Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 17 : Makan malam


__ADS_3

Pukul 17:30...


Bulan dan Bima baru keluar dari gedung Asiatoon. Bulan memohon agar proses penghapusan karya nya yang di plagiat disegerakan. Agar tak menganggu proses peluncuran poster mentah yang akan di rilis 2 hari lagi.


Direktur menyetujui, asal Bulan bersedia menandatangani surat pernyataan bahwa memang benar karya yang terkontrak itu bukan ulahnya, dan itu memang plagiat. Karena pihak platfrom curiga Bulan bermain dengan naskah itu agar mendapatkan keuntungan lebih. Beruntung Bima membantu menjelaskan, hingga sang Direktur segera meninjau.


Saat Bima berjalan menuju mobil, Bulan yang beberapa langkah di belakangnya berjongkok sebentar. Kakinya benar-benar terasa lemas membayangkan apa yang telah terjadi dengan naskahnya.


"Kau baik-baik saja?" Bima langsung berbalik saat menyadari langkah kaki Bulan senyap.


"Baik..." sahut Bulan mengangguk, ia memegangi dada sembari terpejam.


"Cepatlah, masih ada yang harus kita kerjakan di kantor." ketus Bima melanjutkan langkahnya.


Mau tak mau Bulan berdiri, padahal ia baru melepaskan setengah rasa gelisah nya. "ch,, Bagaimana bisa dia berubah seperti ini? Padahal dulu dia lemah lembut. Apa jangan-jangan dulu dia bersikap palsu di medsos?" gumam nya sembari menatap kesal kearah punggung Bima.


...************...


Hari ini merupakan ulang tahun pernikahan orang tuanya Bulan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan pulang ke rumah untuk mencicipi hidangan sang ibu.


"Dalam setahun kau hanya menginjakkan kaki di rumah ini dua kali. Apa perlu ibu buat upacara setiap hari agar kau lebih sering pulang?"


Saras mengoceh pada putrinya sembari menyiapkan beberapa hidangan spesial. Ada kue tart, ada manisan buah, ada pula buket coklat yang di pesan oleh Ayah nya Bulan, Raul.


"Makanlah, manisan ini Ayah pesankan di toko kue langganan mu. Kau pasti suka." ujar Raul memberikan sepotong manisan dengan garpu kecil, ia hendak menyuapkan itu pada putrinya.


Namun Bulan enggan, dengan wajah jengah ia mengambil garpu sendiri dan mencicipi potongan manisan. Hal itu membuat senyum Raul sedikit masam. Entah sampai kapan ia dan Bulan akan berjarak seperti ini.


"Bagaimana kasus penipuan itu bu? Apa sudah ketemu orang nya?"


Bulan sengaja mengalihkan suasana di antara ia dan ayah nya. Ia sungguh tidak nyaman berada di dekat sang ayah.


"Dari yang ibu dengar, pemimpin nya seperti mafia. Tapi entah dia mafia atau dewa sekalipun, penipu tetap penipu. Dia harus menerima ganjarannya."


"Kenapa di dunia ini banyak sekali orang bejat." Keluh Bulan sembari menghela nafas, ia mempertegas kalimat itu seolah sengaja di tujukan kepada Ayah nya.


"Jaga bicara mu, tidak boleh berkata kasar di depan makanan." tegur Saras, melihat jarak di antara suami dan anaknya memang bukan hal baru. Ia sudah lelah menasehati Bulan dengan berbagai cara, tetap saja Bulan tak mau membuka diri pada Ayah nya.

__ADS_1


Saras teringat dengan Bima, melihat raut wajah Bulan yang sangat emosi kemarin membuatnya curiga.


"Ngomong-ngomong kau tidak membunuh anak itu kan?"


"Manusia koreng itu?" Bulan memastikan.


"Aku memberinya t4i ayam kemarin." Sambungnya, dengan santai ia mengunyah makanan padahal sedang membicarakan kotoran.


"Dasar gila..! Kenapa kau melakukan itu hah?" Saras tak menyangka putri semata wayangnya itu belum bisa bersikap waras.


Mereka sedang bekerja sama, dengan kata lain Bulan menggantungkan 20 persen nasibnya kepada Bima, lalu kenapa sikapnya seperti orang bosan hidup.


"Bu, 18 tahun aku terbayang-bayang bau tai ayam karena ulah nya. Ibu pikir aku bisa diam saja hah?"


"Tapi tetap saja, seharusnya kau menahan diri. Lain kali jangan bertindak bodoh seperti itu. Sekarang dia seorang pria dewasa, bukan lagi anak korengan yang bisa di bully sesukamu. Jadi kau harus lebih jaga sikap."


"Aku belum cerita ya, entah dunia ini seberapa sempit. Dia yang memberiku bunga anyelir putih 9 tahun lalu, dan menghilang. Ibu pasti paham seberapa besar dendam ku."


"WHAT!!? Jadi kamu tidak tau kalau yang kamu temui itu...."


"Makor, kalau aku tau itu dia, udah ku kubur dia hidup hidup waktu itu!"


