Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 27 : Terancam


__ADS_3

Beberapa Jam Sebelumnya....


Saat yang lain tengah bersiap menuju ke mobil, Bulan kembali ke kamar Villa untuk mengecek apakah ada barang nya yang tertinggal. Karena ia sangat pelupa, ia juga mengecek kamar mandi untuk memeriksa barang bawaannya tidak ada lagi di sana. Bulan adalah tipe orang yang tak bisa meninggalkan barang, walau hanya sebatang sabun bekas, ia akan terus kepikiran.


Setelah di rasa tidak ada yang tertinggal, Bulan keluar dari Villa menuju mobilnya. Para tim yang lain juga sedang sibuk memeriksa barang bawaan di bagasi mereka.


Tiba-tiba seseorang membungkam mulutnya dengan saputangan, dan ia pun pingsan saat belum sempat berteriak. Orang itu cepat menyeret Bulan ke arah belakang Villa, dimana terdapat mobil mereka di sana. Para tim Bumantara tak ada yang menyadari kejadian itu karena mereka sibuk masing-masing.


-


"Apa kalian tidak ada yang melihat Bulan?" Tanya Arkana mulai panik.


"Tidak, kami tak begitu memperhatikan nya." Sahut salah satu tim.


"Kalian kembali lah dulu, kami akan memeriksa ke Villa itu." Ucap Bima tergesa. Ia panik karena berpikir Bulan tertinggal di sana.


"ck, gadis bodoh itu benar-benar merepotkan." Decak Dania tak senang, dari berangkat hingga pulang, Bulan benar-benar mengacaukan semuanya.


Arkana berulang kali menelpon nomor Bulan, namun ponselnya tidak aktif. "Perasaan ku tidak enak..."


"Tenang lah, dia hanya tertinggal." Ucap Bima.


"Bukankah seharusnya dia sibuk menelpon kita jika ketinggalan?"


Bima terdiam menatap sahabatnya itu, benar juga. Jika seseorang tertinggal rombongan seharusnya sudah sibuk menelpon.


"Mungkin ponselnya kehabisan baterai." Timpal Bima, dirinya sendiri bahkan tidak yakin begitu.


"Kau benar-benar punya nomornya? Kenapa dia tidak memberikan padaku waktu itu?" Bima teringat seberapa pelit Bulan setiap kali ia meminta nomor telepon.


"Ini nomor lama nya, aku juga tidak menyangka dia masih pakai nomor ini. Dia bahkan belum menyadari aku dapat nomor ini dari mana. aiss..! dia benar-benar berotak lemah.."


"Benarkah? Kau hapal nomornya selama ini? wahh kau benar-benar idiot. Gadis itu juga sama idiot nya seperti mu."


...~~...


Bulan membuka matanya di sebuah ruangan remang bernuansa merah. Ia tergeletak di lantai, dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Ia berpikir ini hanyalah mimpi.


Namun saat kesadarannya kembali seutuhnya, ia terkejut dan mengamati sekitar.


"Dimana ini?" Ia panik, berusaha melepaskan ikatan di tangannya.


"Apa aku di culik?" Ucapnya monolog, tapi untuk apa orang menculiknya?

__ADS_1


"Bima....! Arka..! Dimana kalian..?" Teriaknya dengan suara setengah serak.


"Berhenti main-main..! Ini sama sekali tidak lucu. Bima...!"


Apa ini perbuatan Bima? Dia sengaja mengerjai Bulan untuk membalas dendam perkara tai ayam?


Bulan masih tak mengingat jelas bagaimana ia bisa sampai di tempat itu. Bukankah seharusnya ia ada di mobil sekarang?


Masuklah dua orang berbadan kekar ke ruangan itu. Mereka menyeret Bulan keluar dari sana secara paksa.


"Siapa kalian? Apa Bima yang menyuruh kalian melakukan ini hah? Ini tidak lucu, berhentilah main-main..!" Pekiknya memberontak.


"Kita tidak sedang main-main, gadis manis.." Lirih seseorang dengan suara berat. Orang itu tak lain adalah Darren Laebo, Bos dari organisasi Scorpio.


Bulan memperjelas penglihatannya, ia mengamati wajah pria berusia 40 tahunan itu dengan seksama. Ia yakin tak mengenal pria itu. Lalu apa tujuannya?


"Anda siapa?" Tanya Bulan, ia merinding melihat tatto menjalar garang di lengan pria itu.


Darren mengaktifkan ponsel Bulan, lalu ia menyuruh anak buahnya untuk melepaskan tali yang mengingat tangan Bulan.


"Telepon ibu mu, dan suruh dia mencabut gugatan investasi itu." Ucap Darren dengan tatapan tajam.


Kekhawatiran Bulan mulai jelas, ia mulai yakin ini bukan main-main. Ia di culik sungguhan, dan ia mengerti siapa pria itu, dan apa tujuannya melakukan ini.


"Telepon ibu mu..!" Bentak Darren membuat Bulan tersentak kaget.


