Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Episode 52 : Samudra


__ADS_3

Bulan ikut saja melangkahkan kakinya ke arah ruang siaran, yang berada di lantai yang sama dengan ruangan kerjanya. Jujur saja ia tak terlalu penasaran, namun ia bisa apa saat lengannya ditarik secara paksa.


Ternyata yang tengah riuh adalah orang-orang dari bagian penyiar berita. Mereka tampak berdebat, tampak sibuk dengan ponselnya, seperti hendak memastikan sesuatu sebelum berita ditayangkan.


Sesosok lengan menggenggm tangan Bulan, ia menoleh ke belakang. Didapatinya Pak Tara dengan wajah risau.


"Ada apa..?" Tanya Bulan, ia mengedarkan pandangan.


Pak Tara menggeleng pelan, kedua matanya tampak sayu diselimuti kesedihan. "Saya ingin bicara denganmu..."


Bulan tak menanggapi, ia malah terfokus kepada Bima yang tengah duduk memegangi ponselnya, dengan wajah cemas.


"Kamera Rolling... action..!" Seru sang juru kamera. Lampu panjang berwarna merah di depan studio menyala, pertanda sedang mengudara secara langsung.


๐Ÿ”Š Selamat siang pemirsa. Berita terkini, Pesawat SKY Airline, penerbangan Los Angeles-Indonesia dikabarkan hilang dari radar sejak pukul 07:00 pagi ini. Diketahui pesawat berjenis Boeing 670 itu mengudara dari Los Angeles sejak pukul 03:00 dini hari. Petugas terkait menyatakan pesawat tersebut hilang kontak diperairan Samudra Pasifik Utara. Sampai saat ini belum ada kabar lanjutan dari tim terkait....


"Bulan..." Lirih Pak Tara, ia mengguncang lengan sang putri yang mematung menghadap Pewara.


"Sebentar..." Bulan mendengarkan lebih jelas, dengan seksama. Kemudian ia menepis lengan Pak Tara, lalu buru-buru merogoh sakunya, untuk mengambil ponsel.


Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek jadwal penerbangan Arkana. Lokasi, nama pesawat, jam keberangkatan, semuanya persis seperti yang disampaikan oleh pembawa berita itu.


Tak ingin berburuk sangka, ia pun menelpon Arkana. Namun tak tersambung.


"Tenang Bulan, tenangkan dirimu... Arkana sedang didalam pesawat, ponselnya pasti dimatikan..." Ia bergumam sendiri, dengan kedua tangan bergetar ia terus menelpon nomor Arkana.


Namun lagi-lagi tak tersambung. Bulan masih tenang, ia kembali mendengarkan berita langsung itu, sembari membaca nama para penumpang yang tertera dilayar monitor.


"Itu benar-benar pesawat Pak Arkana..."


"Itu benar-benar Pak Arkana?"


"Tidak mungkin Pak Arkana..."


Orang-orang terus bergumam, mereka semua menyangkal berita itu. Tak ada satupun orang yang percaya akan apa yang mereka lihat. Bahkan saat foto para penumpang dirilis, mereka masih tak percaya.

__ADS_1


Melihat foto calom suaminya terpampang jelas, Bulan terduduk lemas. Beberapa potongan pita confenti yang tersangkut dirambutnya bahkan ikut terhempas jatuh.


"HENTIKAN...! ITU BUKAN ARKA, BUKAN...!" Teriaknya sambil menangis kencang.


Kemudian ia bangkit, melangkah cepat menuju Bima yang masih tertunduk lemas.


"Bima, kau sudah menelpon Arkana bukan? Apa katanya? Dia baik-baik saja kan?" Ia melontarkan berbagai pertanyaan, dengan air mata terus mengalir.


Bima masih tak bergeming, ia menggenggam erat ponselnya. Ia bahkan seperti kehilangan nyawanya kala mendengar berita ini. Tidak mungkin Arkana pergi begitu saja, tidak mungkin. Arkana adalah orang yang kuat, pantang menyerah dan selalu menepati janjinya.


"Jawab aku Bima..!" Pekik Bulan, ia sungguh tak bisa mengendalikan diri sekarang.


Tak lama kemudian, Saras datang menghampiri Bulan sambil berlari kencang. Ia bahkan meninggalkan sandal tingginya di mobil, agar bisa cepat menemui sang anak.


"Bulan..." Panggilnya sambil menangis sesenggukan. Ia meraih tubuh sang putri, kemudian memeluknya dengan erat.


"Ibu...." Tangis Bulan pecah dipundak sang ibu. Batinnya bak disayat oleh belati, rasa perih mulai merayap bak dikuliti hidup-hidup. Sakit sekali.


