
"Kau mau pergi ke kantor? Bukan kah Dokter menyuruhmu beristirahat?" Tanya Ayana khawatir, sebab untuk makan saja Bima kesulitan karena yang luka bahu bagian kanan.
Bima kembali tersenyum, tatapannya kosong ke arah tumpukan lauk, tangannya bahkan memainkan sendok di atas nasi.
"Bu, seandainya gadis bernama Bintang itu sungguh ada, apa ibu mau merestui ku menikahinya?"
Ayana dan Arkana meletakkan sendok mereka, lalu menghela nafas dengan tatapan jengah. Sepertinya Bima bertambah gila berhalusinasi semenjak tertembak.
"Kau memimpikan wanita itu lagi? Apa dia tidak bilang sesuatu, seperti dimana alamatnya, atau yang lain?" Kesal Arkana sembari menyeka mulut dengan tissue.
"Dia datang tadi malam ke mimpiku, dan dia bilang akan menemui ku.."
"Aku harus membuat janji dengan psikiater." Ayana beranjak dan mengambil ponselnya.
"Oh iya Arka, tolong carikan tante pengacara lain.."
"Sebaiknya tante ikhlaskan saja uang itu. Bu Saras dan Bulan hampir kehilangan nyawa mereka, bisa jadi kita target selanjutnya. Untuk itu lebih baik jangan berurusan dengan penipu itu."
drrtt...drrttt...drrrtt...
Ponsel Ayana lebih dulu berdering. Saras lah yang menelponnya.
π "Ayana! Bagaimana ini? Kejaksaan sudah menangkap Bos gangster itu, ternyata mereka langsung bergerak saat mendengar pengajuan gugatan terhadapnya."
"Apa..? Bukan kah itu bagus? Itu berarti sudah banyak orang yang melaporkannya selain aku. Aku pasti bisa mendapatkan kembali uang ku kan?" Ayana langsung girang mendengar berita itu.
π "Aku hendak mencabut gugatan itu, tapi kejaksaan bergerak lebih dulu. Kau tau apa artinya? Nyawa keluarga ku akan benar-benar di ambang kematian! Laporan yang kau buat lah penyebab ia tertangkap, jika kau mencabut tuntutan itu di kejaksaan, maka mereka pasti melepaskan Bos gangster itu."
"Tidak bisa Saras, aku harus mendapatkan uang ku kembali. Lagipula dia pasti di dakwa juga atas kekerasan yang di lakukan pada Bulan, dan percobaan pembunuhan terhadapmu. Bukankah kau akan aman kalau dia di penjara?"
π "Kau pikir dia akan berhenti saat di penjara? Aku sudah bertemu banyak tahanan dari kalangan kotor seperti nya, mereka bisa melakukan apapun dari dalam penjara."
"Aku akan menyerahkan beberapa pengawal untuk menjaga mu. Jadi tolong kerjasamanya, kali ini bukan hanya demi kebaikan ku, tapi demi kebaikan kita."
Ayana langsung menutup teleponnya. Arkana dan Bima berusaha mencerna obrolan dua induk-induk itu barusan, namun mereka gagal paham.
"Kalian..! Jaga diri baik-baik! Penipu itu mungkin akan menggila karena ia tertangkap."
__ADS_1
"Apa..?" Bima dan Arkana memasang wajah tak yakin.
Semudah itu dia tertangkap? Setelah semua tuntutan yang berhasil di tepis dengan uang, kini ia tertangkap?
...~~~~...
Sesampainya di kantor, Arkana membantu Bima membawakan tasnya. Bibirnya maju dengan kedua bola mata kesal, sudah di bilang agar istirahat saja di rumah. Tapi Bima keras kepala, ia memang sangat konsisten dan kompeten dalam pekerjaannya.
"Besok Pak Tara mengadakan meet and great untuk pemeran utama, kita dan penulisnya. Kau yakin bisa hadir dengan keadaan seperti itu?" Tanya Arkana khawatir, cedera itu cukup serius.
Bima berbalik, melempar senyum kepada Arkana yang tengah menekuk wajahnya.
"Aku akan baik-baik saja selagi ada kau di sampingku."
Bulan yang tak sengaja mendengar itu merasakan mual. Bayangan akan hubungan antara dua pria itu pun semakin menjadi-jadi, ia berimajenasi bahwa Arkana dan Bima benar-benar punya hubungan nyeleweng.
"Hei, berikan nomor ponsel mu." Ucap Bima kepada Bulan yang berjarak satu meter di belakang Arkana.
"Aku? Otak mu benar-benar tidak waras." Gumam Arkana,
Arkana pun berbalik, netra matanya langsung berbinar saat melihat Bulan. Semalaman ia khawatir, karena Bulan tidur di rumah sakit bersama Raul.
