Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 24 : Orang Asing?


__ADS_3

Bulan menumpahkan tangisnya di pelukan Arkana. Entah kepada siapa ia bisa menceritakan hal gila ini. Ia hanya bisa menelan utuh kepahitan takdir hidupnya seorang diri.


Dari depan pintu itu, Arkana melihat Raul yang menaiki tangga tanpa rasa bersalah. Ia menatap lekat pria tua itu. Pikirannya sungguh tak bisa positif bila mengingat perbuatannya pada Bulan.


...~~~...


Arkana dan Bulan kembali ke rumah sakit, sesaat setelah Raul tiba di sana. Mereka datang terpisah.


"Maafkan aku," Lirih Bulan seyara berjalan menunduk, menyusuri lorong rumah sakit.


"Untuk apa?" Arkana menatap sayu. Dia lah yang memeluk Bulan lebih dulu, lalu kenapa Bulan malah meminta maaf duluan.


Bulan pun menggaruk ujung hidungnya, untuk apa kata maaf yang barusan ia ucapkan? Ia sendiri tak tau karena asal bicara, demi menghapus situasi canggung itu.


"Tolong jangan bilang siapapun soal tadi, apalagi ibuku."


"hm, tenang saja." Arkana mengangguk pelan.


"Kenapa kau bisa ada di sana tadi?"


"Aku berinisiatif saja, biasanya orang yang sedang kalut suka bertindak ceroboh." Jawab Arkana mengalihlan pandangan, ia berbohong lagi kali ini.


Bulan hanya mengangguk, ia merasa beruntung masih di kelilingi orang-orang yang memperhatikannya dengan baik.


Raul masuk keruang rawat inap, sementara Bulan menunggu di luar. Ia tak mau membuat ibunya bertanya kenapa wajahnya semakin bengkak. Ia pun berkeliling sembari menunggu matanya pulih. Sementara Arkana, ia duduk di kursi tunggu sambil menguap lebar.


"Kami akan menyusul tim ke lokasi syuting, kau bisa menyusul besok kalau keadaan ibu mu sudah membaik." Ucap Bima, ia baru selesai mencuci muka agar segar kembali. Melanjutkan perjalanan jauh bukanlah mudah, apalagi kondisi tubuh sedang lelah.


"mm.." sahut Bulan tak membuka mulutnya, ia hanya mengangguk dengan tatapan kosong.


"Kalian sudah mau pergi? Apa kalian bisa melanjutkan perjalanan tengah malam begini? Tidur lah disini, besok pagi baru berangkat. Pak Tara pasti memaklumi."


Ayana tak mau Bima dan Arkana sampai kenapa-kenapa di jalan, malam sudah larut dan perjalanan mereka cukup panjang.


"Tapi bu, kasian tim kami jika harus menunggu lebih lama. Kami harus mulai syuting besok pagi..." Bima tak setuju dengan pendapat sang ibu.


"Sudah jam 1 malam loh, ibu tidak mau mendengar kabar kecelakaan lainnya, apalagi kamu kalau mengemudi seperti hantu! Tim kalian pasti tidak akan keberatan, ya kan Arka...?"


Ayana memindah arah wajahnya pada Arkana, anak itu pasti tak membantahnya. Tapi ternyata Arkana sudah terpejam di atas kursi tunggu, kedua kakinya saling menumpu, kedua tangan terlipat di dada, wajahnya tertunduk dan terdengar pula dengkuran halus.


"Lihat? Dia pasti mengantuk berat," Ayana mematahkan bantahan Bima.


Bima tak bisa berkata-kata lagi, ia mengusap wajahnya lalu menyiprat kan sisa air itu kepada Arkana. Namun Arkana tak bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"sss..! Bisa-bisanya dia tidur di saat begini."


Bima keluar dari sana untuk mencari udara segar. Kepalanya sudah penuh dengan agenda untuk di lakukan besok. Pasti akan banyak sekali kegiatan setibanya mereka disana.


"Astaga..!" Bima hampir terpeleset karena melihat Bulan berdiri lesu di ujung lorong.


Dengan rambut berantakan, ia menabrakkan keningnya ke tiang koridor berulang kali secara perlahan. Entah bagaimana caranya agar ia bisa menghilangkan amarah tak menentu itu.


"Sial..sial..sial..sial..sial.." Ucapnya dengan gigi saling beradu. Lalu ia terkejut saat menyadari keningnya menabrak punggung tangan Bima yang menghadang tiang koridor.


"Kau apakan otakmu?" Seloroh Bima, ia manatap Bulan seolah tengah membandingkan setiap inci raga gadis itu dengan wanita yang hendak ia nikahi di alam bawah sadar.


Dari tiang koridor, Bulan beralih menumpu dahinya pada pagar pembatas.


"Enyah lah.. Aku tak ingin bicara dengan makhluk purba seperti mu."


Bima ikut menyandarkan punggungnya, ia mengambil satu batang rokok lalu mulai memantik korek api.


"Mau merokok?"


"Kau gila?!" Bulan melirik jengah.


"Berhentilah menangis, atau kedua matamu takkan bisa di buka besok pagi."


