Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 40 : Berkorban


__ADS_3

Darren merebut berkas yang ditunjukkan Saras.


plaasss...!


"AAAGH!" Teriak Saras kesakitan, peluru menembus paha nya. Ia terhuyung ke lantai sembari memegangi kucuran darah yang terus mengalir.


"Ibu..!" Teriak Bulan ketakutan.


Darren mengarahkan pistolnya satu persatu kearah mereka semua. "Karena kalian sudah mengacau, aku akan memberikan sedikit pelajaran."


Bima sudah hendak memberi kode kepada polisi, untuk memasuki ruangan. Namun ia terhenti saat melihat ibunya diseret keluar kamar.


Ayana ternyata sudah lebih dulu disekap, tangan dan mulutnya diikat oleh lakban hitam.


"Suruh Polisi meninggalkan tempat ini, atau wanita tua ini ku habisi." Darren tersenyum dingin, ia tau siapa saja yang datang kesana.


"Kenapa kau berbuat seperti ini? Kembalikan saja uang para korban mu. Kau pikir kau bisa melarikan diri lagi..?!" Tukas Saras geram.


Perkataan itu membuat Darren tersenyum picik. "Seharusnya ku tembak saja kepalamu."


"Cepat suruh Polisi meninggalkan tempat ini..!" Pekiknya kepada Bima.


Langsung saja Bima memberi kode melalui tepuk tangan dua kali. Pertanda kondisi tak bisa ditaklukkan.


12 Orang Polisi dan Jendral pun meninggalkan tempat itu dengan segera. Mereka tak ingin ada korban jiwa, sisanya akan mereka pikirkan nanti.


Merasa sudah mendapatkan apa yang dia mau. Darren memasukkan pistolnya ke dalam saku, ia hendak meninggalkan tempat itu.


"Ku beri tau apa hadiah kalian." Darren menekan tombol remote, dan penghitung waktu di rompi Bulan langsung hidup menghitung mundur.


Bulan memejamkan matanya pasrah, ia menitikkan air mata sembari berdoa.


"Waktu kalian cukup banyak, 20 menit. Seperti yang sudah kukatakan, Bom itu tidak terlalu ganas. Tapi itu permanen, jika kalian mencoba menghentikannya... BAAAMMM!! Dia akan meledak. Maka lari lah sejauh mungkin, sebelum tubuh kalian meledak."


Darren melemparkan remote tersebut kelantai. Ia tertawa puas meninggalkan tempat itu. Di iringi dua anak buahnya, Darren menuju lobi untuk meninggalkan tempat tersebut.


Ayana berlari kearah Bima, di bantu dengan Arkana ia melepaskan lakban yang mengikat tangan dan mulutnya.


"Bagaimana ini?" Tangisnya terisak, ia tak mau Bulan yang tak bersalah menjadi korban.


"Ayah, cepat bawa ibu kerumah sakit." Pinta Bulan menangis sesenggukan.


"Tidak bisa kah kita lepaskan rompi itu?" Arkana menelpon Jendral, agar masuk dan membantu mereka. Tak ada yang perduli dengan penampilannya, yang hanya mengenakan kaos buntung, serta celana piyama. Ia bahkan tak mencuci wajah sebelum kesana.


Waktu mereka tinggal 15 menit.


Arkana mendekati Bulan, dan menenangkannya. "Tenanglah Bulan, kita pasti bisa mengatasi ini.." Ia juga bingung, sebab tali yang mengikat tubuh Bulan juga dililitkan dengan kabel Bom. Jika salah langkah, maka nyawa melayang.


Tak lama Jenderal dan semua polisi masuk kesana. Ia mendekati Bulan sembari meneliti jenis Bom apa itu.


"Kita bisa melepas rompinya, tapi..." Ucapan sang Jenderal terhenti.


"Tapi apa Pak?" Potong Bima penasaran.


"Ayo cepat lepaskan kalau begitu." Ucap Arkana tergesa.


"Ini Bom yang di rakit menggunakan dinamit." Ujar Jenderal berbadan tegap itu.

__ADS_1


"Mafia itu bilang ledakannya takkan besar. Kita bisa meninggalkannya disini. Aku juga sudah memanggil pemadam." Arkana bersikeras, waktu mereka tidak banyak.


