Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 32 : Acara Live


__ADS_3

Saras membalas perkataan Ayana dengan lirikan jengah. "Memang nya aku mau mempunyai besan sepertimu?"


"Benarkah mereka pernah berpacaran? Apa jangan-jangan sekarang mereka sedang berpacaran diam-diam di belakang kita?"


"Tidak mungkin. Bulan bahkan sangat dendam pada anak mu karena dicampakkan waktu itu. Aku tidak akan pernah setuju jika putriku punya hubungan lagi dengan anak mu. Dia membuat Bulan tak memiliki perasaan."


"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Ayana berpikir keras.


"Bagaimana apa nya? Sudah jelas aku menentang!" Kecam Saras membelalak.


"Maksudku persidangan, apa yang harus kita lakukan? Bukti penipuan saja tidak mungkin cukup untuk melengserkan penipu itu. Kita butuh bukti lain yang cukup kuat untuk membuatnya membusuk di penjara."


"Penipuan, percobaan pembunuhan, penculikan, serta menyuap Hakim dan Jaksa, ku rasa itu cukup untuk meruntuhkan kartel nya."


"Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang kita harus kerjasama, dan ingat. Jangan beritahu anak-anak kalau jumlahnya 6 juta dollar." Ayana menjabat tangan Saras, pertanda ikatan kerjasama mereka yang sesungguhnya. Kali ini mereka akan sungguh berperang melawan penipu itu.


"Enam juta? Bukan Enam ratus ribu?" Celetuk Bulan dari depan pintu, ia menutup mulutnya karena syok mendengar jumlah uang itu. Bila di rupiahkan itu kisaran 90 milliar. Pantas saja Ayana melakukan berbagai cara.


Ayana menepuk jidatnya karena Bulan mengetahui itu, ia harus membuat Bulan tutup mulut. Bisa hancur hidupnya bila Bima mengetahui itu.


"Kenapa kesini nak? Bukankah kau sibuk untuk persiapan acara besok?" Saras tak perduli dengan apa yang didengar Bulan barusan. Ia tau putrinya pandai menjaga rahasia.


"Aku ingin melihat ibu, sebab besok akan sangat sibuk jadi pasti aku tak bisa mengunjungi ibu."


Bulan memeluk hangat ibunya, ia bercengkrama sebentar sembari melepaskan rindu.


...~~...


Hari pun berlalu, semua orang di Bumantara Films sedang sibuk bersiap. Mereka sudah tiba di hotel, tinggal menunggu 30 menit untuk menemui para penggemar yang sudah menanti sejak pagi.


Saat semua orang tengah sibuk, Dania diam-diam menyelinap ke dalam ruangan kru. Ia membuka tas milik Bulan, lalu mencampurkan obat tidur kedalam botol air mineral.


"Semua orang harus tau, kau hanya sampah yang tak perlu muncul ke permukaan." Gumamnya tertawa picik.


Setelah itu ia keluar, saat baru menutup pintu ruangan kru, Bima melihatnya.


"Dania? Sedang apa kau di sana?" Bima tampak sudah rapi, mengenakan setelan jas berwarna hitam menambah kharismanya semakin terpancar.

__ADS_1


"Aku.., mencari seseorang. Ternyata dia tidak ada di sini." Sahutnya sedikit terbata, namun ia mampu menutupi rasa gugup itu dengan senyuman.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Dania seraya merapikan helaian rambutnya.


"Cantik, kau selalu cantik seperti biasanya. Belum ada aktris yang bisa menandingi kecantikanmu." Bima mengacungkan dua ibu jarinya.


Mendengar pujian itu, hati Dania berbunga-bunga. "Kau juga terlihat tampan hari ini."


"Ayo, kira pergi bersama.." Dania menggandeng lengan Bima lalu mereka berjalan menuju panggung bersama. Ya, mereka memang cukup akrab, tak heran jika Dania berharap lebih mengenai perasaan.


"Kabar ibumu baik?" Tanya Dania, sudah lama ia tak main ke rumah Bima. Karena akhir-akhir ini sangat sibuk.


"Baik, kemarin dia juga menanyakan kabarmu. Mampirlah jika kau senggang, dia sangat butuh seseorang yang bisa di ajak bergosip hahaha..."


"Benarkah? Kau tau, setiap kami bersama kami tak pernah kehabisan topik. Kurasa kami memiliki banyak kesamaan."


Saat melihat Bulan menuju kesana, Bima melepaskan lengannya dari genggaman Dania. "Sebaiknya kau masuk bersama Farrel."


"Hah..?" Dania tertegun, ia pikir kali ini tak ada batasan. Ia ingin lebih dekat dengan Bima.


"Penonton perlu melihat chimestry kalian, sebaiknya kalian naik ke panggung bersama."


Bulan berlari melewati Bima begitu saja, ia terburu-buru karena belum memakai riasan. Sementara yang lain sudah bersiap.


