Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 12 : Ternyata Kau?


__ADS_3

"Selamat siang..." sapa beberapa pelayan yang bekerja di sana. Mereka langsung mengarahkan artis itu ke meja Saras.


"Siang.." balas sang artis yang tak lain adalah Ayana. Ibu nya Bima. Di sebelah kanannya, ada pula Arkana yang menemani. Bima sedang ada pertemuan penting, jadi ia tak bisa ikut dan mempercayakan semua pada Arkana.


"Arka...?" Bulan merasa ingin menghilang saat itu juga. Penampilannya sungguh berantakan, ia bahkan belum menyisir rambutnya.


"Hai..." Sapa Arkana tersenyum manis, ia juga tak menyangka pengacara yang hendak mereka temui memilih tempat ini.


Ayana membuka kacamata hitam serta maskernya. Ia menatap Saras dan hendak menyapa dengan senyum penuh hormat, namun tiba-tiba senyum itu luntur saat mengetahui siapa pengacara yang akan dia temui.


"Kau..?!" Saras lebih dulu meradang, ia menunjuk wajah Ayana dengan ujung sedotan.


"Ibu..? Ibu mengenalnya..?" Bulan terkejut melihat reaksi panas ibunya.


"Ternyata Kau artis terkenal yang di bicarakan? Tau begini Aku akan menolak mentah-mentah tawaranmu." lanjut Saras membelalakkan matanya. Bibirnya bahkan mengerucut seperti menahan umpatan.


Sementara Ayana terdiam kaku, ia melihat gadis berantakan yang memanggil Saras dengan sebutan ibu.


"Dia putra mu kan? Kemari Kau, Aku akan memotong tangan mu." Saras melangkah ke arah Arkana.


Sementara Arkana yang tak tau apa-apa menghindar dan berlindung di balik tubuh Ayana.


Bulan pun turun tangan, ia menahan tubuh ibu nya dengan sekuat tenaga.


"Ibu.. ibu, tenang dulu. Ada apa sebenarnya?"


"Bulan.. Kau masih ingatkan siapa yang mengoleskan t4i ayam ke mulut mu? Dia orang nya..! Dia wanita pemain film itu, dan itu anaknya. yang mengoleskan t4i ayam di mulut mu." Ia menuding Arkana yang tengah bersembunyi.


"Apa..?" Bulan tak habis pikir akan di pertemukan dengan musuh nya kembali. Dan itu ternyata Arkana?

__ADS_1


"Sebentar sebentar, jangan salah paham. Aku bukan anak nya, Bulan, anak nya tante ini Bima. Bukan Aku." Arkana berusaha membela diri, sebab Ayana malah terdiam.


"Apa..?" Bulan seperti di sambar petir jilid 2. Kaget nya masih sama, bahkan bertambah. Itu kah sebabnya ia selalu jengah ketika melihat Bima? Ternyata selain di campakkan, masih ada dendam yang belum usai.


"Jangan berasalan..! Pergi lah dari sini sebelum ku olesi mulut kalian berdua pakai t4i ayam!" pekik Saras menggebu. Wajahnya merah padam, biji matanya juga hampir melompat keluar.


Ayana benar-benar tak tahan lagi, namun ia tak mau kehilangan kesempatan untuk uang nya segera kembali.


"Saras. Bukankah Kau berlebihan? Kenapa sikapmu seperti ini? Anak mu lah yang lebih dulu mengejek anak ku Bima, kau tidak tau dulu anakku selalu dirundung oleh putrimu? Dia bahkan menghasut teman-teman yang lain untuk mengucilkan Bima ku. Wajar jika anakku marah karena tidak tahan dengan sikap anak mu yang seperti preman ini."


Ayana mengeluarkan bakat akting nya, ia menatap sayu ke arah Saras. Padahal aslinya ingin sekali ia menjambak bibir Saras karena memaki nya barusan.


**


Saat berusia 12 tahun, Bima dan orang tuanya pernah tinggal di salah satu perumahan elite. Menjadi anak orang kaya tidak sepenuhnya menyenangkan bagi Bima. Ia dua tahun mengidap penyakit kulit, seluruh tubuhnya penuh dengan koreng. Saat berkeringat, gatal akan menjalari dan menimbulkan koreng baru.


