
Syuting adegan terakhir telah selesai, kini para tim Pangeran ilusi tengah makan bersama sembari membahas tanggal perilisan film.
"Jadi Bapak sudah menentukan tanggal peluncuran perdana nya?" tanya Bima.
"Penayangan spesial sudah ditentukan, yakni tanggal 07 bulan depan." Jawab Pak Tara, penayangan spesial hanya akan menjual tiket secara terbatas. (Gala Premiere)
Sebagai bentuk apresiasi, penayangan tersebut akan ditonton langsung oleh artis pemeran utama, tim inti, serta beberapa penonton yang beruntung mendapatkan tiket terbatas tersebut.
"Lalu untuk tanggal tayang perdana secara menyeluruh, akan ditetapkan pada 23 Maret." Imbuh Pak Tara.
"wahh, ini slot tercepat yang pernah ada." Sahut salah satu kru.
Untuk mendapatkan jadwal tayang, biasanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mereka bahkan pernah mendapat antrian satu tahun lamanya, akibat banyaknya film yang akan rilis.
"23 Maret? Bukankah itu ulang tahunnya?" Tunjuk Bima kepada Bulan, gadis yang mengenakan kacamata itu langsung mendongak. Ia saja lupa hari ulang tahunnya kapan.
Pak Tara terheran, "benarkah? Saya tidak tau itu, Arkana yang mengusulkan tanggalnya."
Dari balik bingkai kacamatanya, pandangan Bulan beralih kepada Arkana.
"wahh, apakah ini semacam hadiah ulang tahun?" Celetuk Dania yang sedari tadi hanya diam menyimak. Lagi-lagi gadis itu mendapatkan perlakuan spesial. Ia sangat tak suka dengan raut wajah Bulan yang seperti sengaja mencari perhatian.
Tak ada kata terucap dari Arkana, ia tak membantah, tak pula mengiyakan perkataan Dania.
Setelah semua pembahasan selesai, mereka pun beranjak dari ruangan itu. Begitu juga dengan Bulan, ia hendak berdiri dari sana. Namun Bima menahannya.
"Bulan, aku ingin bicara denganmu."
Bima mengunci pintu ruangan itu, agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Apa?" Sahut Bulan datar.
"Aku...ingin minta maaf,"
Bulan menatap lurus pria itu, pria yang selama ini ia pikir adalah cinta pertamanya.
__ADS_1
"Lupakan saja, seperti kataku, itu masalalu yang sudah sangat lama. Walaupun ku akui aku memang kecewa karena kebohongan itu, tapi aku tak ingin berlarut-larut dalam keadaan ini. Aku akan menganggap itu tak pernah terjadi."
"Kau kecewa karena itu bukan aku?" Potong Bima dengan kedua mata berbinar, ia bahkan melempar lirikan usil.
"Justru itu kekecewaan terbesarku, andai saja aku tau dari awal kau hanya pura-pura menjadi kekasihku. Aku tidak akan berpikir bahwa pertemuan kita kembali adalah karma."
Bima mendekat beberapa langkah, mengikis jarak hingga yang tersisa hanya 50 centi saja diantara mereka.
"Mulai sekarang, aku akan bersikap sesuka hatiku."
"Bukannya selama ini pun kau begitu?" Tukas Bulan berusaha menahan nafas, ia tak ingin bersikap berlebihan. Padahal jantungnya berdegup kencang. Ia sungguh gugup karena tak pernah sedekat itu dengan lelaki.
"Tidak, selama ini aku bersikap seolah aku sudah sangat mengenal mu. Karena aku mantan kekasih bagimu. Jadi jangan bahas apapun lagi tentang hubungan palsu kita. Jika kau mau, kau bisa membahas kisah masa kecil kita."
Bulan menyeringai, tak ada yang indah dari kisah masa kecil itu.
"Maksudmu pembahasan tentang bagaimana kau bisa korengan? Bisakah kau ceritakan itu? Aku sangat penasaran dari mana asalnya."
"Bisa juga, aku lebih suka membahas hal memalukan itu. Karena setidaknya itu yang nyata diantara kita." Ujar Bima tersenyum smirk. Lalu ia meninggalkan Bulan disana.
"ch.. Apa-apaan dia?" Rutuk Bulan seraya mengelus dada, agar nafasnya lebih tenang.
Keadaan Saras berangsur pulih. Kini ia sudah bisa melepaskan penyangga kakinya. Walau belum bisa berjalan sempurna, setidaknya kini ia bisa menggerakkan kaki.