"Kenapa kau belum siap? Acara dimulai lima menit lagi." Ketus Bima, ia tak bisa membayangkan seberapa cepat mahkluk lemot seperti Bulan bisa bersiap.


"Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul 3 menit lagi." Bulan menutup keras pintu ruangan itu. Ia segera bersiap, memakai riasan tipis dan menata kembali rambutnya agar terlihat segar.


Tak sampai dua menit ia bersiap, namun karena merasa ngos-ngosan, ia pun meminum air mineral yang ada di tasnya.


Setelah itu ia segera berlari menyusul yang lainnya. Pak Tara, Bima, Arkana, Dania, serta Farrel sudah standby di belakang panggung. Menunggu pembawa acara memanggil mereka.


Beruntung Bulan tiba tepat waktu. Ia berdiri di sebelah Pak Tara sambil mengatur nafasnya.


"Kau cantik memakai gaun itu." Puji Pak Tara. Gaun berwarna hitam dengan aksen rumbai di lengan itu memang membuat penampilan Bulan sedikit menonjol.


Bulan spontan menoleh, menatap Pak Tara dengan sinis. Tak mungkin pria tua itu memiliki otak miring seperti Raul kan?

__ADS_1


"Kalau di puji bilang terimakasih..." Bisik Bima sembari menarik tali pita di belakang pinggang Bulan. Ia usil sekali, sampai Bulan terkejut.


"Aku tak butuh pujian untuk penampilan." Sahutnya berbisik, ia menepis tangan Bima agar berhenti usil.


"Arka, lihat, bukankah dia sangat mirip dengan Bintang jika berdandan seperti ini?" Bima berpindah berbisik pada Arkana.


"Memangnya aku pernah melihat wajah kekasih halu mu itu?" Jengah Arkana, Bima benar-benar tak bisa melupakan gadis khayalan itu.


Tibalah saat pembawa acara memanggil mereka. Dengan langkah percaya diri, mereka memasuki arena panggung.


Terkecuali Bulan, yang berjalan menunduk karena tak percaya diri. Belum lagi kilatan kamera yang tak henti-hentinya berpijar silau. Bulan benar-benar gugup saat ini.


Mereka duduk di kursi masing-masing. Ada banyak microphone di atas meja, berlabelkan beberapa media besar.


Satu persatu mereka memperkenalkan diri. Sorakan bergemuruh saat Dania menyapa, banyak dari mereka yang membawa poster dengan wajah Dania dan Farrel.


Saat Pak Tara, Bima dan Arkana menyapa pun semua bersorak riang. Tak ada yang tak mengidolakan sosok sutradara muda nan tampan itu. Mereka semua bersorak tak henti, memperlihatkan seberapa tinggi popularitas sang idola.


Tiba lah giliran Bulan, ia berdiri dan menyapa semua penggemar. "Perkenalkan, nama saya Rembulan. Penulis novel Pangeran ilusi..."


Seketika suasana hening, kilatan kamera pun meredup. Tak semeriah sebelumnya. Hanya ada beberapa orang yang bertepuk tangan. Padahal Bulan berharap ada sedikit saja pembacanya yang datang, memberinya tepuk tangan. Namun ia sadar, pembacanya hanyalah segelintir, itupun dari berbagai pulau. Jadi wajar jika tak banyak yang mengenal nya di sana.


"Apa saja karya anda yang sudah difilmkan?" Tanya salah satu wartawan.


Bulan mengecap halus bibirnya, tak bisa di pungkiri pertanyaan itu menurunkan kepercayaan dirinya.


"Belum ada." Sahutnya tersenyum.


Wartawan itu memindahkan kameranya kepada Pak Tara. "Untuk membuat film sekelas kriteria Bumantara, bukankah sebaiknya mengambil penulis yang berpengalaman?"


Pak Tara tersenyum lebar. "Bunda awan, Kolom angin, Asma nadira, Pelangi, Mommy sky dan lain-lain. Mereka adalah penulis yang saya ambil dari berbagai media tak terkenal. Karya mereka semua berhasil menembus pasar perfilman, bahkan beberapa diantaranya ada yang menembus box office. Saat mereka debut, pertanyaan yang sama juga terulang. Pengalaman memanglah hal yang penting, namun jika bukan kita yang memberikan pengalaman itu sendiri, maka bisa saja kita kehilangan kesempatan emas."


HOOOOAAAMMMM......


Bulan menguap lebar sesaat setelah Pak Tara menyelesaikan kalimatnya. Suaranya terdengar jelas melalui microphone. Ia sampai terbelalak karena tak bisa mengendalikan itu.


Para reporter dan wartawan yang tengah meliput pun merekam kejadian tersebut secara langsung.

__ADS_1


...%%%%%%%%%%...


__ADS_2