Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 37 : Mantan Terindah


__ADS_3

Bulan hanya mengedipkan kelopak matanya beberapa kali. Ia bingung, menjadi bagian Bumantara films adalah impiannya. Namun memfilmkan kisah hidupnya yang menyedihkan, bukankah itu sangat konyol? Ini sama saja ia membuka aib keluarganya secara tidak langsung.


Dari Pak Tara, pandangan Bulan berganti ke arah Arkana. Pria itu hanya menggeleng pelan, ia tak bermaksud mengambil keuntungan dari kisah masalalu itu.


"Saya akan memikirkannya nanti Pak." Sergah Bulan, terlihat tak nyaman. Ia meletakkan naskah tersebut lalu keluar dari sana dengan langkah cepat.


"Arka, bujuk dia agar mau meneruskan naskah ini. Aku tak bisa mengandalkan mu karena kau sangat sibuk."


Pak Tara berharap, naskah itu bisa berlanjut. Karena ia melihat nilai jual yang tinggi di dalamnya.


"Pak, Saya tidak bisa. Ada banyak projek yang saya pegang. Lagipula banyak naskah lain yang masih baru. Kenapa malah memilih naskah usang itu?"


"Maka itu saya minta kau dan Bulan melanjutkannya bersama, kau hanya perlu membimbing Bulan, sisa nya biar dia yang mengatur alur cerita."


Arkana tak menjawab lagi, ia hanya menarik nafas berat. Ini adalah perintah Pak Tara, dan tak akan ada yang bisa menganggu gugat.


...~...


Didalam tahanan, Darren mendapatkan kabar bahwa Saras melanjutkan gugatan.


"Bukankah kau bilang akan menangani ini? Kau bilang penjara tempat aman bagiku daripada melarikan diri. Lalu apa ini...!"


Darren memukulkan kursi ke pembatas baja di depannya. Ia mengamuk seperti singa yang kelaparan.


"Keluarkan aku sekarang! Aku sendiri yang akan membereskan mereka!" Sergahnya menatap jengah.


"Baik Bos.." Anak buah Darren menunduk hormat, lalu segera beranjak untuk melaksanakan perintah tuannya.


"AAAA.....! SSIIT..!" Darren berteriak memenuhi ruang kunjungan itu.


...~...


"Kita akan mengadakan meet dan great selanjutnya, setelah penayangan pertama." Ujar Bima menyusun jadwal.


Kegiatan keliling menemui para penggemar, adalah salah satu promosi paling manjur.


Dania mengangkat tangannya, "Kali ini hanya pemain dan sutradara kan?" ia melirik kepada Bulan, membuat semua orang kembali teringat akan kejadian memalukan kemarin.


"Bulan, kau yakin bisa menahan diri kali ini? Dari 80 ribu tertanda yang akan hadir, ada 35 ribu hastag yang menyertakan namamu. Mereka adalah penggemar mu dari aplikasi menulis." Jumlah yang cukup pesat dibandingkan dengan pertemuan kemarin.


Sepertinya insiden kemarin membuat nama Bulan semakin banyak diketahui orang-orang.


"Aku tidak ikut, mulai sekarang aku sudah lepas tangan dengan proyek ini." Jawab Bulan yakin, ia tak mau mempermalukan dirinya lagi.

__ADS_1


Tentu saja Bima terheran, bukankah menemui penggemar akan meningkatkan popularitas. "Kenapa? Memangnya kau tidak ingin menyapa para penggemar mu?"


Bima sangat menyayangkan itu, padahal ia sudah berencana menyediakan kopi khusus untuk Bulan.


"Aku sangat ingin, tapi aku sudah mengambil proyek baru dari Pak Tara. Aku ingin fokus kesana."


Ya, Bulan telah memikirkan itu, dan ia setuju melanjutkan naskah tersebut.


Arkana menoleh kearahnya, dengan alis naik sebelah. "Kau sudah membaca isinya?"


Bulan mengangguk, senyum tipis tersirat di wajah manis itu. "Sudah, kisah yang sangat menarik. Aku berencana mempertemukan kembali tokoh wanita dan pria nya.


"Naskah Rapuh?" Serobot Bima dengan wajah kepo. Seriusan Bulan dan Arkana melanjutkan kisah itu? Kisah mereka sendiri?


"Jadi Kau mendapatkan naskah baru lagi? Apa kau jadi penulis tetap disini?" Risih Dania tak senang, ia merasa Pak Tara memperlakukannya sangat spesial.


"Baiklah, kita adakan jumpa fans tanpa Bulan. Tapi apa kalian tidak berniat mengajakku bergabung? Bukankah aku juga terlibat dengan naskah itu?" Bima tak terima, jika hanya Bulan dan Arkana berdua yang mengerjakan itu.


Secara tidak langsung dirinya juga ada didalam naskah itu. Bukankah bagus jika ia turut memberikan ide lanjutan?


"Benarkah? Bukannya itu naskah asli milik Arkana?" Timpal salah satu tim, semua orang tau naskah terbengkalai itu murni karangan Arkana.


"Tidak, Arkana sering berdiskusi tentang itu denganku. Ya kan?" Jawab Bima seraya menyenggol siku sahabatnya itu.


...~...


