkan pada Arkana.


Pangeran ilusi memuat konflik yang cukup menegangkan yakni saling membunuh, saling memutar balik, dan plot nya sangat sulit untuk di tebak. Walau banyak adegan aksi, adegan romance juga tak kalah banyak membumbui cerita tersebut. Itulah kenapa Pak Tara menyukai gaya alur yang di tuliskan oleh Bulan.


"Menurutku bahasanya jangan terlalu baku, yang menggunakan aksen baku hanya tokoh utama wanita, tokoh pria adalah seorang pria berandalan, jadi sebaiknya agak di perlihatkan perbedaan bahasanya." Ucap Arkana mengoreksi pengambilan scene tersebut.


"Benar, padahal sudah ku bilang untuk tidak memakai aksen daerah. CUT..!"


Mereka mengulangi proses rekaman tampak Bulan juga mengoreksi ulang naskah selanjutnya karena ada perbedaan dialog.


"Oke bagus..! Ganti untuk adegan selanjutnya." Bima langsung berdiri untuk ke toilet, ia lupa mematikan mic kecil yang ada di kerah jaket nya.


Para pemeran langsung kembali ke tenda masing-masing untuk berganti pakaian dan riasan.


Para kru yang lain pun sibuk mempersiapkan properti untuk adegan selanjutnya.


Sementara itu, Bulan langsung mendatangi para tim satu persatu untuk menanyakan apakah mereka melihat tas nya.


"Tas hijau? Aku menyimpannya di kabinet toilet. karena saat ku tanya semua orang kemarin, mereka bilang tidak tau itu tas siapa. Aku tidak kepikiran kalau itu tas mu." Ujar salah satu kru.


"aah... terimakasih banyak." Bulan langsung berlari menuju toilet untuk mengambil barang tersebut. Ponsel nya sudah lowbat sejak dua jam yang lalu, karena charger nya ada di dalam tas itu.


Melihat reaksi orang-orang yang seperti kesal terhadapnya, membuat ia enggan untuk meminjam charger. Jadi ia sangat risau karena tak bisa bertukar kabar dengan sang ibu.

__ADS_1


...%%%%%%%%%%...


__ADS_2