
"Kalian sedang apa..?" Tanya Bima menyela, ia baru kembali dari cafetaria dan mendengar riuh orang berdebat.
"Kami sedang..." Arkana berhenti sejenak,
"Aku menemani Bulan mengeringkan bajunya. Tapi Pak Tara malah salah paham." Arkana menjawab sangat berbeda dari sebelumnya.
Pak Tara sampai terheran, padahal tadi Arkana sangat ceplas-ceplos, kenapa sekarang malah berbohong.
Pak Tara menghadap Bima, "Kau sudah tau mereka mau menikah?"
"hah..?" Bima terkejut, namun ia menahan ekpresi wajahnya. "Sudah Pak," Sahutnya berbohong, tampak jelas di kedua matanya rasa gamang tak berujung.
Di mejanya, Arkana meremas kuat sebuah pena. Ia tau bagaimana perasaan Bima sekarang. Melepas orang yang dicintai bukanlah hal yang mudah.
Bima tersenyum, "Jadi kenapa Bapak salah paham? Mereka akan menikah, lagi pula Arkana dan Bulan..."
"Kau tau apa yang mereka lakukan barusan? Mereka ber...AAKKK!" Pak Tara memekik, saat satu kakinya di injak oleh Bulan.
"Maaf Pak, tidak sengaja ..." Ia menundukkan kepala sambil menggerutu. Berani-beraninya Pak Tara menyebarkan aib.
Karena sudah memeriksa ada perdebatan apa, Bima pun keluar dari ruangan Arkana dengan wajah muram.
Pernikahan, ia dan Bulan hampir menikah di alam bawah sadar, namun gagal karena terbangun. Mungkin inilah makna nya, ia gagal mendapatkan hati Bulan.
Dengan keras Bima membuka tutup korek api berbahan stainless itu, ia menuju ke roof top untuk merokok sebentar.
"Kenapa kau sedih? Banyak wanita yang mengantri untuk jadi kekasihmu. Tapi kau malah jatuh cinta pada gadis, yang sejak awal bukan milikmu." Bima berbicara kepada dirinya sendiri, terdengar seperti ledekan memang.
Di belakangnya, Dania ternyata diam-diam mengikuti, saat melihat ia jalan ke roof top tadi. Melihat raut wajah Bima yang tampak kalut, Dania berpikir Bima pasti butuh seseorang untuk diajak bicara.
"Kopi..?" Dania menempelkan sekaleng kopi instan, ke lengan Bima.
Bima terlonjak saat mendapatkan sensasi dingin kaleng tersebut. "Kau mengikutiku..?"
"Tidak, aku juga berniat kesini tadi. Tak ku sangka kita bertemu." Dania merapikan helaian rambutnya, sembari tersenyum manis kepada Bima.
Bima menaikkan satu alisnya, "dengan dua kaleng kopi?"
Dania tak bisa berkata-kata, ia menggigit halus bibirnya sembari menatap canggung.
"Apa kau masih menyukaiku?" Tanya Bima spontan.
Tentunya Dania merasa gugup, sekaligus berdebar. "Kau.. mengetahui itu?" Sesaat ia berpikir, apakah Bulan yang memberitahu?
Bima membuka kopi instan itu, lalu menenggaknya sampai habis. Hanya dalam sekali tegukan saja.
"Kau menatapku dengan sangat dalam. Saat aku sedang berbicara, matamu berbinar menatap kearahku. Saat aku melewati ruanganmu, kau juga selalu melihatku diam-diam dari cerminmu. Kau juga sering datang ke rumahku. Bukankah itu cukup jelas,?" Bima menyorot Dania dari sudut matanya.
__ADS_1
"Dan setelah tau semua itu, kau tetap diam?" Tak dipungkiri, ia bahagia. Karena ternyata Bima menyadari itu. Namun apa alasan Bima tetap diam?
"Kurasa sudah saatnya,.." Bima menarik nafas sejenak, ia pikir Dania akan berhenti jika diabaikan, namun tampaknya cinta Dania untuknya sangat besar.
Kedua mata Dania berbinar, ia menebak inilah waktunya, ini saatnya, ia akan memdapatkan balasan perasaan dari Bima.
"Berhentilah." Ucap Bima menatap datar.
Ekpresi wajah Dania yang berbunga, berubah menjadi murung. "k..kenapa..? Aku tulus mencintaimu Bima."
Bima tersenyum hambar, dulu ia pikir tidaklah mengapa jika ia membiarkan Dania terus menyimpan perasaan. Namun kini ia tau rasanya, lebih baik mengatakan TIDAK secepat mungkin, dari pada membiarkan seseorang terus terjerat, tanpa adanya kepastian.
"Dania, cinta tak terbalas memang sangat menyakitkan. Tapi memaksa seseorang untuk mencintai kita, itu lebih menyakitkan."
"Tidak bisakah sekali saja kau melihatku?" Pinta Dania dengan tatapan nanar.
"Aku sudah cukup sering melihatmu. Maka itu hari ini ku putuskan, berhentilah." Bima menepuk pelan pundak Dania, kemudian pergi dari sana.