Dengan kedua tangan bergetar, Bulan mengambil ponselnya. Namun bukannya menelpon sang ibu, Bulan malah menelpon nomor darurat. Karena ia tak ingin ibunya yang sedang sakit semakin cemas. Ia berpikir untuk menyelamatkan diri dari sini terlebih dahulu.


Tapi sayang niat itu di ketahui oleh Darren, ia mengambil ponsel Bulan secara paksa. Saat mengetahui Bulan menelpon nomor darurat, emosinya menggila.


PLAKK...!


Darren memukul wajah Bulan, hingga ia tersungkur di lantai.


Bulan pun merintih kesakitan sambil menangis. Darah keluar dari hidungnya karena pukulan Darren barusan sangat kuat.


"Ternyata kau sama seperti ibu mu. Kau mau bermain-main dengan ku?" Kecam nya sembari meremas dagu Bulan. Kemudian ia melemparkan wajah Bulan hingga gadis itu kembali tersungkur.


"Cepat telepon ibu mu..!"


"b..baik.." lirih Bulan menangis ketakutan. Ternyata ia sungguh berhadapan dengan pria berdarah dingin.


"Ibu..." panggilnya seraya menangis, saat telepon tersambung.

__ADS_1


πŸ“ž "Bulan? Ada apa nak? Kenapa kau menangis..?"


Ponsel langsung di rebut oleh Darren, lalu ia menjambak rambut Bulan hingga gadis itu berteriak kesakitan.


"aaahhhwww.. tolong lepaskan aku.. tolong.." rintih nya kesakitan.


πŸ“ž "Bulan? Ada apa? Kau kenapa?" Saras panik mendengar tangisan putri semata wayangnya itu.


"Bagaimana keadaanmu, Bu pengacara?" Suara berat Darren membuat Saras terdiam.


πŸ“ž "Siapa kau?! Kenapa kau menyakiti anak ku?"


"Aku..? Aku orang yang paling kau cari. Jika kau mau anak mu selamat, cabut gugatan penipuan itu. Jika kau tidak bertindak sampai besok pagi, maka aku bisa melakukan hal yang lebih parah kepada putrimu." Darren tersenyum picik, dunia memang sangat mudah di tangannya.


πŸ“ž "Apa maksudmu?" Saras masih belum mengerti, ada apa sebenarnya.


"Scorpio grup. Kirimkan bukti pembatalan gugatan sebelum jam 9 pagi besok. Kau seharusnya bersyukur masih ku beri kesempatan hidup. Setelah masalah ini selesai, jangan lagi mengusikku. Atau aku akan membuat keluarga mu hanya tinggal nama."


Saras tercengang mendengar nya, kecelakaan yang menimpa dirinya ternyata di sebabkan oleh penipu itu? Seberapa besar kehancuran yang bisa ia sebabkan sampai penipu itu berbuat gila sejauh ini.


πŸ“ž "Jangan sentuh putriku! Aku akan mengirimkan buktinya sebelum jam 9 besok!" Saras langsung menutup telponnya, lalu menghubungi rekan kerjanya di firma. Ia meminta agar gugatan tersebut di batalkan.


Darren tersenyum puas, takkan ada yang bisa mengalahkannya. Ia sudah sangat andal menjalankan berbagai bisnis gelap. Jadi menyingkirkan hama kecil seperti mereka adalah hal yang mudah.


"Untuk malam ini, kembali lah ke kamar mu manis..." Darren membuka ikatan di kaki Bulan, kemudian menyentuh kulit kaki mulus itu secara perlahan.


Bulan tak bisa berkata-kata, ia sangat ketakutan. Bahkan rasa untuk menendang pria iblis itu pun ia tak punya. Melihat pistol berjajar di atas meja membuatnya mengurungkan niat untuk memberontak.


-


-


πŸ“ž "Apa..? Gugatannya di batalkan?" Ucap Ayana terkejut saat mendapat kabar itu dari Saras.


"Putriku dalam bahaya, dia menyekapnya!" Saras sangat panik, bagaimana jika ia tak mendapatkan persetujuan pembatalan sampai besok pagi? Apa yang akan terjadi dengan Bulan? Ia sungguh tak bisa membayangkannya.


πŸ“ž "Tapi Saras, sebenarnya jumlah uang yang tertipu lebih banyak dari itu. Aku bohong di depan anak-anak, aku tak bisa melepaskan gugatan itu begitu saja Saras..."


"Penipu itu yang membuat ku kecelakaan dan hampir mati. Kau pikir dia tak main-main dengan ucapannya? Dia gangster besar! Lepaskan saja uang itu, kalau kau mau keluarga mu aman. Kalau tidak cari pengacara lain. Aku akan mundur dari kasus ini."


πŸ“ž "Tapi Saras.. Jumlahnya Enam juta dollar, bukan enam ratus ribu.. Saras..! Saras..!" Ayana berteriak, namun sambungan telepon terputus.


Tentu saja bagi Saras anak nya lebih penting ketimbang apapun. Sekarang Raul sedang mencari cara bagaimana agar Bulan tetap bisa selamat kalau-kalau pembatalan gugatan tak bisa di setujui besok pagi.

__ADS_1


...%%%%%%%%%%%%%...


__ADS_2