
Beberapa jam sebelumnya...
Tara menelpon Bima, ia hendak menyuruh Bima menggantikannya meeting dengan Direktur PT Mayora. Direktur tersebut ingin dibuatkan iklan. Namun karena Tara juga sedang ada pertemuan penting, ia jadi tak bisa menemui Direktur itu.
"Bima, datang lah ke kantor.."
π "Tidak bisa Pak..!" Jawab Bima cepat. Ia sedang melaju menuju lokasi penyekapan Bulan.
"hoi.., Kau gila? Direktur Mayora datang ke kantor kita..."
π "Bulan di culik, aku tidak bisa kesana.!"
"Apa..?! Kalau begitu jangan matikan teleponnya, dan bergegaslah..!"
π "Aku tidak bisa datang!" Tekan Bima sekali lagi.
"Bergegas selamatkan Bulan maksudku. Jangan matikan teleponnya, siapa tau aku bisa membantu."
π "Memangnya apa yang bisa anda lakukan? Urus saja urusan kantor." Bima tak percaya Pak Tara mengatakan itu.
Dari sudut pandangnya, masalah ini tidaklah penting. Lalu kenapa Pak Tara ikut campur dan mengabaikan urusan pekerjaannya?
"Aku..?" Pak Tara tersenyum tipis, "Aku bisa melakukan apa saja."
Dari kantor Pak Tara memantau keadaan melalui Bima, ia pikir Bulan hanya di sandera seperti sebelumnya. Mendengar situasi tak terkendali, ia pun mengurungkan niatnya mengirimkan pasukan khusus.
Mendengar ada Bom mematikan terpasang, Pak Tara sempat bingung. Akan terlambat jika ia kesana bersama seseorang yang ahli menjinakkan Bom.
Setidaknya ia sudah mengatakan kepada Bima, untuk memastikan Bulan selamat.
Alih-alih menghentikan Bom, Pak Tara malah mendatangi sarang Darren. Dan memasang Bom yang tak kalah mematikan disana. Karena lokasi lebih dekat dari kantor.
Tentu saja Pak Tara sudah menyelidiki semuanya, bagaimana Saras sampai bisa terlibat dengan Mafia penipu itu.
Lewat orang suruhannya, Pak Tara berhasil mengeluarkan satu kontainer besar berisi uang, yang mana jadi biang kerusuhan ini terjadi.
*
Kini Pak Tara tertawa puas, saat melihat sarang penipu serta penghuninya hangus dilahap api.
Radius mereka yang cukup dekat, membuat kulit sedikit terasa panas. Namun Pak Tara tak menghiraukan itu.
"Akan anda apakan uang itu?" Tanya seorang pria berambut putih, yang merakit Bom mematikan itu. Pandangannya mengarah kesebuah truk kontainer yang terisi penuh oleh uang.
"Akan ku kembalikan kepada pemiliknya." Ujar Pak Tara, ia sudah menyuruh orang untuk mencari siapa saja korban penipu itu.
...~~~~...
BERITA TERKINI.
Rumah mewah milik Bos Scorpio Furniture habis terbakar. Polisi menemukan 18 jasad yang hangus dilahap api. Dipastikan satu diantara mereka adalah Darren Laebo, pemilik Scorpio furniture. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Kuat dugaan itu disebabkan oleh aliran listrik....
Bima, Arkana, Ayana, Bulan dan Saras terkejut melihat berita di televisi itu. Mereka yang tengah berada diruang rawat mendadak hening, padahal sebelumnya mereka berdebat soal kejadian tadi malam.
"Itu benar-benar dia..." Ucap Bima saat melihat foto para korban dipampang pada layar televisi.
__ADS_1
"Syukurlah, artinya kalian benar-benar aman sekarang." Lega Arkana, ia menatap Saras dan Bulan bersamaan.
"Uangku bagaimana?" Lirih Ayana bersedih, ia memandangi televisi itu seraya meremas kuat selimutnya. Setelah mengalami semua ini uang nya tak juga kembali?
"Bu..? Tante Saras jadi janda gara-gara ibu..! Dan ibu masih memikirkan uang sial itu?" Bima menarik selimut yang menutupi ibunya, ia kesal sekali dengan hal itu.
"hikss... Suami ku..." Isak Saras, air matanya kembali mengalir. Dimatanya Raul adalah pria yang baik. Ia tak rela Raul meninggal dengan begitu tragis. Apalagi ia belum sempat mengatakan bahwa Raul adalah suami terbaik.
"Dia pantas mati.." Rutuk Arkana tak sadar. Semua mata langsung menuju kearahnya.
"mm.. Darren, penipu itu pantas mati.. Dia memang pantas mati." Kilahnya sambil menunjuk layar televisi.
Bulan beranjak dari ranjangnya, ia hanya mendapatkan jahitan dipunggung, akibat luka tusuk yang diberikan Darren.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar, kepala ku pusing sekali melihat ruangan membosankan ini."
"Biar ku temani.." Bima sigap mengambil tiang infus Bulan, padahal Arkana hendak melakukan hal yang sama.
-
Sampailah mereka di taman rumah sakit. Bulan tersenyum lembut, kala melihat pemandangan hijau disekitar.
"Maafkan ibu ku..." Ucap Bima memberanikan diri.
"Ini bukan salahnya, penipu itu yang patut disalahkan." Sungguh Bulan tak menyimpan dendam, apalagi punya pikiran menyalahkan Ayana.
"Tetap saja, kau jadi terluka karena ibuku."
"ch.., kau mengkhawatirkanku?" Bulan memandang Bima dengan sorot mata jahil.