Tampak kedua mata Dania berkaca-kaca, penolakan sebelum penyataan. Harus diakui rasa sakitnya lumayan dahsyat. Tiga tahun lamanya ia memendam perasaan, namun di hempaskan hanya dalam beberapa detik.
"Kau memang tak berperasaan!" Ketusnya seraya mengusap kasar buliran air yang menitik di pipi.
...~~...
Di Cafe Rembulan...
"Ada apa..? Kau hanya ingin menguras waktu kami?" Seloroh Vidia, tak biasa-biasa nya Bulan bertingkah seperti itu.
"Awas saja kalau kau mengerjai kami." Timpal Saras, sudah setengah jam mereka duduk disana. Namun Bulan tak kunjung berbicara, ada apa sebenarnya.
Sedari tadi, Bulan memandangi jam tangannya. Ia menunggu Arkana tiba, dan tak lama kemudian, sebuah mobil hitam tiba.
"Itu dia.." Seru Bulan, ia gugup sekaligus antusias.
Bulan langsung menjemput Arkana, menggandengnya untuk duduk di kursi.
Melihat itu, Saras melebarkan matanya. "Kalian mau bilang kalau sudah berpacaran?" ucapnya sambil memicingkan mata.
"Daebak..! tenyata cinlok di kantor benar-benar ada. Sudah kuduga salah satu dari kalian akan terpikat dengan pesona Bulan." Vidia sudah menerka, antara Bima dan Arkana pasti akan jatuh hati pada gadis pemalas itu.
"Saya kesini, ingin meminta restu tante untuk menikahi Bulan."
Vidia dan Saras membelalak bersamaan. "Apa..?"
"Kau serius mau menikahi dia..?" Tunjuk Vidia kepada Bulan.
"Serius kak.." Arkana menjawab dengan yakin.
__ADS_1
"Secepat ini..? Kau tidak hamil duluan kan Bulan?!" Saras malah menuding putrinya menggunakan ujung sedotan.
"Tidaklah..! Memangnya ibu.." Ledek Bulan tanpa sadar.
Saras menjatuhkan sedotan yang ia pegang, ujung tangannya bahkan bergetar. Bagaimana bisa Bulan mengetahui itu.
"Tante..?" Panggil Arkana, membuyarkan lamunan Saras.
"Iya..?" Sahut Saras tersenyum kaku.
"Bagaimana? Apa tante menyetujui niat saya?"
"Kapan tepatnya? Apakah orang tuamu setuju?"
"Bulan depan, ibu saya juga sudah setuju. Lusa saya akan berangkat ke California untuk membawa ibu kesini."
Saras tersenyum lebar, tentu saja ia sangat bahagia. Akhirnya putri semata wayangnya dipinang oleh lelaki tampan dan mapan. Terlebih lelaki itu mencintai Bulan sejak jaman penjajahan.
"Tante sangat menyetujui, walaupun tante masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan ini.." Air matanya menitik pelan, begitu pula dengan Vidia, ia menatap legam kepada anak itiknya yang akan segera mendapatkan tempat berlindung baru.
"Semoga kau bisa menjaga Bulan, kau bisa menjadi tempat bernaung Bulan. Jadilah satu-satunya orang yang selalu berada disisi Bulan, karena tante gagal melakukan itu." Tangisnya tak terbendung lagi.
Bulan segera memeluk sang ibu, rasa haru juga mengaliri benaknya. Meskipun ibunya tak pernah menjadi tempat untuk bernaung, tapi Bulan sangat menyayangi sang ibu. Karena tanpa nya, ia takkan bisa mengenal dunia yang indah ini.
"Kemarilah, calon menantuku hahaha..." Saras mengajak Arkana untuk berpelukan bersama.
...~~...
"aah, jadi... itu hanya salah paham?" Ujar Ayana menatap lirih sang anak.
Arkana dan Bima menceritakan semuanya, bagaimana Bulan bisa terhubung dengan masalalu Arkana. Mereka juga menjelaskan bahwa Saras hanya salah paham.
"Jadi kapan kau berangkat ke California?" Tanya Ayana lagi, ia sudah mendengar tentang pernikahan itu dari Arkana sendiri.
"Lusa tante..," Jawab Arkana pelan.
Plak..!
Tiba-tiba Bima memukul bahunya, "Ayolah.. kenapa kau murung sekali? Tunjukkan pada dunia bahwa kau bahagia.."
"Bagaimana denganmu? Apa kau bahagia..?" Teduh wajah Arkana menyelimuti perasaan bahagianya, sementara riang wajah Bima, menutupi setumpuk luka.
"Aku sangat bahagia... Kau tau sendiri kan, berjuta wanita diluar sana yang menginginkan ketampananku?" Bima mendongakkan dagunya, berpose narsis. Memang ketampanannya sangat paripurna.
Tapi Ayana bergidik merinding melihat sifat narsis putranya itu, padahal itu menurun darinya.
Arkana memeluk erat sahabatnya itu. Ia tau Bima sedang menyembunyikan luka. Betapa ia sangat merasa bersalah, Bima sudah banyak membantunya, tapi ia malah tak memberikan kesempatan untuk Bima berbahagia.
__ADS_1
...***************...