Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 8 : Acar timun


__ADS_3

Bulan jadi semakin merinding karena Bima menatapnya dengan cara serupa, seperti Arkana menatapnya barusan.


"Selamat pagi.." sapa Bulan menundukkan kepala, situasinya sungguh canggung di antara mereka bertiga.


Setelah sampai di lantai 7, Bulan turun dan di arahkan oleh Bima untuk masuk lebih dulu keruang meeting. Sementara ia menahan Arkana di sana untuk membicarakan sesuatu.


"Ada apa..? Kita sudah terlambat." Arkana penasaran dengan ekpresi gelisah Bima.


"hei, Kau ingat Aku hampir menikahi seorang gadis kan?" bisik Bima.


"Bintang? Gadis yang Kau khayal kan selama masa koma?" Arkana berpikir Bima kumat lagi kali ini, setelah beberapa hari lalu ia mencari sosok Bintang mati-matian, kini Bima berhalusinasi lagi, pikir Arkana.


"Dia, dia sangat mirip dengan Bintang ku." Bima menunjuk punggung Bulan yang semakin menjauh.


"ffftt.... hahhahahahahahaha...." Arkana tak bisa menahan tawanya. Bima benar-benar sudah gila.


"Kau jangan mengarang cerita Bima. Kita sudah bertemu dengannya kemarin, kenapa Kau baru bicara hari ini?"


"Aku tidak berbohong. Kemarin dia tampak seperti makhluk astral, tapi hari ini... kenapa ia mirip dengan Bintang ku?"


"Benarkah..? wahh, nama mereka bahkan serasi. Apa jangan-jangan Bintang itu ari-ari nya Bulan yang sudah lama terkubur?" ledek Arkana tertawa geli.


"Arka, Aku serius. Dia benar-benar mirip dengan Bintang, calon istriku." tukas Bima bersikeras. Ia tau, akan sulit percaya dengan apa yang ia alami selama masa koma.


"Oke..oke, lalu Kau mau apa? Mengajaknya menikah? Kau bahkan tidak mengenalnya, kita bahkan tidak tau apakah dia sudah menikah atau bahkan punya anak. Bima sadarlah, itu hanya ilusi."


"Justru itu sangat mengusikku, kami tidak ada hubungan apapun, tapi kenapa dia bisa ada di dalam alam bawah sadar ku? Lalu kenapa kami bertemu lagi di dunia nyata? Tidakkah Kau pikir ini bukan kebetulan semata?" ujar Bima dengan wajah bingung.


"Apa jangan-jangan, ini kutukan karena Aku mencampakkannya waktu itu?" imbuhnya lagi, jika di ingat ia sangat kejam karena telah mencampakkan Bulan di hari pertama mereka bertemu.


"Kenapa karma itu mendatangimu? Aku lah kekasihnya waktu itu, Aku juga yang menyuruh mu melakukan semuanya. Jika itu karma, maka seharusnya karma itu mendatangiku, bukan dirimu." timpal Arkana beranjak pergi, telinganya benar-benar tak tahan mendengar ucapan tidak masuk akalnya Bima.


Bima dan Arkana menyusul masuk ke ruang meeting. Di sana sudah ada Pak Tara, Pria berusia 50 tahun yang tak lain adalah CEO perusahaan ini.


Arkana dan Bima saling menyenggol, mereka akan beralasan apa kali ini? Mereka sudah sangat sering terlambat.

__ADS_1


"Duduk lah, kita langsung saja ke intinya." ucap Pak Tara sembari memilin ujung janggutnya. Matanya ingin sekali merobek dua curut yang selalu terlambat itu, namun ia berusaha menjaga image di depan orang baru yang tak lain adalah Bulan.


"Jadi, apakah cerita yang Anda buat belum terdaftar kontrak di platfrom itu?" tanya Pak Tara memulai.


"Belum Pak," jawab Bulan pelan, sungguh ia sangat gugup sekarang.


"Kalau begitu bersediakah Anda menyerahkan hak publikasi karya Anda kepada kami? Kalau iya, silahkan tanda tangani kontrak ini. Dan ingat, ini kontrak eklusif, jadi Anda tak bisa lagi mempublish nya ke platfrom manapun."


Bulan membaca sejenak kesepakatan kontrak itu. Cukup mudah di turuti bagi penulis pemula sepertinya. Ia hanya tidak perlu menjual karyanya ke berbagai media lain.


"Untuk sisa nya, Anda bisa mencocokkan dialog, tempat,dan tambahan scene dari sutradara. Bergabunglah dengan mereka saat makan siang nanti, mungkin juga kami akan mengurangi, atau menambah adegan di luar cerita yang Anda buat. Jika Anda keberatan, silahkan koreksi saat membahasnya nanti."


