Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 11 : Rumor belaka


__ADS_3

"Aku punya nomornya, biar Aku yang menelponnya nanti." ucap Arkana. Ia tau Bulan tidak nyaman jika seseorang meminta nomor ponselnya.


"Benarkah? Kenapa Kau tidak bilang dari tadi." sahut Bima tersenyum kecut. Ia membatin, kenapa Bulan ini aneh sekali. Padahal dalam dunia kerja sudah biasa kan bertukar nomor telepon.


"Kalian tinggal satu rumah?" Bulan tiba-tiba terfokus pada kaki mereka berdua.


"Kenapa? Kau tidak mau privasi mu di usik, kenapa menanyakan privasi orang lain?" sewot Bima melempar tatapan tajam.


Melihat ekpresi Bima yang berlebihan,


Arkana jadi merasa tidak enak.


"hei, santai saja. Dia hanya bertanya, kenapa Kau berlebihan?"


"Apa kalian bersaudara?" lanjut Bulan masih penasaran. Sebab di lihat-lihat kedua pria itu agak mirip.


"Kenapa Kau menanyakan itu?" sahut Arkana, ia berdebar karena berpikir Bulan menyadari sesuatu dari dirinya.


"Aku penasaran saja, kenapa kaos kaki kalian bisa tertukar."


"Ternyata ini milik mu?!" Arkana menjinjing celananya dan tampak lah satu kaos kaki bermotif kupu-kupu, sedangkan sebelahnya berwarna hitam polos.


"Kau yang memakainya? Pantas saja, Aku mencari itu selama 3 jam. Ternyata Kau..."


"hei..! Aku memakainya karena aku tidak bisa menemukan kaos kaki ku."


Mereka berdua saling tunjuk, membuat Bulan mau tak mau harus menahan tawa geli. Bagaimana bisa seorang pria maco memiliki kaos kaki bermotif kupu-kupu.


Bulan pun berdiri seraya tertawa pelan, "Kenapa tidak sekalian saja periksa ****** ***** kalian, siapa tau tertukar juga." gumamnya, tentu dapat di dengar dua pria itu.


"Kemarilah, Aku memang kehilangan ****** ***** ku juga." Bima menarik paksa celana Arkana, memang kejadian barang tertukar ini sudah bukan hal baru untuk mereka.


"****..! Ini milikku kan?" Bima membelalak saat melihat pinggiran ****** ***** Arkana bertuliskan BALENCI4G4, Arkana tidak punya merk itu, ia tau betul.


"Benarkah? wahh.. pantas saja sempit. Ternyata ukurannya sangat kecil." sinis Arkana menepis tangan Bima. Padahal jika Bima yang memakai barang miliknya, ia tak pernah mempersoalkan.


"Kenapa Kau memakainya.." kesal Bima, ia menarik lagi ikat pinggang Arkana untuk memastikan.


"Ini ada di lemari ku, ya ku pakai saja. Kau mau Aku mengembalikan ini sekarang?!"


"Arka, Kau tau betul aku tidak suka berbagi pakaian."


"aissshh..! bisa bisanya Kau bahas ini di tempat kerja. Berhenti memegangi celana ku!" pekiknya sembari meremas tangan Bima, ingin sekali ia melempar celana itu ke wajah Bima sekarang juga.

__ADS_1


Sementara kembar beda alam itu tengah bercekak. Ternyata di depan pintu 3 orang Staff tengah mengintip mereka. Posisi Arkana yang meremas tangan Bima, serta Bima yang memegangi celana Arka, mereka membelakangi pintu hingga membuat pemandangan menjadi salah arti.


"Ternyata yang selama ini beredar bukan rumor belaka." ucap Staff wanita sambil mengusap wajahnya berulang kali. Padahal ia sangat mengagumi ketampanan Bima, dan kharisma Arkana.


Staff 2 pun turut mengimbuhi dengan nada lesu. "Apa yang mereka lakukan sekarang..? Apa mereka sedang..."


"Ayo kita pergi saja, jangan menganggu mereka." ujar Staff 3 menyeret kedua temannya. Ia sendiri lemas sekali, melihat kenyataan itu.


Sampailah mereka di dapur, sembari menyeduh kopi, mereka berbisik membicarakan kegiatan dua kaum adam tapi.


"Menurutmu mereka sudah lama begitu?"


"Pastinya, mereka sudah bersama sejak SMA, lihat saja tatapan mereka berdua, seperti menyimpan rasa yang besar."


"Ingat, jangan ada yang menyebarkan rumor ini. Kalau sampai Pak Tara dengar, bisa habis kita di sidak satu persatu."


"Tapi apa tidak apa-apa kota membiarkan penyimpangan seperti itu? Aku takut kita kena karma."


"Penyimpangan apa?"