"Dania?" Kedua alis Bulan berkerut, ia belum tau bahwa Dania lah yang secara tak langsung menyelamatkannya.
"Dania salah satu penghuni disana, dia melihatmu diseret orang-orang itu. Dan langsung meneleponku."
"Kupikir Ayah yang menelpon kalian." Lirih Bulan.
"Aku tak menyangka Tuhan menjauhkannya dari ku dengan cara seperti ini. Bukankah menurutmu jalan hidupnya...." Bulan menghentikan ucapannya, kala ia melihat kearah Bima. Pria itu tengah termangu, menatapinya penuh makna.
"Ada apa..?" Tanya Bulan, mendongakkan dagunya.
"Aku sedang menyimpulkan, kau ini sangat baik atau bodoh. Setelah apa yang sudah dilakukan pria itu, kau masih mengenangnya sebagai pria yang memprihatinkan? Aku malah memprihatinkan sikapmu ini." Bima tak mengerti, kenapa sedikitpun Bulan tak menyimpan dendam. Setidaknya tunjukkan sedikit rasa syukur karena ia telah dijauhkan oleh ayah tirinya itu.
"Tapi dia meninggal karena menyelamatkan kita semua. Tidak boleh kah aku menaruh rasa iba?"
"Kau begitu dendam padaku hanya karena tai ayam, tapi melupakan perbuatan ayah tirimu begitu saja?" Sangkal Bima tak terima.
"Aku tidak sepenuhnya membencimu, hanya saja bau tai itu terus menyengat sepanjang hidupku."
"Bagaimana dengan Arkana?"
"Apanya..?" Bulan mengernyit heran, kenapa tiba-tiba memasukkan Arkana ke perdebatan tak berfaedah itu.
"Dia mencampakkanmu, dia menipumu. Apa kau tidak membencinya?"
Sebenarnya Bima hanya ingin tau, apakah Bulan masih terjebak oleh sosoknya sebagai mantan. Atau telah merajut ulang kisah, melalui kenangan indah bersama Arkana.
__ADS_1
Bulan terdiam, jujur saja jauh sebelum ia mengetahui bahwa mantan kekasihnya adalah Arkana, jantungnya kerap kali berdebar saat memandangi diam-diam pria dengan wajah teduh nan kharismatik itu.
Sikap tenang, tatapan dalam, dan raut wajah yang menyejukkan mata. Arkana adalah sosok seperti itu dimata Bulan, sejak pertama kali bertemu di cafe.
"Kau menyukainya..?" Tanya Bima lagi.
Bulan menggeleng cepat "Tidak."
"Kenapa kau bertanya begitu?" Lanjutnya dengan wajah sedikit sewot.
"Karena aku..." Kedua mata Bima menyorot dalam wajah gadis manis itu.
"Aku hanya ingin tau..." Sambungnya sembari membuang muka. Dada nya berdebar hebat.
"Tenang saja, aku tidak akan merebutnya dari mu." Gumam Bulan menggerutu, masih tersimpan di ingatannya bahwa Bima dan Arkana saling suka. Ia belum menerima bantahan Arkana tempo hari, sebab baru sebelah pihak.
"Apa..?" Bima mengejar wajah Bulan dengan tatapannya.
"Aku tau, kalian berpacaran kan?" Bulan sengaja mengulik itu, untuk mencari pembenaran.
"Apaa..? Aku dan Arkana? bwahahahahah..." Gelak tawa Bima lepas, ia sampai memegangi perutnya karena terasa geli.
"KAU GILA..?!" Sergahnya dengan cepat, sembari membelalakkan mata tepat di depan wajah Bulan.
Tentu saja Bulan terkejut, baru saja ia hendak ikut tertawa.
"Darimana pikiran seperti itu bisa muncul? Apa dari lutut mu? Kau masih menyimpan otakmu disana?" Bima menepuk kuat lutut Bulan, ia tak terima imagenya sebagai pria tampan ternodai.
Bulan menepis tangan Bima dengan kasar. "Aku hanya menebak.." Ketusnya.
Ia tak mau bilang bahwa itu berasal dari rumor orang-orang kantor. Bisa mengamuk Bima kalau tau itu. Tidak seperti Arkana yang hanya diam, Bima pasti akan merobek mulut orang yang sudah menyebarkan rumor itu.
"Dan kau mempercayai nya?"
"Kalian memang terlihat mesra, dan kalian juga sering bertatapan seperti penuh arti."
Bima mendorong tubuh Bulan kepada sandaran kursi, ia melingkarkan tangannya hingga Bulan terkurung disana.
"Kau melihatku menatapnya seperti ini?" Bisiknya seraya menatap Bulan penuh gairah.
Bulan tak menjawab, sial sekali jantungnya berdebar keras lagi kali ini. Lidahnya sangat kelu, ia tak kuat ditatap seperti itu oleh Bima.
Dari balkon kaca, Arkana menyaksikan pemandangan itu. Tangannya meremas kuat kaleng minuman, tak salah ia menyangka bahwa Bima dan Bulan tengah bermesraan.
Yang salah adalah ia merasa cemburu, padahal sudah jelas tak ada ikatan apapun diantara mereka. Kedua rahangnya bahkan beradu, panas rasanya membayangkan apa yang sedang dilakukan dua insan itu.
"Punggungku sakit..." Lirih Bulan menundukkan pandangannya.
...******************...
Guys.. Maafkeun banget ya otor up nya telat2. Pertama otor sedang tidak enak badan AKA nggeregesi...
Kedua jahitan otor lagi buanyak.., jadi ya kalian harap maklum yaπ soalnya otoe gk punya tabungan bab lagi. Jadi Up Nya lambat2.
Sorryπππ
__ADS_1