Bulan mengangguk saja mendengar bait demi bait kalimat yang di ucapkan Pak Tara. Setelah itu Pak Tara pergi meninggalkan mereka bertiga.


Karena merasa sudah selesai, Bulan pun bangkit dari kursinya juga hendak pergi.


"Mau kemana?" tanya Bima dan Arkana secara bersamaan.


"Mau.. pulang, sudah selesai kan?"


"Kau sudah sarapan?" tanya Arkana, ia tiba-tiba bersikap santai. Reflek saja, karena dalam hatinya ia dan Bulan pernah sangat dekat.


"Be..lum," jawab Bulan menggeleng pelan. Ia sungguh heran dengan sikap dua pria itu yang terasa sangat aneh.


Arkana beranjak dari kursinya. Ia berdiri di hadapan Bulan, "Bergabunglah dengan kami dan para kru, sekalian perkenalkan dirimu."


"Baiklah.." Bulan mengangguk saja, dari jarak satu meter itu, ia memperhatikan sosok Arkana lalu berkomentar dalam hati. "Pria ini.. apa kami pernah bertemu sebelumnya..?"


Mereka bertiga pun pergi ke ruangan Kru, untuk membahas kelanjutan pembuatan film berjudul Pangeran ilusi, karya Bulan.


Sepanjang mereka melangkah, ketiga nya saling diam. Bulan yang berdebar karena masih merasa ini seperti mimpi. Arkana yang terus memandangi Bulan diam-diam sembari memilin kembali rasa rindu yang sempat terburai. Sementara Bima, ia penasaran apakah Bulan benar-benar tak mengingatnya?


Sesampainya di ruangan Kru, Bima dan Arkana di sambut oleh para rekannya. Mereka sangat senang karena setelah lebih dari tiga bulan cuti, akhirnya Bima kembali.


"Perkenalkan dia Bulan, penulis kita." ucap Bima antusias, ia tak sabar menunjukkan kehebatannya pada Bulan. Bahwa cerita yang semula sepi pembaca, akan menjadi cerita paling berkesan. Itulah Bima, penuh dengan ambisi dan tekad yang kuat.

__ADS_1


Para Kru pun memperkenalkan diri mereka satu-persatu. Total ada 35 Kru inti yang akan terlibat di pembuatan film nantinya. Dan dua pemeran utama, yakni aktris yang baru-baru ini mendapatkan piala penghargaan, Dania. Seorang artis yang sudah lama berkecimpung di dunia hiburan, namun baru dua tahun ini namanya melambung berkat Arkana.


"Dan dia, pemeran utama mu, Dania." tunjuk Arkana pada aktris cantik yang usianya sepantaran dengan Bulan.


"hai..," sapa Bulan, ia terkesima melihat kecantikan Dania. Selama ini ia hanya melihatnya di televisi, tak di sangka aslinya lebih cantik. Seperti bidadari.


Bima menepuk tangannya untuk memusatkan perhatian para Kru.


"Guys.. Apa menu sarapan Kita hari ini?"


"Nasi goreng seafood..!" sahut mereka semua serempak.


Ya, sudah ada setumpuk nasi goreng seafood di atas meja besar itu. Mereka memesannya di sebuah restaurant dekat sana.


Mereka semua pun duduk di kursi yang mengelilingi meja besar tersebut. Begitu juga dengan Bulan, walau canggung, ia memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Ia menarik satu kursi, tepat di hadapan Bima. Sementara Arkana di sebelahnya.


Saat membuka kotak nasi goreng tersebut, Bulan meringis karena melihat ada acar timun di dalamnya. Ia menahan mual karena langsung terbayang rasa acar timun yang menurutnya aneh itu.


Melihat itu Arkana pun langsung menukar kotak nasi Bulan dengan miliknya. "Kau tidak suka acar bukan?"


Riuh obrolan semua orang langsung hening mendengar Arkana mengatakan itu. Mereka semua tau, Arkana bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang baru. Apalagi sampai menukar nasi kotak miliknya. Dan ia juga tak menyukai acar.


"Terimakasih..." sahut Bulan tersenyum canggung. Ia mulai memakan nasi goreng itu perlahan, begitu pula dengan Arkana.


"hei, bukankah Kau juga tidak suka acar?" ucap Bima terheran.


"Kenapa Kau suka acar?" tanya Bulan tanpa sadar. Seingatnya kekasih online nya dulu juga tak menyukai acar timun. Tapi kenapa Bima lahap sekali.


"Kau mengingatku..?" Bima balik bertanya dengan tatapannya yang dalam, seperti mengintimidasi.


Seluruh orang yang ada di meja itu langsung memandangi Bulan dan Bima secara bergantian dengan tatapan bingung.


Sementara Bulan, ia merasa tenggorokannya tercekat mendengar pertanyaan itu. Ternyata Bima mengingatnya?


...**************...

__ADS_1


__ADS_2