Dosa macam apa yang pernah ia perbuat? Kenapa sejak dulu, kehidupannya tak pernah sepadan. Ia kehilangan semuanya, apapun yang ia miliki selalu diambil kembali. Dosa macam apa yang ia lakukan, hingga ia harus menerima semua kepahitan ini.


Kenapa semua orang disana tak ada yang mengatakan, bahwa Arkana akan baik-baik saja.


"Arkana pasti menepati janjinya kan, Bu..? Arkana sudah berjanji akan kembali padaku..." Tangisnya tak kunjung lerai, nafasnya bahkan sudah tak beraturan.


Bahkan Saras sendiri, tak berani mengatakan bahwa Arkana akan baik-baik saja. Ia tak bisa mengatakan apapun, ia hanya mengusap kepala putrinya itu sembari menangis pilu.


Dimeja podium, sang pembawa berita pun ikut menangis saat kamera telah dimatikan. Ia melepaskan kacamatanya, lalu mencoba menghentikan air mata dengan selembar tissu.


Suasana hening menerpa ruangan itu, hanya tangis sesenggukan Bulan yang samar-samar terdengar. Semua orang seolah berdoa kepada Tuhan, untuk membawa kembali Arkana dengan keadaan selamat.


...~~~...


Tujuh hari berlalu.....


Sampai saat ini tak ada satu kabar pun dari Arkana. Bahkan tim terkait juga belum menemukan semua penumpang.

__ADS_1


Mereka sangat kesulitan, mengingat Samudera Pasifik itu sangat dalam. Bahkan untuk mengumpulkan puing-puing pesawat pun mereka belum berhasil.


Hanya beberapa lempengan puing yang berhasil ditemukan. Lempengan tersebut tampak hancur lebur.


Setiap kali Bulan memantau perkembangan pencarian lewat berita, batinnya semakin terluka. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Arkana. Baja tebal tubuh pesawat pun hancur berkeping-keping, lalu apakah bisa ia berharap Arkana akan baik-baik saja?


Sudah Tujuh hari berlalu, selama itu Bulan terus mengurung diri didalam apartemen Arkana. Ia mengurus kucing-kucing milik Arkana. Merapikan seisi rumah. Berada didalam rumah itu membuat Bulan memiliki kekuatan untuk berharap.


Namun tetap saja ia tak bisa membendung tangis, yang datang kapan saja. Ia bahkan langsung sesenggukan saat melihat tas kerja Arkana.


"Bagaimana keadaanmu, calon suamiku?"


Ia membawa pulang naskah berjudul Rapuh, lalu menuliskan apa yang tengah terjadi sekarang. Mulai hari ini ia memutuskan, happy ending, atau sad ending cerita tersebut akan bergantung pada nasib Arkana.


...~~...


Sementara itu di dalam kamar, tampak Bima yang tengah meringkuk dibawah selimut. Sudah seminggu pula ia merebahkan diri di atas kasur Arkana. Setiap detik yang terlewati, ia habiskan untuk menghirup dalam aroma tubuh Arkana yang tertinggal disana.


"Kau tidak merindukanku? Sampai kapan kau akan terus bersembunyi?" Bima menitikkan air mata. Arkana adalah sosok sahabat terbaik yang pernah ia miliki.


"Bima... Makan dulu nak.." Panggil Ayana, ia datang dengan semangkuk bubur hangat.


Ayana termasuk salah satu orang yang paling terpukul atas kejadian itu. Sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anaknya, ia juga merasakan sakit yang sama. Selama satu minggu ini ia bahkan tidur sambil memeluk baju Arkana.


"Kenapa Tuhan sangat jahat pada Arka, Bu? Kenapa Tuhan selalu mengambil kebahagiaan Arka..?" Isak tangis Bima tumpah, saat ia mengingat betapa sulit kehidupan Arkana semasa remaja. Dimana ia harus hidup terlunta-lunta tanpa peran orang tua yang lengkap.


Arkana bahkan pernah dikucilkan, karena ia anak seorang Pejabat yang korupsi. Tak cukup sampai disitu, ia bahkan harus hidup terpisah dari sang ibu, karena neneknya tak mau menerimanya sebagai cucu.


Anak dari seorang pejabat kotor, begitulah Arkana dimata keluarga sang ibu.


"Arkana sudah menemukan kebahagiaannya, kenapa Tuhan menghancurkan itu, Bu..?"


Ayana mengusap halus punggung Bima, sembari menahan rintikan air mata yang perlahan mengaliri pipinya.


"Kita berdoa saja, semoga Tuhan menyelamatkan Arkana."

__ADS_1


...************...


__ADS_2