"Ledakan tidak akan besar, apabila ada peredam. Jika kita membiarkan rompi ini meledak kosong, ledakan akan menghancurkan gedung ini serta penghuni lainnya. Dengan waktu 10 menit, kita tak bisa mengevakuasi semua penghuni."


"Maksud anda, ledakan tidak akan besar jika tubuhku ikut meledak di rompi ini?" Tanya Bulan ragu.


Jenderal mengangguk pelan, kini ia berhasil melepaskan rompi itu. "Mungkin kita semua yang ada disini juga akan hancur."


Semua orang terdiam, tak mungkin mereka melemparkan rompi itu keluar. Sebab banyak banyak bangunan dan rumah disekitar Apartemen itu.


"Jika ada yang meredam, seberapa kuat ledakannya?" Tanya Raul.


"Jika pintu ruangan ini di tutup, maka radiusnya tak terlalu besar." Jawab Jenderal itu.


"Kalian semua, cepatlah keluar dari sini. Bulan, bantu ibu mu." Raul mendekati Jenderal, mengambil rompi itu.


"Biar aku yang meredam, selamatkan diri kalian." Ucapnya yakin, ia menatap dalam kearah Bulan. Ia tak akan membiarkan orang yang disayangi terluka lagi.


"Raul...?!" Saras tak terima, ia tak mau Raul mengorbankan dirinya.


"Ayah..." Lirih Bulan menitikkan air mata. Walaupun sosok Raul sangat buruk baginya, namun kasih sayang yang diberikan Raul sejak ia masih kecil begitu melekat. Bagaimana Raul sangat menyayanginya, walaupun ia bukan anak kandung Raul.


"Pergilah cepat..!" Tukas Raul.


"Lebih baik kita semua pergi dari sini." Ujar sang Jenderal, ia menyuruh Raul agar melarikan diri juga.


"Tak ada waktu, pergilah Jenderal. Aku yang bertanggung jawab disini, karena ini menyangkut nyawa keluargaku!"


"Raul, tidak! Jangan lakukan itu..! Kita harus keluar dari sini bersama-sama." Pinta Saras, ia memang kesakitan akibat tembakan. Namun ia tak sanggup jika harus meninggalkan Raul disana.


"Tidak.. Ayah.." Tangis Bulan meraung, memang ia sangat menginginkan Raul pergi dari hidupnya. Tapi bukan dengan cara tragis seperti ini.


"Cepatlah..!" Sergah Raul. Ia memeluk erat rompi yang ditempeli Bom tersebut.


"Ayo Tante, tidak ada waktu." Bima juga menyeret Saras dari sana. Jika Bom itu tidak diredam, maka sebelum mereka kular dari gedung itu mereka akan lebih dulu menjadi abu.


Dengan berat hati, Jenderal pun melepaskan tanggung jawab itu. Ia berlari lebih dulu keluar ruangan untuk mengevakuasi penghuni, yang kamarnya dekat dengan ruangan itu.


"AYAAAH....!" Teriak Bulan tak tega. Ini kali terakhir ia melihat wajah pria itu, sebelum Bima menutup pintu ruangan tersebut.


Bulan kehilangan semua tenaganya, ia hanya bisa pasrah seraya menangis sesenggukan saat tubuhnya di angkat oleh Arkana.


Mereka semua berlari meninggalkan lantai tersebut.


"Lewat tangga! Listrik akan mati saat Bom itu meledak...!" Teriak Jenderal mengarahkan beberapa penghuni dari lantai itu.


Di dalam ruangan, Raul duduk meringkuk memeluk Bom. Ia memastikan meredam ledakan sebisa mungkin, agar Bulan bisa keluar dari sana dengan selamat.


Hitungan mundur terisisa tiga detik...


1.....


2....


3....


DUUAAARRR.......!!!

__ADS_1


Ledakan dahsyat menyembur kuat. Bersamaan dengan tubuh Raul yang musnah dilahap api. Seketika ruangan tersebut dipenuhi kobaran api. Listrik padam, beberapa alat yang masih terhubung dengan elektronik meledak menambah amukan api semakin dahsyat. Semburan api mendobrak pintu yang tak terkunci itu. Gumpalan api berwarna merah seperti lidah menjulur dari ruangan tersebut.