Beberapa orang yang bekerja untuk program malam mulai berdatangan. Bergantian dengan pulangnya orang-orang yang sudah bekerja sedari pagi. Mobil para artis berjajar di parkiran, menunggu tuannya masing-masing.


Tampak di pojok dinding cafe, Arkana dan Bulan tengah duduk berhadapan dengan kedua laptop di depan wajah masing-masing.


"Bagaimana menurutmu?" Arkana memperlihatkan foto aktris dan aktor yang akan membintangi series tersebut.


"Aku sudah mengirimkan naskah nya kepada mereka, tinggal menunggu persetujuan." Tambahnya.


"Pemeran pria nya sangat tua, apa tidak ada yang lebih tampan? Diceritaakan tokoh pria adalah pria muda berusia 21 tahun. Lalu kenapa memilih aktor tua seperti itu." Komplain Bulan, ia tidak sreg karena tokoh utama tak sesuai ekpektasinya.


Arkana menyandarkan tubuhnya, lalu bersedekap dengan wajah sedikit kesal.


"Maksudmu yang setampan Bima dulu?"


"Menurutmu dia tampan?" Bulan malah salah menanggapi reaksi Arkana.


Saat pertemuan itu, Bulan memang sempat terkesima dengan wajah Bima. Namun setelah ia tau bahwa Bima adalah musuh masa kecilnya, kesan pertama yang begitu indah itu sirna.

__ADS_1


"Omong-omong seperti apa wajahmu dulu saat kita masih berpacaran? Apa kau juga setampan ini?"


Wajah Arkana bersemu merah, "Aku..?" Mood yang tadi merosot, seketika menjulang kembali. Ia membuka folder di laptopnya kemudian menunjukkan foto masa lalu, saat usianya sekitar 20 tahunan.


"Ini dia, seperti inilah bentuk ku saat kita masih berpacaran dulu."


Bulan langsung menarik laptop Arkana kearahnya, ia tertawa kecil saat melihat penampilan Arkana yang seperti jamet. Memakai poni ala oppa koera, serta satu anting ditelinga kiri.


"hahahahaha... Kau ternyata pernah culun juga." Wajahnya sampai merah karena menertawai foto-foto jamet itu.


Bulan terus menggeser dan melihat-lihat foto lama Arkana, beberapa juga ada foto bersama Bima. Dibandingkan dengan Arkana, gaya Bima memang sudah keren sedari dulu. Tak salah bahwa Bulan langsung terkesima saat itu. Namun wajah Arkana yang berkharisma pun tak tertutupi dengan gaya jamet jadul itu.


Senyum diwajah Bulan perlahan buyar, saat ia mendapati foto lama nya disana. Yakni foto yang diambil Bima saat mereka kencan pertama.


"Kau menyimpan fotoku?" Lirihnya, sedikit berdebar dirasa.


Arkana mengangguk pelan, ia berharap Bulan mengetahui bahwa sedari dulu perasaannya tak pernah berubah, walau sempat kehilangan kabar bertahun-tahun.


"Apa kau mencampakkan ku, karena kau dan Bima berkencan?" Bisiknya tanpa ragu. Ia masih belum percaya, bahwa Arkana meninggalkannya hanya karena pindah Negara.


Arkana yang sedang menyeruput jus alpukat langsung tersedak. Jus itu jadi tersasar ke rongga hidung nya akibat pertanyaan ngawur barusan.


"a..apa maksudmu?" tanya Arkana terbatuk-batuk.


"Banyak rumor beredar bahwa kalian sudah lama berpacaran. Rumor itu sangat ramai disini, apa kau tak pernah mendengarnya? Jadi aku berpikir mungkin kau meninggalkanku karena kau menemukan kekasih baru, dan itu Bima." Bulan menjawab cepat, ia menumpahkan semua rasa penasaran nya selama ini.


"Maksudmu, kau pikir aku...? ch...! Aku masih NORMAL..!" Ketus Arkana membelalak, bisa-bisa nya ada rumor begitu dan ia tak pernah dengar. Pantas saja orang-orang selalu menatap aneh kepadanya apalagi saat sedang berduaan dengan Bima.


"Waktu itu diruangan meeting orang-orang melihat kalian bermesraan."


"Siapa? Siapa yang melihat? Dan siapa yang menyebarkan rumor itu?" Arkana semakin tersulut suasana, tak bisa dibiarkan. Masa iya citranya ancur lebur dimata sang mantan kekasih.


Bulan membalas sorot tajam mata Arkana.


"Aku sendiri juga melihatnya! Pantas saja kau mencampakkan ku waktu itu. Padahal kita tetap bisa berpacaran walau beda negara. Itu pasti hanya alibi mu saja."


"Hei..!" Arkana mendekatkan wajahnya, menatap tegas kedua netra indah dibalik bingkai kacamata itu. Sang pemilik netra pun langsung terdiam.


"Haruskah aku mengajakmu berpacaran lagi?"


glek....


Bulan meneguk ludah dalam-dalam, kedua telapak tangannya tiba-tiba menjadi dingin. Ia gugup sekali. Fakta bahwa Arkana lah orang yang dulu mengisi hatinya, membuat jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


...%%%%%%%%%%...


Maafkeun banget guys.. seperti biasa sinyal error.. pen nangis dah😭 Semoga kalian yang cuma beberapa ekor ini tak kabur.😪


__ADS_2