
Bulan meringkuk memeluk lututnya di depan ruangan ICU. Ia berdoa semoga tuhan memberikan keselamatan. Ia tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Rasa sakit di dada sungguh tak bisa di ucapkan. Seperti di iris, sesak, dan di hantam benda besar sekaligus. Masih lekat pula di pikirannya wajah sang ibu yang bersimbah darah.
"Bulan.., tenangkan dirimu.." Lirih Arkana seraya menepuk tipis pundak gadis itu. Gadis yang ia tau betapa rapuh jiwanya. Ingin sekali ia memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
"Ibu mu pasti baik-baik saja.." Ucap Bima turut menenangkan. Ia juga mengusap pelan pucuk kepala Bulan dengan ujung jemarinya.
Dua pria itu berdidi di kedua sisi Bulan, yang tengah berjongkok. Mereka menatap nanar ke ruang ICU melalui bingkai kaca blur yang ada di pintu.
"Aku tidak mau di tinggal ibu..." ucapnya terisak.
"Ibu mu tidak kemana-mana, dia pasti selamat. Aku sudah menyuruh dokter terbaik di rumah sakit ini untuk menyelamatkan ibu mu." Arkana menatap sendu mantan kekasihnya itu. Matanya juga berkaca-kaca.
"Kalian pergi saja, aku minta maaf karena tidak bisa ikut dengan kalian." ia berusaha menenangkan diri, mencoba menghentikan tangis yang sudah dua jam tak henti-henti.
"Kami akan di sini sampai ibu mu sadar." Ucap Bima, ia menatap lurus pintu ruangan ICU tersebut. Dimana tampak para Dokter dan perawat tengah sibuk dengan tubuh Saras.
Tiga jam berlalu...
Bulan merebahkan wajah di atas lututnya, sepertinya ia kelelahan menangis sampai-sampai ketiduran. Meski lelap, senggukan terdengar beberapakali.
Bima di sisi kirinya, ia memainkan korek api dengan wajah risau. Sementara Arkana di sisi kanan Bulan, ia memejamkan mata dengan wajah mendongak ke atas.
"Apakah tim kita sudah sampai?" lirihnya, pikirannya terus saja terbagi antara tim nya, dan Bulan. Ia tak menyangka akan ada tragedi seperti ini.
"Ku rasa belum, biar saja mereka istirahat. Toh syuting masih akan di lakukan besok." Bima tak terpikirkan lagi oleh pekerjaannya, ia sangat takut Bulan kehilangan ibunya. Entahlah, kenapa ia harus khawatir padahal Bulan hanya orang asing untuknya.
"aiss..! Berhenti memainkan korek itu. Kau membuat tidurnya terganggu." Ketus Arkana mulai kesal.
"Aku mau merokok sebentar.."
Bima beranjak dari sana untuk mencari tempat melepaskan kerisauannya.
Tak lama setelah Bima keluar, Ayana datang sambil berlari ke arah ruangan ICU. Begitu mendengar kabar bahwa pengacaranya kecelakaan, ia langsung panik. Bagaimana dengan uang nya? Apakah ini kecelakaan semata? Atau ada orang yang sengaja menghalangi pekerjaan Saras agar kasus itu di tutup? Semua pikiran negatif itu merundung kepalanya.
"Arka..."
Ucapannya terhenti karena Arkana menyuruhnya mengecilkan suara. Agar Bulan tak terganggu tidurnya.
"Bagaimana keadaannya?" Bisik Ayana kemudian, ia menuruti isyarat Arkana.
__ADS_1
"Masih belum sadar tante." Sahut Arkana juga berbisik.
"Bagaimana ini? Pasti akan lama dia pulihnya, pengadilan sudah menerima gugatannya kan? Apa bisa di tunda sampai dia sembuh? Atau kau bisa carikan pengacara lain yang...."
"Tidak bisakah anda tutup mulut?!" Kecam Bulan memangkas rentetan ocehan Ayana. Ia mengangkat wajahnya dengan tatapan jengah.
Ayana langsung terdiam, wajah paniknya bahkan tertahan karena ucapan Bulan.
"Ibu ku bahkan belum melewati masa kritisnya, dan anda mengkhawatirkan persidangan? Cari saja pengacara lain, aku akan mengembalikan uang yang sudah anda bayarkan pada ibu ku!"
Arkana mengusap pelan lutut Bulan agar ia lebih tenang, memang di saat seperti ini pikiran siapapun akan menjadi kalut.