"Anak lelaki yang dulu membuatmu menangis karena t4i ayam?" Ia berusaha masuk ke dalam obrolan itu, namun ekpresi Bulan menjadi berubah. Ia terlihat kesal.


"Bu, aku ingin menuntut orang itu."


"Ayah mu bertanya, jawab lah. Kalian tidak pernah mengobrol seperti orang asing saja."


"Iya..." Bulan menyahuti pertanyaan Ayahnya, lalu kembali menatap wajah Saras.


"Ibu bisa kan membantu ku menuntut orang itu?"


"Siapa? Bima? Yang kau lakukan bahkan lebih parah." Saras menganggap dangkal ucapan putrinya barusan.


"Bukan, orang yang memplagiat novel ku. Dia merugikan ku, kalau saja aku dan Bima tidak menemui Direktur Asiatoon, maka rencana kami untuk membuat film bisa berantakan. Dia benar-benar menyebalkan."


"Tentu saja, ibu akan mencari tau siapa orang yang berani mengusik putri ibu." Saras menjanjikan itu, walau ia tak sepenuhnya bisa menjadi ibu yang baik, tapi ia akan berusaha memberikan yang terbaik.

__ADS_1


"Apa yang akan ibu berikan kalau orang itu ketemu?"


"ssss, ibu rasa akan memotong jari-jari nya, karena dia sudah berani menjiplak karya mu. Kau jangan ragu mengatakan bila ada orang yang mengusik mu, ibu siap menuliskan gugatan untuk mereka."


"wahh, ibu benar-benar pahlawan, bagaimana jika ada yang melecehkan ku?"


Senyuman Saras memudar, begitu pula dengan Raul. Mereka memandangi wajah Bulan dengan banyak tanda tanya.


"Siapa yang melakukan itu? Apa kau di lecehkan oleh orang-orang kantor mu? Siapa orang nya? Bima? atau pemuda bermata coklat itu?" Ia menyebutkan Arkana, karena ia tak tau nama nya jadi ia hanya menyebut ciri khas Arkana yang memang lekat dengan mata coklat terang nya.


Bulan tertawa kecil, "Seandainya bu, Ibu tau kan aku memiliki pesona yang luar biasa. Aku hanya berjaga-jaga, dan tampaknya aku bisa tenang karena ibu bisa memotong kan jari mereka untukku hahahah..."


"Bukan hanya jari-jari, ibu akan memotong alat kelamin mereka. Tapi sepertinya ibu tidak perlu melakukan itu karena para pria pasti akan takut melihat wujud mu ini. hahahah ya kan Sayang..?" Ledek Saras sambil tertawa renyah, ia mencolek tangan Raul agar ikut tertawa, suasana memang selalu mencekam bila Raul dan Bulan bertemu.


"Kau ini, kenapa menghina anak kita, dia cantik dan menawan, tak salah jika dia berpikiran seperti itu." Sahut Raul membela, karena ia lihat bibir Bulan manyun di tertawa kan Saras.


"Benar, jika rajin mandi pasti dia akan cantik seperti ku hahahhahah..."


Bulan bertambah manyun mendengar itu. Ya, dulu ia merupakan gadis yang sangat cantik, penampilannya selalu rapi dan wangi. Namun sekarang ia tak perduli dengan itu. Semakin pria memandangnya sebelah mata, maka akan semakin baik.


"Sebentar bu.." Bulan meninggalkan meja makan karena ponselnya berdering.


"Siapa..?" Bisik nya pada benda pipih itu, ia tak mau merusak suasana anniversary orang tua nya. Nomor si pelepon tidak ada dalam daftar kontak, membuatnya khawatir. Karena ia tak pernah membagikan nomor ke sembarang orang.


πŸ“ž "Aku di depan Cafe, Pak Tara memintaku menandatangani pembelian judul, kau bisa menemui ku kan?" tanya Arkana.


Bulan langsung tau itu suara Arkana, sejenak ia penasaran Arkana mendapatkan nomornya dari mana. Tapi pikirannya langsung teralih saat Arkana menyebutkan kasus plagiat tersebut.


Karena tak mau kasus plagiat ini terulang lagi, Pak Tara memutuskan membeli judul Pangeran ilusi, dengan begitu ia bisa melindungi karya milik Bulan. Dan ia segera ingin mendapatkan tanda tangan Bulan agar tak ada lagi kasus serupa yang bisa menghambat proses syuting nantinya.


"Aku di rumah ibu ku. Tidak bisa besok?" Tawar nya, tak mungkin pula ia pulang ke Cafe sekarang, karena acara makan malam belum selesai. Ini hari spesial ibu nya, ia tak mau ketinggalan momen yang hanya bisa di rasakan satu tahun sekali ini.


πŸ“ž "Kau di rumah ibu mu?" Arkana meremas setirnya. Raut wajahnya tampak gusar.


πŸ“ž "Aku akan ke sana," Arkana lantas menutup teleponnya, lalu melaju menuju rumah Saras.


"Apa..? hallo, hallo..?" Panggil Bulan, namun telepon terputus.

__ADS_1


"Memang nya dia tau alamat nya?" gumam nya lalu kembali ke meja makan.


...%%%%%%%%%%...


__ADS_2