"Kau baik-baik saja? Malam ini kau akan tidur di rumah sakit lagi?" Ia memberondong Bulan dengan pertanyaan yang tentu saja membuat Bulan mengernyit heran.
"Kalian sudah dengar? orang itu tertangkap."
"Sudah, maka itu aku meminta nomor mu agar kejadian kemarin tak terulang lagi. Kau tau seberapa panik kami karena tak bisa menghubungi mu?"
Bima mengeluarkan ponselnya, kali ini ia akan memaksa meminta nomor telepon Bulan. Demi kerjasama mereka agar terhindar dari kejadian seperti kemarin.
"Arka sudah menelpon ku berkali-kali kemarin, hanya saja penipu itu menyandra ponsel ku."
Tatapan Bima berpindah kepada Arkana, "Kau sungguh punya nomor teleponnya?"
"Kenapa kau memberikan padanya, tapi begitu pelit padaku?" Ia menyorot sinis Bulan, dasar pilih-pilih, batin Bima.
"Aku tidak memberikannya..." Baru lah Bulan tersadar, ia melihat ke arah Arkana yang sedang tersenyum datar, menutupi gugup.
__ADS_1
"Aku meminta pada ibumu," Timpal Arkana, ia berharap semoga Bulan tak bertanya kepada ibunya. Sebab sejak dulu ia memang masih menyimpan nomor telepon mantan kekasihnya itu.
"haisss..! Ibu benar-benar menyebalkan!" Rutuknya melewati dua pria itu, ia masuk lebih dulu ke ruangan para kru.
Arkana menghembuskan nafasnya lega, ia sangat ingin mengatakan yang sejujurnya. Namun apa daya, lidah nya bahkan langsung kelu saat baru berniat untuk jujur.
"Kau menyimpan nomornya sejak dulu?" Bima mengangkat satu alisnya, heran saja mengapa gadis jelmaan itu bisa sangat membekas di hati Arkana.
"Aku tidak pernah menghapus kontak siapapun sejak dulu." Arkana membuka pintu ruangan Bima, lalu melemparkan tasnya ke dalam. Kemudian ia beranjak menuju ruangannya dengan nafas tidak stabil. Kacau sekali sekarang pikirannya.
Bima memandangi punggung Arkana sambil geleng-geleng "ck..ck..ck.. Bulan benar-benar aneh, tak pernah mengganti nomornya sejak 9 tahun lalu? Tapi pasti banyak promo nya tuh kartu, bisa jadi dia menjadi member platinum..." ia meracau sendiri sambil memasuki ruangannya.
"iss..! Laptop ku!" Ia langsung meraih tasnya saat menyadari laptopnya ada di sana.
-
Di ruangan meeting, semua kru dan artis yang terlibat pembuatan film Pangeran ilusi tengah berkumpul untuk persiapan acara besok.
Mereka akan menggelar meet and great di sebuah hotel, para pembaca karya Bulan sudah sangat antusias, terlebih mereka akan bertemu para aktris dan aktor di sana, juga mendapatkan novel cetak ekslusif yang di terbitkan oleh Bumantara.
"Aku baru tau, mengadakan meet and great sebelum syuting selesai. Bukan kah seharusnya setelah syuting selesai?" Tanya Bulan, hal itu sudah bersarang di pikirannya sejak dua hari yang lalu.
"Memang tidak banyak yang mengadakan jumpa fans sebelum syuting di mulai, tapi taktik seperti ini banyak di gunakan oleh perfilman luar negeri, jika mereka merasa dekat dengan aktor aktrisnya, maka mereka akan dengan senang hati menonton filmnya." Terang Pak Tara yang duduk di kursi pimpinan, ia memang kerap kali memantau secara langsung proyek yang sedang berjalan.
"Kau sudah menyiapkan tanda tanganmu? 300 novel yang di cetak akan mendapatkan tanda tangan eklusif dari mu, itu juga penting untuk menarik penonton." Imbuh Pak Tara.
"Sudah Pak." Sahut Bulan sangat antusias.
"Tapi mereka tidak baik-baik saja Pak, apa Bapak tidak mau mengulur waktunya?" Ucap Dania memotong, wajah Bulan yang masih berjejak lebam, bahu Bima yang tertembak serta ujung tangan Arkana yang masih menggunakan plaster. Ia tak bisa membayangkan berapa banyak wartawan akan menanyai itu nanti.
Dania lebih kesal lagi karena kedua lelaki itu babak belur hanya demi gadis udik seperti Bulan.
"Coba pikirkan, jika wartawan membuat berita tentang mereka (Dua sutradara yang menggarap film Pangeran ilusi menghadiri meet and great dengan penuh luka, di ketahui luka tersebut karena insiden selama masa syuting) Bukan kah itu bagus? Akan makin banyak artikel yang bisa membantu popularitas kita meningkat."
"Anda benar-benar mata duitan." Gumam Bima memotong.
...%%%%%%%%%%...
__ADS_1