"Sayang, kau yakin mau pulang sekarang? Keadaanmu belum pulih, bahkan Dokter menganjurkan agar kau menetap disini selama sepekan lagi." Raul tampak sangat khawatir, ia membantu Saras mengemasi barang-barangnya.
Saras mengangguk dengan senyum lembut. "Yakin, aku juga sudah muak berada di ruangan ini terus. Aku merindukan rumah kita..."
"Tapi keadaanmu belum pulih, kau masih membutuhkan perawatan Dokter. Atau minta Bulan pulang, agar ada yang membantumu. Aku takkan bisa 24 jam untuk mendampingi mu."
"Aku juga ingin begitu, tapi kau tau sendiri anak kita itu sangat keras kepala."
"Coba kau bujuk dia, bilang kalau kau membutuhkan bantuannya saat dirumah."
Saras terdiam, Bulan bukanlah anak yang tak perduli pada orang tuanya. Tanpa diminta pun ia pasti perduli kepada nya, apalagi disaat keadaan seperti ini.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sangat penasaran, apa yang membuat dia tak mau pulang kerumah."
Raul tak berekspresi, ia hanya menatap wanita paruh baya itu dengan datar. "Mungkin dia tidak nyaman denganku."
"Apa jangan-jangan, dia sudah tau kalau kau ayah tirinya?" Tebak Saras memicingkan mata, tapi tau dari mana? Kenapa pula Bulan tak bertanya kalau memang sudah mengetahui itu.
"Kalau dia tau memang nya kenapa? Menurutmu dia pergi karena hal itu? Dia hanya muak karena aku terlalu mengekangnya, kau tau sendiri aku sangat menyayanginya. Jadi mungkin dia muak dengan sikap ku yang protektif."
"Benar.., aku beruntung memiliki pria seperti mu. Yang dengan baik hati menerima kekuranganku." Saras merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
Raul mengusap rambut Saras perlahan, kini perasaannya kepada wanita itu perlahan pudar. Cinta yang dulu menggebu entah menghilang kemana. Cinta yang dulu ia berikan tanpa syarat, kini sudah hilang karena tak mendapatkan balasan.
Ia tau Saras masih sangat mencintai mantan kekasihnya dulu. Cinta itu masih tersimpan jelas disebuah buku diary. Di buku itu pula Raul mengetahui, bahwa dirinya tak memiliki tempat di hati Saras. Ia hanya sebatas rekan hidup.
...~~...
"Bapak memanggil saya?" Tanya Bulan, saat baru tiba di ruangan Pak Tara.
"Saya merasa sangat puas dengan karya mu. Ide mu kreatif dan penulisan mu mudah dipahami." Pak Tara mengambil tumpukan kertas di atas meja.
"Saya ingin menawarkan posisi mu sebagai penulis tetap di perusahaan ini. Dan ini ada naskah lama yang tak terselesaikan, ceritanya cukup menarik. Bisakah kau lanjutkan ceritanya?" Pak Tara menyerahkan lembaran kertas itu kepada Bulan.
Rapuh, itu adalah naskah yang tempo hari ia lihat. "Ini naskah nya Bima?"
"Bukan, Arkana yang menulis itu."
"aahh, iya benar.." Bulan hampir lupa bahwa mantan kekasihnya adalah Arkana.
BRAAK...!
Tiba-tiba Arkana membuka pintu dengan amat kasar. Nafasnya tersengal, ia langsung berlari saat mendapatkan perintah dari Pak Tara, untuk melanjutkan naskah berjudul Rapuh itu bersama Bulan.
"Pak..! Jangan, itu hanya naskah lama dan aku juga sudah lupa jalan ceritanya." Ia tampak panik, apalagi melihat Bulan yang memegang naskah tersebut. Ia pikir Bulan belum mengetahui isi naskah itu.
"Maka itu saya suruh kalian berdua menggarap kembali. Jika kau mengulasnya dari awal, saya yakin akan ingat alurnya, akan banyak ide baru bermunculan. Dan saya ingin ini tayang sebagai drama, bukan film. Karena kita punya slot kosong setelah drama kita tamat nanti."
__ADS_1
"Bagaimana Bulan? Kau setuju kan?" Tanya Pak Tara, ia juga ingin memberikan kesempatan untuk penulis berbakat seperti Bulan.
...%%%%%%%%%%%%...