Kondisi itu membuatnya dikucilkan oleh teman-temannya. Saat bermain, ia terus diledeki oleh anak-anak nakal. Pimpinan anak-anak nakal itu adalah anak kecil berusia 8 tahun. Ya, dia adalah Bulan. Ia memprovokasi teman-teman yang lain agar menjauhi Bima. Selain memberi julukan makor (manusia koreng) untuk Bima, dia bahkan bilang kalau penyakit Bima itu bisa menular.


Alhasil Bulan menangis sejadi-jadinya, ia pulang dan mengadu ke orang tuanya. Ibunya tak terima dan mendatangi rumah Bima.


Ibu Bima tentu membela anaknya, ia menyalahkan Bulan karena terus mengejek anaknya. Namun tetap saja Ibu Bulan marah, bagaimana bisa seorang anak 12 tahun mengoleskan tai ayam pada anak umur 8 tahun.


Karena tak ada yang mau mengalah, pertengkaran pun sering terjadi akibat selalu mengungkit perbuatan dua anak tengil itu. Merasa malu, Ibu nya Bima memutuskan untuk pindah rumah, dan sejak saat itu mereka tak pernah bertemu lagi.


**


Melihat keadaan tegang ini, Arkana memutuskan untuk menengahi.


"Tidak bisakah kalian berdamai? Bukankah itu sudah berlalu. Dan Bu Pengacara, tidakkah anda tau bahwa Bima lah yang sekarang bekerja sama dengan Bulan untuk membuat film. Mereka saja sudah berdamai, kenapa kalian masih menyimpan dendam?"

__ADS_1


"Karena Aku tidak ingat." pukas Bulan sedikit sewot, jujur saja ia masih sangat dendam dengan kejadian itu. Tapi Arkana memberi kode lewat matanya agar ia tak membahas ini dulu.


"Benar Saras, lupakanlah kejadian itu. Mari kita berdamai atas nama anak-anak kita. Kau tau kan, anakku berperan besar dalam karir anakmu sebagai..."


"Sebagai apa..?" Bisik nya pada Arkana.


"Sebagai penulis." sahut Arkana berbisik pula.


"Sebagai penulis, Anak ku merupakan sutradara terkenal. Aku akan membujuk nya agar anak mu menjadi bagian dari Bumantara film sebagai permintaan maaf." sambungnya tersenyum lebar, senyum yang tentu palsu.


Mendengar itu Bulan bahkan langsung berhalusinasi bahwa ia benar-benar menjadi bagian dari Bumantara films.


"Permintaan maaf atau negosiasi?" sinis Saras.


"Kami akan memberi imbalan besar jika Ibu mau mengambil kasus ini." Ucap Arkana merayu.


"Pantas saja Aku merasa familiar melihat wajah anak itu." gumamnya saat mengingat Bima, tempo hari tepat di depan cafe ini.


Bulan terdiam, ia menyimpulkan rangkaian benang kusut hari ini. Jadi ibu berkaca mata hitam itu adalah ibu nya Bima, dan Bima adalah orang yang membuat tidurnya tak nyenyak selama 18 tahun ini?


"Apa kasus nya?" Ujar Saras menatap lurus, demi masa depan anak semata wayangnya, ia rela berdiri di barisan musuh bebuyutannya.


"Bu..?" Bulan hendak protes karena sang ibu goyah begitu saja, tapi bibirnya di bungkam dengan telapak tangan Saras.


Mereka pun duduk di kursi masing-masing. Bulan menunduk malu karena kini Arkana tau masalalu nya yang memalukan, sementara Arkana, ia hanya tersenyum karena teringat Bulan dulu pernah menceritakan kejadian tai ayam itu. Namun ia tak menyangka bahwa pelakunya adalah Bima.


Ternyata jauh sebelum ia dan Bulan menjalin hubungan, Bima sudah lebih dulu mempunyai ikatan dengan Bulan, walaupun sebatas musuh bebuyutan masa kecil.


Apa karena itu Bima memimpikan Bulan lewat alam bawah sadarnya? Bagaimana ini? Arkana merasa sedikit gusar saat menelisik ikatan secara tak langsung yang bertaut antara Bima dan Bulan.

__ADS_1


...**************...


__ADS_2