Bulan mencela obrolan rahasia para Staff itu. Ia tengah menyusun beberapa naskah sembari menggunakan earphone. Namun ia hanya sekedar menggunakan saja, bukan mendengarkan musik atau semacamnya. Jadi ia bisa mendengar dengan jelas perbincangan para Staff itu.


Ketiga Staff itu meneguk ludah amat susah payah. Mereka terkejut karena Bulan ternyata mendengarkan.


"Kalian tidak usah khawatir, Aku pandai menjaga rahasia." ia meyakinkan para staff untuk berbagi informasi.


"Begini..." Salah satu staff menceritakan rumor yang selama ini beredar. Serta momen yang mereka lihat barusan.


Rumor beredar sejak beberapa tahun silam. Dimana mereka mendapati Arkana dan Bima tinggal satu rumah. Apalagi keduanya tidak pernah kedapatan berkencan dengan lawan jenis. Itu lah mengapa rumor tersebut semakin menyebar.


"APA...?" Bulan sangat syok mendengar itu. Apa jangan-jangan sejak jaman dulu pun Bima sudah begitu? Itukah sebabnya ia di campakkan? Mungkin karena Bima tak ingin dirinya menderita.


"Kalian yakin?" Bulan masih tak percaya.


Salah satu staff kemudian menunjukkan gambar yang di ambil barusan. "Lihat baik-baik, menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?"


"Sempat pula kau mengambil foto?" celetuk salah satu staff terheran.


Bulan mengamati betul foto itu, dari gestur tubuh dan ekspresi wajah memang membuat orang salah sangka.


"Lindungi hamba ya Tuhan." ucap Bulan bergidik merinding, ia meminta di jauhkan dari hal-hal nyeleweng seperti itu.


...~~~...

__ADS_1


Akhir pekan yang menenangkan, bagi seekor gadis berantakan seperti Bulan. Ini adalah hari yang paling di nanti. Baru beberapa hari merasakan kesibukan dengan pekerjaan barunya, ia sudah hampir putus asa. Padahal ia tidur cepat tadi malam, tapi sampai jam 10 pagi ia belum bangun juga.


Lalu tiba-tiba matanya terbuka, dan ia merasakan mual begitu hebat. Membuatnya terburu-buru berlari ke kamar mandi padahal nyawanya belum terkumpul.


Hoeeekkk....hooekkkk... aaagghhhhh...!


Ia begitu terasa ingin muntah, namun tidak bisa. Hingga ulu hatinya terasa tercekik.


"Bulan..? Kau kenapa?" Vidia memeriksa keadaan Bulan.


"Kau mencium bau tai ayam lagi..?" ia berkacak pinggang sembari memijat tengkuk Bulan dengan tangan kanannya.


Bulan mengangguk, bau tai ayam kali ini begitu menyengat di rasa hingga memancing rasa mual yang hebat.


Sedikit cerita, Bulan pernah mengalami insiden semasa kecilnya. Bertengkar dengan teman sebaya nya, namun temannya malah mengoleskan tai ayam ke bibir Bulan hingga membuatnya menangis tak tertolong. Kala itu usia nya sekitar 8 tahun, namun hingga kini ia masih sering terbayang kejadian itu, lewat mimpi dan setiap kali ia mencium tai ayam. Ia akan muntah setiap kali teringat hal memalukan itu.


"Kalau sudah cepatlah turun, ibu mu datang." ujar Vidia sembari membantu Bulan merapikan rambutnya.


Beberapa menit kemudian, tanpa mandi Bulan turun menemui ibu nya.


"ck..ck... anak gadis jam segini masih seperti kuntilanak? Kau tidak malu dengan ibu mu?"


"Kenapa ibu ke sini?" Bulan duduk sembari mengangkat satu kakinya.


"Ibu mau menemui klien rahasia, katanya sih artis ternama."


"Siapa? Bu, kalau kasus narkoba jangan coba-coba ibu ikut campur ya." Kecam nya tak mau nama sang ibu tercoreng.


"Ibu juga belum tau pasti kasusnya."


"Lalu apa hubungannya denganku? Kenapa ibu memanggilku?"


"Ibu membawanya ke sini dengan tujuan mempromosikan usaha mu. Ibu akan menyuruhnya berfoto dan mengunggah cafe mu di sosial media nya, agar semakin banyak pengunjung."


"wahh.., ternyata otak ibu sangat hebat. Tapi Bu, kenapa tidak bilang ibu ingin menemui artis di sini? Setidaknya kan Aku bisa mandi dulu."


"Ibu pikir walaupun perdana menteri yang datang kau tidak perduli dengan penampilan mu."


"aiisss, kalau begitu aku mandi dulu." Bulan beranjak dari kursinya, kapan lagi bisa membangun relasi dengan artis besar? Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


"Duduklah..! Mereka sudah datang." Saras menarik tangan putrinya hingga hampir tersungkur di atas meja.


...%%%%%%%%%%%%...

__ADS_1


__ADS_2