Bulan melihatnya, ia menyaksikan kobaran api mengamuk. Seiring Arkana turun membawa tubuhnya, pandangan itu hilang.


"Maafkan aku ayah.." Lirihnya pelan, tak bisa ia bayangkan betapa hebat rasa sakit yang diperoleh Raul dari ledakan itu.


Ia membenamkan wajahnya pada bahu Arkana. Kedua tangannya meremas kuat tengkuk pria itu. Perlahan hembusan nafasnya melemah.


"Kau baik-baik saja...?" Bisik Bulan kepada Arkana. Ia mendapati lebam dibagian pelipis Arkana. Mungkin itu didapat saat Arkana berkelahi di lorong.


Bulan bisa merasakan, helaan nafas Arkana yang tersengal. Pria itu berlari sangat cepat menuruni anak tangga. Merangkul dirinya dengan sangat erat.


"Kita semua tidak baik-baik saja..." Sahut Arkana dengan nafas berat. Ia menyaksikan betapa kacau hari ini, akibat uang Enam Juta Dollar.


Ayana kehilangan uangnya, Saras tertembak, Bulan hampir mati, dan Raul sekarang telah menjadi serpihan abu. Siapa yang sedang baik-baik saja sekarang?


Ayana menangis sesenggukan, sembari memapah tubuh Saras. Kini ia telah menghancurkan keluarga orang lain. Ia bahkan kehilangan uang nya.


"Penipu bajing4n itu menghancurkan hidupku..!" Rutuknya tersedu-sedu.


...~~...


Darren dan anak buahnya sampai di kediaman mereka. Rumah mewah itu tampak berdiri gagah, seolah menyambut kemenangan Darren.


"Sepertinya mereka semua sudah jadi abu sekarang hahahaha...." Ia tertawa puas, untuk yang kesekian kalinya ia berhasil menyingkirkan hama.


Kini ia bisa hidup tenang, ia akan tetap melanjutkan misinya. Membangun sendiri kartel dan singgasana, dari tumpukan uang yang ia dapatkan dari hasil merampas.


"Pindahkan uang kita ke bank luar Negeri. Setelah itu..."


tit...tit...tit..tit...


Suara nyaring itu memotong ucapan Darren.


"Apa itu?" Darren menoleh, memandangi sekitar. Ia menyuruh anak buahnya mencari sumber suara.


Di atas piano, mereka menemukan sebuah Bom rakitan yang besarnya 10 kali lipat, dari besar Bom di rompi tadi.


"Keluar..!" Pekik anak buah Darren.


Mereka semua berlari tunggang langgang meninggalkan ruangan itu. Namun baru beberapa detik.


DDDUUUAAAARRRRR.....!!!


Ledakan maha dahsyat meluluh lantakkan rumah mewah itu. Kekuatannya 100 kali lebih ganas dari yang terjadi di apartemen. Tak ada yang tersisa, rumah serta seisi orang yang ada di sana habis terlahap oleh kobaran api.


200 meter dari rumah itu, Pak Tara tersenyum puas. Ia seperti tengah menyaksikan pertunjukan kembang api raksasa.


"Terimakasih atas kerjasamanya." Ia menjabat tangan seseorang, yang merupakan sahabat karibnya.


"Anggap saja ini sebagai balas budiku." Pria berambut putih itu menerima jabat tangan Tara, dengan senang hati. Ia merupakan pensiunan Tentara. Merakit Bom sudah seperti seni baginya.


Tara sekali lagi tersenyum puas. Ini balasan untuk orang yang berani menganggu putri nya, yakni Bulan. Ya, ialah mantan kekasih Saras, sekaligus Ayah biologis Bulan.


Selama ini ia memantau keluarga Saras. Ia sengaja merekrut Bulan di perusahaannya, agar bisa lebih dekat. Yang ia tau Saras, Bulan, dan Raul hidup bahagia. Itulah mengapa ia tak mau mengungkapkan identitasnya, karena tak ingin mengusik kebahagiaan keluarga itu.


...%%%%%%%%%%%...

__ADS_1


__ADS_2