Ayana membuka kacamata hitamnya, lalu menatap Bulan datar. "Kenapa kau bersikap tidak sopan pada ku? Aku juga mengkhawatirkan ibu mu, itu sebab nya aku kesini."
"Karena ibu ku harus mengembalikan uang anda yang raib oleh penipu itu?"
"Bulan, tenangkan dirimu. Tante, jangan bahas dulu masalah itu, ku mohon.." Bisik Arkana melerai dua wanita keras kepala itu.
"Kau menyalahkan ku atas kecelakaan ini? Kenapa kau sangat marah padaku? Memenuhi permintaan klien adalah tanggung jawab ibu mu sebagai pengacara." Ayana tak mendengarkan perkataan Arkana, ia malah semakin kesal karena Bulan melempar tatapan sinis padanya.
"Iya..! Ibu ku menemui anak buah penipu itu tadi, dan dia kecelakaan setelahnya. Aku tidak menyalahkan anda, tapi anda sendiri yang memperjelas bahwa ini terjadi karena anda!"
"Hei..! Memang nya aku yang menabrak ibu mu? aiss..! Kau sangat tidak sopan!"
"Ibu kesini untuk bertengkar dengan nya?" Tanya Bima dengan wajah kesal. Hari ini semuanya menjadi berantakan. Ia lebih kesal saat dirinya sendiri tak bisa bersikap masa bodo atas kejadian yang menimpa Bulan.
"Dia duluan yang memarahi ibu.."
"Kenapa ibu tidak diam saja? Ibu mau kulit ibu semakin keriput karena marah-marah?"
"Tidak..!" Ayana langsung memijat kedua pipinya yang menegang akibat emosi.
"Aku tau ibu khawatir soal persidangan, tapi tolong untuk saat ini jangan di bahas. Berikan Bulan waktu untuk menjernihkan kepala nya."
"Dan Bulan, kau harus menenangkan dirimu. Seberapa keras kau menyalahkan orang sekitar, tak akan merubah keadaan bahwa ini sudah terjadi."
Bulan tak menjawab, ia melepaskan nafas panjang lalu kembali duduk di sebelah Arkana.
"Kalian sudah makan?" Tanya Ayana, Bima dan Arkana menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Ayo kita ke kantin, kalian harus makan agar tetap sehat. Jadwal kalian pasti padat sekali."
Arkana dan Bima berdiri, benar yang di katakan Ayana. Mereka harus tetap menjaga kesehatan di situasi kacau seperti ini.
"Bulan..?" Ayana juga mengajak gadis itu, namun Bulan enggan.
"Kalian saja, aku tidak selera.."
"Ayo kalian berdua saja, kita bawakan untuk dia nanti." Ayana mengajak Bima dan Arkana.
Dua pria itu sebenarnya juga tidak berselera, namun mereka ingin memberikan ruang untuk Bulan. Siapa tau masih ada tangis yang belum bisa di lepaskan di hadapan mereka.
-
-
PRAAANGGG....!
Bos Scorpio melemparkan vas kaca ke arah anak buahnya. Ia sangat marah saat mendengar tidak berhasil membuat Saras mencabut gugatan.
"Kenapa kau malah membuatnya kritis? Kau harus membuatnya membatalkan gugatan!" Amuk Bos Scorpio itu dengan mata merah.
Anak buah itu tertunduk, pelipisnya berdarah akibat amukan sang Bos. "Aku berencana membuatnya lumpuh, aku berjanji akan mencabut gugatan.."
"Pengadilan sedang menyusun formasi sekarang. Bagaimana caranya kau akan mencabut gugatan itu? Apa kau mau membakar gedung pengadilan? Saat dia sadar, suruh dia mencabut gugatannya!"
"Bos, ku rasa ada cara yang lebih efektif daripada mengancam pengacara keras kepala itu. Dia mempunyai seorang anak,"
"Saat Pengacara itu sadar, bawa anak nya ke sini. Kita bisa menggunakannya untuk mengancam Pengacara itu!"
-
Tepat setelah Empat jam, Dokter keluar dari ruangan ICU dan langsung menghampiri Bulan.
"Bagaimana ibu saya Dokter?"
"Ibu anda berhasil melewati masa kritis, kami akan memindahkannya ke ruang rawat sekarang."
Bulan bernafas lega, ia mengusap wajahnya sambil berterimakasih pada Tuhan karena mendengar doa nya. Rasa takut yang dari tadi menggerogoti batinnya kini perlahan menjauh.
__ADS_1
"Ibu.., terimakasih telah bertahan untukku." Lirihnya dengan derai air mata.
...%%%%%%%%%%%...