Bulan tak menanggapi, tak ada gunanya juga ia menggubris manusia tak berperasaan itu. Ia sungguh ingin pergi ke tempat sepi, lalu berteriak sekuat-kuatnya.


Bulan menoleh, apakah mungkin pria itu masih mengingat kisah masalalu nya? Ia memang hanya menceritakan masalah itu pada kekasihnya.


"Kau masih mengingat itu?" tanya Bulan berharap, jika memang Bima masih mengingat, ia akan sangat senang, itu artinya walau hanya sekedar bercerita, ia bisa melepaskan unek-unek di benaknya.


"Apa..?" Bima terheran, ia menaikkan sebelah alisnya kepada Bulan.


"Dulu... Aku sering menceritakan masalahku.. ah, lupakan saja." Bulan mengurung niat melanjutkan ceritanya, lagipula ada fakta yang belum di ketahui Bima yakni soal status ayahnya.


"Kalau kau ingin bercerita lagi padaku, aku tidak keberatan. Aku suka mendengar cerita seseorang, kemudian menjadikannya inspirasi. Aku yakin, sebagai penulis kau pun senang mendengarkan kisah orang lain."


Asap yang keluar dari mulut Bima menyapa rongga hidung Bulan. Entahlah jenis rokok apa itu, aromanya sangat lembut dan membuat rileks. Tanpa sadar ia memejamkan mata sembari menikmati aroma asap rokok itu.


"Nikmat?" Tanya Bima membuyarkan.


Bulan langsung membuka matanya.


"Rokok ini diresepkan khusus oleh seorang peracik herbal. Terbuat dari dedaunan yang dapat merilekskan pikiran."

__ADS_1


Itu memang rokok khusus, bukan dari tembakau yang biasanya menimbulkan aroma menganggu saat terhirup oleh orang lain.


Bima mengambil satu batang lagi, lalu menempelkan itu pada mulut Bulan. "Cobalah, kau suka aromanya kan?"


Bulan tak menolak, ia penasaran apa benar itu rokok yang dapat merilekskan pikiran? Ini pertama kalinya ia menyentuh rokok dengan bibirnya.


Bima menghidupkan koreknya, lalu membakar ujung rokok yang sudah stanby di bibir Bulan.


"Hisap perlahan seperti menghirup udara, lalu lepaskan saat kumpalan asap sudah terkumpul."


Bulan menuruti, ia menghisap dalam pangkal rokok tersebut. Namun karena tak cukup piawai mengatur asap, ia pun tersedak hingga rokoknya terjatuh ke lantai.


uhukk..! uhukk..!


"aissshhh..! Kau hampir membunuhku!" Rutuknya pada Bima yang tengah tertawa kecil.


"Kau payah sekali, aku bahkan langsung bisa saat percobaan pertamaku." Ledeknya, ia merasa lucu melihat kedua pipi Bulan jadi bersemu merah."


"Kapan kau pertama merokok? Saat SMA?"


"mmm, mungkin waktu baru lulus SD hahahhaa..."


"hiss..! Kau memang tidak waras sejak dulu."


Karena tak bisa menikmati rokok pemberiannya, Bima pun menghembuskan semua asap yang ia buat ke arah Bulan. Tidak hanya sekali, kini ia bahkan maju lebih dekat ke arah wajah Bulan, lalu menghembuskan asapnya lagi.


Bulan yang memang merasa tak terganggu pun memejamkan matanya, asap itu benar-benar tidak menyebabkan gatal ataupun menyengat. Ia menikmati aroma itu seperti tengah menghirup lilin terapi.


"Ceritalah, tidak baik memendamnya sendiri." Bisik Bima membujuk, ia ingin masuk perlahan, menyusuri seperti apa sebenarnya sosok gadis bermata indah itu.


"Ini soal ayah ku, apa kau bisa memberiku saran? Aku ingin ia dan ibuku berpisah,"


Bulan benar-benar percaya bahwa Bima masih mengingat itu. Ia percaya Bima masih bisa memberinya saran, sama seperti dulu setiap kali ia membutuhkan.


Kedua sorot mata Bima yang tadinya berbinar menjadi datar dan tajam, apa maksudnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal ia melihat tadi ayah dan ibu Bulan cukup harimonis. Lalu kenapa dia menginginkan orang tuanya berpisah?


Air mata Bulan mulai menitik lagi, apalagi mengingat kejadian barusan.


"Bahkan tadi saat aku pulang ke rumah membawa kabar kecelakaan ibu, ia malah memintaku untuk kembali karena dia merindukanku..." ia menutupi wajah dengan kedua tangannya, tak di sangka cerita memalukan ini masih harus terulang.


Bima menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ia benar-benar bingung, memangnya salah jika seorang ayah mengatakan rindu kepada anaknya?


"Kenapa kau menceritakan kisah mu pada orang asing?" Potong Arkana yang tak sengaja mendengar obrolan mereka.

__ADS_1


Bulan langsung mengusap air matanya, ia berbalik melihat ke arah pria yang sejatinya paling tau segala hal tentang dirinya itu.


...%%%%%%%%%%...


__ADS_2